“…..sekadar catatan untuk melepas penat disela-sela mencangkul di tengah ladang sambil menikmati hembusan angin di siang hari, nyanyian burung-burung, lenguhan kerbau, hamparan langit biru, gemericik air pancuran, hijaunya dedaunan, aroma keringat, sengatan matahari, belalang-belalang yang lalu-lalang berlompatan, dan tentu saja secangkir kopi pahit dan sepotong singkong rebus…..”


Thursday, May 28, 2009

Upacara Potong Padi


ENTAH sudah berapa tahun saya tak melihat upacara potong padi atau orang Jawa sering menyebut dengan methik. Yang saya ingat sekitar pertengahan tahun 80-an saya masih sempat melihat dan menikmati tradisi methik itu. Ketika itu nenek masih mempunyai sawah yang tak lebih dari setengah hektar. Setiap kali menjelang panen padi, nenek selalu memulai dengan ritual selamatan seperti ini.

Malam menjelang panen biasanya dilakukan kenduri atau tumpengan di rumah dengan mengundang tetangga kanan-kiri. Yang saya pahami, hal ini dilakukan sebagai bentuk ugkapan rasa syukur dengan sedekah nasi tumpeng atas panen di setiap musim panen. Bukankah berbagi kebahagiaan kepada tetangga adalah hal yang sangat bijak yang dianjurkan ajaran-ajaran suci?

Selain tumpeng yang dikendurikan di rumah, juga disiapkan tumpeng yang khusus untuk kenduri di sawah keesokan harinya. Tumpeng ini dibuat khusus dengan bagian puncak ditancapi dengan berbagai macam hiasan dan uba rampe seperti cabai, bawang merah, sirih, gula merah, ikan asin, merang, daun kelapa atau daun aren, dan sepotong bambu yang masih muda. Tumpeng ini dijaga semalam suntuk sebelum keesokannya dibawa ke sawah.

Keesokan harinya dilanjutkan dengan upacara methik di lokasi atau sawah yang akan dilakukan pemanenan. Upacara methik ini dipimpin oleh orang pintar atau tokoh spiritual desa dengan membawa sesajen dengan segala macam uba rampe-nya itu ke lokasi persawahan yang akan dipanen. Yang saya ingat, dulu Pak Tua yang memimpin upacara itu selalu membakar merang dan dupa atau kemenyan. Saya selalu merinding bila mencium aroma khas dupa atau kemenyan itu.

Kata orang-orang, dupa dan kemenyan adalah “makanan” dedemit yang mbaurekso atau yang menunggu tempat-tempat tertentu. Bagi saya, dedemit dan sebangsanya dalam hal makan masih kalah hebat dengan manusia. Manusia bisa memakan apa saja seperti jalan tol, jembatan, proyek bandara dan pelabuhan, hutan lindung dan sebagainya. Hebat bukan?

Kembali ke upacara potong padi, setelah membakar merang dan kemenyan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa-doa dan selanjutnya dilakukan pemetikan beberapa tangkai padi dengan ani-ani. Tangkai padi inilah yang melambangkan Sang Dewi Sri atau Dewi Padi yang dianggap mempunyai kekuatan magis. Lalu beberapa helai tangkai padi ini dijadikan seperti pengantin atau disandingkan dalam sesajen (makanya sesajen kadang juga disebut sandingan). Padi sandingan ditutup dengan bernacam bunga dan diolesi dengan boreh (semacam krim atau bedak basah). Kemudian sesajen yang sudah “bersanding” dengan Sang Dewi Padi, dibawa pulang ke rumah dengan cara disunggi (ditaruh di atas kepala) atau kadang digendong untuk disimpan di bilik atau senthong. Pembawa sandingan ini harus diam atau tak bicara apapun sampai di rumah. Di beberapa daerah lain, padi disimpan dalam lumbung yang dibuat khusus, misalnya pada suku Baduy dengan membuat leuit.

Setelah pemetikan beberapa helai tangkai ini, biasanya tidak langsung memetik seluruh tanaman padi tetapi dilakukan dengan pembagian nasi tumpeng yang telah dibacakan doa-doa sebelumnya. Engkung atau panggang ayam utuh biasanya menjadi lauk utama ditambah dengan lauk lainnya seperti urap-urap, tahu, tempe dan sebagainya. Semua kebagian tanpa harus berebutan, satu rasa sama rata. Suasana guyub dan kebersamaan pun tercipta tatkala menikmati nasi tumpeng bersama-sama.

Sungguh, saat ini saya sangat merindukan suasana seperti itu!


*Artikel ini bisa juga dibaca di kompasiana

Labels:


[...Baca Selengkapnya...]

Monday, May 11, 2009

Urgensi dan Kendala Diversifikasi Pangan


SELAMA ini yang terjadi pada sistem ketahanan pangan kita adalah masih rendahnya tingkat diversifikasi pangan, dimana mayoritas masyarakat kita masih menggantungkan beras sebagai sumber pangan utamanya. Padahal, dalam konsep ketahanan pangan, diversifikasi pangan merupakan salah satu syarat untuk mencapai ketahanan pangan yang tangguh. Dan saat ini, mendiversifikasi pangan merupakan langkah yang tepat dan urgen mengingat produksi maupun distribusi beras seringkali tersendat.

Diversifikasi pangan dipilih sebagai langkah utama selain waktu yang diperlukan lebih pendek jika dibandingkan dengan program lain, seperti ekstensifikasi dan intensifikasi juga hal ini juga untuk mendorong masyarakat (petani) lebih kreatif dalam memanfaatkan lahan yang ada dengan menanam tanaman yang dapat menjadi bahan makanan pokok selain padi, seperti jagung, ketela, dan umbi-umbian lainnya.

Selain itu, melalui penataan pola konsumsi yang tidak tergantung pada satu sumber pangan, memungkinkan masyarakat dapat menetapkan pangan pilihan sendiri, menaikkan pamor pangan lokal untuk menggantikan atau setidak-tidaknya berdampingan dengan beras menjadi menu utama, dan membangkitkan ketahanan pangan keluarga masing-masing, yang berujung pada peningkatan ketahanan pangan nasional. Selain konsumsi yang beragam juga pola produksinya akan ikut beragam. Dengan demikian, jika suatu saat terjadi kemelut salah satu bahan pangan pokok (beras) kita tidak akan kerepotan, misal repot impor beras yang dapat menimbulkan eksploitasi ekonomi-politik oleh negara-negara eksportir.

Lebih jauh, ditinjau dari potensi sumberdaya lokal wilayah, sumberdaya alam kita memiliki potensi ketersediaan pangan yang beranekaragam, baik pangan untuk sumber karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Kita bisa mencermati hal ini, dimana setiap wilayah di Indonesia mempunyai sumber pangan lokal tersendiri seperti Madura dan Nusa Tenggara dengan jagung, Maluku dan Papua dengan sagu, Sumatera dengan ubi, Jawa dan Bali serta Sulawesi Selatan dengan berasnya. Jadi sebuah hal yang ironis jika kita tidak memanfaatkan kekayaan yang beragam ini.

Sebenarnya, program diversifikasi pangan telah diluncurkan sejak tahun 1974 dan disempurnakan dengan inpres 20/1979. Namun sampai saat ini belum terlaksana dengan efektif. Banyak hal yang menjadi kendala dalam program ini. Menurut Hariyadi dkk (2004) setidaknya ada beberapa kendala yang mesti dipetakan dan diperhatikan dalam upaya melakukan diversifikasi pangan ini.

Pertama, tingkat pengetahuan masyarakat kita terutama kelas menengah dan bawah, yang merupakan 80 % dari total penduduk kita relatif rendah. Kondisi seperti ini, jelas menjadi kendala yang sangat besar dalam proses komunikasi. Mereka tidak mudah memahami suatu pesan yang relatif kompleks.

Kedua, budaya makan adalah kebiasaan yang sulit diubah. Bila tidak ada perubahan lingkungan eksternal yang besar, masyarakat akan cenderung mempertahankan kebiasaan yang sudah dilakukan bertahun-tahun. Seseorang mengatakan belum makan apabila belum makan nasi, walaupun sudah mengkonsumsi berbagai makanan alternatif.

