Kamis, 11 September 2014

Kisah Para Pendobrak Keterkungkungan Pendidikan di Indonesia

BAGI bangsa yang ingin maju, pendidikan adalah sebuah kebutuhan, sama halnya seperti kebutuhan primer lainnya. Pendidikan punya peran penting dan strategis dalam membentuk dan mempercepat pembentukan masyarakat yang beradab dan berkarakter. Disamping juga sebagai upaya untuk mendewasakan diri agar dapat berperilaku secara baik dan benar. Oleh karen itu, pendidikan harus mampu mencetak manusia-manusia yang tangguh dan mampu mengubah tatanan sosial menjadi lebih baik. Apalagi pada era globalisasi seperti saat ini dimana tantangan datang bertubi-tubi tak hanya dari dalam, tetapi juga dari luar.

Persoalannya, kita melihat pendidikan di negeri ini masih jauh dari harapan, bahkan jauh tertinggal dari negara-negara lain. Buramnya wajah pendidikan kita setidaknya dapat dilihat diantaranya dari paradigma pendidikan yang terkungkung oleh berbagai hal, cenderung materialistik, seragam, kurang adanya perhatian terhadap dunia pendidikan (penggajian guru, pembangunan fasilitas pendidikan dan sebagainya), pendidik yang kurang profesional, dan semakin mahalnya biaya pendidikan sehingga sulit diakses oleh semua warga.

Aksesbilitas pendidikan di Indonesia inilah yang menjadi persoalan tersendiri berserta implikasinya yang tak kalah rumit. Berbagai program telah dilakukan oleh pemerintah, tapi sayangnya sampai sekarang masih saja banyak masyarakat yang belum bisa menikmati pendidikan formal. Kalaupun bisa menikmati tetapi belum sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Justru dari kalangan penyelenggara pendidikan alternatif, organisasi nirlaba, dan semacamnya yang berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan.

***

BUKU dengan judul Oase Pendidikan di Indonesia: Kisah Inspiratif Para Pendidik yang diterbitkan Tanoto Foundation ini adalah kumpulan kisah-kisah pendidikan yang ada di Indonesia yang setidaknya bisa menjadi ‘oase’ ditengah-tengah ‘kegersangan’ dan ‘dahaga’ dunia pendidikan kita selama ini. Berbagai kisah dan pengalaman empiris ditulis oleh para pendidik dengan gayanya masing-masing, seperti bagaimana memahami peserta didik yang berkebutuhan khusus, menyiasati minimnya sarana sekolah, dan usaha memajukan sekolah yang terpencil ata berada di pelosok atau pedalaman adalah perjuangan riil guru yang tak ternilai secara materiil. Disnilah muncul nilai-nilai kemandirian, kreativitas, dan cinta tulus yang dimiliki para pendidik yang seperti dalam kisahnya, patut disebarkan sebagai api penyulut pendidikan berkualitas di Indonesia. Hanya dengan pendidikan berkualitaslah, kehidupan berkualitas bisa dimulai.

Buku ini terdiri dari tiga bagian utama. Di bagian pertama, dengan judul Pembelajaran yang Memerdekakan. Bagian ini lebih didominasi oleh kisah-kisah inspiratif model-model pendidikan alternatif yang berhasil diterapkan para pendidik untuk meningkatkan kualitas anak didiknya. Ulasan dalam bentuk cerita atau kisah nyata menjadikan buku ini enak dibaca. Kita tak akan bosan membacanya bahkan perasaan pembacapun akan teraduk-aduk, larut dalam cerita yang penuh makna. Kisah-kisahnya diramu secara detail dengan alur cerita yang mengalir sehinga tak terasa pembacapun memperoleh banyak pelajaran tanpa terbebani. Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik, misalnya bagaimana peserta didik dan para pendidik itu harus bersikap jujur, bertanggungjawab, punya rasa solidaritas dan tenggang rasa, dan sebagainya.

Contoh model yang diangkat dalam bagian ini adalah model pendidikan alternatif yang dilakukan oleh Sanggar Anak Alam, Mengapa dikatakan alternatif? Karena pendidikan di Sanggar Anak Alam secara formal tidak diakui pemerintah, meskipun jadi jujugan studi-studi banding instansi pendidikan formal. Sanggar Anak Alam juga mempunyai kurikulum sendiri yang lebih “manusiawi”, kurikulum yang tidak selalu seragam, kurikulum yang dekat alam, kurikulum yang menyenangkan dan mengangkat harga diri peserta didik dan para pendidik.

