“…..sekadar catatan untuk melepas penat disela-sela mencangkul di tengah ladang sambil menikmati hembusan angin di siang hari, nyanyian burung-burung, lenguhan kerbau, hamparan langit biru, gemericik air pancuran, hijaunya dedaunan, aroma keringat, sengatan matahari, belalang-belalang yang lalu-lalang berlompatan, dan tentu saja secangkir kopi pahit dan sepotong singkong rebus…..”


Sunday, October 25, 2009

Rosidah, Donatpreneur yang Blogger!


KEYAKINAN saya, Mbak Rosidah (selanjutnya saya sebut Mbak RSD) pemilik Donat Kampoeng Utami dan Roshberry Donuts and Coffee di Jombang, tahu betul akan kekuatan teknologi informasi, khususnya dunia internet, webblog dan webbsite untuk mempromosikan produknya ke masyarakat. Setidaknya 4 atau 5 tahun lalu siapa yang mengenal produknya yang memanjakan lidah ini. Namun, berkat promosi yang saya kira sangat revolusioner dan ‘‘radikal“ ini, perlahan-lahan orang (setidaknya saya) mulai mengenal, bahkan hingga menerbangkan sang pemilik ke negeri jiran. Jadi saya berharap Mbak RSD tidak risih jika saya menyebutnya sebagai seorang “donatpreneur yang blogger“.

Secara personal di dunia nyata, saya memang tak mengenal Mbak RSD, sang donatpreneur yang blogger yang asal Jombang ini. Namun di dunia maya (blog), sekitar tiga tahun lalu kami sudah saling bertemu dan bertamu serta saling meninggalkan jejak di shoutmix masing-masing dan saya sempat kebingungan karena pernah diminta untuk menuliskan produk DKU-nya ketika itu sebagai salah satu makanan khas Jombang (tulisan itu bisa diklik di sini).

Ke-donatpreneur-an dan ke-blogger-an Mbak RSD bisa kita lihat di dua blognya, yaitu http://utamidonat.blogspot.com
ataupun di http://roshberrydonuts.blogspot.com/ yang postingan maupun aksesorisnya cukup semarak. Blog itu tak sekadar narsis-narsisan atau bualan belaka (yang selama ini seringkali melekat menjadi stigma negatif para blogger), tetapi benar-benar blog yang “lezat“ dan kreatif dengan postingan berbagai produk DKU dan testimoni konsumennya serta postingan hasil liputan berbagai media massa yang pernah mengangkat profil dan sepak terjangnya selama ini.

Disamping itu, ia juga mulai dengan membuka gerai atau cafe yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang memanjakan konsumen atau pengunjungnya termasuk fasilitas internet gratis (hotspot area). Mungkin saja usaha ini untuk memenuhi gaya hidup masyarakat kita yang saat ini mulai berubah. Orang ke cafe bisa jadi bukan sekadar mengisi perut, tetapi juga untuk mencari suasana lain yang berbeda, termasuk untuk unjuk diri. Dulu ada ungkapan “you are what you eat“, namun sekarang bisa saja ungkapan itu bergeser menjadi “you are where you eat“, sebagai penanda siapa diri kita. Penampilan produk pangan dengan aroma dan rasa itu sangat penting, tetapi sekarang suasana yang nyaman juga tak kalah pentingnya.

Terlepas dari itu semua, usaha itu tentu saja sebagai suatu upaya yang sangat positif untuk membangun branded atau label produk kudapannya yang “pro lidah“ dan "pro saku" tentunya. Ditambah lagi dengan bangunan “gerai“ di facebook, twiter dan friendster yang tak kalah semaraknya, yang saya yakin semua itu untuk mengarahkan pengguna internet menuju blog utamanya sekaligus membangun jaringan promosi online yang tentu saja membawa efek positif pada branded produknya.

Bentuk ke-donatprenur-an Mbak RSD yang lain, yang mungkin luput dari pikiran kita, kita sadari atau tidak, adalah mengadakan lomba blogger seperti saat ini. Ini sungguh luar biasa efeknya bagi promosi produknya sekaligus membentuk life style yang melek teknologi namun tetap konstruktif dan kreatif memanfaatkan hasil teknologi. Hal ini sah-sah saja dilakukan dalam dunia marketing, dan saya sangat mengapresiasi caranya ini. Saya pribadi punya obsesi tersendiri setelah acara ini (silahkan klik di sini), yaitu tak sekadar mengikuti kompetisi, tetapi yang lebih penting para blogger Jombang bisa membentuk sebuah komunitas yang menyatukan para blogger Jombang dengan segala kreativitasnya, serta mampu memberi kontribusi konstruktif dalam pembangunan Jombang. Dan saya berharap Mbak RSD bisa menjembatani, atau bahkan mensupport dan mensponsori terbentuknya komunitas blogger Jombang nantinya.

Obsesi atau harapan saya berikutnya, produk yang dihasilkan oleh Mbak RSD dengan Roshberry Donuts dan Coffee bahan bakunya mampu dikombinasikan dengan bahan baku lokal Jombang. Seperti kata Mbak RSD, bahwa bahan dasar donat adalah tepung terigu (olahan gandum) dan kentang. Selama ini yang namanya gandum itu kita masih mengimpor. Kita tidak bisa memproduksinya sendiri, karena disamping secara geografis kurang cocok dengan tanaman gandum, teknologi pertanian ataupun rekayasa genetika belum memungkinkan menanam gandum dengan perolehan produksi yang optimal.

Harapan saya selanjutnya, bisakah Roshberry Donuts dan Coffee melakukan perubahan dengan mengubah bahan dasar atau setidaknya ada kombinasi dengan bahan dasar lokal, semisal memakai tepung ketela yang banyak diproduksi oleh para petani Jombang yang tentunya tanpa mengubah kualitas rasanya. Disamping membantu penyerapan sekaligus meningkatkan price dan prestice produk petani yang selama ini sering tak dihargai, juga membantu program diversifikasi pangan yang selama ini terbengkalai. Dan yang jelas, juga akan membantu meringankan beban neraca pembayaran internasional. Mungkin awalnya ini akan menyulitkan, tetapi saya yakin suatu saat Mbak RSD akan mampu mengombinasikannya. Toh, teknologi pengolahan pangan sekarang sudah cukup maju, meskipun belum merata dan dapat diakses oleh semua orang.

Kembali ke masalah awal, hal apakah yang mendasari Mbak RSD berpromo produk lewat blog? Saya kira banyak hal yang mendasarinya. Pertama, dengan blog ia akan lebih mengoptimalkan aktivitas penetrasi pasarnya, dengan biaya yang relatif murah, sebab blog atau lengkapnya webblog tersedia gratis dengan fasilitas dan fitur yang tak kalah dengan website yang berbayar.

Kedua, blog sebagai alat komunikasi langsung atau public relation dalam membangun citra produk disamping untuk membangun jaringan dengan konsumen.

Ketiga, asal ada jaringan internet, blog sifatnya terbuka untuk setiap personal, jangkauannya luas dan global dibandingkan dengan situs jaringan semacam facebook yang terbatas. Beberapa media memperkirakan bahwa sampai tahun 2008 lalu sekitar semilyar manusia di jagat raya ini telah “tersambung“ dengan dunia internet dan sekitar 20 persennya adalah blogger. Sangat fantastis jika kita bisa membangun jaringan lewat internet khususnya blog.

Mungkin beberapa hal utama itulah yang menjadi pertimbangan donatpreneur dari Jombang ini untuk memanfaatkan blog sebagai sarana promosi produknya. Spirit yang layak diteladani bagi entrepeneur-entrepenur muda Jombang maupun para blogger Jombang. Saya yakin dan optimis jika para blogger Jombang mampu memanfaatkan blog sebagai sarana untuk kreativitas, Jombang akan berkembang lebih pesat.

Namun sayangnya, tidak semua orang (blogger) bisa memanfaatkan blog dengan sehat dan produktif seperti ini. Banyak orang dengan blognya sekadar untuk narsis-narsisan dan cenderung membual. Sah-sah saja sebenarnya, karena itu hak personal blogger, namun alangkah baiknya kalau kegiatan ngeblog menjadi gaya hidup yang sehat, produktif dan bertanggungjawab, demi kemajuan kita dan kota kita sendiri tentunya. Semoga!



Artikel terkait Khas Jombang lainnya silahkan klik di sini

Labels: ,


[...Baca Selengkapnya...]

