Senin, 27 Agustus 2012

Gereja Tua Mojowarno, Makam Gus Dur, dan Kikil Mojosongo

Ringin Contong (Sumber: jombangkab.go.id)
BEBERAPA waktu lalu, sekitar pertengahan bulan puasa, saya sempat mengantar dua “tamu” dari luar kota. Karena acara “utama” sudah selesai, beliau berdua ini minta untuk diantar jalan-jalan ke tempat-tempat yang “unik” di Jombang, sekaligus ngabuburit, menunggu waktu berbuka. Beliau menyebut dua  tempat utama yang ingin dikunjungi plus satu kuliner khas Jombang. Sebelum menanyakan, saya menduga beliau berdua sudah “berkunjung” lebih dahulu ke tempat-tempat yang disebutkan itu melalui dunia maya. Dan benar juga, setelah saya tanyakan memang sebelum menginjakkan kaki di Jombang, sudah mencari beberapa informasi di internet tentang Jombang.

Sekitar jam 15.00, kami langsung menuju Gereja Tua Mojowarno lewat Mojoagung. Sekitar 18 Km sebelah tenggara dari pusat kota Jombang. Di sepanjang perjalanan, layaknya “pemandu” yang (sok) profesional, saya “berceloteh” dan sedikit “ngaco” tentang sejarah gereja tua di Mojowarno dan berbagai hal yang menarik perhatian dua tamu ini. Seperti ketika melewati kawasan antara Mojoagung-Mojowarno, yang di kiri-kanan jalan banyak ditemui pengrajin meubel yang berderet sepanjang beberapa kilometer. Tentu saja, dua tamu yang guru besar bidang ekonomi dari universitas ternama di Semarang dan Lampung ini, mengajukan pertanyaan yang tak jauh-jauh dari masalah ekonomi  “permeubelan” di Mojoagung ini. Ya, industri meubel ini memang telah melanglangbuana ke mancanegara dan keberadaannya banyak menyerap tenaga kerja.

Selain menjelaskan masalah meubel ini, dengan sedikit kelakar saya juga menginformasikan bahwa sebenarnya Mojoagung juga menghasilkan sesuatu yang menghebohkan. Mojoagung juga “menghasilkan” seorang Ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang keberadaannya juga dikenal di mancanegara dan cukup membuat Polri, BIN, CIA, AS dan sebangsanya blingsatan tak bisa tidur nyenyak.

Sekitar 15 menit, perjalanan pun sampai di lokasi pertama, Gereja Tua Mojowarno. Sore itu pintu gerbang tertutup meskipun tidak dikunci. Kami segera menghubungi penjaga dengan mengontak nomor telepon yang tertempel di papan dan digantung di pintu gerbang. Tak lebih dari sepuluh menit penjaga itu datang. Saya pun memperkenalkan diri dan memperkenalkan dua tamu. Kebetulan salah satu tamu kami ini, asli Batak dan beragama protestan. Jadi sangat antusias berkunjung ke gereja ini. Selepas mengambil gambar/foto dengan latar gereja (tentu saja dengan gaya yang tak kalah heboh dengan remaja-remaja yang suka berfoto).

Kami langsung memasuki ruang utama gereja. Saya sendiri baru pertama kali masuk ruangan ini. Di dalamnya ada bangku-bangku panjang untuk peribadatan  jati. Usia bangku-bangku yang terbuat dari kayu jati ini hampir sama dengan pembangunan gereja, yaitu tahun 1879. Jadi lebih dari satu abad usianya. Kata penjaga itu, hanya ada beberapa yang rusak ketika dipakai acara musik oleh remaja-remaja gereja.

Selain bangku-bangku tua, juga ada banyak lampu-lampu kuno yang tergantung, mimbar untuk pengkhotbah, dan seperangkat alat musik Jawa (gamelan) yang berda di sisi kanan mimbar. Tamu kami yang dari Batak sangat antusias untuk mencoba menabuh gamelan sekaligus minta difoto ketika menabuh gamelan. Seperangkat alat musik ini digunakan untuk kegiatan-kegitan di gereja. Di bagian tembok paling belakang dari deretan bangku-bangku tua, terdapat plakat atau semacam “prasasti” yang bertuliskan pendirian pertama gereja, yaitu tertanggal 24 Februari 1879. Persis yang saya ceritakan sebelumnya kepada dua tamu ini.

