Selasa, 26 Maret 2013

Buku yang Tertunda Diterbitkan

SAMPAI saat ini saya memang belum menerbitkan (dengan sebenarnya) sebuah buku sekalipun.  Ada desakan dari beberapa kawan kepada saya untuk segera menerbitkan buku dari kumpulan beberapa artikel saya yang terserak di beberapa media cetak dan blog. Ada juga yang menyarankan saya untuk menerbitkan karya tulis yang saya buat kala belajar “mencangkul” dulu menjadi sebuah buku. Desakan tinggal desakan, hingga saat ini saya tetap saja belum mampu menerbitkan sebuah buku pun.

Namun setidaknya sejak sekitar 3 tahun lalu ada krenteg atau niat bahwa saya harus menerbitkan buku (dengan sebenarnya). Dengan apapun caranya, mau konvensional ataupun indi, yang penting terbit. Saya pun mencoba-coba memulai dengan mengumpulkan, bahkan membuat lay out dan desain cover-nya, tulisan-tulisan opini saya yang terserak di beberapa media cetak menjadi satu kategori atau tema.

Akhirnya, saya menemukan setidaknya yang se-kategori menurut saya berjumlah 28 judul tulisan. Jumlah ini tercatat pernah “nyangkut” di harian Kompas sebanyak 10 judul, 2 judul di harian Surya, 1 judul di harian Jawa Pos-Radar Mojokerto, Pelita,  Suara Karya, dan lain-lain termasuk sisanya ada di blog pribadi dan blog keroyokan saya (kompasiana). Fokus dan lokusnya tentu saja tak jauh-jauh dengan “habitat” saya yang tukang cangkul ini. Bahkan beberapa tahun lalu ketika bertemu dengan guru “mencangkul” saya di Bogor yang kebetulan sedang mudik ke Jombang, beliau siap memberi kata pengantar jika saya menerbitkan buku (dengan sebenarnya). Pada akhir bulan november tahun lalu sempat bertemu lagi di Kota Malang dalam sebuah seminar dan naskahnya sudah saya serahkan. Kabarnya beliau sudah menuliskan kata pengantar, namun gadget-nya raib diambil orang, sebelum sempat mengirimkannya ke saya. Saya tak enak hati untuk menagihnya, soalnya sudah 2 kali saya tanyakan.

Beberapa bulan lalu, dapat saran dari seorang kawan untuk menawarkan ke penerbitan milik intitusi pendidikan yang kabarnya mau menerbitkan dengan cara membeli putus naskah buku. Saya pun mengedit lagi dan menyeleksi beberapa artikel yang lebih baik menurut saya. Hanya ada 1 artikel sebelumnya yang saya remove dan saya ganti dengan yang lebih fresh. Jumlahnya untuk sementara tetap 28 judul dan mungkin akan bertambah beberapa tulisan untuk 2 minggu ke depan. Jumlah halaman inti 158 dengan ukuran buku 13 x 20 cm. Sudah saya lay out "dalamnya" dan ada seorang guru “mencangkul” saya di Malang yang siap memberi pengantar selepas tour-nya ke Jepang. Mudah-mudahan beliau tidak lupa!

Judul buku, untuk sementara yang tertunda untuk saya terbitkan itu adalah “Petani Marjinal: Catatan Sunyi dari Pinggir Ladang”. Judul yang ndeso dan tak marketable. Sekali lagi saya masih bingung, mau diterbitkan secara indi, konvensional atau lewat penerbitan intitusi.

Kalau diterbitkan secara indi, tentu butuh biaya, baik biaya pra cetak maupun cetak. Sementara kalau diterbitkan melalui penerbit konvensional, tentu membutuhkan seleksi ketat, waktu yang relatif lama, dan belum tentu ada penerbitan yang mau menerbitkannya. Namun keuntungannya tentu saja bisa lebih konsentrasi menulis, tanpa ribet mengurus segala tetek bengek seperti ketika menerbitkan secara indi. Dan kira-kira, apakah ada ya yang mau menerbitkan buku saya, yang bertema ndeso dan tak marketable seperti ini?


Tulisan terkait:
Menyeruput Buku Kopi Seduhan Seorang Kawan
Cerita di Balik Buku Seorang Kawan

2 komentar:

  1. kunjungan perdana..
    terlihat blog ini sering update,jika berkenan saya ingin mengjak anda untuk saling follow atau bertukar link.

    BalasHapus
  2. terbitin secara indie aja kang. di dar insyirah gratis layout n cover :-) biaya cetak juga terjangkau. bisa di coba he..he..

    BalasHapus

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...