Kamis, 14 Agustus 2008

Menapak di Pulau Sumba, 2 - Habis

TERNYATA tak semudah yang saya bayangkan untuk melanjutkan catatan sebelumnya yang sempat tertunda dan “terlunta-lunta” karena “sesuatu hal”. Mungkin karena saya sudah berjarak dengan obyek yang telah saya tapaki sehingga melupakan semua referensi yang sempat singgah di kepala. Yang teringat di kepala adalah bahwa Pulau Sumba itu identik dengan sabana, padang rumput yang sangat luas, yang ketika musim kering seperti saat ini akan kelihatan kuning kecoklatan, seperti hamparan ladang emas.

Referensi lainnya yang sedikit saya ingat adalah cerita purba tentang kehidupan manusia yang paling purba di Sumba khususnya Sumba Barat yang dapat diperoleh dalam sebuah hikayat suci tentang asal-usul nenek moyang yang biasa dikenal dengan Li’i Merapu. Dalam khasanah budaya orang Sumba, untuk memperkenalkan hikayat ini biasanya digelar secara khusus diwaktu malam yang dikisahkan oleh seorang penyanyi dan seorang penderas atau pencerita, secara bergantian, sahut-menyahut diselingi alunan musik gong dan genderang.

Dalam suasana khidmat dan dengan hati terharu penduduk kampung mendengarkan sejarah kuno yang diceriterakan dengan penuh penghayatan. Singkat cerita, di pantai utaralah nenek moyang mereka pertama kali menapakkan kakinya. Pantai itu sekarang lebih dikenal dengan Tanjung Sasar. Di Tanjung Sasar dahulu kala ada Lende Watu atau Jembatan Batu yang menyambung pulau Sumba dan Bima, bahkan ada yang menceritakan jembatan batu tersebut membentang jauh sampai ke pantai di kawasan Manggarai, Pulau Folres bagian barat. Tetapi oleh suatu kekuatan alam jembatan itu putus, sehingga pulau Sumba terpisah dari pulau Sumbawa dan Flores.

Sementara itu, masyarakat Sumba Barat secara tradisional adalah bertani atau bersawa dan berladang dengan padi yang suci atau disebut pare sebagai tanaman pokok yang sangat dihormati. Pare, sebuah kosakata yang mirip dengan pari, sebutan padi oleh orang-orang Jawa. Padi hanya ditanam di daerah-daerah yang mudah mendapatkan pasokan air atau yang baik saluran irigasinya. Sementara lahan-lahan lain yang sulit memperoleh air, digunakan bercocok tanam dengan sistem tadah hujan dengan tanaman semusim seperti jagung. Karena hampir seluruh dataran pulau ini kering, seperti halnya pulau-pulau lain di kawasan NTT, maka mereka “beramai-ramai” bertanam jika musim hujan telah tiba. Musim hujan hanya datang di awal bulan Desember hingga akhir Maret dengan frekwensi hujan tertinggi dan deras rata-rata terjadi pada bulan Januari dan Februari.

Seperti halnya masyarakat tani di Pulau Jawa, masyarakat petani Sumba Barat pun mempunyai tata cara atau prosesi ritual tersendiri dalam kegiatan pertaniannya. Setidaknya terdapat beberapa rangkaian prosesi ritualnya [http://www.tamanbudayantt.net]:

Pertama adalah urata patama keto atau upacara mengasah parang. Upacara ini mempunyai tujuan supaya parang atau pisau dan alat-alat pertanian lainnya dapat berfungsi dengan baik pada waktu digunakan untuk memotong hewan besar atau mengerjakan kebun.

Kedua adalah urata pogo wasu atau upacara menebang pohon yang dirangkai dengan urata tenu atau upacara membakar kayu dan urata wuke oma atau membuka kebun, dimana rangkaian upacara ini sebagai pemohon belas kasih pada dewa untuk meminta kesucian atau keberkahan tanah agar menghasilkan panen yang melimpah. Masih dalam tahapan ini juga dirangkai dengan urata dengu ura atau memohon hujan agar hujan turun dan mampu menumbuhkan. Semua prosesi dalam tahap ini dipimpin oleh seorang rato atau ratu dengan mengambil ayam yang darahnya dipercikan ke parang, pohon, maupun tanah.

