Rabu, 04 November 2015

Jejak Sejenak di Rumah Pengasingan Bung Karno di Kota Ende

PERJALANAN beberapa tahun yang lalu. Selepas berangkat dari Maumere jam 9 pagi, kami berempat tiba di Kota Ende sekitar jam 13.00 WITA. Ini adalah perjalanan yang cukup melelahkan dan menegangkan. Betapa tidak, Maumere ke Ende nyaris jalannya tak ada yang rata dan lurus. Berkelok-kelok, meliuk-liuk, tanjakan, turunan tajam dan kanan-kiri tebing terjal sekaligus jurang menganga. Ditambah lagi, sepanjang jalan minim rambu-rambu maupun garis jalan.

Ini sebenarnya bukan perjalanan khusus jalan-jalan. Selepas menunaikan “kewajiban” di Maumere, saya dan teman-teman akan pulang ke kampung masing-masing. Satu kawan dari Jawa Barat, satu kawan lagi dari Mataram, dan seorang lagi yang asil Maumere yang sebenarnya membantu kami selama di Maumere. Kali ini kami ajak karena untuk menemani selama perjalanan sampai NTB sehingga bisa bergantian mengemudikan kendaraan dengan saya. Ia sudah “dibekali” tiket penerbangan Denpasar-Maumere, karena tidak mengantar kami sampai rumah masing-masing.

Bagian depan Situs Rumah Bung Karno (Dok. Pribadi)

Sebelum sampai kawasan rumah pengasingan Bung Karno, saya menelepon seorang kenalan yang aslinya dekat situs itu. Saya mengenalnya ketika dalam perjalanan Surabaya-Maumere beberapa waktu sebelumnya. Ia duduk di seat bersebalahan dengan saya.

“Penggemar Gus Dur ya, Pak?” tanya saya setelah melihat kaos yang dikenakan bergambar Gus Dur.

“Bukan penggemar lagi, tapi saya penjaga makam Gus Dur?” Sambil tersenyum ia menjawab pertanyaan saya.

Pertemuan itu terjadi di tahun 2010 lalu dalam sebuah perjalanan. Ia memilih perjalanan Surabaya-Maumere karena rute Surabaya-Ende tidak setiap hari ada. Meskipun “resikonya”, kalau landing di Maumere harus disambung lagi dengan perjalanan darat yang menempuh waktu sekitar 4 jam. Dan akhirnya saya pun tahu kalau orang yang seat-nya satu deret dan bersebelahan dengan saya ini bernama Pak Umar. Beliau asli berasal dari Ende tetapi lama merantau di Jakarta dan akhirnya “terdampar” di Tebuireng Jombang, bahkan istrinya juga orang Tebuireng yang otomatis ia harus berganti KTP Jombang. Perbincangan pun penuh kelakar setelah saya mengenalkan diri kalau saya juga asli Jombang.

Begitulah perkenalan saya dengan Pak Umar. Saya sempat mengatakan kalau tahun sebelumnya (2009) saya sudah 2 kali ke Ende. Pertama ke Situs Bung Karno pada bulan Juni, dan kedua ke danau Kelimutu pada bulan Agustus. Setelah perjumpaan itu saya sampaikan bahwa suatau saat saya akan ke Ende lagi dan akan menghubunginya.

Sumur tua di bagian belakang (Dok. Pribadi)

Sampai akhirnya saya berkunjung ke Ende lagi selepas menunaikan “kewajiban” di Maumere. Saya pun teringat dan tergerak untuk menghubungi Pak Umar. Siapa tahu beliau berada di Ende dan bisa berjumpa lagi. Dan benar saja, ketika saya menghubunginya, ia berada di Ende. Sekalian sesampai di Kota Ende kami meminta “petunjuk” jalan menuju situs itu. Selepas istirihat dan makan siang di rumah makan yang dikelola orang Jawa di tengah Kota Ende, kami langsung bergegas menuju situs Bung Karno. Ternyata tak terlalu jauh dari tempat kami makan.

Sesampai di depan situs, kami langsung disambut oleh Pak Umar. Rumah beliau ternyata juga tak jauh dari situ. Sebelum memasuki Rumah Pengasingan Bung Karno, saya sempat mampir ke rumah beliau. Kami juga sempat menunaikan sholat duhur di masjid yang ada di seberang jalan bangunan situs.

Situs Rumah Pengasingan Bung Karno ini berada di Jalan Perwira, Kelurahan Kotaraja, Kecamatan Ende Utara, Ende. Jarak dari pusat kota sekitar 1 km yang bisa ditempuh dengan berbagai jenis kendaraan, baik kendaraan roda empat maupun kendaraan roda dua. Berada persis di perbukitan dan tak terlalu jauh dari laut. Bangunan situs ini merupakan bekas rumah atau tempat tinggal Bung Karno selama masa pengasingan di Ende oleh Pemerintah Hindia Belanda dalam kurun waktu 1934-1938.

Pada kunjungan itu kami tak sempat masuk rumah bagian utama yang menyimpan barang-barang yang dimilikki atau digunakan Bung Karno. Karena kami tak punya waktu yang lama, kami harus menyesuaikan jadwal dengan kapal laut esok hari di Labuhan Bajo. Namun, karena saya sendiri sebelumnya sudah pernah ke sini saya bisa sebutkan barang-barang Bung Karno yang tersimpan di museum ini, diantaranya berbagai foto pribadi maupun keluarga, barang-barang pecah belah yang digunakan Bung Karno, tongkat berkepala monyet, pena ukuran besar, seterika kuno, gantungan baju, lemari, tempat tidur besi, berbagai lukisan dan sebagainya.

Sementara di bagian belakang bangunan utama ada ruangan yang digunakan Bung Karno untuk sholat dan berdoa. Sedangkan di bagian luarnya (bagian belakang bangunan), ada sumur tua yang biasa digunakan oleh Bung Karno untuk mandi, mencuci, minum dan bersuci (wudhu). Sumur ini kondisinya tak jauh beda dengan jaman Bung Karno, meski sudah pugar beberpa kali, namun dalam proses mengambil airnya masih menggunakan timba dan tali secara manual. Di bagian belakang ini mempunyai halaman agak luas dan ditumbuhi rerumputan. Di sini pula kita bisa mengenang bagaimana kehidupan Bung Karni selama di Ende.

Sebagai catatan akhir, saat ini situs ini sudah mengalami pemugaran, terutama bagian taman dan halamannya. Dan sebenarnya di sekitar situs  rumah pengasingan ini masih banyak situs-situs dan tempat bersejarah lainnya yang merupakan jejak Bung Karno selama di Ende. Namun sayangnya kami hanya sejenak menjejakan kaki di Rumah Pengasingan Bung Karno ini. Kami harus menyesuaikan jadwal perjalanan agar tak terlambat dengan perjalanan berikutnya sampai di Labuhan Bajo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...