Sabtu, 22 Oktober 2011

Mandeknya Regenerasi Petani

DIAKUI atau tidak, selama ini pembangunan pertanian telah mengabaikan peranan pemuda. Akibatnya, jarak antara pemuda dengan ladang-ladang pertanian semakin jauh dan proses regenerasi petanipun sulit berjalan sehingga pertanian tetap didominasi oleh generasi tua yang tentu mempunyai berbagai implikasi. Salah satu implikasinya adalah pertanian berjalan di tempat dan sulit melakukan perubahan yang mendasar. Mungkin ini salah satunya yang menyebabkan kondisi pertanian kita terus mengalami pengeroposan, renta dan ”kurang darah”.

Padahal, dengan komposisi pemuda saat ini saja yang hampir dua per tiga dari total populasi, tentu ini sebuah potensi besar yang dapat dioptimalkan untuk membangun pertanian. Apalagi selama ini kita dikenal sebagai bangsa agraris dengan dukungan iklim, sumber daya alam dan sumber daya manusia (muda) yang melimpah, tentunya sangat ironis jika kondisi pertanian kita tetap seperti saat ini. Intinya, melibatkan pemuda atau dengan kata lain menyegerakan regenerasi petani adalah suatu hal yang sangat urgen bagi bangsa agraris ini. Namun persoalannya, sejauh mana pertanian itu mampu menarik hati bagi pemuda?

Adanya kecenderungan para pemuda terutama yang tinggal di kawasan pedesaan yang kurang tertarik terhadap dunia pertanian tentu berakibat pada sektor ini hanya di dominasi oleh generasi tua yang acapkali kurang responsif terhadap perubahan. Umumnya dalam pandangan pemuda, bertani adalah pekerjaan tradisional yang kurang bergengsi dan hasilnya disamping tidak segera dapat dinikmati juga jumlahnya relatif tak memadai.

Pandangan tersebut tentu mempengaruhi minat orang-orang muda untuk mau menjadi petani. Ini didukung oleh budaya instan dan ingin cepat menghasilkan, sementara pertanian memerlukan proses panjang, keuletan dan kesabaran dalam menghadapi berbagai resiko internal dan eksternal. Ditambah lagi dengan berbagai kebijakan yang tidak pro-petani dan justru seringkali pertanian dipandang sebelah mata dan dijadikan komoditas politik tanpa mempedulikan nasib dan masa depan pertanian.

Di samping itu, kurangnya dukungan para orang tua baik secara mental maupun material terhadap anak-anak muda untuk menjadi petani, juga menjadi penyebab pemuda tak tertarik menjadi petani. Alih-alih memberikan dukungan, justru orang tua acapkali mengendorkan syaraf dan syahwat anak-anak muda yang ingin menjadi petani. Umumnya orang tua akan lebih bangga jika anak-anaknya menjadi dokter, birokrat, pilot dan profesi lainnya yang dianggap lebih prestisius. Indikasi seperti ini salah satunya dapat dilihat dari banyaknya sekolah-sekolah pertanian ataupun fakultas-fakultas pertanian, terutama di perguruan tinggi swasta, yang kondisinya kekurangan mahasiswa.

Akhirnya banyak para pemuda, terutama yang tinggal di desa, lebih tertarik pada pekerjaan-pekerjaan non-pertanian di kawasan kota-kota besar. Mereka bekerja di sektor non-pertanian semisal menjadi pegawai, buruh pabrik, buruh bangunan, jasa transportasi baik yang formal maupun non-formal, yang menurut pandangannya lebih bergengsi. Kalau mereka mempunyai keahlian spesifik, tentu hal ini bukan masalah. Namun, tak sedikit dari mereka yang tak mempunyai keahlian spesifik dan keberuntungan justru menjadi beban di kota karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan.

Bangun Citra Pertanian

Oleh karena itu, untuk menumbuhkan minat dan kemauan serta merubah paradigma berpikir tentang pertanian dapat dimulai dengan membangun citra pertanian. Paradigma berpikir tentang pertanian selama ini sedikit banyak telah menurunkan citra pertanian terutama bagi pemuda. Paradigma berpikir harus kita ubah, bahwa pertanian bukan sekadar mencangkul di sawah dan menjadi petani tidak selalu identik dengan kemiskinan. Pertanian bukanlah sektor tradisional yang kurang bergengsi dan tidak memberikan nilai tambah, tetapi merupakan sektor strategis yang mampu memberikan nilai tambah yang berlipat jika dikelola secara profesional dan komersial seperti sektor-sektor lainnya. Bahkan kemajuan sektor-sektor lain sangat tergantung pada kemajuan sektor pertanian.

