Kamis, 28 Mei 2009

Upacara Potong Padi

ENTAH sudah berapa tahun saya tak melihat upacara potong padi atau orang Jawa sering menyebut dengan methik. Yang saya ingat sekitar pertengahan tahun 80-an saya masih sempat melihat dan menikmati tradisi methik itu. Ketika itu nenek masih mempunyai sawah yang tak lebih dari setengah hektar. Setiap kali menjelang panen padi, nenek selalu memulai dengan ritual selamatan seperti ini.

Malam menjelang panen biasanya dilakukan kenduri atau tumpengan di rumah dengan mengundang tetangga kanan-kiri. Yang saya pahami, hal ini dilakukan sebagai bentuk ugkapan rasa syukur dengan sedekah nasi tumpeng atas panen di setiap musim panen. Bukankah berbagi kebahagiaan kepada tetangga adalah hal yang sangat bijak yang dianjurkan ajaran-ajaran suci?

Selain tumpeng yang dikendurikan di rumah, juga disiapkan tumpeng yang khusus untuk kenduri di sawah keesokan harinya. Tumpeng ini dibuat khusus dengan bagian puncak ditancapi dengan berbagai macam hiasan dan uba rampe seperti cabai, bawang merah, sirih, gula merah, ikan asin, merang, daun kelapa atau daun aren, dan sepotong bambu yang masih muda. Tumpeng ini dijaga semalam suntuk sebelum keesokannya dibawa ke sawah.

Keesokan harinya dilanjutkan dengan upacara methik di lokasi atau sawah yang akan dilakukan pemanenan. Upacara methik ini dipimpin oleh orang pintar atau tokoh spiritual desa dengan membawa sesajen dengan segala macam uba rampe-nya itu ke lokasi persawahan yang akan dipanen. Yang saya ingat, dulu Pak Tua yang memimpin upacara itu selalu membakar merang dan dupa atau kemenyan. Saya selalu merinding bila mencium aroma khas dupa atau kemenyan itu.

Kata orang-orang, dupa dan kemenyan adalah “makanan” dedemit yang mbaurekso atau yang menunggu tempat-tempat tertentu. Bagi saya, dedemit dan sebangsanya dalam hal makan masih kalah hebat dengan manusia. Manusia bisa memakan apa saja seperti jalan tol, jembatan, proyek bandara dan pelabuhan, hutan lindung dan sebagainya. Hebat bukan?

Kembali ke upacara potong padi, setelah membakar merang dan kemenyan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa-doa dan selanjutnya dilakukan pemetikan beberapa tangkai padi dengan ani-ani. Tangkai padi inilah yang melambangkan Sang Dewi Sri atau Dewi Padi yang dianggap mempunyai kekuatan magis. Lalu beberapa helai tangkai padi ini dijadikan seperti pengantin atau disandingkan dalam sesajen (makanya sesajen kadang juga disebut sandingan). Padi sandingan ditutup dengan bernacam bunga dan diolesi dengan boreh (semacam krim atau bedak basah). Kemudian sesajen yang sudah “bersanding” dengan Sang Dewi Padi, dibawa pulang ke rumah dengan cara disunggi (ditaruh di atas kepala) atau kadang digendong untuk disimpan di bilik atau senthong. Pembawa sandingan ini harus diam atau tak bicara apapun sampai di rumah. Di beberapa daerah lain, padi disimpan dalam lumbung yang dibuat khusus, misalnya pada suku Baduy dengan membuat leuit.

Setelah pemetikan beberapa helai tangkai ini, biasanya tidak langsung memetik seluruh tanaman padi tetapi dilakukan dengan pembagian nasi tumpeng yang telah dibacakan doa-doa sebelumnya. Engkung atau panggang ayam utuh biasanya menjadi lauk utama ditambah dengan lauk lainnya seperti urap-urap, tahu, tempe dan sebagainya. Semua kebagian tanpa harus berebutan, satu rasa sama rata. Suasana guyub dan kebersamaan pun tercipta tatkala menikmati nasi tumpeng bersama-sama.

Sungguh, saat ini saya sangat merindukan suasana seperti itu!

8 komentar:

  1. saya selalu suka melihat hamparan padi yang hijau...

    BalasHapus
  2. aku gak pernah lihat upacara potong padi,
    aku ndeso ya...

    BalasHapus
  3. Bahkan di kampungku, tahun 99 saja masih ada sejumlah petani yang meletakkan sesajen di tepian pematang sawah. Kalo sudah begitu, pasti teman2 langsung berebut telur mentah, uang, ato rokoknya. Trus kira2 jin penunggu sawahnya kebagian apa yak??? :D

    BalasHapus
  4. wah...aku baru tau klo acara methik ada sesajen...
    btw, klo suap itu bisa dikategorikan sesajen juga ya...:p
    brarti manusia yang mau disuap termasuk kategori demit...:p

    BalasHapus
  5. Tradisi Siapa, budaya siapa? pasang sesaji di sawah..emang yg menciptakan padi makan sesaji!....Gusti Allah sing nyiptak ne ora butuh sesaji...sing dibutuh no mung bersyukur lan ibadah,,bukan jd musyrik!

    BalasHapus
    Balasan
    1. masak sih jadi musrik gara-2 sesaji Om, bukankan musri atau tidak musrik itu pada sikap hati Om :)

      Hapus
  6. Yah.Orang memang ada berbagai macam cara untuk mensyukuri kimat Ilahi.Tulisan di atas memang perlu untuk kita ketahui, sebab memang negeri ini kaya akan tradisi. Bagi yang suka dengan tradi tersebut, ya..monggo. Yang nggak suka ya...wis!

    BalasHapus

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...