Ketiga, sudah sejak lama, beras, secara sengaja atau tidak sengaja, telah diposisikan sebagai makanan unggulan. Beras adalah simbol kemakmuran. Masyarakat yang belum mampu mengkonsumsi beras dianggap sebagai kelompok yang belum makmur. Beras juga diposisikan sebagai komoditas politik. Keberhasilan pemerintah dalam bidang pangan, diukur dari kemampuan untuk menyediakan beras semata. Ada kesan yang kuat bahwa ketersediaan beras adalah hal fundamental untuk menjaga kestabilan politik.

Keempat, harus diakui bahwa beras memiliki rasa yang relatif enak. Dengan kata lain, berbagai bahan makanan alternatif lain belum mampu meyakinkan lidah sebagian besar masyarakat Indonesia. Inovasi dalam bidang alternatif pangan yang lain relatif terlambat. Keberhasilan mie siap saji merupakan fenomena yang dapat dijadikan contoh bagi alternatif pangan yang lain. Beberapa bahan alternatif pangan lain relatif tidak terjangkau harganya. Tidak mengherankan jika proses penganekaragaman pangan sangat mudah terjadi untuk masyarakat golongan atas. Masyarakat yang mempunyai penghasilan yang pas-pasan, akan lebih memilih makanan yang sesuai dengan kondisi daya beli mereka. Mereka cenderung makan beras dalam jumlah yang banyak dan mengorbankan sebagian makanan komplemen termasuk lauk pauknya.

Kelima, adalah masalah ketersediaan. Saat ini proses produksi dan distribusi pangan banyak difokuskan kepada beras. Tidak mengherankan, ketersediaan pangan alternatif seringkali dianggap sebagai pelengkap saja.

Keenam, adalah tidak maksimalnya peran berbagai stakeholder di luar pemerintah. Tidak cukup insentif bagi industri untuk mengembangkan pangan alternatif. Lembaga-lembaga riset juga belum maksimal dalam melakukan studi-studi pengembangan alternatif pangan. Stakeholder lain seperti media massa, seringkali tidak memberikan dukungan yang maksimal pula dalam memberikan informasi mengenai alternatif pangan.

Ketujuh, komitmen yang belum maksimal. Diakui atau tidak, program penganekaragaman selama ini masih sering bersifat sporadis dan reaktif. Kurangnya komitmen ini juga terlihat tidak adanya sasaran yang jelas seperti berapa persen peran beras harus diturunkan sebagai makanan sumber karbohidrat di masa mendatang.

Dengan mengetahui kendala-kendala diversifikasi pangan seperti ini, diharapkan program diversifikasi pangan akan mudah dilaksanakan pada semua tingkatan. Hal ini juga menuntut peran pemerintah untuk tidak bosan-bosannya mengkampanyekan pentingnya diversifikasi pangan dan juga harus memberi keteladanan bagi aparatnya disertai bimbingan teknis dan insentif ekonomi dari pangan pokok beras kepada pangan pokok lokal lainnya, atau dengan kombinasi untuk mengurangi konsumsi beras antara lain dengan jagung, sagu, jagung, ubi dan sebagainya.

Dengan demikian kedepan setidaknya kita dapat mengurangi tingkat ketergantungan masyarakat pada komoditas beras dan memperbaiki pola konsumsinya. Masyarakat juga dapat menetapkan pangan pilihan sendiri serta menciptakan ketahanan pangan di tingkat keluarga yang akhirnya bermuara pada peningkatan ketahanan pangan secara regional dan nasional. Semoga!

Artikel ini dimuat Harian Umum Pelita


Labels: ,


[...Baca Selengkapnya...]

Tuesday, April 28, 2009

Saya Menjadi Wartawan?


TERNYATA saya sudah menjadi ”wartawan” koran lokal yang terbit dengan oplah terbesar di Jombang dan Mojokerto. Ini setelah saya diberi tahu kawan saya yang sama-sama dari Jombang tetapi tinggal berjauhan. Ceritanya, sore itu dia habis membaca artikel di koran lokal itu edisi Minggu, 26 April 2009 tentang salah satu kuliner yang ada di Jombang, apalagi kalau bukan Soto Dok, soto yang membuat pembeli sering terkaget-kaget (seperti kekagetan saya menerima berita dari kawan saya ini). Dia merasakan bahwa ”aroma” dan ”taste” artikel yang ditulis wartawan koran itu kok mirip banget dengan yang pernah saya tulis dan sudah saya posting di blog ini dua tahun yang lalu.

Saya pun buru-buru pinjam koran tetangga. Saya mencari-mencari artikel itu. Tak sulit dicari karena tulisan itu menempati halaman pertama. Saya pun membaca dengan seksama dengan tempo secepat-cepatnya. Di awal dan tengah-tengah artikel yang saya baca tak ada masalah, namun di akhir tulisan itu, saya baru mulai mencium ”aroma” dan ”rasa” tulisan saya dua tahun lalu seperti kata kawan saya tadi. Dan benar juga, tiga paragraf terakhir dari tulisan itu adalah comotan dari tulisan saya. Sama persis tanda baca maupun kata-katanya, hanya sedikit dimodifikasi saja dari sang wartawan, sehingga seolah-olah ada wawancara! Bandingkan dengan tulisan saya sebelumnya di sini dengan kutipan tulisan di bawah ini.


Its ok! Tak ada masalah bagi saya meskipun ditelan mentah-mentah tanpa menyebut sumber atau link. Saya justru senang tulisan saya dibaca dan digunakan orang banyak. Namun terkadang dilubuk hati yang terdalam terasa kurang sreg saja setiap kali ada tulisan saya di-copy mentah-mentah tanpa mencantumkan sumbernya. Apalagi tujuan meng-copy itu terkait dengan profesi dan dekat dengan tujuan komersial.

Saya sangat menghargai kalau ada pihak-pihak yang mengutip semua atau hanya sebagian tulisan saya (yang tak bermutu ini) dengan mencantumkan sumber atau link. Cukup itu saja, tak perlu minta ijin langsung kepada saya.

Media yang profesional dengan profit oriented sudah selayaknya mempunyai crew yang bekerja secara profesional, tak asal-asalan. Saya jadi curiga jangan-jangan berita-berita yang tertulis itu tidak akurat karena tanpa penelusuran, hanya mengira-ngira saja. Semoga saja kecurigaan saya ini tidak benar. Tetapi menurut AW, seorang kawan saya, bahwa ..................(off the record)!!!

Ini bukan kejadian pertama kali, ada beberapa koran yang wartawannya juga meng-copy lebih dari beberapa artikel di blog saya menjadi sebuah berita tanpa ada sumber link-nya. Begitu juga artikel utuh saya pernah dimuat di koran dengan klaim nama orang lain.

Sebagai orang ladang dengan kemampuan dan informasi yang terbatas, apalah daya saya. Saya tak akan mempersoalkan terus masalah ini. Toh sejatinya semua tulisan saya adalah tulisannya orang yang baru belajar, bukan tulisan orang profesional. Menulisnya pun sekadarnya saja untuk mengisi waktu luang disela-sela mencangkul di ladang.

Jadi tulisan saya itu tulisan gak terlalu bermutu dan gak terlalu penting untuk dibaca. Namun kalau ada yang menjiplak tanpa kulonuwun, kayaknya lebih tidak bermutu lagi deh tulisan itu!

Labels:


[...Baca Selengkapnya...]

Wednesday, April 8, 2009

Mengapa NgeBlog?


