Jumat, 17 Agustus 2012

Mau Menikmati Soto Dok Jombang, Siapkan Jantung Anda!

Sumber gambar: wargajombang.com
APA hubungannya Soto Dok dengan Jantung Anda? Sangat erat. Tetapi saya tak akan membahas lebih dulu masalah hubungan ini. Saya hanya ingin berbagi tentang salah satu kuliner khas Jombang yang sangat unik dalam penyajiannya. Soto Dok, ya inilah salah satu jenis kuliner yang sangat populer di Jombang. Bahkan beberapa tahun lalu, kalau tak salah telah di-perdakan menjadi makanan khas Jombang.

Soto Dok ini tak jauh beda dengan makanan sejenis soto lainnya, bahan dasarnya tetap dari daging. Namun ada bahan tambahan atau racikan yang agak berbeda dengan soto lainnya. Soto Dok rasanya lebih “seksi” dan menyegarkan sebab kuahnya tak terlalu kental seperti jenis soto lainnya. Dan yang lebih membedakan lagi, ada taoge kacang hijau yang menjadi “aksesoris” spesial.

Pemberian nama Soto Dok sendiri terkait dengan cara penyajiannya. Dalam penyajiannya, penjual setelah menuang kecap dari botol khusus ke dalam mangkuk langsung meletakkan kembali botol itu dipukulkan atau dihantamkan ke meja hingga menimbulkan bunyi ”dok”. Tentu ini bisa menimbulkan kekagetan tersendiri bagi pembeli yang baru pertama kali menikmati soto dok. Atau akan menimbulkan berbagai pertanyaan, apakah penjual sedang ngantuk hingga salah meletakkan botol, ataukah penjualnya sedang marah-marah lalu membanting botolnya, dan sebagainya. Dan bisa-bisa bagi Anda yang jantungan ini tentu sangat berbahaya. Itu makanya saya mengatakan hubungan antara soto dok Jombang dengan jantung Anda sangat erat sekali. Dari suara ”dok” inilah soto ini diberi nama. Bisa jadi ini menjadi salah satu cara penjual untuk memberi ”pemanasan” sebelum Anda kaget beneran dengan kelezatan soto dok-nya.

Saya sendiri mengenal soto ini sejak pertengahan tahun 80-an. Dulu, ketika masih kecil saya seringkali diajak orang tua ke Pasar Lama Mojoagung. Di pasar itulah saya seringkali diajak andok atau menikmati Soto Dok. Seingat saya, stand atau tempat berjualannya permanen di tengah-tengah pasar. Penataannya, kursi panjang mengelilingi meja panjang dan lebar yang di atas meja ditaruh berbagai perkakas termasuk panci penjerang kuah, tempat nasi dan lainnya.

Selain itu, di sepanjang Jalan Wahid Hasyim kawasan Jombang kota dulu juga banyak penjual Soto Dok, biasanya menjelang petang penjual Soto Dok kaki lima mulai menggelar dagangannya. Apalagi di Pujasera atau Kebonrojo, dulu banyak juga yang menjual Soto Dok. Kebetulan selama hampir dua tahun, tahun 1993-1995, saya indekost di seberang Pujasera, tepatnya di dekat pintu gerbang sebelah utara Pujasera. Jadi dulu setidaknya tahu persis jenis makanan yang dijual di situ, terutama jenis makanan yang murah.

Demikian juga, dulu di Jalan Pattimura tepat di seberang SMP Negeri I Jombang atau SMK Negeri 3, juga ada penjual Soto Dok yang buka tenda setelah maghrib, yang harganya ketika tahun 1995-1996 Rp. 400,- plus Es Teh Rp. 150,-. Cukup terjangkau, apalagi Jalan Pattimura merupakan salah satu kawasan sekolah yang ramai dan padat, jadi banyak pelanggan dari anak sekolah yang indekost di sekitar situ.

Untuk saat ini, rata-rata harga semangkuk berkisar antara 5.000,- sampai 15.000,- rupiah, umumnya dalam sajian soto dok ini, ada lauk pendamping berupa perkedel kentang dan gorengan daging ataupun jerohan. Sementara itu juga, saat ini penjual soto dok di Jombang tersebar diberbagai sudut kota dan kota-kota kecamatan di wilayahnya. Misalnya ada di kawasan Pujasera, Pasar Legi, Stadion Merdeka, Pasar Baru Mojoagung, Alun-alun Mojoagung, kawasan Tebuireng, dan sepanjang jalan-jalan utama di kota Jombang lainnya. Penjual soto dengan ”brand” soto dok selain di Jombang, pernah saya jumpai di Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan bahkan Jakarta. Jadi bagi Anda yang kebetulan ke ataupun lewat Jombang, jangan lewatkan kuliner yang satu ini, silahkan rasakan sensasi ”DOK” yang mengagetkan, sekaligus (mungkin) menjadi terapi bagi jantung Anda!

8 komentar:

  1. kalo di sini (bandung) yang berbunyi dhok itu tukang nasi goreng dorong, jualannya mukul kentongan. makanya dipanggilnya 'tukang nasi duk-duk'

    trims infonya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. di empat kami juga ada yg begitu, umumnya penjual bakso, tapi tidak kentongan, hanya bambu yang dibelah, dibentuk persegi panjang seukuran penghapus papan tulis. Kalau bawa kentongan, kayak orang ronda Mas :)

      Hapus
  2. Hari kedua lebaran kemarin sempat berwisata kuliner cari lokasi soto dok di sepanjang jalan Wachid Hasyim. Belum juga ketemu, sudah nyanthol di bakso nuklir seberang Bank Jatim. Not bad lah daripada tidak dapat sensasi masakan Jombang sama sekali :)

    Selamat Idul Fitri Cak, mohon maaf lahir dan batin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. di perempatan Tugu ke arah Timur ada Om, tapi ga tahu buka apa ga ya pas lebaran. Ada juga yg dulu di jl. wahid hasyim, tampilannya lebih baik daripada yg kaki lima, pengelolalnya orang Tionghoa, kalau ga salah sudah pindah ke daerah Mojosongo. Brandnya ini Soto Dok Pak "N*r**i". Cuma rasanya kurang enak dan penentuan harganya ga pasti, ga umum, di atas rata2, ngongkokan. (Ini kata kawan-kawan dan pengalaman sendiri) Pisan thok, kapok aku :)

      Selamat Idul Fitri juga, mohon maaf lahir batin!

      Hapus
  3. soto..?
    makanan paling saya favoritkan nih pak.. :)

    bisa menyebabkan keseleg tidak..?
    siapa tahu, kalo keseleg, bayarnya gratis.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa dicoba Om, dengan pura-2 keseleg :)

      Hapus
  4. thanks infox smg sukses gan..

    http://www.saesalera.com/product/view/41/obat-jerawat

    BalasHapus

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...