Rabu, 14 Januari 2009

Jejak Flores (2): Sikka, Desa Tua yang Terlupa!

JARUM jam baru menunjukkan angka 07.15 WITA, ketika kami meninggalkan homestay di Kota Maumere, ibukota Kabupaten Sikka. Agenda kami hari ini adalah menuju kawasan pesisir pantai Desa Sikka untuk melakukan penyelaman di beberapa titik. Desa Sikka adalah desa yang menjadi cikal bakal Kabupaten Sikka yang beberapa waktu lalu saya sempat menuliskannya. Silahkan klik di sini untuk melihat posting-an sebelumnya.

Baiklah, pada posting-an kali ini saya tak ingin cerita tentang penyelaman, ini karena dalam tim ini, saya hanya menjadi penggembira saja. Saya tak punya keahlian berenang, apalagi menyelam. Kami yang terdiri 7 orang, tak semuanya ahli selam, hanya 3 orang saja kawan saya yang ahli selam dan biologi laut. Pada kesempatan ini hanya 2 orang saja yang akan melakukan penyelaman.

Sebenarnya saya punya tujuan khusus mengikuti agenda kawan-kawan di hari itu. Snorkeling! Ya, saya ingin sekali menikmati dasar laut dari permukaan. Kebetulan perangkat snorkeling juga dibawa. Namun, karena kondisi ombak yang sangat besar, saya jadi berpikir seribu kali untuk masuk laut.

Bertamu ke Rumah Raja

Tak ada rotan akar pun jadi, tak bisa masuk lautan, jalan ke tempat lain pun tak kalah enjoy. Saya pun langsung menuju rumah adat yang dulu merupakan rumah raja Sikka. Rumah ini berada tak jauh dari tempat kami memulai penyelaman. Letaknya juga tepat di bibir pantai Sikka. Bentuk panggung dengan ketinggian panggung sekitar 2 meter dan beratap rumbia atau ilalang. Bahan bangunan hampir semuanya menggunakan kayu lokal dan kayu kelapa. Sambungan kerangka rumah pun menggunakan kayu dengan cara dipantek (Jawa). Kecuali pemasangan papan sebagai dinding dan lantai sudah menggunakan paku.

Sayangnya kondisi rumah Raja Sikka ini kurang terurus, meskipun tiang pancangnya masih kokoh, namun lantai, dinding dan perabotan berupa kursi dan meja kondisinya berantakan. Lantai dan dinding banyak yang terlepas dari kerangkanya dan berlubang-lubang. Kursi sudah tak tertata lagi sebagaimana mestinya bahkan banyak yang protol atau terlepas.

Ketika saya bertemu beberapa orang dan ibu-ibu pedagang kain tenun ikat yang ”mengejar” kami (kami dianggap turis dan mereka menawarkan produknya), mereka menjelaskan bahwa rumah raja ini kurang terawat karena tak ada dana perawatan dari keluarga atau keturunan para raja, sementara pemerintah juga kurang perhatian. Padahal, tempat ini sering didatangi turis-turis manca terutama dari Portugis. Wajar saja Desa Sikka dulunya menjadi tempat tinggal orang-orang Portugis juga menyimpan banyak bangunan tua peninggalan kolonial Portugis.

Pada abad ke-17, Sikka merupakan pusat pemukiman orang-orang Portugis di Flores. Di sini pula terdapat bangunan gereja tua yang dibangun pada tahun 1899. Dulu dekat Desa Sikka, tepatnya di Desa Lela, juga terdapat sebuah seminari yang didirikan Pastor Frans Cornelissen SVD pada tahun 1926. Seminari ini pada awalnya didirikan di Sikka sebelum dipindahkan ke Todabelu, Mataloko. Dan sejak tahun 1937 di pindah ke kawasan Ledalero.

Pusat Tenun Ikat

Di Desa Sikka ini pula dihasilkan kain tenun ikat yang cukup di Kenal di daratan NTT. Hampir semua rumah di sepanjang jalan utama memiliki peralatan tenun. Beberapa nona (sebutan untuk wanita Sikka, tak peduli sudah menikah atau belum) terlihat mengemasi benang aneka warna yang telah dijemur dan beberapa memindahkan kain tenun ke dalam rumah. Satu tenunan dapat dihasilkan dalam jangka waktu sebulan dan bahkan lebih lama. Ini karena mereka mengerjakannya masih menggunakan peralatan tradisional atau alat tenun bukan mesin. Tergantung dari bahan terutama benang. Kain akan berharga lebih mahal apabila dibuat dari bahan alami. Kain tenun dari daerah Sikka cukup terkenal dan telah dipasarkan ke daerah-daerah lain.