AWALNYA saya bingung harus menjawab bagaimana pertanyaan seperti judul postingan ini. Sebagai pendatang baru, meskipun sudah mengenal sejak hampir 5 tahun lalu, saya tak terlalu berpikir apa manfaat blog buat saya atau orang lain. Waktu itu saya menganggap bahwa aktivitas ngeblog hanya sekadar untuk mengisi waktu luang saja di tengah-tengah pencarian literatur-literatur di dunia maya. Sejak mengenal internet di akhir tahun 1990-an, saya hanya memanfaatkan untuk mencari literatur, kirim email dan chatting. Namun untuk chatting, sejak awal tahun 2000-an saya sudah tak pernah melakukannya, meskipun di awal-awal memasuki ”dunia lain” ini saya sempat hampir-hampir kecanduan chatting.

Lalu mengapa sekarang saya ngeblog? Apakah saya juga kecanduan blog? Tidak juga. Sampai saat ini saya belum merasa kecanduan dengan blog. Meskipun terkadang berjam-jam memelototi laptop, itu tak melulu ngeblog. Ngeblog hanya sekadarnya saja, saya usahakan se-proporsional mungkin sesuai dengan situasi dan kondisi. Namun begitu, tentunya saya juga punya beberapa alasan mengapa saya ngeblog, ngeblog dengan segala keterbatasan tentunya. Lha wong saya tak terlalu mengerti bahasa html atau java (kecuali java language dengan logat nJombangan yang medok), apalagi bahasa tulis yang baik dan benar.

Inilah beberapa alasan saya ngeblog, pertama, saya pernah menulis alasan utama saya kenapa ngeblog. Ini bisa dilihat pada postingan sebelumnya di sini.

Kedua, sesuai dengan header dari blog saya ini: “…..sekadar catatan untuk melepas penat disela-sela mencangkul di tengah ladang sambil menikmati hembusan angin di siang hari, nyanyian burung-burung, lenguhan kerbau, hamparan langit biru, gemericik air pancuran, hijaunya dedaunan, aroma keringat, sengatan matahari, belalang-belalang yang lalu-lalang berlompatan, dan tentu saja secangkir kopi pahit dan sepotong singkong rebus…..”.

Ketiga, saya ingin ”membenarkan” perkataan Kanjeng Raden Tumenggung Roy Suryo dan Ahmad Dhani, pentolan band Dewa, yang intinya bahwa orang yang ngeblog dan membaca blog adalah orang-orang goblok. Setidaknya bila perkataan itu ditujukan kepada saya, saya tak akan sewot apalagi marah. Perkataan beliau-beliau yang ”pakar” dan ”pintar” ini memang benar adanya, karena saya memang benar-benar masih goblok, hanya mampu ngeblog, yang gratisan pula!

Keempat, sekadar berbagi informasi dengan sesama blogger atau pembaca blog. Setidaknya dengan cara begitu, otak saya yang otak telo ini (kata orang tua di Jawa, istilah otak telo atau otak ketela adalah otak dengan IQ jongkok akibat terlalu sering makan ketela) bisa mendapat siraman informasi dan tak terlalu cepat mbuki (berjamur) dan basi.

Kelima, mencari keberuntungan untuk bisa menjalin tali silahturahmi dengan kawan-kawan baru ataupun kawan-kawan lama. Dengan kawan-kawan baru saya bisa ”mencangkuli” pengalaman-pengalaman baru yang yang unik-unik dan tak terduga.

Sementara itu dengan kawan-kawan lama (kawan sekolah, kawan masa kecil, kawan kuliah, kawan kursus, kawan cangkrukan, kawan mbambung, kawan ludrukan, dan kawan-kawan lainnya) bisa terus menjalin komunikasi meskipun saling berjauhan tempat tinggalnya. Ada seorang blogger yang berada di belahan bumi lain yang ternyata dia adalah tetangga di kampung yang jarak rumah kami tak lebih dari 10 meter, bisa saya temukan lewat dunia maya. Padahal, kami sudah lama tak berjumpa dan sudah sejak lama pula meninggalkan kampung halaman untuk menyambung hidup dan tinggal di belahan bumi lain. Sementara belum tentu setiap kali mudik kami bertemu, sebab seringkali waktu mudiknya tak bersamaan.

Untuk sementara itu saja alasan saya ngeblog. Alasan yang sangat sederhana karena saya tidak punya alasan-alasan lain yang lebih hebat, misal ngeblog untuk mempengaruhi atau memprovokasi orang lain. Itu terlalu jauh meskipun itu juga memungkinkan. Entah untuk kedepannya, saya tak tahu. Wallahualam!

Labels:


[...Baca Selengkapnya...]

Tuesday, March 31, 2009

Mereka Belum Merdeka!


INILAH potret buram yang sempat saya rekam di perempatan lampu merah Jl. Merdeka Jombang. Sudah beberapa tahun yang lalu saya mendapati ibu ini ”ngetem” di perempatan ini. Seorang ibu yang mempunyai kondisi fisik tidak sama dengan kebanyakan orang (difabel), entah akibat kelumpuhan sejak kecil atau apa, terpinggirkan dengan menjadi peminta-minta. Setiap traffic light berwarna merah dan kendaraan berhenti, ibu itu dengan cara ngesot bergerak mendekati pengendara dan menyodorkan tangannya, meminta kepada pengendara untuk sedikit berderma dengan memberikan uang ala kadarnya saja.

Menyaksikan ini, saya tak bisa membayangkan jika ibu ini adalah ibu atau kerabat dekat saya. Saya juga tak kuasa curiga, apakah ibu ini dieksploitasi dan dikoordinir orang-orang tertentu atau apakah ibu ini sejatinya orang kaya yang berpura-pura miskin dan sebagainya. Ini Jombang, bukan kota metropolitan yang multikompleks, yang peminta-mintanya tak sedikit yang dikoordinir dengan sistematis, meskipun bukan berarti di Jombang tak ada yang seperti itu. Namun yang sering saya lihat, setiap pulang atau pergi ibu ini selalu naik becak.

Hampir 64 tahun proklamasi kemerdekaan dikumandangkan, namun sampai saat ini masih banyak anak-anak bangsa yang terbelenggu dan mencari kemerdekaan sendiri. Masih banyak ibu-ibu yang seperti ibu di Jalan Merdeka ini. Masih banyak tunas-tunas bangsa yang mekar dan layu di jalanan. Mereka mengukur jalanan, mengorek-ngorek mencari kemerdekaan yang sesungguhnya. Entah, dimanakah kemerdekaan itu.

Saya hanya teringat pasal dalam UUD ’45 yang seharusnya dilaksanakan dengan murni dan konsekwen, bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara! Sayang negara kita terlalu banyak memelihara bahkan melahirkan pencoleng!

Baca juga di Kompasiana



Labels:


[...Baca Selengkapnya...]

Thursday, March 12, 2009

Sensasi Diskotik Berjalan


ADA sesuatu yang menarik sekaligus unik tatkala menginjakkan kaki pertama kali di Kota Kering, Kota Maumere, Flores, NTT, awal tahun 2008 lalu. Karena kendaraan yang didatangkan dari Jakarta belum juga sampai akibat cuaca laut yang tak menentu dan mempengaruhi jadwal kapal Surabaya–Maumere, maka kemana-mana kami pun menggunakan jasa angkutan kota atau orang Maumere menyebutnya “oto“, mungkin singkatan dari kata otomotif.

Lalu apanya yang unik? Pertama yang unik adalah oto-oto dalam kota tak punya rute tertentu atau tergantung kemauan penumpang. Mirip naik taksi di Jawa. Kelemahannya tentu saja tak terjadwal dan tak tepat waktu. Bahkan bisa jadi tujuan yang hanya berjarak 2 km misalnya, harus ditempuh hampir satu jam karena oto berputar-putar mengantar penumpang lain dengan tujuan yang berbeda-beda. Kemudian bodi oto juga di cat dengan warna-warna yang glamour dan menyolok penglihatan. Pada umumnya satu oto warnanya tak hanya satu atau dua, tetapi berwarna-warni dengan pengecatan memakai teknik airbrush.

