“…..sekadar catatan untuk melepas penat disela-sela mencangkul di tengah ladang sambil menikmati hembusan angin di siang hari, nyanyian burung-burung, lenguhan kerbau, hamparan langit biru, gemericik air pancuran, hijaunya dedaunan, aroma keringat, sengatan matahari, belalang-belalang yang lalu-lalang berlompatan, dan tentu saja secangkir kopi pahit dan sepotong singkong rebus…..”


Tuesday, April 28, 2009

Saya Menjadi Wartawan?


TERNYATA saya sudah menjadi ”wartawan” koran lokal yang terbit dengan oplah terbesar di Jombang dan Mojokerto. Ini setelah saya diberi tahu kawan saya yang sama-sama dari Jombang tetapi tinggal berjauhan. Ceritanya, sore itu dia habis membaca artikel di koran lokal itu edisi Minggu, 26 April 2009 tentang salah satu kuliner yang ada di Jombang, apalagi kalau bukan Soto Dok, soto yang membuat pembeli sering terkaget-kaget (seperti kekagetan saya menerima berita dari kawan saya ini). Dia merasakan bahwa ”aroma” dan ”taste” artikel yang ditulis wartawan koran itu kok mirip banget dengan yang pernah saya tulis dan sudah saya posting di blog ini dua tahun yang lalu.

Saya pun buru-buru pinjam koran tetangga. Saya mencari-mencari artikel itu. Tak sulit dicari karena tulisan itu menempati halaman pertama. Saya pun membaca dengan seksama dengan tempo secepat-cepatnya. Di awal dan tengah-tengah artikel yang saya baca tak ada masalah, namun di akhir tulisan itu, saya baru mulai mencium ”aroma” dan ”rasa” tulisan saya dua tahun lalu seperti kata kawan saya tadi. Dan benar juga, tiga paragraf terakhir dari tulisan itu adalah comotan dari tulisan saya. Sama persis tanda baca maupun kata-katanya, hanya sedikit dimodifikasi saja dari sang wartawan, sehingga seolah-olah ada wawancara! Bandingkan dengan tulisan saya sebelumnya di sini dengan kutipan tulisan di bawah ini.


Its ok! Tak ada masalah bagi saya meskipun ditelan mentah-mentah tanpa menyebut sumber atau link. Saya justru senang tulisan saya dibaca dan digunakan orang banyak. Namun terkadang dilubuk hati yang terdalam terasa kurang sreg saja setiap kali ada tulisan saya di-copy mentah-mentah tanpa mencantumkan sumbernya. Apalagi tujuan meng-copy itu terkait dengan profesi dan dekat dengan tujuan komersial.

Saya sangat menghargai kalau ada pihak-pihak yang mengutip semua atau hanya sebagian tulisan saya (yang tak bermutu ini) dengan mencantumkan sumber atau link. Cukup itu saja, tak perlu minta ijin langsung kepada saya.

Media yang profesional dengan profit oriented sudah selayaknya mempunyai crew yang bekerja secara profesional, tak asal-asalan. Saya jadi curiga jangan-jangan berita-berita yang tertulis itu tidak akurat karena tanpa penelusuran, hanya mengira-ngira saja. Semoga saja kecurigaan saya ini tidak benar. Tetapi menurut AW, seorang kawan saya, bahwa ..................(off the record)!!!

Ini bukan kejadian pertama kali, ada beberapa koran yang wartawannya juga meng-copy lebih dari beberapa artikel di blog saya menjadi sebuah berita tanpa ada sumber link-nya. Begitu juga artikel utuh saya pernah dimuat di koran dengan klaim nama orang lain.

Sebagai orang ladang dengan kemampuan dan informasi yang terbatas, apalah daya saya. Saya tak akan mempersoalkan terus masalah ini. Toh sejatinya semua tulisan saya adalah tulisannya orang yang baru belajar, bukan tulisan orang profesional. Menulisnya pun sekadarnya saja untuk mengisi waktu luang disela-sela mencangkul di ladang.

Jadi tulisan saya itu tulisan gak terlalu bermutu dan gak terlalu penting untuk dibaca. Namun kalau ada yang menjiplak tanpa kulonuwun, kayaknya lebih tidak bermutu lagi deh tulisan itu!