Untuk membangun citra pertanian, sosialisasi maupun kampanye-kampanye pertanian yang membuat generasi muda tersadar akan pentingnya pertanian dengan segala potensi yang dimilikinya. Sosialisasi dapat dilakukan dengan memanfaatkan berbagai media komunikasi semacam radio, televisi, surat kabar dan media publikasi lainnya.

Selanjutnya, yang perlu dilakukan adalah membuat semacam pusat pendidikan dan latihan kerja yang khusus untuk bidang pertanian. Pusat pendidikan dan latihan ini sangat diperlukan yang nantinya akan menjadi kawah candradimuka penggemblengan dan menjadi pusat mengasah keterampilan bertani pemuda maupun pusat informasi dunia pertanian terkini.

Demikian juga, adanya program pertukaran pemuda tani, sangat menarik dan perlu dilakukan. Kalau selama ini pertukaran pelajar dan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu seringkali dilakukan, apa salahnya program pertukaran pemuda tani juga dilakukan untuk memberi kesempatan para petani-petani muda, utamanya yang tinggal di pedalaman pedesaan untuk pengembangan wawasan pertaniannya. Ini sekaligus sebagai suatu upaya untuk menampilkan wajah pertanian yang menarik bagi semua orang, khususnya orang muda di pedesaan.

Berikutnya adalah dengan menanamkan nilai-nilai spiritual-teologis dalam benak pemuda bahwa menjadi petani adalah salah satu bentuk jihad fisabilillah karena bertani adalah salah satu upaya untuk mempertahankan kelangsungan hidup pribadi maupun kehidupan orang lain. Bertani juga menjadi salah satu aktivitas peribadatan guna memakmurkan bumi. Bukankah di dalam kitab suci telah dijelaskan dengan tegas bahwa Allah SWT menciptakan manusia dari bumi (tanah) dan menjadikannya sebagai pemakmurnya?

Namun, yang terpenting dari hal itu semua adalah tetap diperlukan keberpihakan kebijakan yang pro-petani dan pertanian. Segala upaya di atas jika tanpa dibarengi dengan keberpihakan pembuat kebijakan tetap saja tak akan mampu menarik pemuda untuk menjadi petani.

Dengan demikian, diharapkan ke depan pertanian akan lebih menarik bagi generasi muda. Regenerasi petani pun tak akan berhenti dan profesi petani akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi kaum muda. Pemuda akan mengoptimalkan diri berpartisipasi dalam pembangunan pertanian sekaligus menjadikan pertanian sebagai tumpuan masa depan. Semoga!

8 komentar:

  1. klo aku lbih spakat..agar pmuda skg, di profesi apapun, kepakaran apapun, skill apapun..digunakan utk membangun dunia pertanian Indonesia...sbgmn trcermin dr beragamnya jurusan di IPB mas :D

    BalasHapus
  2. Ayah katanya juga punya sepetak sawah di desa, sering diparuh dengan petani kampung untuk menanam semangka. Lha, masalahnya saya sendiri tidak tahu di mana lokasi pasnya.

    BalasHapus
  3. itu dikarenaka budaya gengsi anak desa yang ingin kayak anak kota yaaaa akhirnya pekerjaan go to field ditinggalkan

    BalasHapus
  4. Seneng lah, ada teman juga yang memiliki visi untuk memajukan Indonesia dari sendi2 dasar.

    Memang membangun negeri ini ga bisa parsial. Harus ada yang mengisi kekosongan di masing-masing bidangnya. Yang penting jangan menyerah di tengah-tengah! Aku harap bidang pertanian Indonesia maju di tangan kalian. Aku sedang bergerak untuk mempersiapkan generasi-generasi yang lebih muda yaitu melalui bidang pendidikan.

    Maju terus Putra-putri Indonesia!

    BalasHapus
  5. RSI SAKINAH MOJOKERTO telp/sms : +6285648280307

    BalasHapus
  6. saya pikir pendapat anda betul sobat, pemuda sekarang lebih banyak bekerja diluar bidang pertanian.

    BalasHapus
  7. iya di daerah saya juga begitu, di daerah sidoarjo. apalagi banyak lahan sawah yang dijadikan pabrik...

    http://karimalamin.blogspot.com/

    BalasHapus
  8. buat temen temen yang punya visi yang sama tentang pertanian,terutama gerakan regenerasi petani di indonesia
    Nih ada web nya
    Saran dan kritik ditunggu www.taniclub.org

    Atau mas junaedi selaku owner blog ini,please share your ideas on irmantaniclub@gmail.com
    Thank you verymuch

    BalasHapus

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...