Berikutnya adalah penumpang oto. Penumpang oto tak hanya manusia, tetapi binatang piaraan pun terkadang masuk oto. Babi, kambing, atau ayam adalah binatang yang sudah terbiasa naik oto. Binatang-binatang ini biasanya ditaruh di bagian atas. Seperti gambar di bawah ini yang sempat saya dapatkan suatu siang dimana seekor kambing juga jadi penumpang oto. Pada umumnya oto-oto yang memuat ini adalah oto yang mempunyai rute keluar kota. Penumpangnya kebanyakan dari kaum petani di desa-desa sekitar Maumere.

Kambing pun naik oto!

Dan yang terakhir tak kalah uniknya, setiap oto itu selalu menggunakan audio mobile dengan daya dan suara yang cukup besar. Beda di Pulau Jawa, angkutan kotanya nyaris tak mengaktifkan audio mobile-nya, dan kalaupun diaktifkan tidak memutar volume sampai tandas alias maksimal yang bisa menggedor-gedor gendang telinga. Dan rata-rata, oto-oto di kota-kota Indonesia Timur juga menggunakan audio seperti ini.

Lagu-lagu yang diputar pun sebagian besar adalah lagu-lagu disco remix yang kata teman saya sering diputar di diskotik-diskotik yang jumlahnya bejibun di Kota Maumere. Mayoritas lagu-lagu yang diputar adalah lagu-lagu dari Manado dan Ambon. Namun terkadang ada juga yang agak melo, lagu-lagunya Pance Pondaag. Bagi saya yang tak terbiasa dengan hingar-bingar suara keras dan berdentum, menjadi siksaan tersendiri.

Betapa tidak, dengan ruangan oto yang terbatas dan dentuman musik yang menghentak-hentak terasa merobek-robek telinga. Suatu ketika kawan saya yang lain pernah meminta sang sopir untuk mengecilkan volumenya, namun justru di jawab: “Baru datang dari kampung ya!” Kami hanya senyum-senyum saja mendengar jawabannya itu.

Informasi yang saya dapatkan, musik ini merupakan sarana untuk menarik penumpang, terutama dari kalangan pelajar dan remaja. Pada umumnya, kalangan ini hanya berminat naik oto yang mempunyai audio mobile. Jadi, bagi oto-oto yang tanpa kelengkapan seperti ini, jangan harap akan mendapatkan penumpang yang banyak.

Namun, lambat laun saya pun mulai menikmati “diskotik-diskotik berjalan” ini. Daripada dongkol yang tentu bisa menambah siksaan, lebih baik berusaha menikmati apa adanya. Pastinya lama-kelamaan menjadi terbiasa dan menimbulkan sensasi tersendiri. Ya inilah Flores, pulau ular dengan sejuta pesona dan keunikan, diskotik pun bisa diusung ke dalam oto!

*Artikel ini bisa juga dibaca di kompasiana

Labels: ,


[...Baca Selengkapnya...]

Saturday, February 14, 2009

Fenomena “Ponari Putera Petir”


PONARI Putera Petir! Mungkin ini julukan yang cocok bagi bocah kelas 3 asal Desa Balungsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang yang akhir-akhir ini menghiasi media massa cetak maupun elektronik karena ”kesaktiannya” yang diperoleh setelah petir menyambar. Mirip cerita dalam komik jaman dulu, Gundala Putera Petir yang mendapat “kesaktian” setelah petir menyambar. Dengan “kesaktiannya” itu, Ponari mengobati puluhan ribu pasien, baik dari Jombang maupun luar Jombang. Pengobatannya dilakukan dengan cara mencelupkan batu itu ke dalam air lalu airnya diminum oleh pasien-pasiennya. Mungkinkah kombinasi air dan batu itu mengandung mineral dan kimia tertentu yang berkhasiat menyembuhkan? Masih perlu penelitian dari para ahli tentunya.

Meskipun sampai saat ini (14/02) telah menelan empat korban jiwa akibat antrian panjang dan sebelumnya telah berkali-kali dihentikan sementara, namun pengobatan ala Ponari ini sampai kini masih terus berlangsung dan diminati banyak orang. Ketika pengobatan ini dihentikan dan Ponari dievakuasi pun, kerumunan massa masih antri di sekitar rumahnya. Beberapa media melansir jika pasien semakin tak terkontrol. Bahkan ada yang bertindak lebih nyeleneh lagi dengan meminum air yang tertampung dari tenda yang dipasang di rumah Ponari. Termasuk juga ada yang mempercayai ”kesaktian” air di sumur di sekitar rumah Ponari, padahal di sekitar sumur banyak dibangun kandang ternak yang tentu saja mempengaruhi kualitas air.

Fenomena Mohammad Ponari ini pun akhirnya memicu beragam opini. Para ulama mengkawatirkan terjadinya perilaku syirik dengan mempercayai batu. Sosiolog menghubungkannya dengan sosio-kultur mayoritas masyarakat kita dengan hal-hal yang dianggap diluar normal atau supranatural. Psikolog berpendapat bahwa sugesti memegang peranan penting dalam hal ini. Sedangkan paramedis menyebut fenomena ini tak masuk nalar medis!

Namun demikian, setidaknya dari fenomena Ponari ini kita bisa memetik pelajaran lain, bisa semakin membuka mata hati kita, bahwa masih banyak saudara-saudara kita yang hidup dengan tekanan-tekanan yang bertubi-tubi. Tak hanya tekanan ekonomi tetapi juga tekanan-tekanan politik dan kebudayaan, yang semua tekanan-tekanan itu membuat dan menambah kepusingan-kepusingan hidup.

Dalam masalah pelayanan kesehatan, tak sedikit masyarakat kita yang tak kuasa mengakses pelayanan kesehatan yang berkualitas akibat berbagai hal. Meskipun pemerintah telah memberi berbagai keringanan, bukan berarti masyarakat dengan mudah untuk mendapatkan keringanan itu. Rumah sakit dan balai-balai pengobatan terlalu mewah bagi kebanyakan masyarakat kita. Dokter-dokter pun banyak yang ngecer praktek diberbagai tempat, meskipun masih ada dokter-dokter yang profesianal idealis, ramah dan lebih mengedepankan hati nuraninya (sekitar 2 bulan yang lalu saya menjadi korban penelantaran pelayanan rumah sakit swasta yang katanya cukup elit di kota P, yang dokternya ngecer seperti ini).

Demikian juga, meskipun telah ribuan pusat kesehatan masyarakat dibangun, bukan berarti masyarakat mendapat jaminan pelayanan kesehatan yang memadai. Tentang hal ini, saya jadi teringat penyair Wiji Thukul, penyair yang hilang sejak gonjang-ganjing reformasi lebih dari satu dasawarsa lalu, dengan penggalan bait-bait dari salah satu syairnya, ”Reportase dari Puskesmas”:

...................................................
di ruang tunggu terjejal yang sakit pagi itu
sakit gigi mules mencret demam semua bersatu
jadi satu menunggu

o ya pagi itu seorang tukang kayu
sudah tiga hari tak kerja
kakinya merah bengkak gemetar
”menginjak paku!” katanya, meringis

puskesmas itu demokratis sekali, pikirku
sakit gigi, sakit mata, mencret, kurapan, demam,
tak bisa tidur, semua disuntik dengan obat yang sama
ya semua disuntik dengan obat yang sama
ini namanya sama rata sama rasa
ini namanya setiap warga negara mendapatkan haknya
semua yang sakit diberi obat yang sama!

(Wiji Thukul, 1986, Reportase dari Puskesmas dalam Aku Ingin Jadi Peluru, Indonesia Tera, 2000).

Demikian juga, kita boleh-boleh saja mengkhawatirkan pengobatan ala Ponari ini sebagai sesuatu yang syirik. Tak ada yang salah untuk saling mengingatkan dalam ”menjaga hati” ini. Namun begitu, jangan lantas kita dengan mudah dan gegabah menuduh ini-itu sebagai sesuatu yang syirik dan harus diberangus. Bukankah syirik itu ada pada sikap hati kita? Bukankah akan lebih bijak jika kita mencari penyebab mengapa suadara-saudara kita berduyun-duyun berperilaku seperti ini?