Menurut sejarahnya, seperti yang saya kutip dari (http://masoye.multiply.com), gereja ini didirikan atas prakarsa Kyai Paulus Tosari (Kasan Jariyo), pemimpin awal jemaat Mojowarno. Gedung gereja ini dibangun mulai 24 Pebruari 1879 dan peletakan batu pertama oleh Christina Chaterina Kruyt, putri zendeling Mojowarno, Jan Kruyt, hingga kemudian diresmikan pada 8 Maret 1881 yang konon menghabiskan dana sebesar 25,000 Gulden, sebelum akhirnya beliau meninggal pada Minggu, 12 Mei 1881.

Suasana Unduh-unduh di Pelataran Gereja tahun 2011 (Dok. Pribadi)
Gereja ini juga menjadi pusat kegiatan tradisi tahunan, yaitu "Unduh-Unduh". Sebuah tradisi panen kaum tani yang sudah puluhan tahun dilakukan di Mojowarno. Dalam tradisi unduh-unduh, ribuan orang tumpek blek di sini menyaksikan acara arak-arakan atau karnaval dengan hiasan barang bawaan berupa hasil pertanian masyarakat Mojowarno dan sekitarnya. Acara ini biasanya dilaksanakan pada bulan mei tiap tahun.

Selepas dari Mojowarno ini, kami langsung meluncur kearah barat, tepatnya ke kawasan Pesantren Tebuireng tempat dimana  mantan Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) di makamkan. Jarak tempuh dari Mojowarno ke Tebuireng sekitar 8 km. Di Tebuireng kami sudah ditunggu oleh seorang kawan yang asli Tebuireng untuk mengantar ke makam Gus Dur.

Pesantren Tebuireng, tampak depan (Sumber: muslimdaily.net)

Suasana Tebuireng ketika ramadhan tidak terlalu padat seperti hari-hari biasa. Kalau hari-hari di luar ramadhan biasanya ribuan pengunjung datang untuk berziarah. Kebanyakan pada bulan ramadhan pesantren tebuireng di datangi oleh “santri kalong” atau santri musiman yang datang untuk mengaji di Tebuireng berbaur dengan santri lainnya. Seperti sore itu yang kami dapati, di masjid utama, persis di depan rumah pengasuh pesantren saat ini, KH. Sholahudin Wahid (Gus Sholah) diadakan pengajian (kitab kuning). Para santri berjubel di hampir seluruh bagian masjid dengan membawa kitab masing-masing dan menyimak ucapan yang diberikan oleh ustad/kyai yang memimpin majelis ilmu ini. Tentu ini pemandangan yang unik bagi tamu kami yang protestan yang sempat menanyakan ini kegiatan apa.

Setelah sempat berkeliling di kawasan pesantren, kami langsung menuju area makam Gus Dur. Tamu kami agak heran, karena melihat makam mantan presiden yang sederhana saja, tak ubanhnya makam masyarakat umum lainnya. Apalagi sebelumnya tersiar kabar bahwa makam Gus Dur dibangun dengan biaya puluhan milyar. Ya, seperti itulah yang kami lihat. Sementara rencana anggaran yang akan digunakan membangun makam, sebenarnya bukan makamnya yang dibangun, tetapi fasilitas lainnya di sekitar makam, semisal tempat berjualan, pembangunan dan pelebaran jalan-jalan, area parkir di sekitar pesantren dan fasilitas-fasilitas lainnya.

Sedikit banyak saya dan kawan saya, di kawasan pesantren ini juga menceritakan tentan bangunan masjid, yang ruang utamanya dibangun sejak awal didirikan pesantren. Demikian juga dengan beberapa bangunan asrama santri, ada yang merupakan bangunan awal ketika pesantren Tebuireng didirikan.

Selepas dari Tebuireng, sekitar pukul 16.30 kami langsung menuju arah Mojosongo, masih satu kecamatan dengan Tebuireng, yaitu masuk wilayah kecamatan Diwek. Dari Tebuireng jaraknya sekitar 2 km arah utara menuju kota jombang. Tujuan kami adalah untuk mencari kuliner khas di sini yang sudah “dinikmati” dua tamu ini di dunia maya. Nasi Kikil Mojosongo! Itulah penganan yang akan kami cari. Biasanya pada jam-jam itu hingga larut malam, warung-warung yang menjual nasi kikil di Mojosongo sudah siap melayani pengunjung. Namun sayangnya, ketika kami sampai di kawasan Mojosongo, para penjual nasi kikil baru membuka “lapak”-nya, dengan kata lain masih bersiap-siap menata dagangannya dan belum siap melayani pembeli. Ya, mungkin ini bulan puasa, jam bukanya molor menjelang waktu berbuka. Biasanya jam 16.00 atau jam 17.00 warung sudah antri oleh pengunjung. Banyak kendaraan berplat luar kota singgah berjajar memarkir mobil-motor di hampir sepanjang tepian jalan raya Mojosongo.