Thursday, September 3, 2009

“Buku Biru” atas Pemikiran Cak Nur


[SEBELUM menampilkan catatan jadul tentang buku ini (saya sebut catatan saja karena saya tak PeDe untuk mengatakan ini sebuah resensi atau timbangan buku), saya sampaikan terima kasih kepada yang telah memberikan buku ini kepada saya. Ya, buku ini merupakan bingkisan dari Redaksi Kompas Edisi Jabar yang saya terima tiga tahun lalu (Ramadhan-Oktober 2006) ketika saya mendapat undangan acara buka bersama sekaligus kopi darat para penulis dan redaksi serta perkenalan kantor/gedung baru Kompas di Bandung. Sungguh saya heran bisa mendapat undangan itu. Lha wong jumlah tulisan saya yang sempat nangkring di koran yang kala itu usianya belum genap 1 tahun, tak lebih dari hitungan jari tangan dan jari kaki. Dan dua tahun terakhir saya stganan, tak pernah lagi mengirim tulisan ke koran itu].

TAK mudah menafsirkan pemikiran-pemikiran Nurcholish Madjid dengan cara pandangnya yang unik bahkan seringkali berlawanan dengan mainstream pada umumnya. Cak Nur, sebutan akrabnya, dilahirkan di kota santri, Jombang, 17 Maret 1939 dari keluarga dengan tradisi pesantren yang kental. Tradisi pesantrennya semakin kuat dengan memasuki ranah kehidupan pesantren di Darul Ulum Jombang, yang ketika itu masih dianggap mewakili stereotip pesantren tradisional dan di pondok modern Darussalam Gontor. Meskipun demikian, pemikirannya bukan lantas mewakili stereotip pesantren tradisional. Ia bahkan dikenal sebagai pemikir modernis Islam terkemuka jauh hari sebelum "nyantri" di Chicago.

Tak hanya itu, kemampuan berbahasa Cak Nur juga sangat mengagumkan dan sangat santun. Bahkan, Cak Nur sempat mendapatkan penghargaan dari pemerintah terkait dengan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) mengggambarkan Cak Nur itu vokalnya "kung" seperti perkutut 1-M harganya. Kalau menggeram, seluruh binatang rimba terbangun mendadak dari tidurnya. Waktu kecil Cak Nur bikin mimbar di atas pohon asem dan membuat corong dari seng untuk mengumandangkan adzan dan tarhim. Ketika berumur belasan tahun di Gontor, Cak Nur sudah fasih berbahasa Inggris, Arab, Jerman dan Jepang. Cak Nur memenuhi persyaratan untuk berpidato menggelorakan hati rakyat sebagaimana Bung Karno.

Namun begitu, tak sedikit orang-orang yang antipati ketika melihat sesosok Cak Nur dengan corak pemikirannya. Mendengar dan menyebut Cak Nur saja jengah, apalagi membaca karya tulisnya, "haram" hukumnya. Maka tak mengherankan kalau yang terjadi kesalahpahaman-kesalahpahaman yang berakhir dengan makian dan hujatan yang seharusnya tak perlu terjadi jika kita lebih mengedepankan etika dan mampu memahami bahwa yang dilakukan Cak Nur adalah salah satu bentuk jihad yang dapat dipertanggungjawabkan. Ya, seperti yang terjadi menjelang akhir hayatnya pun kita masih mendengar selentingan hujatan kepadanya. Tak sedikit tokoh-tokoh Islam sendiri yang mengatakan bahwa Cak Nur itu sakit karena dosa-dosanya sehingga Cak Nur harus bertobat sebelum meninggal. Nah kalau demikian, nurani macam apakah yang menempel di hati "beliau-beliau" ini?

Sekadar mengingatkan, sejak awal tahun 70-an hingga sepanjang era Orde Baru, fenomena pemikiran Cak Nur sudah kontroversial, apalagi ketika Cak Nur menyampaikan orasi politiknya yang sangat terkenal sekaligus menggemparkan, "Islam Yes, Partai Islam No." Sejak itu, Cak Nur dicap sebagai pengusung sekularisasi dan menyesatkan karena tidak berpijak dan berpihak pada ajaran Islam. Ide-idenya tersebut telah menyebabkan kerenggangan dan ketegangan bahkan kecurigaan di antara kalangan umat Islam sendiri.

Pada awal Orde Baru, ketika sedang gencar-gencarnya dikembangkan sikap fobia terhadap Islam terutama oleh elite-elite politik sipil dan militer yang memang tidak ingin melihat kekuatan politik Islam muncul menjadi kekuatan politik dominan, pemikiran Cak Nur bisa mencairkan kebekuan di kalangan umat Islam. Di tengah iklim politik yang sekuler dan berkembang ketidakpuasan di kalangan Islam politik, Cak Nur berhasil melahirkan ide dan gagasan yang tidak terjebak pada simbol-simbol Islam politik yang cenderung verbal dan tidak substansial.

Dalam kerangka itulah Cak Nur mengembangkan visi politik dan wawasan politik yang sangat luas dan terbuka, serta mampu menjembatani politik sektarian dan eksklusif dalam sistem politik yang pluralistis. Substansi yang ingin dikembangkan Cak Nur adalah pengembangan nilai-nilai dan semangat Islam yang sesuai dengan pluralisme keberagamaan tanpa melalui formalisme Islam dalam bentuk institusi partai politik dan lain-lain.

Dengan ide sekularisasinya, Cak Nur berupaya untuk menanggalkan nilai-nilai yang berorientasi ke masa lampau dan mencari nilai-nilai yang lebih berorientasi kepada masa depan. Sekularisasi yang dimakud Cak Nur tidak terkait dengan persoalan hubungan agama dan politik atau hubungan Islam dan negara. Demikian juga tidak dimaksudkan sebagai pemerintahan sekularisme dan mengubah kaum muslimin menjadi sekularis. Namun dimaksudkan untuk memanusiakan nilai-nilai yang sudah semestinya bersifat duniawi dan melepaskan umat Islam dari kecenderungan meng-ukhrawi-kannya.

Cak Nur juga sangat gencar mempromosikan idenya tentang soal demokrasi, pluralisme, humanisme, dan keyakinannya untuk memandang modernisasi atau modernisme bukan sebagai barat, modernisme bukan westernisme. Cak Nur melihat modernisme sebagai gejala global yang tak bisa dihindari, seperti halnya demokrasi. Cak Nur juga begitu perhatian dengan kondisi keberagamaan dan keberagaman. Itu sebabnya baginya isu-isu pluralisme menjadi icon, menjadi trade marknya, meskipun akibatnya tak menguntungkan bagi dirinya karena adanya "perlawanan" dengan pola pikirnya itu.

Ade Buchori, salah satu penulis dalam buku ini menyebutkan tiga poin penting dalam pandangan pluralisme Cak Nur, pertama, umat beragama harus meninggalkan praktik keagamaan yang kekanak-kanakan, seperti tindakan memaksakan kebenaran agama sendiri kepada pemeluk agama lain serta menanggalkan sikap beragama yang fanatik yang berujung pada pencarian legitimasi terhadap parkatik kekerasan.

Kedua, dua gagasan besar yang diusung oleh agama-agama, yaitu gagasan ketuhanan dan kemanusiaan adalah bentuk konkret dari penegasan bahwa titik temu agama-agama berpusat pada kedua prinsip utama ini. Semua konflik berwarna agama yang pernah terjadi dikarenakan absennya salah satu dari kedua prinsip ini atau terlalu menekankan pada salah satu dari kedua gagasan ini.

Ketiga, negara harus benar-benar mampu menciptakan ruang publik yang bebas bagi warga negaranya untuk meyakini seuah sistem kebenaran tertentu yang bebas teror dan melindungi fakta adanya pluralisme agama. Dalam hal ini, peran negara adalah menghadapkan kepada hukum segala bentuk tindakan dan praktik yang bertujuan menghancurkan pluralisme agama, seperti aksi teror dan aksi kekerasan sebagai tindakan melawan konstitusi negara.

Terkait dengan pluralisme, kita juga bisa merujuk dari Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) dengan bahasa fabelnya, bahwa pluralisme diibaratkan sebagai kerbau yang membiarkan kambing menjadi kambing, dan kambing mempersilahkan kerbau menjadi kerbau. Jelas kambingnya, jelas kerbaunya, sehingga plural. Kalau kerbau "tidak boleh menonjolkan kekerbauannya" dan kambing "jangan menonjolkan kekambingannya" maka keadaan akan berkembang menjadi singularisme.