Dan seumpama perilaku seperti ini dikatakan syirik, apakah tidak lebih syirik bagi para pemuja kekuasaan yang seharusnya menciptakan ”ruang” bagi yang dikuasainya. Bukan justru mempersempit atau bahkan menghapus ”ruang” yang dikuasainya sehingga yang dikuasainya itu mencari ”ruang-ruang lain”, termasuk ”ruang” yang tercipta oleh Ponari ini.

Kehidupan ini luas dan penuh banyak kemungkinan-kemungkinan, dan sudah selayaknya diperlukan keluasan, keluwesan, dan keleluasaan pandang untuk menimbang kemungkinan-kemungkinan itu. Dan mungkin saja Ponari dan batunya adalah sedikit dari banyaknya kemungkinan-kemungkinan itu. Wallahualam bishowab!

Labels: ,


[...Baca Selengkapnya...]

Monday, February 9, 2009

Reaktualisasi Program Diversifikasi Pangan


MESKIPUN pada tahun 2008 lalu Indonesia bisa mencapai swasembada beras, bukan berarti persoalan pangan lepas dari masyarakat kita. Dengan jumlah penduduk yang besar dan laju pertumbuhannya hampir 2 persen per tahun, merupakan beban tersendiri dalam pemenuhan kebutuhan akan beras. Ditambah lagi dengan pola konsumsi masyarakatnya yang terkonsentrasi pada beras, dimana tingkat konsumsi beras hampir 130 kg per kapita per tahun, serta adanya sikap abai masyarakat terhadap sumber pangan lain, jelas sangat berbahaya bagi ketahanan pangan kita. Apalagi akhir-akhir ini produksi pertanian khususnya beras mulai tak stabil akibat perubahan iklim ekstrim yang mempengaruhi produktivitas dan luasan panen. Dan ini terbukti dengan munculnya berbagai kasus kerawanan pangan yang melanda beberapa daerah di Indonesia.

Padahal, dari potensi sumberdaya wilayahnya saja sebenarnya Indonesia memiliki ketersediaan pangan yang kaya dan beragam, baik pangan sumber karbohidrat, protein, lemak, vitamin maupun mineral. Pangan sumber karbohidrat dari berbagai jenis umbi-umbian, sayur dan buah-buahan semuanya bisa tumbuh dengan baik di wilayah kita. Wilayah perairan Indonesia juga cukup luas, dengan garis pantai yang sangat panjang.

Demikian juga, masyarakat kita dulu mempunyai pola konsumsi makan yang relatif beragam. Hal ini bisa dicerminkan dari berbagai jenis kuliner yang diciptakan pendahulu kita semacam karedok leunca, berbagai olahan mie gleser yang terbuat dari sagu, peuyeum bandung dan aneka penganan tradisional lainnya dari berbagai penjuru Indonesia yang berbahan dasar non beras dan merupakan produk lokal. Hal ini setidaknya mencerminkan bahwa pola konsumsi masyarakat Indonesia sangat beragam.

Namun, keragaman itu kini semakin luntur akibat hegemoni beras terutama sejak pemerintahan orde baru dengan program swasembada berasnya. Akibatnya, sumber pangan non beras semacam umbi-umbian seperti suweg, talas, iles-iles, ketela, gadung, ganyong, dan sebagainya yang tumbuh subur di seantero Indonesia, terabaikan dan tercitra menjadi makanan kelas dua yang sangat lekat dengan kemelaratan.

Demikian juga dengan teknologi pengolahannya yang tak mendapat perhatian serius. Bahkan, institusi lokal penyangga ketahanan pangan yang dulu tumbuh di masyarakat kita, seperti lumbung desa, juga mengalami kehancuran seiring dengan hegemoni beras dan institusi penyangga tunggalnya (Bulog).

Persoalan ini akan semakin akut jika ke depan kita tak mampu meningkatkan produksi beras sementara peningkatan konsumsi tetap lebih besar dari peningkatan produksinya. Hal ini sangat mungkin terjadi, karena daya dukung terhadap pertanian saat ini mulai menurun. Daya dukung yang menurun ini bukan saja karena faktor alam (perubahan iklim maupun bencana) tetapi juga kebijakan yang diambil pemerintah seringkali tidak berpihak kepada petani. Hal ini tentu menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan kita dimasa mendatang.

Oleh karena itu, salah satu yang paling efektif untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan mereaktualisasikan program diversifikasi pangan yang dulu pernah digulirkan pemerintah. Dengan diversifikasi pangan, bukan saja menguntungkan dari sudut ilmu gizi, namun lebih dari itu akan mampu memperkuat posisi ekonomi-politik pangan kita. Dan setidaknya kita telah mempunyai dukungan untuk mengaktualisasikannya yaitu preferensi dan budaya makan masyarakat kita yang sebenarnya sudah sangat beragam serta dukungan potensi wilayah yang juga beragam.

Hanya saja kendala yang dihadapi saat ini adanya fakta bahwa beras mempunyai keunggulan dibanding sumber pangan karbohidrat lain, baik vitamin maupun mineralnya sehingga masyarakat lebih memilihnya. Namun, hal ini sebenarnya bisa diatasi jika ada upaya khusus dan serius dari pemerintah, lembaga-lembaga riset maupun kalangan industri bersama-sama mencari berbagai cara untuk meningkatkan mutu pangan tradisional, seperti misalnya penambahan vitamin dan mineral untuk pangan pokok non beras dan mengolahnya sesuai selera masyarakat. Hal ini dilakukan karena diversifikasi pangan tidak hanya terkait dengan pangan yang beragam tetapi juga adanya upaya perbaikan pola konsumsi masyarakat baik kuantitas, kualitas ataupun keamanannya sehingga dapat diwujudkan konsumsi pangan dengan gizi yang seimbang. Upaya ini bukan berarti menyingkirkan beras, tetapi lebih pada upaya memberdayakan pangan non beras.

Dan yang tak kalah penting dalam kebijakan diversifikasi pangan ini adalah faktor pendapatan. Berbagai studi empiris menunjukkan bahwa pendapatan merupakan faktor penting dalam akses pangan. Tanpa pendapatan yang layak mustahil masyarakat dapat mengakses beragam pangan. Prinsip ekonominya, orang akan mengubah pola konsumsinya dari barang yang dianggap kelas dua ke barang normal atau yang lebih mewah jika pendapatannya bertambah. Dan jika pendapatannya terus bertambah, secara otomatis akan mengurangi konsumsi beras dengan beralih mengonsumsi daging, sayur, buah dan sebagainya. Intinya, diversifikasi pangan akan terjadi secara otomatis seiring dengan meningkatnya pendapatan.

Dengan mendiversifikasi pangan, kita juga berupaya untuk meningkatkan pamor pangan lokal untuk menggantikan atau setidak-tidaknya sejajar dengan beras menjadi menu utama. Jika suatu waktu terjadi kelangkaan beras seperti yang sering terjadi akhir-akhir ini, kita tak perlu lagi impor beras yang sarat intrik dan polemik serta timbulnya eksploitasi ekonomi-politik oleh pihak-pihak asing. Dan yang terpenting adalah memungkinkan masyarakat Indonesia dapat menetapkan pangan pilihan sendiri serta menciptakan ketahanan pangan di tingkat keluarga yang akhirnya bermuara pada peningkatan ketahanan pangan secara regional dan nasional. Semoga!

Labels:


[...Baca Selengkapnya...]

Wednesday, February 4, 2009

Pemuda dan Regenerasi Petani


SELAMA ini peran generasi muda dalam pembangunan pertanian sedikit terabaikan. Akibatnya, regenerasi petanipun sulit berjalan sehingga pertanian tetap didominasi generasi tua yang tentu mempunyai berbagai implikasi. Salah satu implikasinya adalah pertanian berjalan di tempat dan sulit melakukan perubahan yang mendasar. Mungkin ini salah satunya yang menyebabkan kondisi pertanian kita terus mengalami pengeroposan, renta dan kurang darah.