Labels:

13 Comments:

Anonymous Toni Tegar Sahidi said...

Telepon saja wartawannya mas... biar dia lebih ber-Etika dalam mengambil sebuah tulisan. Jika tidak mencantumkan sumber, setidak-tidaknya dia kan bisa minta ijin ke sampean dulu.. ya kan?

Di akhir tulisan tu biasanya ada inisialwartwannya. Telpon aja ke Radar-nya.... minta dihubungkan ke wartawannya. Khawatirnya kalau dibiarkan bakalan tuman...

Wednesday, April 29, 2009 4:19:00 AM

 
Blogger JUNAEDI said...

@ Toni: Mending tetep nyangkul di ladang Mas, lumayan dapat sepetak, daripada capek2 call n ngabisin pulsa! he he he he .....

Koyoke sih wis tuman Mas!

Wednesday, April 29, 2009 1:56:00 PM

 
Anonymous Fiz said...

Makanya Cak, kalo nulis itu jangan terlalu bagus. Gitu akibatnya, dikopipes sama orang... hehehe...!!!
BTW, piye kabare??? Wis balik nJombang ta???

Thursday, April 30, 2009 5:36:00 PM

 
Anonymous Uke Poet said...

sabar cak sabar...
artinya tulisan sampeyan tuh bagus tenan sampe dijiplak :D

Friday, May 01, 2009 1:26:00 PM

 
Anonymous anazkia said...

Kalau saya mau copas tulisan bapak, saya izin dulu yah pak...?? :) salam kenal... Bolehlah saya belajar bertani dengan bapak. Terimakasih..

Friday, May 01, 2009 2:45:00 PM

 
Blogger Elsa said...

hiiiiiiiiii...kok radar mojokerto jahat ya...

Wednesday, May 06, 2009 4:51:00 PM

 
OpenID alidabdul said...

wah payah neh ... harusnya bener diuber ampe ke akherat... klo saya jadi sampean sudah tak uber-uber... wis babah entek akeh pulsane... ato klo perlu brangkat ke graha pena markas besar jawa pos..

hargai diri sndiri dunk... masak ditilep diem ajah...

Sunday, May 10, 2009 9:18:00 PM

 
Blogger Mus-Abdilla said...

Oh..kasus yang seperti ini...Saya juga pernah mengalami...
Jadi memang...koran yang anda sebut itu, kerja wartawannya seperti itu, bukan dugaan bagi saya...Mungkin rata-rata mereka
Yang lebih memalukan. Mereka itu kan untuk profit...Sangat tidak profesional. Profesional yang saya maksud, seperti pemain sepakbola yang digaji hanya untuk main sepak bola tidak boleh nyambi. Mereka itu nyambi...

Monday, May 18, 2009 11:15:00 AM

 
Anonymous Rahman said...

Sabar Mas. Wartawan Radar Mojokerto memang gak bermutu. Suka ngarang-ngarang, paling juga mata duitan!

Thursday, May 21, 2009 11:42:00 AM

 
Anonymous Taufabn said...

paculen ae mas wartawane sak redakture....he he

Saturday, June 06, 2009 10:08:00 PM

 
Blogger stefanus akim, said...

Itu plagiat namanya, Cak. Nggak boleh itu, sebab bagaimanapun sesorang yang mengutip apalagi menyalin tulisan orang lain harus mencantumkan nama penulisnya.

Namun, ada hikmahnya, Cak. Itu menunjukkan kualitas tulisan dan pemikiran sampean. Coba kalau nggak mutu, mana ada yang mau ngutip. Ya Nggak.

Terus mencangkul Cak, saya suka melihat hasilnya.

Monday, August 03, 2009 7:17:00 PM

 
Anonymous gadgetboi said...

ihhh.... hina banget tuh wartawan.. kok mirip malaysia sich...

Friday, October 02, 2009 7:31:00 AM

 
Anonymous andika said...

ha ha ha ha .......... iku pasti kelakoane wartawan radar mojokerto ya?

Wednesday, November 25, 2009 10:31:00 AM

 

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home