Tak enak dengan tamu, saya pun menjelaskan dan menjanjikan nanti tetap bisa menikmati nasi kikil ini. Kami langsung kearah kota ke tempat kegiatan awal. Di sini saya minta tolong teman lain untuk meluncur lagi memesan nasi kikil dan dibungkus saja untuk dibuat berbuka bersama. Sebenarnya di beberapa hotel-penginapan di Jombang juga menyediakan makanan ini, tetapi entah mengapa dua tamu ini mintanya yang dipinggir jalan. Entah mengapa, mungkin sudah terlanjur kena “hipnotis” cerita awal saya sebelumnya, bahwa nasi kikil di kawasan Mojosongo rasanya lebih menendang. Sementara di hotel-hotel atau resto-resto, harganya yang lebih menendang :)


Sekilas tentang nasi kikil ini, bahan utamanya umumnya adalah daging yang ada pada bagian kaki. Mungkin karena dari bagian kaki (Jawa: sikil) inilah dinamakan kikil (dari kata “sikil”). Mungkin saja! Yang jelas kikil di Jombang bahan utamanya itu. Berbeda istilah dengan di kota yang setidaknya pernah saya singgahi, misal di Bandung dan Bogor menyebut kikil adalah bagian kulit hewan, sementara di Jombang dan masyarakat Jawa Timur pada umumnya, kulit yang dimasak itu dinamakan “cecek”, bukan “kikil”.

Nah selain itu, pendamping bahan utama itu yang dimasak seperti membuat sop adalah labu atau pepaya muda dan nangka muda. Namun bahan pendamping ini dimasak sendiri-sendiri dengan menggunakan santan kental. Baru dicampur ketika akan menghidangkan ke pembeli. Selain itu, sebagai bahan atau laut tambahan kita bisa juga menambah dengan jerohan, atau irisan daging goreng yang disediakan terpisah. Tergantung selera dan kedalam saku kita saja!

Jadi itulah beberapa hal unik yang diminati orang luar Jombang, yang setidaknya "diutarakan" kepada saya sebelum benar-benar menginjakkan kaki di Jombang. Bagaimana dengan Anda?


Artikel terkait:

12 komentar:

  1. Ulasan yang top-markotob Cak. Dengan begitu akan semakin banyak teman dunia maya yang mendapatkan info kuliner dan spot bagus untuk wisata religi.
    Soal jadi pemandu, memang ada kepuasan tersendiri. Tempo hari saya juga mencoba jadi semacam guide yang sedikit ngaco di Baluran. Kebetulan latar belakang pendidikan Biologi yang mempersilahkan saya untuk melakukanhal itu. Anehnya, mereka semua percaya, hahahahaha.... (memang seharusnya begitu)

    BalasHapus
    Balasan
    1. lha dulu malah belajar (formal) teknik dan ekonomi, saiki malah diminta ngantar n cerita sejarah :) Sedikit ngaco boleh kok Om, biar ramai, asal ga bohong saja :)

      Hapus
  2. Siip,..Mas Jun... Sampeyan guruku... (sayang-e murid-e mbeling, belum bisa mengikuti jejak gurunya..)

    BalasHapus
  3. Walaupun tak terlalu sering saya memang pernah dolan ke Mojowarno, itupun bezuk family yang sakit. Mbah saya almarhum juga pernah dirawat di sana.

    Ke Pesantren Tebu Ireng malah belum pernah, hanya lewat jalan depannya saja kalau ke Malang.

    Sedangkan nasi kikil Mojosongo malah baru dengar nich, saya lebih menikmati soto dhok yang ada di kota Jombang.

    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang jualan di barat jalan raya Mojosongo, Diwek Pakde, jam2 setengah 5 biasanya baru buka.

      Hapus
  4. sebelumnya salam kenal ya mas, saya imam arek asli jombang lahir nang kandangan, kepuh kembeng, peterongan, hehe, lengkap banget

    alhamdulillah ketiga tempat tersebut sudah pernah saya kunjungi waktu masih sma

    mungkin kalau makanan, ayam bakar priyangan lebih menjadi favorit saya mas
    :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayam bakar priangan yg di Jombang rasanya kurang "Nyunda" Mas :)

      Hapus
  5. Saya tertarik dengan wisata sejarah, spt bangunan2 kuno. Masih ada gak banungunan lain yang kategori cagar budaya?

    BalasHapus
  6. Sayang artikelnya gak dilengkapi dengan foto-foto yg bagus tentang lokasinya, nih

    www.jelajah-nesia.blogspot.com

    BalasHapus

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...