Dan, buku Menembus Batas Tradisi, Menuju Masa Depan yang Membebaskan Refleksi atas Pemikiran Nurcholish Madjid karya Abdul "Dubbun" Hakim dan kawan-kawannya ini terasa istimewa untuk disimak dan agaknya bisa menjadi jalan lain untuk lebih memahami jalan pikiran Cak Nur. Bahkan kalau boleh dikata menjadi "buku biru" atas pemikiran Cak Nur di tengah maraknya terbitan buku-buku merah tentang Cak Nur. Setiap penulis mencoba menafsirkan jalan pikiran Cak Nur, dan memperkenalkan pola pikir Cak Nur. Meskipun demikian, tak semuanya berhasil memperjelas secara jelas fenomena Cak Nur di tengah-tengah kegagapan kehidupan (beragama) kita, tetapi setidak-tidaknya ada upaya serius untuk mengorek "misteri" Cak Nur. Menangkap sedikit riwayat pemikirannya, secara wajar tanpa harus menjadikannya dewa atau bahkan sebaliknya, antipati yang berlebihan dan berkepanjangan!

[Bandung-Jombang, Ramadhan-Oktober 2006]

Labels:


[...Baca Selengkapnya...]

Monday, July 13, 2009

Blogger Jombang, Perlukah Membentuk Komunitas?


SAMPAI saat saya memposting tulisan ini dan berkali-kali mengentri kata-kata kunci ”Komunitas Blogger Jombang” pada beberapa mesin pencarian, tak satupun dari mesin pencarian itu menemukan hal yang saya harapkan. Ada sih sebenarnya blog dengan titel seperti kata-kata kunci yang saya entri, tetapi setelah saya telusuri blog itu tak pernah di-update atau dirawat semestinya, sekadar ada kata-kata “Komunitas Blogger Jombang”.

Jadi intinya, Jombang sampai saat ini (kemungkinan besar) belum memiliki komunitas tempat cangkrukan-nya para blogger Jombang. Entah apa penyebabnya, yang jelas blogger yang ”berbau nJombang” cukup banyak jumlahnya. Setidaknya dari pantauan saya akhir-akhir ini ada puluhan blogger Jombang yang (relatif) aktif menulis di blog yang tentu saja dengan aneka isi blog yang macam-macam dan tujuan yang berbeda-beda pula. Ada yang menjadikan blog sebagai ajang curhat, promosi produk, tulisan narsis, puisi, cerpen, gado-gado, teknologi, berita, termasuk blog ndesit yang tidak serius dan gak karu-karuan isinya (seperti blog saya ini) dan sebagainya.

Lalu, perlukah para blogger Jombang ini membentuk sebuah komunitas? Tergantung! Namun bagi saya pribadi, setidaknya dengan melihat perkembangan blogger di luar daerah rasanya saya jadi ngebet dan ingin mencari teman-teman blogger nJombang di dunia maya. Bagi saya tujuannya sederhana saja, silahturahmi menjalin komunikasi, minimal bisa cangkrukan rame-rame sambil nyeruput kopi.

Namun begitu, saya akan lebih bersyukur jika ada yang membentuk komunitas dengan tujuan lain yang lebih hebat dan (mungkin) lebih mulia, misal promosi Jombang (baik dan buruknya), ngompol (ngomongin politik) lokal, bicara tentang menghilangnya pupuk di KUD tapi melimpah di toko di dekat KUD, rasan-rasan anggota legislatif yang suka aneh-aneh tingkahnya, atau ngomongin diri kita sendiri yang terkadang ikut bertingkah aneh-aneh. Juga tidak diharamkan ngomong masalah seni-budaya (asli dan khas) Jombang semacam kesenian ludruk, baik dari aspek politik ludruk maupun ludruk politik dan tak terkecuali ludrukan politik.

Bisa juga iseng ataupun serius “ngintip” bareng-bareng muda-mudi dan atau pelajar nJombang yang seringkali kali menjadikan alun-alun nJombang sebagai arena gendakan dan memadu kasih (lebih pas-nya memadu nafsu) seperti tampak pada gambar di bawah ini, padahal di sekitar alun-alun banyak satpol PP berjaga di pendapa bupati. Bahkan kalau perlu sedikit-sedikit ngrasani rumah sakit yang ”sedang sakit” ketika ngurusi orang sakit, meskipun resikonya kita bisa jadi pesakitan tetapi terkenal dan mengundang banyak simpati.


Lalu siapa saja anggota dari komunitas ini? Yang jelas blogger Jombang. Yang saya maksud blogger Jombang bukan saja mereka para blogger yang lahir, tumbuh besar dan tinggal di Jombang, tetapi siapa saja blogger yang mempunyai ikatan tertentu dengan Jombang tanpa melihat latar belakang ekonomi, aliran politik, tingkat pendidikan dan SARA (kalau ngomongin SARA saya jadi ingat “Duo Kumis” waktu kampanye pilpres lalu yang ngludruk dengan mengangkat isu SARA seperti ini).

Selain itu, bisa saja mereka yang lahirnya di Jombang kemudian tumbuh besar dan tinggal di Jombang ataupun di luar Jombang. Lalu blogger yang tidak lahir di Jombang tetapi sekarang tinggal di Jombang. Atau mungkin blogger yang mempunyai ikatan khusus dengan Jombang semisal pernah “nyantri” di Jombang (kalau tidak salah setiap tahun ribuan pelajar dan mahasiswa dari luar Jombang “menyerbu” Jombang). Dan menurut hasil penelusuran saya, santri Jombang yang mblogger (menjadi blogger) cukup banyak jumlahnya.

Jadi potensi dan peluang Jombang membentuk komunitas blogger sangat besar. Tinggal para blogger Jombang mempersiapkan segala “perangkat lunak” dan “perangkat keras” plus tetek bengek yang lain. Yang penting mangan gak mangan pokoke ngumpul, nek kepingin mangan yo ayo ngumpul! Ada yang mau ngurusi?

Digores di Pedalaman Flores, 23.33 WITA, 12 Juli 2009

Labels:


[...Baca Selengkapnya...]

Thursday, May 28, 2009

Upacara Potong Padi


ENTAH sudah berapa tahun saya tak melihat upacara potong padi atau orang Jawa sering menyebut dengan methik. Yang saya ingat sekitar pertengahan tahun 80-an saya masih sempat melihat dan menikmati tradisi methik itu. Ketika itu nenek masih mempunyai sawah yang tak lebih dari setengah hektar. Setiap kali menjelang panen padi, nenek selalu memulai dengan ritual selamatan seperti ini.

Malam menjelang panen biasanya dilakukan kenduri atau tumpengan di rumah dengan mengundang tetangga kanan-kiri. Yang saya pahami, hal ini dilakukan sebagai bentuk ugkapan rasa syukur dengan sedekah nasi tumpeng atas panen di setiap musim panen. Bukankah berbagi kebahagiaan kepada tetangga adalah hal yang sangat bijak yang dianjurkan ajaran-ajaran suci?

Selain tumpeng yang dikendurikan di rumah, juga disiapkan tumpeng yang khusus untuk kenduri di sawah keesokan harinya. Tumpeng ini dibuat khusus dengan bagian puncak ditancapi dengan berbagai macam hiasan dan uba rampe seperti cabai, bawang merah, sirih, gula merah, ikan asin, merang, daun kelapa atau daun aren, dan sepotong bambu yang masih muda. Tumpeng ini dijaga semalam suntuk sebelum keesokannya dibawa ke sawah.

Keesokan harinya dilanjutkan dengan upacara methik di lokasi atau sawah yang akan dilakukan pemanenan. Upacara methik ini dipimpin oleh orang pintar atau tokoh spiritual desa dengan membawa sesajen dengan segala macam uba rampe-nya itu ke lokasi persawahan yang akan dipanen. Yang saya ingat, dulu Pak Tua yang memimpin upacara itu selalu membakar merang dan dupa atau kemenyan. Saya selalu merinding bila mencium aroma khas dupa atau kemenyan itu.

Kata orang-orang, dupa dan kemenyan adalah “makanan” dedemit yang mbaurekso atau yang menunggu tempat-tempat tertentu. Bagi saya, dedemit dan sebangsanya dalam hal makan masih kalah hebat dengan manusia. Manusia bisa memakan apa saja seperti jalan tol, jembatan, proyek bandara dan pelabuhan, hutan lindung dan sebagainya. Hebat bukan?