Selain itu, mereka juga menjual langsung ke wisatawan yang kebetulan singgah atau mengunjungi Desa Sikka, terutama wisatawan manca yang kebanyakan dari Portugis. Sikka dan Portugis memang mempunyai hubungan sejarah yang erat. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya bahwa di desa inilah dulu menjadi pusat pemukiman orang-orang Portugis. Mungkin saja mereka menapaktilasi jejak leluhurnya yang dulu banyak menapakkan kaki di Desa Sikka.

Karena peralatan-peralatan tenun itu semuanya tanpa menggunakan mesin, maka untuk menggerakannya hanya mengandalkan kaki-kaki dan tangan-tangan terampil nona-nona. Namun, informasi yang saya dapatkan, saat ini kebanyakan para perajin tenun adalah wanita-wanita paruh baya. Sedangkan nona-nona muda sekarang jarang yang bisa mengerjakannya. Sepertinya mereka kurang tertarik untuk belajar dan mewarisi keterampilan ini dari leluhurnya ini. Ini mungkin yang disebut dengan pergeseran orientasi budaya kaum muda yang katanya serba instan, sebab membuat kain tenun ikat ini menuntut proses belajar yang terus menerus dengan tingkat kesabaran yang tinggi, cita rasa seni serta mungkin idealisme untuk melanggengkan warisan leluhur.

Sementara itu, bahan-bahan tenun (benang pintal) pada umumnya dibeli di kota Maumere dan kebanyakan bahan-bahan ini didatangkan langsung dari Pulau Jawa sebab sangat jarang bahan-bahan ini dipintal sendiri di Sikka. Harga selembar kain tenun dengan ukuran lebar kurang dari 1 meter dan panjang juga kuran 2 meter, rata-rata Rp. 200.000.,- Tetapi kalau kita pandai menawar bisa turun menjadi Rp. 150.000,-. Harga ini tergantung dari bahan, motif dan lebar kain. Yang saya sebutkan ini adalah dengan bahan yang murah, motif standar dan tidak terlalu lebar.

Kain-kain tenun tersebut bisa kita manfaatkan untuk berbagai keperluan. Bisa untuk hiasan, baju, rompi, tas, sarung, sajadah, taplak meja dan sebagainya. Di Kabupaten Sikka, kain-kain tenun ini menjadi pakaian resmi ala baju batik di Jawa. Beberapa hari dalam satu minggu, pegawai-pegawai pemerintahan diwajibkan memakai pakaian dari bahan ini. Anak-anak sekolah pun pada hari-hari tertentu wajib memakai rompi dari kain tenun ikat ini. Sementara nona-nona golongan older atau age spots pun masih banyak yang memakainya sebagai pakaian sehari-hari, “semacam sarung” dan kadang diselampangkan ke pundak. Seperti layaknya gambar pakaian-pakaian adat di dalam buku-buku pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial atau gambar-gambar di bagian belakang buku-buku atlas yang sering saya lihat waktu sekolah dasar dulu.

Sayangnya, pesona Sikka ini kurang mendapat dukungan sarana yang memadai seperti penginapan dan kondisi jalan yang lebih bagus lagi. Pesona Sikka sebagai desa tua seolah terlupa. Untuk mengunjungi desa ini harus sekali jalan dan langsung pulang ke Maumere dimana hotel dan resort banyak berada di pusat kota ini. Kalau mau, bisa saja menginap di rumah-rumah penduduk. Saya yakin masyarakat di sini akan menerima, sebab mereka terlihat bersahabat dan ramah-ramah menerima tamu, meskipun aksen suaranya keras (khas orang Indonesia Timur, khususnya NTT) dan bila kita tak terbiasa akan menilai mereka kurang bersahabat padahal aksen suaranya tak selalu mencerminkan kekerasan hati dan perangainya. Namun demikian, sepertinya kurang nyaman kalau harus menginap di rumah-rumah penduduk.

Inilah sekelumit yang saya dapatkan dari perjalanan kali ini. Perjalanan yang “sederhana” ke tempat yang “sederhana” pula!

3 komentar:

  1. berkelana lagi.. senang ya?? capek gak mas??

    BalasHapus
  2. enak ya kerjaan kok jalan-jalan terus kelihatannya.....
    bisa lihat macem-macem....
    jangan lupa bilang "alhamdulillah" ya

    BalasHapus
  3. Halo Mas... salam kenal yaaa :)
    Seneng ketemu blogger podho nJombang e :)

    Perjalanan sekecil apapun bagi saya itu mewah, Mas.. karena memperkaya pengetahuan kita..
    Ceritanya sangat lengkap! Salut!

    BalasHapus

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...