“…..sekadar catatan untuk melepas penat disela-sela mencangkul di tengah ladang sambil menikmati hembusan angin di siang hari, nyanyian burung-burung, lenguhan kerbau, hamparan langit biru, gemericik air pancuran, hijaunya dedaunan, aroma keringat, sengatan matahari, belalang-belalang yang lalu-lalang berlompatan, dan tentu saja secangkir kopi pahit dan sepotong singkong rebus…..”


Thursday, January 29, 2009

Penyapu dalam Gerbong Kereta


PADA hari Sabtu lalu (24/01), ketika saya melakukan perjalanan “napak tilas” menggunakan jasa KRL kelas ekonomi jurusan Bogor–Jakarta, suasana gerbong kereta sepertinya tak banyak berubah seperti jaman baheula ketika saya masih tinggal di Bogor. Sumpek, panas, banyak pengamen, pengemis, pedagang asongan yang mondar-mandir menawarkan beranekaragam barang dagangan, mulai pulsa, boneka, mainan anak-anak, buah-buahan, koran, buku, permen, pembersih telinga, amplop dan sebagainya. Ya, gerbong kereta tak ubahnya pasar berjalan yang menawarkan segala kebutuhan kita sehari-hari. Tak ketinggalan pula, dan ini yang menjadi perhatian saya, penyapu dalam gerbong kereta. Entah mengapa tiba-tiba saja perasaan (sok) sentimentil saya muncul. Kasihan, iba, ketakberdayaan, ingin menangis, sedih dan gundah berkecamuk dalam dada ketika melihatnya.

Dengan bermodal sapu lidi dan kantong plastik bekas pewangi, seorang ibu paruh baya dengan menggendong bayinya (atau bayi pinjaman, wallahualam!) beraksi membersihkan aneka sampah di dalam gerbong kereta, dari ujung ke ujung dalam satu gerbong, berpindah dari satu gerbong ke gerbong lainnya, sembari tangan kirinya menyangga bayinya dan menyodorkan kantong plastik, berharap lemparan recehan sebagai imbalan “jasa kebersihan” dari para penumpang kereta.

Potret buram seperti ini bukanlah hal baru. Beberapa tahun yang lalu sudah ada. Bahkan anak-anak seusia SD pun banyak yang melakukannya. Tidak hanya di kereta jarak pendek seperti KRL, tetapi juga banyak dilakukan di atas kereta api jarak jauh khususnya kelas ekonomi.

Bukan tanpa sebab mereka melakukan itu. Sepertinya faktor ekonomilah yang menjadi penyebab utama mereka “bekerja” di atas kereta. Demikian juga “keterlantaran” mereka dari pihak yang seharusnya “memelihara” mereka sesuai dengan amanat konstitusi, membuat mereka tak berdaya dan tak punya banyak pilihan.

Sementara di luar sana, para calon pemimpin negeri ini masih ribut berebut kursi. Bersaing obral janji dan ramai-ramai memasang gambar wajahnya atau pamer rai tanpa punya rasa estetika dan etika ekologi, memaku dan menggantungkan begitu saja gambar-gambar wajahnya di pepohonan, bergelayutan di pohon persis ........ Entahlah!

Saya tak tahu sampai kapan ibu itu menyapu. Kereta juga masih terus melaju, dan calon pemimpin kita pun terus merayu. Saya makin membisu, terbayang di kampung sana wajah-wajah Pak Jan, Yu Ton, Yu Nah, Mbok Ti, Guk Din, Guk No, yang tak kalah tegar bergelut di ladang meskipun kulit mulai keriput dan wajahnya sering nyaprut!

Labels:

5 Comments:

Anonymous taufan said...

itulah kenapa di bogor saya tumbuh kurus dan di malang saya bisa tumbuh sehat dan lebih "berbobot" :)

Thursday, January 29, 2009 3:00:00 PM

 
Blogger Elsa said...

aku pernah beberapa kali naik kereta ekonomi dari surabaya ke jombang.. menemui pemandangan serupa.
sumpah, rasanya emang pingin nangis karena gak tega.
aku sangat menghargai pekerjaan dia...
mendingan seperti itu, daripada cuman ngemis...

Friday, January 30, 2009 9:59:00 AM

 
Blogger JUNAEDI said...

@ taufan: u kurus nukan kurang makan, coz ga ada teman ngludruk. lha kalo di malang kan deket njombang n ludruk dapat tempat! Klop pan!

@ Elsa: saya juga menghargai keinginan nangis panjenengan.

@ Fiz: iyo Fiz, nang njombang ya banyak lho yang sepuh-sepuh tapi tetep kerja. Di Mahkamah Agung juga ada, lihat kan kemarin yang kakae kita yang ambruk waktu pelantikan!

@ Attayaya: Sapunya kalo perlu diarahkan ke "luar gerbong", gimama mas!

Wednesday, February 04, 2009 10:48:00 AM

 
Anonymous attayaya said...

mereka dibiarkan oleh kepala stasiun neh.
tukang sapu yang pegawai pjka mana?

Sunday, February 01, 2009 10:34:00 PM

 
Anonymous Fiz said...

Kasian mereka Kang.... Oh ya, jadi teringat bapak2 tua yg aq temui minggu lalu berjualan balon karet di depan sebuah toko waralaba. Bekerja sekuat tenaga meski usia sudah cukup renta. Terus terang miris juga saat melihatnya...

Saturday, January 31, 2009 8:20:00 PM

 

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home