Padahal, dengan komposisi pemuda kita saja saat ini hampir 40 persen dari total jumlah penduduk, tentu ini sebuah potensi besar yang dapat dioptimalkan untuk membangun pertanian. Apalagi selama ini kita dikenal sebagai bangsa agraris dengan dukungan iklim, sumber daya alam dan sumber daya manusia muda yang melimpah, tentunya sangat ironis jika kondisi pertanian kita tetap seperti saat ini. Jadi pada intinya, melibatkan pemuda atau dengan kata lain menyegerakan regenerasi petani adalah sebuah hal yang sangat mendesak bagi bangsa agraris ini.

Tak Menarik

Adanya kecenderungan para pemuda terutama yang tinggal di kawasan pedesaan yang kurang tertarik terhadap dunia pertanian tentu berakibat pada sektor ini hanya di dominasi oleh generasi tua yang acapkali kurang responsif terhadap perubahan. Umumnya dalam pandangan pemuda, bertani adalah pekerjaan tradisional yang kurang bergengsi dan hasilnya disamping tidak segera dapat dinikmati juga jumlahnya yang relatif kecil.

Pandangan tersebut tentu mempengaruhi minat orang-orang muda untuk mau menjadi petani. Ini didukung oleh budaya instan, ingin cepat menghasilkan. Sementara pertanian memerlukan waktu panjang dengan kesabaran yang tinggi dalam menghadapi berbagai resiko internal dan eksternal. Ditambah lagi dengan berbagai kebijakan yang tidak pro-petani dan justru seringkali pertanian dipandang sebelah mata dan dijadikan komoditas politik tanpa mempedulikan nasib dan masa depan pertanian.

Di samping itu, kurangnya dukungan para orang tua baik secara mental maupun material terhadap anak-anak muda untuk menjadi petani juga menjadi penyebab pemuda tak tertarik menjadi petani. Alih-alih memberikan dukungan, justru orang tua acapkali mengendorkan syaraf anak-anak muda yang berkeinginan menjadi petani. Mereka lebih menginginkan anak-anaknya menjadi dokter, birokrat, pilot dan profesi lainnya yang dianggap lebih prestise. Indikasi seperti ini salah satunya dapat dilihat dari banyaknya sekolah-sekolah pertanian ataupun fakultas-fakultas pertanian, terutama di perguruan tinggi swasta, yang kondisinya kekurangan mahasiswa.

Akhirnya banyak para pemuda, terutama yang tinggal di desa, lebih tertarik pada pekerjaan-pekerjaan non-pertanian di kawasan kota-kota besar terutama di kota-kota besar di Pulau Jawa. Mereka bekerja di sektor non-pertanian semisal menjadi pegawai, buruh pabrik, buruh bangunan, jasa transportasi baik yang formal maupun non-formal, yang menurut pandangannya lebih bergengsi. Kalau mereka mempunyai keahlian spesifik, tentu hal ini bukan masalah. Namun, tak sedikit dari mereka yang tak mempunyai keahlian spesifik dan keberuntungan justru menjadi beban di kota karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan.

Membangun Citra Pertanian

Oleh karena itu, untuk menumbuhkan minat dan kemauan serta merubah paradigma berpikir tentang pertanian dapat dimulai dengan membangun citra pertanian. Paradigma berpikir tentang pertanian selama ini sedikit banyak telah menurunkan citra pertanian terutama bagi pemuda. Paradigma berpikir harus kita ubah, bahwa pertanian bukan sekadar mencangkul di sawah dan menjadi petani tidak selalu identik dengan kemiskinan. Pertanian bukanlah sektor tradisional yang kurang bergengsi dan tidak memberikan nilai tambah, tetapi merupakan sektor strategis yang mampu memberikan nilai tambah yang berlipat jika dikelola secara profesional dan komersial seperti sektor-sektor lainnya. Bahkan kemajuan sektor-sektor lain sangat tergantung pada kemajuan sektor pertanian.

Untuk membangun citra pertanian, sosialisasi maupun kampanye-kampanye pertanian yang membuat generasi muda tersadar akan pentingnya pertanian dengan segala potensi yang dimilikinya. Sosialisasi dapat dilakukan dengan memanfaatkan berbagai media komunikasi semacam radio, televisi, surat kabar dan media publikasi lainnya.

Selanjutnya, yang perlu dilakukan adalah membuat semacam Balai Latihan Kerja Pertanian. Balai Latihan Kerja Pertanian sangat diperlukan yang nantinya akan menjadi kawah candradimuka penggemblengan dan pusat kegiatan pengembangan pengetahuan dan keterampilan serta penyebarluasan konsep-konsep dan metode pertanian mutakhir dan berbudaya.

Demikian juga, adanya program pertukaran pemuda tani, sangat menarik dan perlu dilakukan. Kalau selama ini pertukaran pelajar dan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu seringkali dilakukan, apa salahnya program pertukaran pemuda tani juga dilakukan untuk memberi kesempatan para petani-petani muda, utamanya yang tinggal di pedalaman pedesaan untuk pengembangan wawasan pertaniannya. Ini juga sebagai suatu upaya untuk menampilkan wajah pertanian yang menarik dan diminati oleh semua orang, khususnya orang muda di pedesaan.

Namun, yang terpenting dari hal itu semua adalah tetap diperlukan keberpihakan kebijakan yang pro-petani dan pertanian. Segala upaya di atas jika tanpa dibarengi dengan keberpihakan pembuat kebijakan tetap saja tak akan mampu menarik pemuda untuk menjadi petani.

Dengan demikian, diharapkan ke depan pertanian akan lebih menarik bagi generasi muda. Regenerasi petani pun tak akan berhenti dan profesi petani akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi kaum muda. Pemuda akan mengoptimalkan diri berpartisipasi dalam pembangunan pertanian sekaligus menjadikan pertanian sebagai tumpuan masa depannya. Semoga!

Labels:


[...Baca Selengkapnya...]

Thursday, January 29, 2009

Penyapu dalam Gerbong Kereta


PADA hari Sabtu lalu (24/01), ketika saya melakukan perjalanan “napak tilas” menggunakan jasa KRL kelas ekonomi jurusan Bogor–Jakarta, suasana gerbong kereta sepertinya tak banyak berubah seperti jaman baheula ketika saya masih tinggal di Bogor. Sumpek, panas, banyak pengamen, pengemis, pedagang asongan yang mondar-mandir menawarkan beranekaragam barang dagangan, mulai pulsa, boneka, mainan anak-anak, buah-buahan, koran, buku, permen, pembersih telinga, amplop dan sebagainya. Ya, gerbong kereta tak ubahnya pasar berjalan yang menawarkan segala kebutuhan kita sehari-hari. Tak ketinggalan pula, dan ini yang menjadi perhatian saya, penyapu dalam gerbong kereta. Entah mengapa tiba-tiba saja perasaan (sok) sentimentil saya muncul. Kasihan, iba, ketakberdayaan, ingin menangis, sedih dan gundah berkecamuk dalam dada ketika melihatnya.

Dengan bermodal sapu lidi dan kantong plastik bekas pewangi, seorang ibu paruh baya dengan menggendong bayinya (atau bayi pinjaman, wallahualam!) beraksi membersihkan aneka sampah di dalam gerbong kereta, dari ujung ke ujung dalam satu gerbong, berpindah dari satu gerbong ke gerbong lainnya, sembari tangan kirinya menyangga bayinya dan menyodorkan kantong plastik, berharap lemparan recehan sebagai imbalan “jasa kebersihan” dari para penumpang kereta.

Potret buram seperti ini bukanlah hal baru. Beberapa tahun yang lalu sudah ada. Bahkan anak-anak seusia SD pun banyak yang melakukannya. Tidak hanya di kereta jarak pendek seperti KRL, tetapi juga banyak dilakukan di atas kereta api jarak jauh khususnya kelas ekonomi.

Bukan tanpa sebab mereka melakukan itu. Sepertinya faktor ekonomilah yang menjadi penyebab utama mereka “bekerja” di atas kereta. Demikian juga “keterlantaran” mereka dari pihak yang seharusnya “memelihara” mereka sesuai dengan amanat konstitusi, membuat mereka tak berdaya dan tak punya banyak pilihan.