Ketiga atau yang terakhir adalah urata dengi ina atau upacara memetik hasil. Biasanya upacara memetik hasil ini diiringi dengan pesta panen. Tentunya dengan acara-acara yang lebih meriah, termasuk juga acara pesta perkawinan seringkali dilakukan pasca memetik hasil ini.

Sementara itu, salah satu keahlian masyarakat Sumba yang sangat luar biasa adalah menunggang kuda. Orang Sumba sudah mulai belajar menunggang kuda sejak berusia anak-anak, bahkan guyonan kawan-kawan seringkali mengatakan bahwa anak-anak Sumba belajar berkuda sebelum mereka belajar berjalan! Ketika beranjak dewasa, mereka menunjukkan keahlian ini lewat keikutsertaannya dalam tradisi perang berkuda yang disebut dengan “pasola”, yaitu permainan ketangkasan saling melempar lembing kayu dari atas punggung kuda yang dipacu dengan kencang antara dua kelompok yang saling berhadapan.

Biasanya tradisi pasola dilakukan pada bulan Februari dan Maret menjelang awal musim tanam. Tradisi ini sangat berbahaya karena taruhannya nyawa. Permainan ketangkasan saling melempar lembing ini tidak akan dihentikan jika belum ada yang terluka atau darah yang mengalir. Darah yang tumpah dipercaya akan mampu menyuburkan bumi sekaligus sebagai bentuk pengorbanan untuk memohon perlindungan dewa dan nenek moyang. Memang sangat mengerikan, tetapi inilah fakta dari tradisi yang masih membumi di bumi Sumba ini.

Tak akan ada habisnya memang untuk bercerita tentang Sumba. Lebih baik kita datang saja sendiri ke pulau ini dan menikmati segala pesonannya. Sumba, bagian dari gugusan kepulauan Sunda Kecil, yang kering dan gersang, yang penuh misteri sekaligus menawarkan sejuta pesona, yang menghadirkan ketakjuban, keharuan sekaligus kerinduan, seperti rindunya penyair lintas zaman, Taufik Ismail (1970):

rinduku pada sumba adalah rindu padang-padang terbuka
di mana matahari membusur api, cuaca kering dan ternak melenguh
rinduku pada sumba adalah rindu seribu ekor kuda
yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh.

Entah kapan lagi saya bisa menapaki pulau ini dengan ketakjuban dan kerinduan baru, dan tentu saja dengan catatan pesona Sumba yang lain. Itu yang selalu saya harap!


Tulisan terkait:
Menapak di Pulau Sumba, 1
Hiburannya Hanya Babi?

11 komentar:

  1. wah.. diliat dari foto2nya keliatan banget kalo indah

    MERDEKA!!!

    BalasHapus
  2. Wah, riko sak iki malah ngerti seluk beluk sumba. Pokoke ojo lali balik nang Jowo lo Kang??? :D

    BalasHapus
  3. uh bagus tuh pemandangannya.... Kapan ya aku bisa sampai ke Sumba..

    BalasHapus
  4. cerita yang komplit, tapi nanti mudik kan??

    BalasHapus
  5. ingat sumba ingat kuda

    soal upacara/tradisi pasola itu pernah ditayangkan national geographic channel. seru juga tapi cukup menyeramkan krn luka dan darah itu. kalo gak salah tradisi ini ada hubungannya dg agama marapu kan?

    BalasHapus
  6. tulisannya enak dibaca..jadi pengen liat sumba...:)

    BalasHapus
  7. Suatu saat nanti, pasti saya akan singgah di Pulau Sumba. Salam kenal, jangan lupa mampir dan jadi teman di blog saya.

    BalasHapus
  8. menarik tulisannnya..

    Kunjungi juga
    http://revolusigalau.blogspot.com/2012/01/pasang-peta-kesempatan-dapetin-hadiah.html

    BalasHapus

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...