Kembali ke upacara potong padi, setelah membakar merang dan kemenyan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa-doa dan selanjutnya dilakukan pemetikan beberapa tangkai padi dengan ani-ani. Tangkai padi inilah yang melambangkan Sang Dewi Sri atau Dewi Padi yang dianggap mempunyai kekuatan magis. Lalu beberapa helai tangkai padi ini dijadikan seperti pengantin atau disandingkan dalam sesajen (makanya sesajen kadang juga disebut sandingan). Padi sandingan ditutup dengan bernacam bunga dan diolesi dengan boreh (semacam krim atau bedak basah). Kemudian sesajen yang sudah “bersanding” dengan Sang Dewi Padi, dibawa pulang ke rumah dengan cara disunggi (ditaruh di atas kepala) atau kadang digendong untuk disimpan di bilik atau senthong. Pembawa sandingan ini harus diam atau tak bicara apapun sampai di rumah. Di beberapa daerah lain, padi disimpan dalam lumbung yang dibuat khusus, misalnya pada suku Baduy dengan membuat leuit.

Setelah pemetikan beberapa helai tangkai ini, biasanya tidak langsung memetik seluruh tanaman padi tetapi dilakukan dengan pembagian nasi tumpeng yang telah dibacakan doa-doa sebelumnya. Engkung atau panggang ayam utuh biasanya menjadi lauk utama ditambah dengan lauk lainnya seperti urap-urap, tahu, tempe dan sebagainya. Semua kebagian tanpa harus berebutan, satu rasa sama rata. Suasana guyub dan kebersamaan pun tercipta tatkala menikmati nasi tumpeng bersama-sama.

Sungguh, saat ini saya sangat merindukan suasana seperti itu!


*Artikel ini bisa juga dibaca di kompasiana

Labels:


[...Baca Selengkapnya...]

Monday, May 11, 2009

Urgensi dan Kendala Diversifikasi Pangan


SELAMA ini yang terjadi pada sistem ketahanan pangan kita adalah masih rendahnya tingkat diversifikasi pangan, dimana mayoritas masyarakat kita masih menggantungkan beras sebagai sumber pangan utamanya. Padahal, dalam konsep ketahanan pangan, diversifikasi pangan merupakan salah satu syarat untuk mencapai ketahanan pangan yang tangguh. Dan saat ini, mendiversifikasi pangan merupakan langkah yang tepat dan urgen mengingat produksi maupun distribusi beras seringkali tersendat.

Diversifikasi pangan dipilih sebagai langkah utama selain waktu yang diperlukan lebih pendek jika dibandingkan dengan program lain, seperti ekstensifikasi dan intensifikasi juga hal ini juga untuk mendorong masyarakat (petani) lebih kreatif dalam memanfaatkan lahan yang ada dengan menanam tanaman yang dapat menjadi bahan makanan pokok selain padi, seperti jagung, ketela, dan umbi-umbian lainnya.

Selain itu, melalui penataan pola konsumsi yang tidak tergantung pada satu sumber pangan, memungkinkan masyarakat dapat menetapkan pangan pilihan sendiri, menaikkan pamor pangan lokal untuk menggantikan atau setidak-tidaknya berdampingan dengan beras menjadi menu utama, dan membangkitkan ketahanan pangan keluarga masing-masing, yang berujung pada peningkatan ketahanan pangan nasional. Selain konsumsi yang beragam juga pola produksinya akan ikut beragam. Dengan demikian, jika suatu saat terjadi kemelut salah satu bahan pangan pokok (beras) kita tidak akan kerepotan, misal repot impor beras yang dapat menimbulkan eksploitasi ekonomi-politik oleh negara-negara eksportir.

Lebih jauh, ditinjau dari potensi sumberdaya lokal wilayah, sumberdaya alam kita memiliki potensi ketersediaan pangan yang beranekaragam, baik pangan untuk sumber karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Kita bisa mencermati hal ini, dimana setiap wilayah di Indonesia mempunyai sumber pangan lokal tersendiri seperti Madura dan Nusa Tenggara dengan jagung, Maluku dan Papua dengan sagu, Sumatera dengan ubi, Jawa dan Bali serta Sulawesi Selatan dengan berasnya. Jadi sebuah hal yang ironis jika kita tidak memanfaatkan kekayaan yang beragam ini.

Sebenarnya, program diversifikasi pangan telah diluncurkan sejak tahun 1974 dan disempurnakan dengan inpres 20/1979. Namun sampai saat ini belum terlaksana dengan efektif. Banyak hal yang menjadi kendala dalam program ini. Menurut Hariyadi dkk (2004) setidaknya ada beberapa kendala yang mesti dipetakan dan diperhatikan dalam upaya melakukan diversifikasi pangan ini.

Pertama, tingkat pengetahuan masyarakat kita terutama kelas menengah dan bawah, yang merupakan 80 % dari total penduduk kita relatif rendah. Kondisi seperti ini, jelas menjadi kendala yang sangat besar dalam proses komunikasi. Mereka tidak mudah memahami suatu pesan yang relatif kompleks.

Kedua, budaya makan adalah kebiasaan yang sulit diubah. Bila tidak ada perubahan lingkungan eksternal yang besar, masyarakat akan cenderung mempertahankan kebiasaan yang sudah dilakukan bertahun-tahun. Seseorang mengatakan belum makan apabila belum makan nasi, walaupun sudah mengkonsumsi berbagai makanan alternatif.

Ketiga, sudah sejak lama, beras, secara sengaja atau tidak sengaja, telah diposisikan sebagai makanan unggulan. Beras adalah simbol kemakmuran. Masyarakat yang belum mampu mengkonsumsi beras dianggap sebagai kelompok yang belum makmur. Beras juga diposisikan sebagai komoditas politik. Keberhasilan pemerintah dalam bidang pangan, diukur dari kemampuan untuk menyediakan beras semata. Ada kesan yang kuat bahwa ketersediaan beras adalah hal fundamental untuk menjaga kestabilan politik.

Keempat, harus diakui bahwa beras memiliki rasa yang relatif enak. Dengan kata lain, berbagai bahan makanan alternatif lain belum mampu meyakinkan lidah sebagian besar masyarakat Indonesia. Inovasi dalam bidang alternatif pangan yang lain relatif terlambat. Keberhasilan mie siap saji merupakan fenomena yang dapat dijadikan contoh bagi alternatif pangan yang lain. Beberapa bahan alternatif pangan lain relatif tidak terjangkau harganya. Tidak mengherankan jika proses penganekaragaman pangan sangat mudah terjadi untuk masyarakat golongan atas. Masyarakat yang mempunyai penghasilan yang pas-pasan, akan lebih memilih makanan yang sesuai dengan kondisi daya beli mereka. Mereka cenderung makan beras dalam jumlah yang banyak dan mengorbankan sebagian makanan komplemen termasuk lauk pauknya.

Kelima, adalah masalah ketersediaan. Saat ini proses produksi dan distribusi pangan banyak difokuskan kepada beras. Tidak mengherankan, ketersediaan pangan alternatif seringkali dianggap sebagai pelengkap saja.

Keenam, adalah tidak maksimalnya peran berbagai stakeholder di luar pemerintah. Tidak cukup insentif bagi industri untuk mengembangkan pangan alternatif. Lembaga-lembaga riset juga belum maksimal dalam melakukan studi-studi pengembangan alternatif pangan. Stakeholder lain seperti media massa, seringkali tidak memberikan dukungan yang maksimal pula dalam memberikan informasi mengenai alternatif pangan.

Ketujuh, komitmen yang belum maksimal. Diakui atau tidak, program penganekaragaman selama ini masih sering bersifat sporadis dan reaktif. Kurangnya komitmen ini juga terlihat tidak adanya sasaran yang jelas seperti berapa persen peran beras harus diturunkan sebagai makanan sumber karbohidrat di masa mendatang.

Dengan mengetahui kendala-kendala diversifikasi pangan seperti ini, diharapkan program diversifikasi pangan akan mudah dilaksanakan pada semua tingkatan. Hal ini juga menuntut peran pemerintah untuk tidak bosan-bosannya mengkampanyekan pentingnya diversifikasi pangan dan juga harus memberi keteladanan bagi aparatnya disertai bimbingan teknis dan insentif ekonomi dari pangan pokok beras kepada pangan pokok lokal lainnya, atau dengan kombinasi untuk mengurangi konsumsi beras antara lain dengan jagung, sagu, jagung, ubi dan sebagainya.

Dengan demikian kedepan setidaknya kita dapat mengurangi tingkat ketergantungan masyarakat pada komoditas beras dan memperbaiki pola konsumsinya. Masyarakat juga dapat menetapkan pangan pilihan sendiri serta menciptakan ketahanan pangan di tingkat keluarga yang akhirnya bermuara pada peningkatan ketahanan pangan secara regional dan nasional. Semoga!

