Minggu, 05 Agustus 2012

Gus Dur, Ziarah Kubur, dan Syirik Itu

BEBERAPA waktu lalu, ada sebuah artikel di harian nasional yang menulis tentang “berkah” makam Gus Dur di Tebuireng Jombang. Kurang lebihnya, artikel itu menulis tentang efek ekonomi sejak Gus Dur dimakamkan di Tebuireng hampir 3 tahun lalu. Sejak itu, hampir setiap hari ribuan pengunjung menyemut untuk “berziarah” ke makam Gus Dur. Mereka datang dari berbagai kelompok masyarakat. Akibat berikutnya, banyak masyarakat yang membuka usaha (perdagangan) di kawasan Tebuireng. Kawasan Tebuireng yang di jaman kolonial belanda menjadi kota “metropolitan”, makin ramai saja oleh kehadiran “pengusaha-pengusaha” baru ini.
Tetapi bukan itu yang ingin saya cermati dari tulisan itu. Justru komentar “miring”-lah yang menjadi penarik dan pemantik saya menulis postingan ini. “Syirik”, itu komentar singkat dari salah satu komentator pada artikel itu. Entah apa maksudnya dan tak tahu pula ditujukan pada siapa.

“Syirik”, kata-kata ini juga sering saya dengarkan dari orang-orang untuk mengomentari perilaku orang-orang yang suka pergi ke kuburan atau tempat-tempat yang dianggap keramat lainnya. Apa memang demikian? Apa orang yang suka pergi ke kuburan atau tempat keramat lain itu selalu berperilaku syirik (menyekutukan Tuhan)? Terlalu sederhana sepertinya kalau memberikan nilai seperti itu. Padahal, syirik itu ada pada sikap hati, bukan pada makam atau pada tempat-tempat keramat. Tetapi mengapa kita dengan mudah menyematkan kata-kata itu pada saudara-saudara   kita yang lain?

Akan lebih bijak jika kita mencari penyebab mengapa suadara-saudara kita berduyun-duyun suka pergi ke makam atau tempat keramat? Tentu setiap orang punya “preferensi” sendiri mengapa harus punya hobi pergi ke kuburan. Bisa jadi karena memang benar-benar ingin berziarah, berdoa dan intropeksi mengingat mati. Atau juga bisa karena berbagai kepusingan hidup yang “menelantarkannya”, terlantar secara budaya, teologi, dan ekonomi, sehingga harus terpaksa “berziarah” ke kuburan dan “meminta” ketentraman, karena tak mampu “meminta” ketentraman pada orang-orang yang telah diamanati untuk mencipta ketentraman

Dan seumpama perilaku seperti ini dikatakan “syirik”, apakah tidak “lebih syirik” bagi para penguasa yang seharusnya bisa menciptakan ”ruang” bagi yang dikuasainya. Bukan justru mempersempit atau bahkan menghapus ”ruang” yang dikuasainya sehingga yang dikuasainya itu mencari ”ruang-ruang lain”, termasuk ”ruang” yang tercipta oleh keberadaan makam, seperti makam Gus Dur ini. Wallahualambishowab!

3 komentar:

  1. Saya belum paham soal paragraf terakhir, Mas. Mungkin bisa dielaborasi logikanya. Salam kenal dan sukses selalu :)

    BalasHapus
  2. klo menurut saya pribadi , antara syirik dan tidaknya itu tergantung si pelaku kang , karena hanya dia yang mengerti niatnya datang ke makam gusdur

    BalasHapus
  3. Sebenarnya ziarah kubur itu dulunya pernah dilarang oleh rasulullah karena bisa mendorong pelakunya syirik. Seiring berjalannya waktu diperbolehkan sebagai ibrah agar manusia ingat mati (jadi ingat bahasan qaul qadim). Soal syirik atau tidak, kembali ke masing-masing pelaku dan niatnya.

    BalasHapus

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...