Senin, 27 Januari 2014

Cara Menemukan “Niche” untuk Meningkatkan Kualitas Riset

DALAM seminarnya di Jombang, Ilmuwan LIPI, Prof. Mien Ahmad  Rifai, yang juga Guru Besar Luar Biasa Institut Pertanian Bogor dan Universitas Indonesia bidang biologi, mengatakan bahwa persoalan besar yang dihadapi oleh seseorang yang belum memiliki pengalaman dan tradisi melakukan penelitian adalah mencari dan menemukan relung (niche)  atau tempat khususnya dalam  ekosistem  keilmuan.

Perkembangan ilmu dan teknologi yang makin hari makin terspesialisasi, serta terus makin diwarnai persaingan ketat antara sesama ilmuwannya, menuntut setiap orang yang akan melakukan penelitian untuk menentukan pilihan ranah yang tepat. Dengan cara ini akan memungkinkan seseorang bisa cepat berhasil menjadi sosok terpandang untuk ikut memicu dan memacu kemajuan pengembangan, pemanfaatan, dan penguasaan pengetahuan, ilmu, dan teknologi yang diminatinya.

Berkaitan dengan "niche" tersebut, Prof. Mien memberikan tips atau cara untuk menemukannya. Menurutnya, setidaknya ada empat langkah yang harus dilakukan untuk bisa menemukan "niche" dalam penelitian:

Pertama,  mengenali diri sendiri. Dengan mengenali diri sendiri akan mengetahui kekuatan dan kelemahan lekat dirinya, memahami minat, keinginan, dan kemauannya, serta juga meyakini kespesialisan yang dipilihnya. Penemuan diri ini akan membuka peluang bagi siapapun (peneliti, calon peneliti)  yang belum mapan "lahan" kegiatannya untuk segera bisa menempati relung atau posisi fungsi dan perannya yang khas.

Kedua,  tindakkan dengan mulai melakukan kegiatan untuk menumbuhkan sudut pandang yang berjati diri dan berkepribadian khusus sehingga dapat dikembangkan untuk kemudian dijadikan suatu spesialisasi untuk mencapai tujuannya dalam berkiprah ikut memajukan ilmu. Pengenalan kepribadian memang dapat dijadikan modal dalam menyempitkan ranah pencarian, penemuan, dan pengakuan (claim) tapak tempatnya berkiprah, khususnya dalam mengidentifikasi bidang kespesialisan penelitiannya, yang merupakan langkah amat penting dalam berkarya sebagai ilmuwan.

Ketiga, langsung menyibukkan diri untuk selalu mengajukan pertanyaan, dan bertanya lagi, serta terus ‘cerewet’ bertanya tentang segala sesuatu seputar aspek berkekhususan yang terkait dirinya yang sudah mulai dikenalinya. Selain bertanya, perlu pula sekaligus dicoba mencari penjelasan untuk memenuhi rasa keingintahuan yang perlu terus selalu diasah guna mengembangkannya.

Asking questions and seeking explanations memang merupakan kegiatan yang harus terus dilakukan kapan saja dan di mana saja oleh siapa saja yang berniat menjadi peneliti. Perlu diketahui bahwa tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan orang padanya tidak pernah ditakuti oleh seorang guru besar. Akan tetapi seorang guru besar pasti akan sangat takut kalau dirinya sudah tidak mampu lagi mengajukan pertanyaan. Ketidakmampuan bertanya secara tegas menyatakan ketamatan riwayat dan kiprah seseorang sebagai ilmuwan.

Keempat, mencari, menemukan, dan mengidentifikasi masalah penelitian. Karena kegiatan pengidentifikasian masalah harus dimulai dengan bertanya (who, what, which, where, whither, when, whence, how, dan sebagainya), maka seni bertanya atau kemampuan menyusun pertanyaan bersistem haruslah ditumbuhkan dan dibina sebaik-baiknya. Untuk itu, sebagai seorang ilmuwan atau peneliti tidak boleh berhenti untuk selalu mengajukan pertanyaan dan mencari penjelasan terhadap segala sesuatu di sekitarnya.

2 komentar:

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...