Bagian Kedua, Anak dan Komunitas Belajarnya. Bagian ini mengisahkan tentang pendidikan anak yang tumbuh melalui kebersamaan dalam komunitas. Akses pendidikan yang sulit bagi masyarakat bukan saja karena jauh dan ada dipedalaman, tetapi yang utama adalah masalah ekonomi yang melanda orang tua anak didik. Anak didik yang lahir dari keluarga miskin tentu akan berpikir berulang-ulang untuk bisa menikmati pendidikan di sekolah. Kalaupun sekolah, mereka akan menghadapi banyak kendala. Dan itulah kisah nyata yang dihadapi banyak pendidik di negeri ini yang kemudian dikisahkan oleh salah satu penulis di buku ini. Bagaimana seorang siswa SMP yang jarang masuk sekolah menjadi perhatian gurunya yang setelah ditelusuri ternyata siswa ini dari kalangan keluarga miskin, sehingga prioritas sekolah menjadi nomor sekian. Siswa ini pun akhirnya menjadi “perhatian” gurunya yang tergerak untuk membantunya, tentu juga menggerakan pihak lain untuk juga turut membantun, termasuk juga mengajak dan mengajarkan keterampilan yang bisa menghasilkan uang sekaligus sebagai pendidikan konstruktif dan kecakapan dalam menghadapi dinamikan kehidupan.

Kemudian bagian ketiga dengan tema Membangun Profesionalisme Guru. Bagian ini mengulas tentang bagaiaman caranya meningkatkan kualitas guru, baik menyangkut kualitas ekonomi maupun kualitas intelektual atau wawasannya. Salah satu yang menarik dan “sensitif” dari bagian ini adalah masalah sertifikasi guru sebagai pengharagaa profesi sekaligus upaya untuk mengkitkan kesejahteraan guru yang selama ini secara umum juga masih “kering”. Namun demikian, seorang guru yang disertifikasi setidaknya memenuhi persyaratan memiliki masa kerja sebagai PNS maupun Non-PNS paling tidak enam minim tahun sebagai pendidik. Selain itu, syarat-syarat profesional juga harus dimiliki, seperti pengetahuan atau wawasan dan kemampuan mengajar yang baik. Tentu semua ini ada ukurannya dan bisa diukur. Seorang guru harus terus-menerus mengasah kemampuannya, harus banyak belajar meskipun sebagai seorang pengajar. Guru harus banyak membaca dan berpengetahuan luas. Apa sebab? Seperti yang disinggung dalam salah satu tulisan di bagian ini, siswa yang belajar dari seorang guru yang jarang membaca dan tidak bertambah pengetahuannya, bagaikan meminum air keruh yang sudah lama menggenang.

***

MEMBACA buku ini tidak sekadar membaca kisah, tetapi juga akan mengajak kita berkelana dan menjelajah “dunia lain” pendidikan kita yang dipenuhi “kegersangan” dan “kekeringan” sekaligus buku ini sebagai pelepas ‘dahaga’ dari kekeringan dan kegersangan itu. Buku ini wajib dibaca bagi semua kalangan, bukan saja bagi pemerhati dan pelaku yang langsung terlibat di dunia pendidikan, tetapi juga pengambil kebijakan di pemerintahan ini. Buku yang salah satunya diprakarsai oleh Tanoto Foundation, sebuah yayasan nirlaba yang didirikan oleh Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto, setidaknya –seperti dalam sekapur sirih– bisa menjadi oase-oase kecil dalam dunia pendidikan yang menyegarkan kembali tanah kering pendidikan Indonesia. Selamat membaca, berkelana, dan menjelajahi “dunia lain” pendidikan di Indonesia, dan selamat mendobrak keterkungkungannya!


Penulis : Tim Penulis Mitra Forum Pelita Pendidikan
Pengantar : Dr. Zaim Uchrowi
Penerbit : Tanoto Foundation dan Raih Asa Sukses
Tahun : Cetakan I, 2014
Tebal : iv + 260 halaman

5 komentar:

  1. Buku yang menarik, diterbitkan oleh yang pernah memberikan saya beasiswa, Tanoto Foundation

    BalasHapus
  2. keren..sringkali kisah2 mmberikn dmpak lbih kuat dbanding cramah2..
    rinci blitar.tmn d syembra mnlis sidigiri,mdah2an msih ingat mas..hehee,

    BalasHapus
  3. sangat menarik sekali,memberikan penjelasan yg simple namun apik

    BalasHapus
  4. BACA JUGA : Kisah Inspiratif : Pesan tersirat dari Anak Bodoh
    http://www.simaklah.com/2015/04/kisah-inspiratif-dari-anak-bodoh.html

    BalasHapus

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...