Sementara di luar sana, para calon pemimpin negeri ini masih ribut berebut kursi. Bersaing obral janji dan ramai-ramai memasang gambar wajahnya atau pamer rai tanpa punya rasa estetika dan etika ekologi, memaku dan menggantungkan begitu saja gambar-gambar wajahnya di pepohonan, bergelayutan di pohon persis ........ Entahlah!

Saya tak tahu sampai kapan ibu itu menyapu. Kereta juga masih terus melaju, dan calon pemimpin kita pun terus merayu. Saya makin membisu, terbayang di kampung sana wajah-wajah Pak Jan, Yu Ton, Yu Nah, Mbok Ti, Guk Din, Guk No, yang tak kalah tegar bergelut di ladang meskipun kulit mulai keriput dan wajahnya sering nyaprut!

Labels:


[...Baca Selengkapnya...]

Wednesday, January 14, 2009

Sikka, Desa Tua yang Terlupa!


JARUM jam baru menunjukkan angka 07.15 WITA, ketika kami meninggalkan homestay di Kota Maumere, ibukota Kabupaten Sikka. Agenda kami hari ini adalah menuju kawasan pesisir pantai Desa Sikka untuk melakukan penyelaman di beberapa titik. Desa Sikka adalah desa yang menjadi cikal bakal Kabupaten Sikka yang beberapa waktu lalu saya sempat menuliskannya. Silahkan klik di sini untuk melihat posting-an sebelumnya.

Baiklah, pada posting-an kali ini saya tak ingin cerita tentang penyelaman, ini karena dalam tim ini, saya hanya menjadi penggembira saja. Saya tak punya keahlian berenang, apalagi menyelam. Kami yang terdiri 7 orang, tak semuanya ahli selam, hanya 3 orang saja kawan saya yang ahli selam termasuk team leader kami Doktor MJU, ahli biologi laut yang menghabiskan studi S2 dan S3-nya di negeri kangguru. Pada kesempatan ini hanya 2 orang saja yang akan melakukan penyelaman, yang notabene 2 orang yang direkrut ini adalah mantan mahasiswa Pak MJU di Kupang.

Sebenarnya saya punya tujuan khusus mengikuti agenda kawan-kawan di hari itu. Snorkeling! Ya, saya ingin sekali menikmati dasar laut dari permukaan. Kebetulan perangkat snorkeling juga dibawa. Namun, karena kondisi ombak yang sangat besar, saya jadi berpikir seribu kali untuk masuk laut.

Bertamu ke Rumah Raja

Tak ada rotan akar pun jadi, tak bisa masuk lautan, jalan ke tempat lain pun tak kalah enjoy. Saya pun langsung menuju rumah adat yang dulu merupakan rumah raja Sikka. Rumah ini berada tak jauh dari tempat kami memulai penyelaman. Letaknya juga tepat di bibir pantai Sikka. Bentuk panggung dengan ketinggian panggung sekitar 2 meter dan beratap rumbia atau ilalang. Bahan bangunan hampir semuanya menggunakan kayu lokal dan kayu kelapa. Sambungan kerangka rumah pun menggunakan kayu dengan cara dipantek (Jawa). Kecuali pemasangan papan sebagai dinding dan lantai sudah menggunakan paku.

Sayangnya kondisi rumah Raja Sikka ini kurang terurus, meskipun tiang pancangnya masih kokoh, namun lantai, dinding dan perabotan berupa kursi dan meja kondisinya berantakan. Lantai dan dinding banyak yang terlepas dari kerangkanya dan berlubang-lubang. Kursi sudah tak tertata lagi sebagaimana mestinya bahkan banyak yang protol atau terlepas.

Ketika saya bertemu beberapa orang dan ibu-ibu pedagang kain tenun ikat yang ”mengejar” kami (kami dianggap turis dan mereka menawarkan produknya), mereka menjelaskan bahwa rumah raja ini kurang terawat karena tak ada dana perawatan dari keluarga atau keturunan para raja, sementara pemerintah juga kurang perhatian. Padahal, tempat ini sering didatangi turis-turis manca terutama dari Portugis. Wajar saja Desa Sikka dulunya menjadi tempat tinggal orang-orang Portugis juga menyimpan banyak bangunan tua peninggalan kolonial Portugis.

Pada abad ke-17, Sikka merupakan pusat pemukiman orang-orang Portugis di Flores. Di sini pula terdapat bangunan gereja tua yang dibangun pada tahun 1899. Dulu dekat Desa Sikka, tepatnya di Desa Lela, juga terdapat sebuah seminari yang didirikan Pastor Frans Cornelissen SVD pada tahun 1926. Seminari ini pada awalnya didirikan di Sikka sebelum dipindahkan ke Todabelu, Mataloko. Dan sejak tahun 1937 di pindah ke kawasan Ledalero.

Pusat Tenun Ikat

Di Desa Sikka ini pula dihasilkan kain tenun ikat yang cukup di Kenal di daratan NTT. Hampir semua rumah di sepanjang jalan utama memiliki peralatan tenun. Beberapa nona (sebutan untuk wanita Sikka, tak peduli sudah menikah atau belum) terlihat mengemasi benang aneka warna yang telah dijemur dan beberapa memindahkan kain tenun ke dalam rumah. Satu tenunan dapat dihasilkan dalam jangka waktu sebulan dan bahkan lebih lama. Ini karena mereka mengerjakannya masih menggunakan peralatan tradisional atau alat tenun bukan mesin. Tergantung dari bahan terutama benang. Kain akan berharga lebih mahal apabila dibuat dari bahan alami. Kain tenun dari daerah Sikka cukup terkenal dan telah dipasarkan ke daerah-daerah lain.

Selain itu, mereka juga menjual langsung ke wisatawan yang kebetulan singgah atau mengunjungi Desa Sikka, terutama wisatawan manca yang kebanyakan dari Portugis. Sikka dan Portugis memang mempunyai hubungan sejarah yang erat. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya bahwa di desa inilah dulu menjadi pusat pemukiman orang-orang Portugis. Mungkin saja mereka menapaktilasi jejak leluhurnya yang dulu banyak menapakkan kaki di Desa Sikka.

Karena peralatan-peralatan tenun itu semuanya tanpa menggunakan mesin, maka untuk menggerakannya hanya mengandalkan kaki-kaki dan tangan-tangan terampil nona-nona. Namun, informasi yang saya dapatkan, saat ini kebanyakan para perajin tenun adalah wanita-wanita paruh baya. Sedangkan nona-nona muda sekarang jarang yang bisa mengerjakannya. Sepertinya mereka kurang tertarik untuk belajar dan mewarisi keterampilan ini dari leluhurnya ini. Ini mungkin yang disebut dengan pergeseran orientasi budaya kaum muda yang katanya serba instan, sebab membuat kain tenun ikat ini menuntut proses belajar yang terus menerus dengan tingkat kesabaran yang tinggi, cita rasa seni serta mungkin idealisme untuk melanggengkan warisan leluhur.

Sementara itu, bahan-bahan tenun (benang pintal) pada umumnya dibeli di kota Maumere dan kebanyakan bahan-bahan ini didatangkan langsung dari Pulau Jawa sebab sangat jarang bahan-bahan ini dipintal sendiri di Sikka. Harga selembar kain tenun dengan ukuran lebar kurang dari 1 meter dan panjang juga kuran 2 meter, rata-rata Rp. 200.000.,- Tetapi kalau kita pandai menawar bisa turun menjadi Rp. 150.000,-. Harga ini tergantung dari bahan, motif dan lebar kain. Yang saya sebutkan ini adalah dengan bahan yang murah, motif standar dan tidak terlalu lebar.

