Senin, 19 Mei 2014

Sektor Pertanian sebagai Mesin Pembangunan

SEBAGAI suatu negara, kita dikenal dengan julukan negara agraris, negara yang perekonomiannya dibangun dari sektor pertanian dan hasil olahan produknya. Sekitar 60 persen penduduknya hidup dari sektor pertanian, apakah sebagai buruh tani, pemilik lahan bahkan sebagai pedagang hasil pertanian. Tentu saja dengan terlibatnya banyak orang, diikuti juga dengan banyak “kepentingan” yang  memanfaatkan situasi dan kondisi sektor pertanian. Kepentingan tersebut tidak hanya soal pertanian itu sendiri, tetapi juga ada kepentingan lain seperti budaya maupun politik yang sangat merugikan sektor pertanian itu sendiri.

Saat ini, dapat kita lihat bagaimana sektor pertanian kita berjuang sendirian berhadapan dan berkompetisi dengan sektor perekonomian lain, khususnya sektor industri maupun jasa. Kedua sektor terakhir mengalami perkembangan yang lebih pesat dari pada sektor pertanian dalam beberapa tahun terakhir. Secara umum, bisa kita katakan bahwa penurunan peran sektor pertanian tersebut dikarenakan “insentif” yang dihasilkan tidak mampu menarik (attractive) pelaku usaha maupun anak–anak petani untuk melanjutkan kegiatan ekonomi tersebut. Pada saat yang sama, sektor industri dan jasa mampu menawarkan insentif yang lebih baik berupa materi (pendapatan) maupun non-materi seperti status sosial maupun rasa percaya diri (self confidence) untuk tampil di depan masyarakat.

Data–data menunjukkan peran sektor pertanian terhadap perekonomian (PDB) yang semakin menurun setiap tahunnya, baik ditingkat nasional maupun pada tingkat regional. Walaupun begitu, sektor pertanian tetap setia untuk menampung tenaga kerja di ladangnya, walaupun memberikan “nilai tambah” yang lebih rendah dari sektor lainnya. Sektor ini tetap dianggap sebagai sektor “tradisional” yang menampung siapa saja yang mau, siapa saja yang rela dibayar pada tingkat upah berapapun dan “selalu” di bawah UMP/UMK (upah minimum). Dalam bahasa yang lain, sektor pertanian dianggap sebagai sektor “pelarian” bagi tenaga kerja yang tidak mampu memasuki dan bersaing di sektor lainnya.

Kebijakan pemerintah sendiri selama ini masih menganaktirikan sektor pertanian. Hal ini dapat dilihat bagaimana alih fungsi lahan yang cukup besar dalam beberapa tahun terakhir dan pemerintah tidak cepat tanggap atas tendensi tersebut. Pada tahun 2012, di Indonesia terjadi 65.000 hektar alih fungsi lahan, padahal pada saat yang sama di negara–negara lain berlomba untuk menciptakan lahan pertanian baru. Banyak aspek penyebab mengapa kondisi tersebut terjadi, kebijakan perdagangan pangan (import strategy), struktur pasar yang cenderung oligopoli bahkan monopoli, sehingga menyulitkan pemain baru masuk, serta kebijakan perbankan yang “bias” kepada sektor lain.

Melihat berbagai permasalahan yang ada di sekitar sektor pertanian tersebut, tentu kita perlu menyamakan keyakinan dan niat yang tulus dalam membangun “visi pembangunan” bahwa sektor pertanian-lah yang mampu menciptakan pondasi perekonomian yang lebih sehat, lebih terbuka aksesnya, dan lebih ramah terhadap masyarakatnya, terutama melihat pengalaman negara–negara maju yang memulai pembangunan ekonomi dari sektor pertanian dan melakukan lompatan pembangunan sektor industri dan jasa berbasis pertanian.

Oleh karena itu, disaat negara–negara maju lebih konsentrasi kepada sektor industri, semisal elektronika, otomotif, kimia dan sebagainya, tentu saat ini merupakan waktu yang tepat bagi kita untuk memperkuat sektor pertanian dan industri hasil pertanian dalam mengisi kebutuhan pangan negara–negara maju tersebut.

Buku ini memberikan “semangat” memperkuat sektor pertanian, keberpihakan kebijakan serta kesiapan infrastruktur sosial dan fisik, yang merupakan pra-kondisi yang harus segera diciptakan. Juga sekilas memberikan gambaran “kelemahan” sektor pertanian kita agar kita tetap waspada. Tanpa tahu “kelemahan” diri, serta tanpa ada “semangat” dan komitmen yang benar–benar konsisten dan teruji (kebijakan politik anggaran, perbaikan kebijakan perbankan, menciptakan insentif yang lebih) maka kita akan selalu terkaget-kaget bahwa negara–negara kecil di bidang pangan sudah berlari dan menyalip kita dari “sisi kiri” tanpa memberikan tanda atau signs kepada kita, meninggalkan kita dalam kondisi bengong……..“kok bisa ya?”.

Selamat membaca! (candra f. ananda)


Penulis: Junaedi
Pengantar: Prof. Candra F. Ananda, SE, M.Sc., Ph.D
Penerbit: UB Press
Tahun: April 2014
Tebal: xii + 127 Halaman

4 komentar:

  1. tapi sayangnya lahan pertanian semakin lama semakin sempit, kalah dengan pembangunan hunian

    BalasHapus
  2. Sangat setuju mas.
    Sektor pertanian sudah seharusnya menjadi "unggulan" di negeri yang subur dan berlimpah sumber daya alam ini.

    Salam kenal dari seorang toekang keboen di Semarang,
    mangKoko

    BalasHapus
  3. Negara agraris tapi anak mudanya pada lari ke kota untuk bekerja. Kecil kemungkinan di antara mereka yang balik lagi ke desa dan menjadi petani.

    BalasHapus
  4. haya di negeri ini, negeri agraris yang jarang swasembada pangan. Semoga yang duduk di jabatan atas lebih memperhatikan petani kecil.

    BalasHapus

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...