Rabu, 23 Februari 2011

Buah Gowok, Masih Adakah?

GOWOK! Entah mengapa salah satu jenis buah-buahan ini mempunyai nama yang unik tetapi sangat tidak “seksi” dan “nyentrik” layaknya buah-buahan lain yang lebih marketable memenuhi etalase pasar buah. Menurut catatan wikipedia, tanaman gowok ini termasuk anggota suku jambu-jambuan atau Myrtaceae yang berasal dari Indonesia, khususnya Jawa dan Kalimantan. Nama buah ini menurut orang Betawi disebut gohok, orang Sunda menyebutnya kupa atau kupa beunyeur sedangkan di Jawa disebut gowok dan dompyong. Di kampung saya sendiri dikenal dengan buah gowok.

Bagi saya, buah ini mengingatkan pada masa sekolah dasar. Di depan SD di kampung saya dulu, masih saya temui penjual buah ini yang menggelar dagangannya di depan sekolah setiap jam istirahat tiba, selain itu mereka juga menjual dengan cara di-ider-kan (dikelilingkan) dari rumah ke rumah. Selain itu, kawan-kawan saya yang rumahnya persis di kaki gunung seringkali kalau ke sekolah membawa buah-buahan ini.

Maklum saja, menurut berbagai literatur, buah ini akan tumbuh dengan baik baik jika berada pada ketinggian 1000-1800 meter dari permukaan air laut, meskipun bisa juga tumbuh pada ketinggian 200 meter dari permukaan laut. Itulah mengapa teman-teman SD saya yang berada pada ketinggian itu, tepatnya persis di kaki Gunung Anjasmoro, sering membawa ke sekolah buah gowok hasil dari pekarangannya. Umumnya tanaman ini tumbuh liar di hutan-hutan dan sebagian ada yang ditanam di kebun atau pekarangan.

Dulu di kawasan pegunungan Anjasmoro —salah satu kawasan di Jombang selatan yang pernah di-“obok-obok” naturalis asal British, Alfred Russel Wallace, yang terkenal dengan garis imajinernya, ketika melancong ke Jombang pada tahun 1861 untuk mengumpulkan spisemen burung merak dan mengunjungi kebun-kebun kopi—, pohon gowok ini tumbuh subur dan berlimpah jumlahnya. Umumnya menjadi bagian dari tanaman pekarangan atau tumpangsari dengan tanaman kopi. Secara fisik ketinggian batangnya bisa mencapai belasan meter, buahnya berbentuk bulat sebesar jempol kaki orang dewasa dengan kulit buah yang sudah tua berwarna ungu kehitam-hitaman dan rasanya manis agak asam.

Pada tahun 1990-an, buah ini sangat terkenal di kampung saya. Mungkin karena dulu belum banyak pilhan buah dan atau tingkat ekonomi dan selera masyarakat yang relative monoton, menyebabkan buah ini menjadi salah satu pilihan utama. Namun sekarang saya sulit bahkan tak menemukan lagi. Termasuk penjualnya yang dulu dalam ingatan saya, menggendong bokor dari anyaman bambu. Sementara itu penjual buah di kampung saya saat ini juga lebih tertarik menjual buah yang dianggap eksotik dan bernilai ekonomi tinggi seperti durian yang memang menjadi salah satu andalan produk lokal kampung saya —durian bido adalah varietas endemik di kampung saya dan telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai Varietas Unggul yang ditandai dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 340/Kpts/SR.120/5/2006.

Beberapa waktu lalu, saya juga menjumpai para penjual buah di pinggir jalan kampung mulai menjual buah-buahan impor, buah-buahan yang juga membanjiri toko-toko buah di kota-kota besar, buah yang dianggap unggul segalanya, termasuk unggul tingkat keawetannya. Entah teknik pertanian macam apa yang bisa menghasilkan produk buah-buahan dengan tingkat keawetan seperti itu. Dengan demikian, lengkap sudah ketersisihan buah gowok ini. Buah yang pernah menjadi andalan jajanan saya waktu SD dulu.

Buah gowok, masih adakah di tempat Anda?

16 komentar:

  1. sekarang sudah jarang di jumpai di pasar2 traditional.... jadi buah langka, hmmmm.... mengingatkan masa lalu.

    trims atas infonya, sukses selalu n TETAP SEMANGAT

    BalasHapus
  2. Memang sudah jarang keliatan, Mas Jun. jadi ingat masa kecil. Kayaknya buah/tanaman yang tidak 'seksi' secara ekonomi akan mengalami pemunahan, sengaja atau tidak. Jujur, seandainya saya punya kebun, mungkin saya juga akan menanaminya dg tanaman buah yg enak dimakan. Kecuali kalau kebunnya 2 Ha...Ngayal..Salam jempol dr saya..

    BalasHapus
  3. mskipun sudah jarang,tapi alhmdlh ditempat saya khususnya diKuningan Jabar, buah itu masih hidup dan sekarang pohon itu sedang berbuah dengan lebatnya,,hemmmm manis asem kset dh pokonya,,,,hehehe
    dan rencananya saya dan kawan2 akan membudidayakan beserta buah2an hutan lainnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. maaf kalau buah ini biasa panennya bulan apa saja yah.. dan kuningannya dimana tepatnya? terimaksaih bls via 08987001522

      Hapus
  4. dulu di dekat rumah saya ada yang punya pohonnya, beberapa tahun lalu udah ditebang,, barusan saya cari infonya dari teman saya, masih ada yang jual di pasar tradisional di Borobudur Magelang..
    tidak sengaja saya mampir ke blog ini, karena memang sedang rindu dengan buah ini.. buah yang sudah sangat langka..

    BalasHapus
  5. kira 2 ada yg tahu nggak dimana jual bibitnya....

    BalasHapus
  6. Kok mirip buah salam ya?
    Buah salam itu kecil-kecil sebesar kelereng, warnanya sama. Rasanya juga manis asam.
    Tapi keterangan di atas tadi katanya buah gowok sebesar jempol kaki orang dewasa
    www.nikkonikko.blogspot.com

    BalasHapus
  7. Di depan rumah saya masih ada...
    Tidak disangka, ternyata buah ini sudah sangat sulit didapat ternyata...
    Soalnya hampir tiap hari dipetik...
    Hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. sekarang masih ada mba, aku lagi nyari juga .. hubungi ke 081542492873 please

      Hapus
  8. Berbagi Kisah, Informasi dan Foto

    Tentang Indahnya INDONESIA

    www.jelajah-nesia.blogspot.com

    BalasHapus
  9. beuh aya kupa....enak pisan tah upami di lutis, lutis kupa.he...

    BalasHapus
  10. beuh ane belum pernah lihat baru lihat foto tersebut diats mas

    BalasHapus
  11. kalo ada yang tau kasi tau ya...

    BalasHapus
  12. Ngeces sluuurp ahhh *sambil ngelap iler :p sejak jaman SD belum pernah ketemu lagi sama buah ini....dulu 50 perak dapet 10 biji...

    BalasHapus
  13. Pagi ini saya bicara dengan ayah saya mengenai jaboticaba dan kemiripannya dengan buah Kupa. Sementara Jaboticaba asal Amerika selatan cukup populer sementara Kupa/Gowok sangat jarang terlihat di pasaran. Ayah saya bilang " koq ga pernah liat lagi kupa ya.."
    Kupa menghilang dari pasaran dan bisa2 jadi tanaman langka di buminya sendiri. Ayah saya 75 tahun dan usia saya 40 tahun. Terakhir kami lihat/makan buah Kupa mungkin sekitar 30 tahun yll

    BalasHapus

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...