Saya Menjadi Wartawan?
TERNYATA saya sudah menjadi ”wartawan” koran lokal yang terbit dengan oplah terbesar di Jombang dan Mojokerto. Ini setelah saya diberi tahu kawan saya yang sama-sama dari Jombang tetapi tinggal berjauhan. Ceritanya, sore itu dia habis membaca artikel di koran lokal itu edisi Minggu, 26 April 2009 tentang salah satu kuliner yang ada di Jombang, apalagi kalau bukan Soto Dok, soto yang membuat pembeli sering terkaget-kaget (seperti kekagetan saya menerima berita dari kawan saya ini). Dia merasakan bahwa ”aroma” dan ”taste” artikel yang ditulis wartawan koran itu kok mirip banget dengan yang pernah saya tulis dan sudah saya posting di blog ini dua tahun yang lalu.
Its ok! Tak ada masalah bagi saya meskipun ditelan mentah-mentah tanpa menyebut sumber atau link. Saya justru senang tulisan saya dibaca dan digunakan orang banyak. Namun terkadang dilubuk hati yang terdalam terasa kurang sreg saja setiap kali ada tulisan saya di-copy mentah-mentah tanpa mencantumkan sumbernya. Apalagi tujuan meng-copy itu terkait dengan profesi dan dekat dengan tujuan komersial.
Saya sangat menghargai kalau ada pihak-pihak yang mengutip semua atau hanya sebagian tulisan saya (yang tak bermutu ini) dengan mencantumkan sumber atau link. Cukup itu saja, tak perlu minta ijin langsung kepada saya.
Media yang profesional dengan profit oriented sudah selayaknya mempunyai crew yang bekerja secara profesional, tak asal-asalan. Saya jadi curiga jangan-jangan berita-berita yang tertulis itu tidak akurat karena tanpa penelusuran, hanya mengira-ngira saja. Semoga saja kecurigaan saya ini tidak benar. Tetapi menurut AW, seorang kawan saya, bahwa ..................(off the record)!!!
Ini bukan kejadian pertama kali, ada beberapa koran yang wartawannya juga meng-copy lebih dari beberapa artikel di blog saya menjadi sebuah berita tanpa ada sumber link-nya. Begitu juga artikel utuh saya pernah dimuat di koran dengan klaim nama orang lain.
Sebagai orang ladang dengan kemampuan dan informasi yang terbatas, apalah daya saya. Saya tak akan mempersoalkan terus masalah ini. Toh sejatinya semua tulisan saya adalah tulisannya orang yang baru belajar, bukan tulisan orang profesional. Menulisnya pun sekadarnya saja untuk mengisi waktu luang disela-sela mencangkul di ladang.
Jadi tulisan saya itu tulisan gak terlalu bermutu dan gak terlalu penting untuk dibaca. Namun kalau ada yang menjiplak tanpa kulonuwun, kayaknya lebih tidak bermutu lagi deh tulisan itu!
Labels: Tumpangsari



13 Comments:
Telepon saja wartawannya mas... biar dia lebih ber-Etika dalam mengambil sebuah tulisan. Jika tidak mencantumkan sumber, setidak-tidaknya dia kan bisa minta ijin ke sampean dulu.. ya kan?
Di akhir tulisan tu biasanya ada inisialwartwannya. Telpon aja ke Radar-nya.... minta dihubungkan ke wartawannya. Khawatirnya kalau dibiarkan bakalan tuman...
Wednesday, April 29, 2009 4:19:00 AM
@ Toni: Mending tetep nyangkul di ladang Mas, lumayan dapat sepetak, daripada capek2 call n ngabisin pulsa! he he he he .....
Koyoke sih wis tuman Mas!
Wednesday, April 29, 2009 1:56:00 PM
Makanya Cak, kalo nulis itu jangan terlalu bagus. Gitu akibatnya, dikopipes sama orang... hehehe...!!!
BTW, piye kabare??? Wis balik nJombang ta???
Thursday, April 30, 2009 5:36:00 PM
sabar cak sabar...
artinya tulisan sampeyan tuh bagus tenan sampe dijiplak :D
Friday, May 01, 2009 1:26:00 PM
Kalau saya mau copas tulisan bapak, saya izin dulu yah pak...?? :) salam kenal... Bolehlah saya belajar bertani dengan bapak. Terimakasih..
Friday, May 01, 2009 2:45:00 PM
hiiiiiiiiii...kok radar mojokerto jahat ya...
Wednesday, May 06, 2009 4:51:00 PM
wah payah neh ... harusnya bener diuber ampe ke akherat... klo saya jadi sampean sudah tak uber-uber... wis babah entek akeh pulsane... ato klo perlu brangkat ke graha pena markas besar jawa pos..
hargai diri sndiri dunk... masak ditilep diem ajah...
Sunday, May 10, 2009 9:18:00 PM
Oh..kasus yang seperti ini...Saya juga pernah mengalami...
Jadi memang...koran yang anda sebut itu, kerja wartawannya seperti itu, bukan dugaan bagi saya...Mungkin rata-rata mereka
Yang lebih memalukan. Mereka itu kan untuk profit...Sangat tidak profesional. Profesional yang saya maksud, seperti pemain sepakbola yang digaji hanya untuk main sepak bola tidak boleh nyambi. Mereka itu nyambi...
Monday, May 18, 2009 11:15:00 AM
Sabar Mas. Wartawan Radar Mojokerto memang gak bermutu. Suka ngarang-ngarang, paling juga mata duitan!
Thursday, May 21, 2009 11:42:00 AM
paculen ae mas wartawane sak redakture....he he
Saturday, June 06, 2009 10:08:00 PM
Itu plagiat namanya, Cak. Nggak boleh itu, sebab bagaimanapun sesorang yang mengutip apalagi menyalin tulisan orang lain harus mencantumkan nama penulisnya.
Namun, ada hikmahnya, Cak. Itu menunjukkan kualitas tulisan dan pemikiran sampean. Coba kalau nggak mutu, mana ada yang mau ngutip. Ya Nggak.
Terus mencangkul Cak, saya suka melihat hasilnya.
Monday, August 03, 2009 7:17:00 PM
ihhh.... hina banget tuh wartawan.. kok mirip malaysia sich...
Friday, October 02, 2009 7:31:00 AM
ha ha ha ha .......... iku pasti kelakoane wartawan radar mojokerto ya?
Wednesday, November 25, 2009 10:31:00 AM
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
Links to this post:
Create a Link
<< Home