Kain-kain tenun tersebut bisa kita manfaatkan untuk berbagai keperluan. Bisa untuk hiasan, baju, rompi, tas, sarung, sajadah, taplak meja dan sebagainya. Di Kabupaten Sikka, kain-kain tenun ini menjadi pakaian resmi ala baju batik di Jawa. Beberapa hari dalam satu minggu, pegawai-pegawai pemerintahan diwajibkan memakai pakaian dari bahan ini. Anak-anak sekolah pun pada hari-hari tertentu wajib memakai rompi dari kain tenun ikat ini. Sementara nona-nona golongan older atau age spots pun masih banyak yang memakainya sebagai pakaian sehari-hari, “semacam sarung” dan kadang diselampangkan ke pundak. Seperti layaknya gambar pakaian-pakaian adat di dalam buku-buku pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial atau gambar-gambar di bagian belakang buku-buku atlas yang sering saya lihat waktu sekolah dasar dulu.

Sayangnya, pesona Sikka ini kurang mendapat dukungan sarana yang memadai seperti penginapan dan kondisi jalan yang lebih bagus lagi. Pesona Sikka sebagai desa tua seolah terlupa. Untuk mengunjungi desa ini harus sekali jalan dan langsung pulang ke Maumere dimana hotel dan resort banyak berada di pusat kota ini. Kalau mau, bisa saja menginap di rumah-rumah penduduk. Saya yakin masyarakat di sini akan menerima, sebab mereka terlihat bersahabat dan ramah-ramah menerima tamu, meskipun aksen suaranya keras (khas orang Indonesia Timur, khususnya NTT) dan bila kita tak terbiasa akan menilai mereka kurang bersahabat padahal aksen suaranya tak selalu mencerminkan kekerasan hati dan perangainya. Namun demikian, sepertinya kurang nyaman kalau harus menginap di rumah-rumah penduduk.

Inilah sekelumit yang saya dapatkan dari perjalanan kali ini. Perjalanan yang “sederhana” ke tempat yang “sederhana” pula!

Labels: , ,


[...Baca Selengkapnya...]

Wednesday, December 24, 2008

Dari Ladang Memandang Prabowonomics


KEMUNCULAN kembali Prabowo Subianto akhir-akhir ini dengan iklan politiknya di berbagai media, adalah fenomena baru yang layak dicermati. Di tengah hiruk-pikuknya berbagai iklan politik yang mengedepankan konsep-konsep “melangit” tiba-tiba saja mencuat iklan politik dengan konsep-konsep “agak membumi” atau konsep ekonomi kerakyatan. Saya tidak akan membahas semua konsep ekonomi kerakyatan yang dicanangkan Parbowo Subianto atau yang lebih dikenal dengan Prabowonomics.

Dalam kajian ilmu ekonomi, istilah ekonomi kerakyatan, seperti yang hangar-bingar diperbincangkan dalam satu dasawarsa terakhir ini, termasuk oleh para politikus, memang tak pernah dibahas, tetapi ini adalah istilah populistik yang sarat dengan nuansa politik yang seringkali dihembuskan tanpa makna. Suka atau tidak suka realitanya seperti ini.

Namun begitu, bukan berarti saya anti dan tak mengakui adanya konsep ekonomi rakyat. Diakui atau tidak, ada atau tidak adanya ekonomi rakyat dalam kajian ilmu ekonomi, maupun penuhnya nuansa politik yang melingkupinya, ekonomi rakyat yang saya pahami tetap bergerak dan bertahan menggerakkan roda perekonomian bangsa. Realitas empirik selama ini menunjukkan bahwa ekonomi ekonomi rakyat merupakan kegiatan ekonomi yang menghidupi banyak orang. Setiap hari yang kita santap di meja makan adalah bahan-bahan hasil produksi rakyat, bukan produksi ekonomi modern yang digawangi konglomerat. Meskipun saat ini kita juga sering makan hasil produksi rakyat luar negeri (impor). Ini juga sebuah “ironi yang lain”.

Lalu apa yang menarik dari iklan politik Prabowo Subianto? Karena saya sampai saat ini belum menemukan blue print-nya kecuali membaca manifesto partai pengusungnya, Partai Gerindra, secara umum saya menilai masih normatif dan “datar-datar” saja. Namun begitu, bukan berarti semuanya normatif dan datar-datar saja. Ada beberapa hal yang menarik dan mengusik perhatian saya sebagai “orang ladang” selama ini, yaitu seruannya untuk membeli produk-produk petani Indonesia dan program penanaman sejuta pohon aren (hal ini pernah disampaikan di salah satu pesantren di Kediri, Jawa Timur). Memang seruannya terkesan sangat sederhana. Namun dibalik kesan sederhananya itulah yang membuat menarik (setidaknya bagi saya) dan seandainya diikuti oleh banyak orang tentu akan mempunyai implikasi yang luar biasa bagi kehidupan ekonomi kita, termasuk menjawab “ironi yang lain” itu.

Saya tak akan menjelaskan secara detail, apalagi memakai pendekatan social cost dan economy cost dan ataupun teori-teori ekonomi yang kadang ruwet, njelimet dan mbulet. Intinya, apa yang diserukan Prabowo Subianto adalah seperti angin segar yang berhembus menerobos ladang-ladang dan menyejukan kaum ladang yang selama ini gerah dengan berbagai kebijakan yang terus meminggirkannya. Apalagi posisinya yang strategis menjadi “komandan” Himpunan Kerukunan Tani Indonesia, tentu lebih mudah menanamkan ide-idenya ini di kalangan peladang. Seruan yang sederhana tetapi mengena! Ini mungkin yang membedakan cara beriklan Prabowo Subianto dibanding dengan yang lain.

Membaca idenya itu, muaranya adalah untuk memajukan sektor pertanian yang selama ini kondisinya karut-marut. Bila sektor pertanian maju, tak hanya petani sendiri yang diuntungkan, tetapi juga akan membuat gairah perekonomian lainnya lebih semarak. Sektor perdagangan misalnya, akan lebih dinamis, pasar-pasar akan lebih hidup, gerai atau dealer-dealer motor-mobil di kawasan pusat kota pun akan ikut memanen. Belum lagi sektor industri baik yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan sektor pertanian akan turut pula menikmati kemajuan sektor pertanian. Ini pembacaan sederhana saya terhadap ide-ide Prabowo Subianto.

Saya tak tahu mengapa Prabowo Subianto mempunyai kepedulian dengan kehidupan petani dan dunia pertanian. Apa hanya untuk mendulang suara menjelang hajatan politik tahun 2009 nanti atau benar-benar pengabdian sebagai anak bangsa, wallahualam! Namun begitu saya sangat apresiatif dengan “kemunculannya” dengan membawa ide-ide “sederhana tetapi mengena”, meskipun belum tentu saya memberikan suara untuknya, kecuali ke depan bisa “merayu” dan meyakinkan saya!

Untuk mewujudkan ide-ide “sederhana tetapi mengena” itu bukan berarti tidak dibutuhkan keberanian dan ketegaran, tetapi juga butuh “kegilaan” sekaligus kesabaran untuk bisa melihat hasilnya. Mungkin bukan kita yang menikmatinya, tetapi bisa jadi anak-cucu kita yang memanennya!

Terakhir, saya berharap ide-idenya ini tidak seperti angin di siang hari yang melenakan dan menjadi retorika belaka. Demikian juga terhadap partai pengusungnya, meskipun partai baru tetapi akhir-akhir ini, menurut beberapa polling dan komentar para pengamat politik, mendapat tempat hampir sejajar dengan partai-partai besar lainnya yang sudah mapan. Tentu ini sebuah awalan yang baik. Namun, apakah Gerindra nantinya mampu menggerakan semua elemen bangsa Indonesia, tentu sesuai dengan namanya, Partai Gerakan Indonesia Raya, atau malah menjadi Partai Geeerrr Indonesia Raya, yang tentu ini tidak kita harapkan, kita tunggu saja kiprahnya di blantika perpolitikan Indonesia. Wallahualam bishowab!

*Gambar diambil dari sampul buku "Dari Ladang Sampai Kabinet: Menggugat Nasib Petani", oleh JA. Noertjahyo, Penerbit Buku Kompas, 2005.

Labels:


[...Baca Selengkapnya...]