Kamis, 10 Juli 2008

Menapak di Pulau Sumba, 1

ENTAH sudah berapa kali saya menapakkan kaki di Pulau Sumba ini, pulau yang terik tetapi sangat menarik dengan berjuta pesona yang sangat unik. Pulau yang setiap pesawat mendarat di salah satu bandaranya, Tambolaka, selalu mempertontonkan barisan lembu di kanan-kiri bandara yang jumlahmya tak terhitung, seolah menyambut kedatangan para tamu.

Bila musim kemarau datang, padang sabana yang luas terbentang, ladang-ladang jagung dan ilalang menguning keemasan terhampar menawarkan kegairahan untuk selalu mengaguminya, yang ketika sekolah dasar dulu hanya bisa saya jelajahi dengan imajinasi lewat buku-buku di perpustakaan sekolah. Pulau ini juga menjadi salah satu daerah penghasil kuda-kuda tunggangan dan aduan nan tangguh, di samping Pulau Sumbawa yang juga terkenal dengan susu kuda liarnya.

Sementara itu, bandar udara Tambolaka, yang masuk kawasan Sumba Barat dan merupakan pintu gerbang utama memasuki pulau ini melalui udara. Konon bandara ini dibangun oleh Jepang ketika menjadikan Indonesia sebagai “saudara muda” pada masa perang dunia II. Setelah Indonesia tidak menjadi “saudara”-nya lagi alias merdeka, bandara ini ditinggalkan begitu saja. Kemudian pada tahun 1982 dilakukan renovasi, terutama untuk landasan pacunya sehingga dapat didarati untuk pesawat-pesawat berbadan kecil semacam DC-3, Twin Otter, dan Cassa. Tahun 1996, dilakukan perbaikan lagi dengan memperpanjang landasan pacunya hingga dapat didarati pesawat berjenis Fokker 27. Kemudian pada 2005 lalu dilakukan lagi penebalan dan perpanjangan hingga mencapai 1.600 meter sehingga dapat menampung pesawat berjenis Fokker 28. Kemudian diperpanjang lagi menjadi 1.800 meter sehingga dapat menampung pesawat berjenis Fokker 100. Sampai saat ini hanya ada satu pesawat komersil nasional, yaitu Merpati Airlines, untuk jurusan Denpasar – Tambolaka – Maumere – Kupang.

Pernah pada bulan Februari 2006 lalu, sebuah pesawat Boeing 737-300 milik maskapai penerbangan Adam Air mendarat darurat di Bandara Tambolaka. Pesawat dari Jakarta menuju Makassar, Sulawesi Selatan ini mengalami gangguan navigasi. Padahal, bandara ini seharusnya hanya bisa didarati pesawat jenis Fokker 27 atau 100. Namun, akhirnya pesawat dengan 146 penumpang beserta 6 orang awaknya selamat.

Masyarakat di pulau ini mempunyai kebiasaan yang unik dalam menyambut tamu. Tamu-tamu yang datang bertandang ke rumah biasanya disuguhi kinang, yaitu buah dari pohon pinang, untuk menjadi menu “wajib” dimakan bagi setiap tamu. Rasanya pahit-getir tapi cukup terasa menyegarkan di lidah. Kalau tak terbiasa dan tahan, bisa jadi akan mual dan muntah-muntah. Inilah salah satu bentuk penghormatan dan keramah-tamahan mereka dalam menyambut tamu.

Dalam catatan wikipedia, disebutkan bahwa sebelum dikunjungi bangsa Eropa tahun pada 1522, Sumba dikuasai oleh Kerajaan Majapahit yang berpusat di Jawa Timur. Kemudian sejak tahun 1866, pulau ini dikuasai oleh Hindia-Belanda dan selanjutnya menjadi bagian dari Indonesia. Masyarakat Sumba secara rasial merupakan campuran dari ras Mongoloid dan Melanesoid. Sebagian besar penduduknya menganut kepercayaan animisme Marapu dan agama Kristen. Kaum muslim dalam jumlah kecil dapat ditemukan di sepanjang kawasan pesisir. Umumnya mereka menjadi nelayan, terutama perantau yang dari Bugis, dan yang menjadi pedagang, terutama pedagang makanan, umumnya dari Jawa Timur.

Di bagian selatan Pulau Sumba, seperti di Pulau Kalala yang persis “mengapung” di tengah Samudera Hindia, memiliki ombak yang cukup besar dan pantai yang indah sehingga menjadi tempat berkumpulnya para wisatawan mancanegara. Pantas saja pesawat Merpati rute Denpasar-Kupang tak pernah sepi dari penumpang bule, yang kebanyakan mereka turun di Pulau Sumba ini.

Hal ini mungkin tak lepas dari “keberanian” Pemda Sumba Barat dengan terobosan “menempel” logo Pemda pada badan pesawat Merpati, yang berarti armada ini mendapat dukungan dana dari Pemda agar mau “menurunkan” atau transit di Tambolaka, berapapun jumlah penumpangnya. Di tambah lagi, di dalam kabin pesawat terpampang besar-besaran gambar dan jadwal berbagai event kebudayaan dan tempat-tempat wisata di Sumba Barat. Jelas usaha ini untuk mempromosikan daerah Sumba kepada para penumpang Merpati. Suatu usaha yang patut diapresiasi.

4 komentar:

  1. wah....
    tak kusangka, pencangkul bisa jadi wartawan. eh, ini pencangkul yang wartawan, atau wartawan yang pencangkul. habis, postingannya serasa baca buku pelajaran sejarah, atau baca koran.

    lengkap.
    padat.
    jelas.

    hehehehehehee........

    BalasHapus
  2. wah, jadi pengen jalan2 ke sumba...:)
    cerita selanjutnya apa nih ?

    BalasHapus
  3. saylom, tulisan bagus sekali.
    sebenarnya banyak hal yang harus dilakukan Pemda Sumba Barat dalam memajukan Pulau sumba. salah satu dengan menarik minat para wisatawan asing untuk ke pulau sumba dmn temapat wisatanya masih perawan dan menawarkan keindahan utk di lihat.
    kadang keegoaan golongan, daerah/kabupaten, dan kelompok yang membuat sumba terasa mundur di makan zaman.
    oh..ya, saya jg suka menulis. kalau bs kita tukar pikiran. www.tammapendidikan.blog.com dan
    www.mesa85.wordpress.com
    trims

    BalasHapus
  4. cool,..pokoknya cool mas jun,..:) salam

    BalasHapus

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...