Artikel ini dimuat Harian Umum Pelita


Labels: ,


[...Baca Selengkapnya...]

Tuesday, April 28, 2009

Saya Menjadi Wartawan?


TERNYATA saya sudah menjadi ”wartawan” koran lokal yang terbit dengan oplah terbesar di Jombang dan Mojokerto. Ini setelah saya diberi tahu kawan saya yang sama-sama dari Jombang tetapi tinggal berjauhan. Ceritanya, sore itu dia habis membaca artikel di koran lokal itu edisi Minggu, 26 April 2009 tentang salah satu kuliner yang ada di Jombang, apalagi kalau bukan Soto Dok, soto yang membuat pembeli sering terkaget-kaget (seperti kekagetan saya menerima berita dari kawan saya ini). Dia merasakan bahwa ”aroma” dan ”taste” artikel yang ditulis wartawan koran itu kok mirip banget dengan yang pernah saya tulis dan sudah saya posting di blog ini dua tahun yang lalu.

Saya pun buru-buru pinjam koran tetangga. Saya mencari-mencari artikel itu. Tak sulit dicari karena tulisan itu menempati halaman pertama. Saya pun membaca dengan seksama dengan tempo secepat-cepatnya. Di awal dan tengah-tengah artikel yang saya baca tak ada masalah, namun di akhir tulisan itu, saya baru mulai mencium ”aroma” dan ”rasa” tulisan saya dua tahun lalu seperti kata kawan saya tadi. Dan benar juga, tiga paragraf terakhir dari tulisan itu adalah comotan dari tulisan saya. Sama persis tanda baca maupun kata-katanya, hanya sedikit dimodifikasi saja dari sang wartawan, sehingga seolah-olah ada wawancara! Bandingkan dengan tulisan saya sebelumnya di sini dengan kutipan tulisan di bawah ini.


Its ok! Tak ada masalah bagi saya meskipun ditelan mentah-mentah tanpa menyebut sumber atau link. Saya justru senang tulisan saya dibaca dan digunakan orang banyak. Namun terkadang dilubuk hati yang terdalam terasa kurang sreg saja setiap kali ada tulisan saya di-copy mentah-mentah tanpa mencantumkan sumbernya. Apalagi tujuan meng-copy itu terkait dengan profesi dan dekat dengan tujuan komersial.

Saya sangat menghargai kalau ada pihak-pihak yang mengutip semua atau hanya sebagian tulisan saya (yang tak bermutu ini) dengan mencantumkan sumber atau link. Cukup itu saja, tak perlu minta ijin langsung kepada saya.

Media yang profesional dengan profit oriented sudah selayaknya mempunyai crew yang bekerja secara profesional, tak asal-asalan. Saya jadi curiga jangan-jangan berita-berita yang tertulis itu tidak akurat karena tanpa penelusuran, hanya mengira-ngira saja. Semoga saja kecurigaan saya ini tidak benar. Tetapi menurut AW, seorang kawan saya, bahwa ..................(off the record)!!!

Ini bukan kejadian pertama kali, ada beberapa koran yang wartawannya juga meng-copy lebih dari beberapa artikel di blog saya menjadi sebuah berita tanpa ada sumber link-nya. Begitu juga artikel utuh saya pernah dimuat di koran dengan klaim nama orang lain.

Sebagai orang ladang dengan kemampuan dan informasi yang terbatas, apalah daya saya. Saya tak akan mempersoalkan terus masalah ini. Toh sejatinya semua tulisan saya adalah tulisannya orang yang baru belajar, bukan tulisan orang profesional. Menulisnya pun sekadarnya saja untuk mengisi waktu luang disela-sela mencangkul di ladang.

Jadi tulisan saya itu tulisan gak terlalu bermutu dan gak terlalu penting untuk dibaca. Namun kalau ada yang menjiplak tanpa kulonuwun, kayaknya lebih tidak bermutu lagi deh tulisan itu!

Labels:


[...Baca Selengkapnya...]

Wednesday, April 8, 2009

Mengapa NgeBlog?


AWALNYA saya bingung harus menjawab bagaimana pertanyaan seperti judul postingan ini. Sebagai pendatang baru, meskipun sudah mengenal sejak hampir 5 tahun lalu, saya tak terlalu berpikir apa manfaat blog buat saya atau orang lain. Waktu itu saya menganggap bahwa aktivitas ngeblog hanya sekadar untuk mengisi waktu luang saja di tengah-tengah pencarian literatur-literatur di dunia maya. Sejak mengenal internet di akhir tahun 1990-an, saya hanya memanfaatkan untuk mencari literatur, kirim email dan chatting. Namun untuk chatting, sejak awal tahun 2000-an saya sudah tak pernah melakukannya, meskipun di awal-awal memasuki ”dunia lain” ini saya sempat hampir-hampir kecanduan chatting.

Lalu mengapa sekarang saya ngeblog? Apakah saya juga kecanduan blog? Tidak juga. Sampai saat ini saya belum merasa kecanduan dengan blog. Meskipun terkadang berjam-jam memelototi laptop, itu tak melulu ngeblog. Ngeblog hanya sekadarnya saja, saya usahakan se-proporsional mungkin sesuai dengan situasi dan kondisi. Namun begitu, tentunya saya juga punya beberapa alasan mengapa saya ngeblog, ngeblog dengan segala keterbatasan tentunya. Lha wong saya tak terlalu mengerti bahasa html atau java (kecuali java language dengan logat nJombangan yang medok), apalagi bahasa tulis yang baik dan benar.

Inilah beberapa alasan saya ngeblog, pertama, saya pernah menulis alasan utama saya kenapa ngeblog. Ini bisa dilihat pada postingan sebelumnya di sini.

Kedua, sesuai dengan header dari blog saya ini: “…..sekadar catatan untuk melepas penat disela-sela mencangkul di tengah ladang sambil menikmati hembusan angin di siang hari, nyanyian burung-burung, lenguhan kerbau, hamparan langit biru, gemericik air pancuran, hijaunya dedaunan, aroma keringat, sengatan matahari, belalang-belalang yang lalu-lalang berlompatan, dan tentu saja secangkir kopi pahit dan sepotong singkong rebus…..”.

Ketiga, saya ingin ”membenarkan” perkataan Kanjeng Raden Tumenggung Roy Suryo dan Ahmad Dhani, pentolan band Dewa, yang intinya bahwa orang yang ngeblog dan membaca blog adalah orang-orang goblok. Setidaknya bila perkataan itu ditujukan kepada saya, saya tak akan sewot apalagi marah. Perkataan beliau-beliau yang ”pakar” dan ”pintar” ini memang benar adanya, karena saya memang benar-benar masih goblok, hanya mampu ngeblog, yang gratisan pula!

Keempat, sekadar berbagi informasi dengan sesama blogger atau pembaca blog. Setidaknya dengan cara begitu, otak saya yang otak telo ini (kata orang tua di Jawa, istilah otak telo atau otak ketela adalah otak dengan IQ jongkok akibat terlalu sering makan ketela) bisa mendapat siraman informasi dan tak terlalu cepat mbuki (berjamur) dan basi.

Kelima, mencari keberuntungan untuk bisa menjalin tali silahturahmi dengan kawan-kawan baru ataupun kawan-kawan lama. Dengan kawan-kawan baru saya bisa ”mencangkuli” pengalaman-pengalaman baru yang yang unik-unik dan tak terduga.

Sementara itu dengan kawan-kawan lama (kawan sekolah, kawan masa kecil, kawan kuliah, kawan kursus, kawan cangkrukan, kawan mbambung, kawan ludrukan, dan kawan-kawan lainnya) bisa terus menjalin komunikasi meskipun saling berjauhan tempat tinggalnya. Ada seorang blogger yang berada di belahan bumi lain yang ternyata dia adalah tetangga di kampung yang jarak rumah kami tak lebih dari 10 meter, bisa saya temukan lewat dunia maya. Padahal, kami sudah lama tak berjumpa dan sudah sejak lama pula meninggalkan kampung halaman untuk menyambung hidup dan tinggal di belahan bumi lain. Sementara belum tentu setiap kali mudik kami bertemu, sebab seringkali waktu mudiknya tak bersamaan.

Untuk sementara itu saja alasan saya ngeblog. Alasan yang sangat sederhana karena saya tidak punya alasan-alasan lain yang lebih hebat, misal ngeblog untuk mempengaruhi atau memprovokasi orang lain. Itu terlalu jauh meskipun itu juga memungkinkan. Entah untuk kedepannya, saya tak tahu. Wallahualam!

