Rabu, 29 Februari 2012

Pelajaran Bertani dari Baduy

Sumber: nationalgeographic.co.id
SANGAT mengagumkan! Itu kesan pertama ketika melihat keberadaan suku Baduy, suku yang berdiam di ujung barat dari Pulau Jawa. Mungkin bagi sebagian orang, mendengar suku ini yang terbayang adalah keterbelakangan, kekolotan, keterisolasian dan anti pembangunan. Namun kalau kita sempat melihat langsung dan memahami perilaku hidupnya dari dekat justru akan menemukan banyak pelajaran-pelajaran yang penuh hikmat. Tak terkecuali, pelajaran-pelajaran yang penuh hikmat ini juga mendasari segala aktivitas pertanian mereka.

Meskipun dalam bidang pertanian mereka tidak mengenal sarana dan pra sarana pertanian yang modern serta hanya mengenal sistem perladangan, dimana sistem perladangan adalah sistem pertanian yang paling purba, namun mereka memiliki kearifan lokal yang sangat mengagumkan. Mereka sangat menghormati lingkungannya dengan tetap menjaga keseimbangan ekosistemnya. Mereka berprinsip bahwa jika keseimbangan tak terjaga, maka malapetaka akan datang dan akan menimpa mereka pula. Sebuah prinsip yang saat ini semakin terlepas pada diri kita yang sering menyebut “manusia modern” ini. 

Kearifan lokal bertani 

Beberapa aktivitas bertaninya yang menunjukan nilai-nilai kearifan lokal diantaranya adalah mereka mempunyai pengetahuan yang handal tentang ilmu perbintangan. Ilmu perbintangan ini sangat penting artinya dalam dunia pertanian Baduy. Dengan melihat posisi bintang tertentu (bintang kidang dan bintang waluku), mereka bisa membaca cuaca atau musim beserta dengan perubahan-perubahannya sehingga kerugian bertani akibat perubahan cuaca dapat dihindari.

Sementara itu, pada saat memulai penanaman padi di ladang, mereka tidak lupa menancapkan batang atau cabang daun pelah yang mempunyai bau khas. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mencegah serangan hama penyakit dan hewan pengerat tikus. Batang atau cabang yang ditancapkan tersebut merupakan tempat yang sangat disukai capung dan capung-capung ini merupakan predator dan penghalau hama-hama tanaman padi. Burung-burung hantu juga sangat senang bertengger di cabang-cabang tersebut. Burung-burung hantu inilah yang menjadi predator bagi tikus-tikus ladang yang seringkali merusak tanaman padi. Setidaknya dengan keberadaan burung-burung hantu ini keseimbangan alam atau lebih khususnya populasi tikus dapat dikendalikan.

Demikian juga dengan penggunaan penyubur tanaman dan pencegahan tanaman dari serangan hama penyakit. Penyubur dan pestisida terbuat dari campuran berbagai dedaunan yang ditumbuk halus dan dicampur dengan abu dapur. Semua bahan-bahan ini sangat ramah lingkungan dan bahannya tersedia di lingkungan mereka sendiri. Ini menunjukkan kemandirian mereka dalam bertani sekaligus kearifannya terhadap alam. Mereka telah mengenal dan menerapkan konsep yang disebut dengan integrated pest management atau pemberantasan hama terpadu yang dalam pertanian modern sekarang ini sangat dianjurkan.

Sementara itu, jenis tanaman padi yang ditanam adalah jenis padi lokal yang merupakan hasil seleksi sendiri. Meskipun masa tanamnya lebih lama namun jenis padi lokal mempunyai kualitas lebih baik, rasa dan aroma lebih enak, lebih tahan lama jika disimpan, lebih tahan terhadap hama penyakit, dan adaptif terhadap berbagai kondisi. Ini juga suatu bentuk kemandirian mereka lainnya dalam bidang pertanian.

Logika larangan

Disamping itu, mereka juga mempunyai larangan-larangan. Larangan-larangan ini tak sekadar untuk menakut-nakuti atau mitos belaka tetapi mempunyai logika yang jelas untuk meminimalisir kerusakan alam akibat dari aktivitas bertaninya. Larangan-larangan itu diantaranya adalah pertama, larangan masuk hutan tutupan dan menebang pohon. Hal ini merupakan upaya untuk menjaga kelestarian terhadap lahan dan air. Hutan dengan berbagai macam vegetasinya merupakan peredam air hujan yang efektif. Air hujan yang jatuh tidak akan serta merta mengalir ke daerah hilir namun akan meresap pelan-pelan melalui dedaunan, tajuk dan batang pepohonan sebelum meresap ke dalam tanah sebagai air tanah. Tanah pun tidak akan cepat terdegradasi kesuburannya akibat erosi karena energi air yang kuat akan teredam oleh berbagai vegetasi di hutan itu. Hal ini tentu saja sangat baik sebagai daya dukung pertaniannya.

Kedua, larangan penggunaan pupuk buatan (pupuk anorganik) dengan alasan bahwa pupuk buatan bisa merusak tanah dan menimbulkan ketergantungan. Mereka hanya diizinkan menggunakan abu bekas pembakaran bahan-bahan yang kaya akan unsur hara. Membakar sisa-sisa pertanian tidak dilakukan sembarangan dan serampangan. Mereka membakar secara lokalitas saja untuk menghindari kebakaran yang lebih luas dan hanya untuk tujuan mengambil unsur hara di dalam sisa-sisa hasil pertanian serta sebagai upaya untuk memutus (membunuh) rantai hama penyakit tanaman.

Ketiga, masyarakat dilarang memelihara binatang ternak yang mempunyai kaki empat. Mereka beralasan bahwa binatang ternak berkaki empat, apalagi yang digembalakan, sangat tidak ramah lingkungan. Ternak-ternak ini dapat merusak struktur tanah sehingga tanah-tanah yang telah terinjak-injak jika terkena guyuran hujan bagian permukaan tanah yang banyak mengandung unsur hara akan mudah terbawa air.

Keempat, masyarakat juga dilarang mengeraskan jalan yang menuju perkampungan mereka. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi akses masyarakat luar memasuki wilayahnya. Dengan akses yang terbatas, masyarakat luar akan kesulitan jika ingin mengeksploitasi sumberdaya alam yang ada.

Itulah beberapa pelajaran penuh hikmat yang dapat kita petik dari masyarakat Baduy. Kita bisa menggali nilai-nilai positif yang berguna bagi pembangunan pertanian kita yang karut-marut akhir-akhir ini. Mungkin cara dan teknik kita dalam bertani tidak sama dengan mereka, namun setidaknya spirit mereka dalam bertani patut kita teladani. Semoga!

1 komentar:

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...