Rabu, 22 Juli 2015

Empat Tradisi Seputar Ramadan dan Lebaran

SETIAP ramadan dan lebaran, pada setiap daerah atau bahkan negara pasti punya kebiasaan atau tradisi untuk menyambutnya. Mungkin ada yang sama, tetapi tak sedikit tradisi yang berbeda di setiap daerah atau negara. Namun, secara umum tradisi tersebut bertujuan untuk menyambut dan “menyemarakan” ramadan dan lebaran. Begitu juga di daerah (kampung) saya, ada beberapa tradisi yang dilakukan masyarakat dalam menyambut ramadan dan lebaran yang sudah turun temurun sampai saat ini.

Setidaknya ada empat tradisi yang ada di kampung saya di seputar ramadan dan lebaran:

Pertama, Megengan. Megengan menandai dimulainya bulan puasa. Acaranya berupa kenduri yang menghadirkan tumpeng atau ambeng. Ambeng sebenarnya hampir sama dengan tumpeng, hanya saja untuk nasinya tidak dibuat gunungan atau kerucut. Itu makanya tidak disebut tumpeng. Untuk ambeng biasa dimasukan dalam ember.  Menunya menyesuaikan dengan kemampuan pembuatnya. Tahu, tempe, telur, ayam, mie, urap-urap, sambal goreng, rempeyek dan sebagainya adalah menu yang umum digunakan, Yang menrik dan sedikit membedakan, di setiap tumpeng atau ambeng untuk acara kenduri dalam megengan ini selalu ada kue apem. Ini menjadi semacam trademark di kampung saya yang selalu ditampilkan. Kenduri umumnya dilakukan di salah satu rumah warga atau di masjid dan mushola.

Kedua, Maleman. Maleman biasa dilakukan di 10 hari terakhir dan terutama pada malam-malam ganjil. Ini merupakan bentuk sedekah yang dilakukan warga kampung, karena umumnya warga yang melakukan maleman akan mengantar makanan ke para tetangga atau orang-orang yang secara ekonomi kekurangan. Makanan umumnya dikemas dalam rantang bersusun atau saat ini sudah mulai dijumpai mengantar makanan dengan kemasan kotak. Yang menarik lagi, warga yang dikirimi makanan ini tak hanya sesama muslim, tetapi semua warga yang dianggap kekurangan dan tak peduli suku dan agamanya apa. Setidaknya di kampung saya ada yang beragama kristen (protestan), budha, dan khonghucu.

Ketiga, Riyayan. Ini merupakan puncak dari puasa, yaitu hari raya idul fitri. Sama dengan awal puasa yang dilakukan megengan, diakhir puasa atau malam idul fitri masyarakat juga akan melakukan kenduri. Menunya tak jauh beda dan juga ada kue apemnya. Selepas kenduri biasanya orang-orang kampung akan melakukan takbir di masjid dan mushola-mushola.

Di tahun 80-90-an, takbir seringkali dilakukan dengan keliling jalan kaki mengelilingi kampung dengan membawa berbagai alat musik dan obor. Akhir-akhir ini hal itu sudah jarang dilakukan, bahkan takbir di masjid yang biasanya semalam suntuk, dari selepas magrib sampai waktu menjelang sholat idul fitri kesokannya, yang dilakukan oleh warga sudah mulai digeser dengan penggunaan kaset-CD, terutama tengah malam sampai subuh. Namun kabar gembiranya (dari teman-teman kampung) takbir idul fitri beberapa waktu lalu sudah tak ada “bantuan” dari kaset atau compact disk. Takbir dilakukan semalam suntuk oleh para jamaah masjid secara bergiliran. Hal tersebut tak terlepas dari mulai bergairahnya masyarakat “kembali” ke masjid, yang entah apa penyebabnya.

Keempat, Kupatan. Tradisi ini dilakukan pada hari ke tujuh atau tanggal 7 syawal. Acaranya tak jauh beda dengan kenduri menjelang idul fitri. Tetapi sesusi dengan naamnya, kupatan, makanan yang disajikan adalah kupat (ketupat) dan “jamaahnya” semacam lontong, aneka sayur dan opor, dan lepet (penganan yang terbuat dari beras ketan, parutan kelapa, garam dan isi biji kacang panjang yang telah kering dan dibungkus dengan daun pisang maupun janur kuning). Tradisi ini (kupatan) dan tradisi sebelumnya tak terlepas dari nilai-nilai simbolis, filosofis dan teologi yang kalau saya uraikan di sini mungkin akan menjadi catatan berseri, catatan yang endinganya tak akan kunjung usai.

Demikian beberapa tradisi yang ada di kampung saya di seputar ramadan dan lebaran. Bagaimana dengan kampung atau daerah Anda?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...