Labels:


[...Baca Selengkapnya...]

Tuesday, March 31, 2009

Mereka Belum Merdeka!


INILAH potret buram yang sempat saya rekam di perempatan lampu merah Jl. Merdeka Jombang. Sudah beberapa tahun yang lalu saya mendapati ibu ini ”ngetem” di perempatan ini. Seorang ibu yang mempunyai kondisi fisik tidak sama dengan kebanyakan orang (difabel), entah akibat kelumpuhan sejak kecil atau apa, terpinggirkan dengan menjadi peminta-minta. Setiap traffic light berwarna merah dan kendaraan berhenti, ibu itu dengan cara ngesot bergerak mendekati pengendara dan menyodorkan tangannya, meminta kepada pengendara untuk sedikit berderma dengan memberikan uang ala kadarnya saja.

Menyaksikan ini, saya tak bisa membayangkan jika ibu ini adalah ibu atau kerabat dekat saya. Saya juga tak kuasa curiga, apakah ibu ini dieksploitasi dan dikoordinir orang-orang tertentu atau apakah ibu ini sejatinya orang kaya yang berpura-pura miskin dan sebagainya. Ini Jombang, bukan kota metropolitan yang multikompleks, yang peminta-mintanya tak sedikit yang dikoordinir dengan sistematis, meskipun bukan berarti di Jombang tak ada yang seperti itu. Namun yang sering saya lihat, setiap pulang atau pergi ibu ini selalu naik becak.

Hampir 64 tahun proklamasi kemerdekaan dikumandangkan, namun sampai saat ini masih banyak anak-anak bangsa yang terbelenggu dan mencari kemerdekaan sendiri. Masih banyak ibu-ibu yang seperti ibu di Jalan Merdeka ini. Masih banyak tunas-tunas bangsa yang mekar dan layu di jalanan. Mereka mengukur jalanan, mengorek-ngorek mencari kemerdekaan yang sesungguhnya. Entah, dimanakah kemerdekaan itu.

Saya hanya teringat pasal dalam UUD ’45 yang seharusnya dilaksanakan dengan murni dan konsekwen, bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara! Sayang negara kita terlalu banyak memelihara bahkan melahirkan pencoleng!

Baca juga di Kompasiana



Labels:


[...Baca Selengkapnya...]

Thursday, March 12, 2009

Sensasi Diskotik Berjalan


ADA sesuatu yang menarik sekaligus unik tatkala menginjakkan kaki pertama kali di Kota Kering, Kota Maumere, Flores, NTT, awal tahun 2008 lalu. Karena kendaraan yang didatangkan dari Jakarta belum juga sampai akibat cuaca laut yang tak menentu dan mempengaruhi jadwal kapal Surabaya–Maumere, maka kemana-mana kami pun menggunakan jasa angkutan kota atau orang Maumere menyebutnya “oto“, mungkin singkatan dari kata otomotif.

Lalu apanya yang unik? Pertama yang unik adalah oto-oto dalam kota tak punya rute tertentu atau tergantung kemauan penumpang. Mirip naik taksi di Jawa. Kelemahannya tentu saja tak terjadwal dan tak tepat waktu. Bahkan bisa jadi tujuan yang hanya berjarak 2 km misalnya, harus ditempuh hampir satu jam karena oto berputar-putar mengantar penumpang lain dengan tujuan yang berbeda-beda. Kemudian bodi oto juga di cat dengan warna-warna yang glamour dan menyolok penglihatan. Pada umumnya satu oto warnanya tak hanya satu atau dua, tetapi berwarna-warni dengan pengecatan memakai teknik airbrush.

Berikutnya adalah penumpang oto. Penumpang oto tak hanya manusia, tetapi binatang piaraan pun terkadang masuk oto. Babi, kambing, atau ayam adalah binatang yang sudah terbiasa naik oto. Binatang-binatang ini biasanya ditaruh di bagian atas. Seperti gambar di bawah ini yang sempat saya dapatkan suatu siang dimana seekor kambing juga jadi penumpang oto. Pada umumnya oto-oto yang memuat ini adalah oto yang mempunyai rute keluar kota. Penumpangnya kebanyakan dari kaum petani di desa-desa sekitar Maumere.

Kambing pun naik oto!

Dan yang terakhir tak kalah uniknya, setiap oto itu selalu menggunakan audio mobile dengan daya dan suara yang cukup besar. Beda di Pulau Jawa, angkutan kotanya nyaris tak mengaktifkan audio mobile-nya, dan kalaupun diaktifkan tidak memutar volume sampai tandas alias maksimal yang bisa menggedor-gedor gendang telinga. Dan rata-rata, oto-oto di kota-kota Indonesia Timur juga menggunakan audio seperti ini.

Lagu-lagu yang diputar pun sebagian besar adalah lagu-lagu disco remix yang kata teman saya sering diputar di diskotik-diskotik yang jumlahnya bejibun di Kota Maumere. Mayoritas lagu-lagu yang diputar adalah lagu-lagu dari Manado dan Ambon. Namun terkadang ada juga yang agak melo, lagu-lagunya Pance Pondaag. Bagi saya yang tak terbiasa dengan hingar-bingar suara keras dan berdentum, menjadi siksaan tersendiri.

Betapa tidak, dengan ruangan oto yang terbatas dan dentuman musik yang menghentak-hentak terasa merobek-robek telinga. Suatu ketika kawan saya yang lain pernah meminta sang sopir untuk mengecilkan volumenya, namun justru di jawab: “Baru datang dari kampung ya!” Kami hanya senyum-senyum saja mendengar jawabannya itu.

Informasi yang saya dapatkan, musik ini merupakan sarana untuk menarik penumpang, terutama dari kalangan pelajar dan remaja. Pada umumnya, kalangan ini hanya berminat naik oto yang mempunyai audio mobile. Jadi, bagi oto-oto yang tanpa kelengkapan seperti ini, jangan harap akan mendapatkan penumpang yang banyak.

Namun, lambat laun saya pun mulai menikmati “diskotik-diskotik berjalan” ini. Daripada dongkol yang tentu bisa menambah siksaan, lebih baik berusaha menikmati apa adanya. Pastinya lama-kelamaan menjadi terbiasa dan menimbulkan sensasi tersendiri. Ya inilah Flores, pulau ular dengan sejuta pesona dan keunikan, diskotik pun bisa diusung ke dalam oto!

*Artikel ini bisa juga dibaca di kompasiana

Labels: ,


[...Baca Selengkapnya...]

Saturday, February 14, 2009

Fenomena “Ponari Putera Petir”


PONARI Putera Petir! Mungkin ini julukan yang cocok bagi bocah kelas 3 asal Desa Balungsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang yang akhir-akhir ini menghiasi media massa cetak maupun elektronik karena ”kesaktiannya” yang diperoleh setelah petir menyambar. Mirip cerita dalam komik jaman dulu, Gundala Putera Petir yang mendapat “kesaktian” setelah petir menyambar. Dengan “kesaktiannya” itu, Ponari mengobati puluhan ribu pasien, baik dari Jombang maupun luar Jombang. Pengobatannya dilakukan dengan cara mencelupkan batu itu ke dalam air lalu airnya diminum oleh pasien-pasiennya. Mungkinkah kombinasi air dan batu itu mengandung mineral dan kimia tertentu yang berkhasiat menyembuhkan? Masih perlu penelitian dari para ahli tentunya.

Meskipun sampai saat ini (14/02) telah menelan empat korban jiwa akibat antrian panjang dan sebelumnya telah berkali-kali dihentikan sementara, namun pengobatan ala Ponari ini sampai kini masih terus berlangsung dan diminati banyak orang. Ketika pengobatan ini dihentikan dan Ponari dievakuasi pun, kerumunan massa masih antri di sekitar rumahnya. Beberapa media melansir jika pasien semakin tak terkontrol. Bahkan ada yang bertindak lebih nyeleneh lagi dengan meminum air yang tertampung dari tenda yang dipasang di rumah Ponari. Termasuk juga ada yang mempercayai ”kesaktian” air di sumur di sekitar rumah Ponari, padahal di sekitar sumur banyak dibangun kandang ternak yang tentu saja mempengaruhi kualitas air.

Fenomena Mohammad Ponari ini pun akhirnya memicu beragam opini. Para ulama mengkawatirkan terjadinya perilaku syirik dengan mempercayai batu. Sosiolog menghubungkannya dengan sosio-kultur mayoritas masyarakat kita dengan hal-hal yang dianggap diluar normal atau supranatural. Psikolog berpendapat bahwa sugesti memegang peranan penting dalam hal ini. Sedangkan paramedis menyebut fenomena ini tak masuk nalar medis!

