Kamis, 01 Desember 2011

Cerita di Balik Buku Seorang Kawan

SEBELUM bulan ramadhan lalu saya mendapat kiriman, sebuah buku dari seorang kawan yang ia tulis keroyokan bersama dua kawannya yang lain. Judul bukunya: “Jual Beli Islami Menurut Fatwa MUI: Teori dan Praktik Murabahab di Bank Syariah”. Awalnya memang saya yang meminta dikirimi buku karyanya itu untuk saya buat resensi dan saya tampilkan di blog ini. Tapi apa daya, setelah saya baca, ternyata isinya cukup berat bagi saya yang tukang cangkul ini.
 

Makanya kali ini saya tak hendak mereviewnya, cukup saya baca saja sekadar mengasah ketajaman “mata cangkul” saya yang tumpul ini. Sepertinya saya lebih tertarik “mereview” kawan saya yang menulis buku itu daripada bukunya, sekaligus sekadar mengenang perkawanan kami.

Kawan saya ini yang alumni UIN Jakarta ini dulu sekelas waktu belajar “mencangkul” di Bogor. Sekitar 3 semester kami sekelas, karena “sesuatu hal” dia tidak melanjutkan pelajaran “mencangkul” di Bogor, mungkin karena lahannya yang terlalu keras dan/atau kurang sesuai dengan “habitat”-nya. Selepas dari Bogor, dia memulai lagi belajar di Program Pascasarjana Universitas Indonesia hingga lulus.

Saya lumayan akrab karena sering terlibat diskusi tentang banyak hal. Orangnya "grapyak" alias mudah bergaul dengan siapa saja, humoris bahkan humornya "NU banget" meskipun dia aktivis di Muhammadiyah :) Diawal-awal perkenalan, yang masih membekas adalah “tuduhannya” bahwa karena saya orang Jombang pasti saya NU dan anak buahnya Gus Dur. Saya nyengir saja “dituduh” seperti itu. Yang jelas kalau saya “dituduh” sebagai orang NU, saya sendiri tak mengerti atas dasar apa saya “dituduh” NU. Dan kalau pun NU, NU yang mana? NU struktural atau yang kultural, NU yang kanan atau NU yang kiri, NU yang kanan kekiri-kirian atau NU yang kiri ke kanan-kananan. Semuanya belum jelas. Apa karena saya sering “terlibat” dalam istighotsah dan tahlil seperti halnya yang dilakukan orang-orang di kampung saya? Kalau karena itu, pastinya saya tak harus menunggu menjadi NU.

Atau apa mungkin karena guru agama saya sejak SD hingga SLTA di dominasi guru-guru yang "NgenU", sehingga kawan saya bisa "membaca" wajah NU saya? Bisa jadi, karena baru ketika kelas 1 SLTA saya diajar agama sama orang Muhammadiyah yang pernah berdebat hebat dengan kawan saya, akibat bacaan sholat kawan saya ini ada kata "sayidina" sehingga "dilarang" sama guru saya. Waktu kelas 2 SLTA guru agama saya yang juga orang Muhamadiyah, tapi orangnya lebih tenang dan moderat, mau sholat pakai kata "sayidina" atau tidak, monggo saja (model begini yang saya suka). Kelas 3 SLTA baru diajar agama oleh orang NU yang tak pernah menyinggung persoalan macam ini.

Lainnya, saya begitu akrab dengannya karena ternyata dia juga “dekat” dengan Jombang. Betapa tidak, terungkap dan tertangkaplah kalau dia sedang “pendekatan” dan “lobi-lobi asmara” dengan seorang gadis Jombang. Yang jelas dia pernah cerita kalau sedang kasmaran sama gadis Jombang yang hidungnya mancung tetapi tidak bisa berbahasa Jawa itu. Lha, gadisnya itu memang lahir di Jombang, blasteran Jombang-Holand, wajar kalau hidungnya mancung, tak bisa ngomong Jawa, sebab sejak bayi procot atau bayi merah langsung diajak orang tuanya hijrah ke Jakarta.

Pernah suatu ketika di awal tahun 2003, saya diajak ke rumah gadisnya itu di Jakarta. Entah di daerah mana, yang jelas dari kampus UIN Jakarta naik angkot sekali. Saya pun diperkenalkan dengan gadisnya itu beserta ibunya. Sempat ngobrol –dengan bahasa Jawa ala Jombang tentunya— dengan ibu gadisnya kawan saya itu, yang ternyata orang Peterongan Jombang, sekitar 25 Km dari rumah (orang tua) saya di pelosok selatan tenggara Jombang.

Begitulah kawan saya yang menulis buku ini. Sungguh saya salut dibuatnya, bukan hanya pada karya bukunya ini, atau kehebatannya berorasi dan berceramah yang membius -terbukti piala di rumahnya terpajang berderet kala mengikuti berbagai kompetisi- tapi lebih dari itu, juga pada jihadnya untuk mendapatkan cinta gadis Jombang itu, hingga bisa “merger” dan “berkolaborasi” menghasilkan “karya nyata” yang lebih dahsyat, seorang generasi penerus kehidupan!

9 komentar:

  1. luar biasa. kalo saya masih malu. soalnya baru dua nerbitin buku, dan itu penerbit indie. sukses ama 'cangkulan2'nya kawan. ditunggu kunjungannya

    BalasHapus
  2. Wah, bicara soal buku heran juga ya para penulis itu, idenya ndak habis-habis. Bahkan ada juga seorang teman laki-laki dari teman blogger yang jauh di sana, memberi persembahan mempelai istri sebuah buku karya sendiri yang juga dijual bebas.

    BalasHapus
  3. mas ayo nggawe buku 1000 judul lakon ludruk, piye?...

    BalasHapus
  4. Saya juga ingin menulis buku mas.
    Baru merem melek cari ide.
    Salam hangat dari Galaxi

    BalasHapus
  5. kalo ngomongin jombang, pasti langsung nyrempet para blogger yg lahir di jombang

    semoga bakat menulis penulis tersebut sampai ke saya juga, hehe, aminn....

    BalasHapus
  6. Kok bukan bukunya yang diulas Mas...Kapan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. review-nya menunggu kiriman buku mas belalang dulu :)

      Hapus

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...