Senin, 14 Mei 2012

Robohnya Pohon Cengkeh di Kampung Kami

Kondisi pohon cengkeh yang meranggas 
(Foto: Dok. Pribadi)
BULAN Mei ini, di kampung kami, kampung di Wonosalam, Jombang, mulai semarak seiring datangnya musim petik bunga cengkeh. Bahkan di bulan April lalu, beberapa petani sudah mulai ada yang memanen cengkehnya. Para petani juga sudah mempersiapkan datangnya musim panen dengan mulai membuat atau membeli bambu untuk dijadikan tangga. Panen raya bunga cengkeh di kawasan Wonosalam umumnya terjadi antar bulan juni hingga September. Awal panen musim ini pun harga bunga cengkeh di Wonosalam sekitar Rp. 30.000.- per kilogram basah.

Namun sayangnya, tahun ini tampaknya membuat ketar-ketir para petani cengkeh. Betapa tidak, setahun terakhir ribuan pohon cengkeh yang telah berumur rata-rata di atas 30 tahun terpaksa dirobohkan akibat banyak pohon yang mati dengan kondisi daun yang mengering lalu berguguran dan meranggas. Masih simpang siur apa yang menjadi penyebab ini semua. Bahkan pohon-pohon kecil usia 5-7 tahun hasil rehabilitasi mandiri para petani sejak beberapa tahun lalu juga bertumbangan. Untuk tanaman cengkeh yang sudah meranggas seperti ini akan sulit diselamatkan lagi. Satu-satunya jalan adalah pohon harus dirobohkan untuk dijadikan kayu bakar.

Hampir di sembilan desa yang ada di Kecamatan Wonosalam, pohon cengkehnya mengalami kondisi seperti ini. Kondisi cukup parah ada di Desa Carangwulung, Wonosalam, dan Panglungan. Beberapa petani mencurigai bahwa keberadaan tempat penyulingan daun cengkeh yang semarak sejak pertengahan tahun 1990-an atau sejak berjayanya “kolonialisme” BPPC, menjadi penyebab mewabahnya penyakit yang menyerang tanaman cengkeh ini.

Mereka beranggapan bahwa asap dari proses penyulingan yang menimbulkan jelaga dan tersebar ke udara lalu menempel pada dedaunan peohonan. Pohon-pohon yang tertempeli jelaga ini daun-daunnya akan mengering dan tanaman lama-lama akan mati. Di samping itu, ada juga yang mengatakan, akibat daun-daun cengkeh yang telah jatuh ke tanah diambil untuk proses destilasi minyak, telah menyebabkan kelembaban tanah dan areal sekitar tanaman kurang terjaga, bahkan tanah cepat mengering dan merekah.

Selain itu, akibat pengambilan daun secara terus-menerus juga ditengarai berakibat pada sistem kekebalan tanaman menjadi berkurang sehingga berbagai jenis hama dan penyakit mudah menyerang. Bisa jadi, sebab kandungan minyak yang terkandung di dalam dedaunan cengkeh bersifat antiseptik yang ditengarai mampu menghambat pertumbuhan jamur, bakteri maupun virus.

Menurut beberapa petani, hingga saat ini belum ada tindakan yang berarti dari instansi yang terkait dan berwenang. Sementara, beberapa petani sendiri berusaha secara mandiri mempertahankan tanamannya dengan menyemprotkan obat-obatan kimia, yang jenis dan kegunaannya masih dikira-kira, karena jenis hama dan/atau penyakitnya yang menyerang juga belum diketahui secara pasti.

7 komentar:

  1. so sad ya ... bagaimana dong bapak yang berwenang ...

    BalasHapus
  2. brp harga cengkeh per kilonya pak? kami saat ini butuh banyak konfirm. 0858-635-84977

    BalasHapus
  3. semoga segera ditemukan penyebabkan Mas, sehingga pohon cengkeh yang masih baik tidak menyusul meranggas....

    BalasHapus
  4. Kalau memang benar karena jelaga dari proses destilasi, apa bisa lokasi pengolahan dijauhkan dari perkebunan?

    BalasHapus
  5. sudah lama euy gak ke wonosalam...

    BalasHapus
  6. Saya baru tahu sering mengambil daun dapat menyebabkan kekebalan tanaman berkurang, :-O

    BalasHapus

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...