Namun demikian, setidaknya dari fenomena Ponari ini kita bisa memetik pelajaran lain, bisa semakin membuka mata hati kita, bahwa masih banyak saudara-saudara kita yang hidup dengan tekanan-tekanan yang bertubi-tubi. Tak hanya tekanan ekonomi tetapi juga tekanan-tekanan politik dan kebudayaan, yang semua tekanan-tekanan itu membuat dan menambah kepusingan-kepusingan hidup.

Dalam masalah pelayanan kesehatan, tak sedikit masyarakat kita yang tak kuasa mengakses pelayanan kesehatan yang berkualitas akibat berbagai hal. Meskipun pemerintah telah memberi berbagai keringanan, bukan berarti masyarakat dengan mudah untuk mendapatkan keringanan itu. Rumah sakit dan balai-balai pengobatan terlalu mewah bagi kebanyakan masyarakat kita. Dokter-dokter pun banyak yang ngecer praktek diberbagai tempat, meskipun masih ada dokter-dokter yang profesianal idealis, ramah dan lebih mengedepankan hati nuraninya (sekitar 2 bulan yang lalu saya menjadi korban penelantaran pelayanan rumah sakit swasta yang katanya cukup elit di kota P, yang dokternya ngecer seperti ini).

Demikian juga, meskipun telah ribuan pusat kesehatan masyarakat dibangun, bukan berarti masyarakat mendapat jaminan pelayanan kesehatan yang memadai. Tentang hal ini, saya jadi teringat penyair Wiji Thukul, penyair yang hilang sejak gonjang-ganjing reformasi lebih dari satu dasawarsa lalu, dengan penggalan bait-bait dari salah satu syairnya, ”Reportase dari Puskesmas”:

...................................................
di ruang tunggu terjejal yang sakit pagi itu
sakit gigi mules mencret demam semua bersatu
jadi satu menunggu

o ya pagi itu seorang tukang kayu
sudah tiga hari tak kerja
kakinya merah bengkak gemetar
”menginjak paku!” katanya, meringis

puskesmas itu demokratis sekali, pikirku
sakit gigi, sakit mata, mencret, kurapan, demam,
tak bisa tidur, semua disuntik dengan obat yang sama
ya semua disuntik dengan obat yang sama
ini namanya sama rata sama rasa
ini namanya setiap warga negara mendapatkan haknya
semua yang sakit diberi obat yang sama!

(Wiji Thukul, 1986, Reportase dari Puskesmas dalam Aku Ingin Jadi Peluru, Indonesia Tera, 2000).

Demikian juga, kita boleh-boleh saja mengkhawatirkan pengobatan ala Ponari ini sebagai sesuatu yang syirik. Tak ada yang salah untuk saling mengingatkan dalam ”menjaga hati” ini. Namun begitu, jangan lantas kita dengan mudah dan gegabah menuduh ini-itu sebagai sesuatu yang syirik dan harus diberangus. Bukankah syirik itu ada pada sikap hati kita? Bukankah akan lebih bijak jika kita mencari penyebab mengapa suadara-saudara kita berduyun-duyun berperilaku seperti ini?

Dan seumpama perilaku seperti ini dikatakan syirik, apakah tidak lebih syirik bagi para pemuja kekuasaan yang seharusnya menciptakan ”ruang” bagi yang dikuasainya. Bukan justru mempersempit atau bahkan menghapus ”ruang” yang dikuasainya sehingga yang dikuasainya itu mencari ”ruang-ruang lain”, termasuk ”ruang” yang tercipta oleh Ponari ini.

Kehidupan ini luas dan penuh banyak kemungkinan-kemungkinan, dan sudah selayaknya diperlukan keluasan, keluwesan, dan keleluasaan pandang untuk menimbang kemungkinan-kemungkinan itu. Dan mungkin saja Ponari dan batunya adalah sedikit dari banyaknya kemungkinan-kemungkinan itu. Wallahualam bishowab!

Labels: ,


[...Baca Selengkapnya...]

Monday, February 9, 2009

Reaktualisasi Program Diversifikasi Pangan


MESKIPUN pada tahun 2008 lalu Indonesia bisa mencapai swasembada beras, bukan berarti persoalan pangan lepas dari masyarakat kita. Dengan jumlah penduduk yang besar dan laju pertumbuhannya hampir 2 persen per tahun, merupakan beban tersendiri dalam pemenuhan kebutuhan akan beras. Ditambah lagi dengan pola konsumsi masyarakatnya yang terkonsentrasi pada beras, dimana tingkat konsumsi beras hampir 130 kg per kapita per tahun, serta adanya sikap abai masyarakat terhadap sumber pangan lain, jelas sangat berbahaya bagi ketahanan pangan kita. Apalagi akhir-akhir ini produksi pertanian khususnya beras mulai tak stabil akibat perubahan iklim ekstrim yang mempengaruhi produktivitas dan luasan panen. Dan ini terbukti dengan munculnya berbagai kasus kerawanan pangan yang melanda beberapa daerah di Indonesia.

Padahal, dari potensi sumberdaya wilayahnya saja sebenarnya Indonesia memiliki ketersediaan pangan yang kaya dan beragam, baik pangan sumber karbohidrat, protein, lemak, vitamin maupun mineral. Pangan sumber karbohidrat dari berbagai jenis umbi-umbian, sayur dan buah-buahan semuanya bisa tumbuh dengan baik di wilayah kita. Wilayah perairan Indonesia juga cukup luas, dengan garis pantai yang sangat panjang.

Demikian juga, masyarakat kita dulu mempunyai pola konsumsi makan yang relatif beragam. Hal ini bisa dicerminkan dari berbagai jenis kuliner yang diciptakan pendahulu kita semacam karedok leunca, berbagai olahan mie gleser yang terbuat dari sagu, peuyeum bandung dan aneka penganan tradisional lainnya dari berbagai penjuru Indonesia yang berbahan dasar non beras dan merupakan produk lokal. Hal ini setidaknya mencerminkan bahwa pola konsumsi masyarakat Indonesia sangat beragam.

Namun, keragaman itu kini semakin luntur akibat hegemoni beras terutama sejak pemerintahan orde baru dengan program swasembada berasnya. Akibatnya, sumber pangan non beras semacam umbi-umbian seperti suweg, talas, iles-iles, ketela, gadung, ganyong, dan sebagainya yang tumbuh subur di seantero Indonesia, terabaikan dan tercitra menjadi makanan kelas dua yang sangat lekat dengan kemelaratan.

Demikian juga dengan teknologi pengolahannya yang tak mendapat perhatian serius. Bahkan, institusi lokal penyangga ketahanan pangan yang dulu tumbuh di masyarakat kita, seperti lumbung desa, juga mengalami kehancuran seiring dengan hegemoni beras dan institusi penyangga tunggalnya (Bulog).

Persoalan ini akan semakin akut jika ke depan kita tak mampu meningkatkan produksi beras sementara peningkatan konsumsi tetap lebih besar dari peningkatan produksinya. Hal ini sangat mungkin terjadi, karena daya dukung terhadap pertanian saat ini mulai menurun. Daya dukung yang menurun ini bukan saja karena faktor alam (perubahan iklim maupun bencana) tetapi juga kebijakan yang diambil pemerintah seringkali tidak berpihak kepada petani. Hal ini tentu menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan kita dimasa mendatang.

Oleh karena itu, salah satu yang paling efektif untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan mereaktualisasikan program diversifikasi pangan yang dulu pernah digulirkan pemerintah. Dengan diversifikasi pangan, bukan saja menguntungkan dari sudut ilmu gizi, namun lebih dari itu akan mampu memperkuat posisi ekonomi-politik pangan kita. Dan setidaknya kita telah mempunyai dukungan untuk mengaktualisasikannya yaitu preferensi dan budaya makan masyarakat kita yang sebenarnya sudah sangat beragam serta dukungan potensi wilayah yang juga beragam.

Hanya saja kendala yang dihadapi saat ini adanya fakta bahwa beras mempunyai keunggulan dibanding sumber pangan karbohidrat lain, baik vitamin maupun mineralnya sehingga masyarakat lebih memilihnya. Namun, hal ini sebenarnya bisa diatasi jika ada upaya khusus dan serius dari pemerintah, lembaga-lembaga riset maupun kalangan industri bersama-sama mencari berbagai cara untuk meningkatkan mutu pangan tradisional, seperti misalnya penambahan vitamin dan mineral untuk pangan pokok non beras dan mengolahnya sesuai selera masyarakat. Hal ini dilakukan karena diversifikasi pangan tidak hanya terkait dengan pangan yang beragam tetapi juga adanya upaya perbaikan pola konsumsi masyarakat baik kuantitas, kualitas ataupun keamanannya sehingga dapat diwujudkan konsumsi pangan dengan gizi yang seimbang. Upaya ini bukan berarti menyingkirkan beras, tetapi lebih pada upaya memberdayakan pangan non beras.

Dan yang tak kalah penting dalam kebijakan diversifikasi pangan ini adalah faktor pendapatan. Berbagai studi empiris menunjukkan bahwa pendapatan merupakan faktor penting dalam akses pangan. Tanpa pendapatan yang layak mustahil masyarakat dapat mengakses beragam pangan. Prinsip ekonominya, orang akan mengubah pola konsumsinya dari barang yang dianggap kelas dua ke barang normal atau yang lebih mewah jika pendapatannya bertambah. Dan jika pendapatannya terus bertambah, secara otomatis akan mengurangi konsumsi beras dengan beralih mengonsumsi daging, sayur, buah dan sebagainya. Intinya, diversifikasi pangan akan terjadi secara otomatis seiring dengan meningkatnya pendapatan.

Dengan mendiversifikasi pangan, kita juga berupaya untuk meningkatkan pamor pangan lokal untuk menggantikan atau setidak-tidaknya sejajar dengan beras menjadi menu utama. Jika suatu waktu terjadi kelangkaan beras seperti yang sering terjadi akhir-akhir ini, kita tak perlu lagi impor beras yang sarat intrik dan polemik serta timbulnya eksploitasi ekonomi-politik oleh pihak-pihak asing. Dan yang terpenting adalah memungkinkan masyarakat Indonesia dapat menetapkan pangan pilihan sendiri serta menciptakan ketahanan pangan di tingkat keluarga yang akhirnya bermuara pada peningkatan ketahanan pangan secara regional dan nasional. Semoga!

Labels:


[...Baca Selengkapnya...]

Wednesday, February 4, 2009

Pemuda dan Regenerasi Petani


SELAMA ini peran generasi muda dalam pembangunan pertanian sedikit terabaikan. Akibatnya, regenerasi petanipun sulit berjalan sehingga pertanian tetap didominasi generasi tua yang tentu mempunyai berbagai implikasi. Salah satu implikasinya adalah pertanian berjalan di tempat dan sulit melakukan perubahan yang mendasar. Mungkin ini salah satunya yang menyebabkan kondisi pertanian kita terus mengalami pengeroposan, renta dan kurang darah.

Padahal, dengan komposisi pemuda kita saja saat ini hampir 40 persen dari total jumlah penduduk, tentu ini sebuah potensi besar yang dapat dioptimalkan untuk membangun pertanian. Apalagi selama ini kita dikenal sebagai bangsa agraris dengan dukungan iklim, sumber daya alam dan sumber daya manusia muda yang melimpah, tentunya sangat ironis jika kondisi pertanian kita tetap seperti saat ini. Jadi pada intinya, melibatkan pemuda atau dengan kata lain menyegerakan regenerasi petani adalah sebuah hal yang sangat mendesak bagi bangsa agraris ini.

Tak Menarik

Adanya kecenderungan para pemuda terutama yang tinggal di kawasan pedesaan yang kurang tertarik terhadap dunia pertanian tentu berakibat pada sektor ini hanya di dominasi oleh generasi tua yang acapkali kurang responsif terhadap perubahan. Umumnya dalam pandangan pemuda, bertani adalah pekerjaan tradisional yang kurang bergengsi dan hasilnya disamping tidak segera dapat dinikmati juga jumlahnya yang relatif kecil.

Pandangan tersebut tentu mempengaruhi minat orang-orang muda untuk mau menjadi petani. Ini didukung oleh budaya instan, ingin cepat menghasilkan. Sementara pertanian memerlukan waktu panjang dengan kesabaran yang tinggi dalam menghadapi berbagai resiko internal dan eksternal. Ditambah lagi dengan berbagai kebijakan yang tidak pro-petani dan justru seringkali pertanian dipandang sebelah mata dan dijadikan komoditas politik tanpa mempedulikan nasib dan masa depan pertanian.

Di samping itu, kurangnya dukungan para orang tua baik secara mental maupun material terhadap anak-anak muda untuk menjadi petani juga menjadi penyebab pemuda tak tertarik menjadi petani. Alih-alih memberikan dukungan, justru orang tua acapkali mengendorkan syaraf anak-anak muda yang berkeinginan menjadi petani. Mereka lebih menginginkan anak-anaknya menjadi dokter, birokrat, pilot dan profesi lainnya yang dianggap lebih prestise. Indikasi seperti ini salah satunya dapat dilihat dari banyaknya sekolah-sekolah pertanian ataupun fakultas-fakultas pertanian, terutama di perguruan tinggi swasta, yang kondisinya kekurangan mahasiswa.

Akhirnya banyak para pemuda, terutama yang tinggal di desa, lebih tertarik pada pekerjaan-pekerjaan non-pertanian di kawasan kota-kota besar terutama di kota-kota besar di Pulau Jawa. Mereka bekerja di sektor non-pertanian semisal menjadi pegawai, buruh pabrik, buruh bangunan, jasa transportasi baik yang formal maupun non-formal, yang menurut pandangannya lebih bergengsi. Kalau mereka mempunyai keahlian spesifik, tentu hal ini bukan masalah. Namun, tak sedikit dari mereka yang tak mempunyai keahlian spesifik dan keberuntungan justru menjadi beban di kota karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan.

Membangun Citra Pertanian

Oleh karena itu, untuk menumbuhkan minat dan kemauan serta merubah paradigma berpikir tentang pertanian dapat dimulai dengan membangun citra pertanian. Paradigma berpikir tentang pertanian selama ini sedikit banyak telah menurunkan citra pertanian terutama bagi pemuda. Paradigma berpikir harus kita ubah, bahwa pertanian bukan sekadar mencangkul di sawah dan menjadi petani tidak selalu identik dengan kemiskinan. Pertanian bukanlah sektor tradisional yang kurang bergengsi dan tidak memberikan nilai tambah, tetapi merupakan sektor strategis yang mampu memberikan nilai tambah yang berlipat jika dikelola secara profesional dan komersial seperti sektor-sektor lainnya. Bahkan kemajuan sektor-sektor lain sangat tergantung pada kemajuan sektor pertanian.

Untuk membangun citra pertanian, sosialisasi maupun kampanye-kampanye pertanian yang membuat generasi muda tersadar akan pentingnya pertanian dengan segala potensi yang dimilikinya. Sosialisasi dapat dilakukan dengan memanfaatkan berbagai media komunikasi semacam radio, televisi, surat kabar dan media publikasi lainnya.

Selanjutnya, yang perlu dilakukan adalah membuat semacam Balai Latihan Kerja Pertanian. Balai Latihan Kerja Pertanian sangat diperlukan yang nantinya akan menjadi kawah candradimuka penggemblengan dan pusat kegiatan pengembangan pengetahuan dan keterampilan serta penyebarluasan konsep-konsep dan metode pertanian mutakhir dan berbudaya.

Demikian juga, adanya program pertukaran pemuda tani, sangat menarik dan perlu dilakukan. Kalau selama ini pertukaran pelajar dan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu seringkali dilakukan, apa salahnya program pertukaran pemuda tani juga dilakukan untuk memberi kesempatan para petani-petani muda, utamanya yang tinggal di pedalaman pedesaan untuk pengembangan wawasan pertaniannya. Ini juga sebagai suatu upaya untuk menampilkan wajah pertanian yang menarik dan diminati oleh semua orang, khususnya orang muda di pedesaan.

Namun, yang terpenting dari hal itu semua adalah tetap diperlukan keberpihakan kebijakan yang pro-petani dan pertanian. Segala upaya di atas jika tanpa dibarengi dengan keberpihakan pembuat kebijakan tetap saja tak akan mampu menarik pemuda untuk menjadi petani.

Dengan demikian, diharapkan ke depan pertanian akan lebih menarik bagi generasi muda. Regenerasi petani pun tak akan berhenti dan profesi petani akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi kaum muda. Pemuda akan mengoptimalkan diri berpartisipasi dalam pembangunan pertanian sekaligus menjadikan pertanian sebagai tumpuan masa depannya. Semoga!

Labels:


[...Baca Selengkapnya...]