Selasa, 09 Desember 2008

Kembali ke Ladang!

AKHIRNYA terbebas juga saya dari cengkeraman “monster hiatus” ngeblog yang menghinggapi selama lebih dari 2 (dua) bulan terakhir. Bukan perkara mudah untuk melepaskan diri dari cengkeraman “monster hiatus” seperti ini. Perlu perjuangan ekstra, dengan ancang-ancang dan ambil nafas dalam-dalam sebelum akhirnya melesat melepaskan diri dari cengkeramannya. Dan syukur alhamdulillah, berkat doa dan juga dorongan dari para penghuni ladang di kanan-kiri, akhirnya saya bisa kembali ke “ladang”, mencangkul, merawat dan mengolahnya kembali.

Bukan tanpa sebab kenapa saya bisa terjerembab dalam jurang hiatus dan sulit keluar. Penyebabnya, pertama, keterlenaan saya selama hampir dua bulan ini pasca lebaran yang sebelumnya pun sudah disibukkan dengan ritual mudik. Pasca lebaran lalu saya terlalu berleha-leha liburan di kampung halaman. Wajar saja, hijaunya Jombang bagian selatan plus udaranya yang sangat sejuk telah meninabobokan dan menghipnotis saya untuk menelusuri jejak masa lalu. Menyusuri sungai, sawah, bebatuan, kebun-kebun cengkih, mengejar layang-layang, berantem dengan kawan sebaya, jumpritan atau petak umpet, berburu jangkerik di ladang, bluron atau mandi di sungai yang kala itu airnya masih jernih, bermain patil lele, kelereng, benteng-bentengan dan lain-lain, adalah jejak masa lalu yang sulit terhapus dari benak ini.

Jejak masa lalu memang terkadang menyuguhkan kerinduan sekaligus kemewahan yang tak terkira, apalagi ketika kita telah jauh melangkah meninggalkannya. Ditambah lagi dengan “idol generation” yang tak mau lagi menapaktilasi, sebab mereka lebih enjoy aneka “jejak baru” yang katanya lebih modern seperti video game dan play station.

Beberapa waktu berikutnya setelah tersadar, saya sudah dihadapkan kembali dengan ritual balik. Ritual yang tak kalah merepotkan. Back to Flores, itu ritual balik saya tahun ini. Untuk mendapatkan tiket menuju Pulau Ular ini perlu perjuangan yang tak kalah sengit. Di tengah suasana lebaran, pesaing yang mencari tiket cukup tinggi dan harga tiket pun masih melangit, apalagi penerbangan dari Surabaya menuju Flores hanya sekali sehari dilayani oleh Merpati, itupun harus transit di beberapa tempat yang terkadang sangat membosankan. Transit di Denpasar bisa 4-5 jam sambil menunggu pesawat Merpati lain yang lebih ramping badan dan sayapnya. Lalu dilanjutkan lagi untuk kemudian transit setengah jam di Tambolaka, Pulau Sumba.

Namun untuk tahun ini, untungnya sejak awal September lalu Garuda Indonesia lewat maskapai murah-meriahnya, Citilink, telah melayani jalur Surabaya-Kupang, saya menggunakan jasa penerbangan ini. Jauh-jauh hari saya sudah memesan tiket. Meskipun agak berputar-putar (dengan Citilink dari Surabaya ke Kupang, baru koneksi dengan Merpati atau Trans Nusa dari Kupang ke Maumere), setidaknya dengan armada ini perjalanan benar-benar enjoy simplicity, meminjam moto Citilink.

Kedua, (sok) sibuk dengan penyusunan reporting yang harus saya buat selama bulan Oktober dan November. Harap makhlum, mendekati tutup tahun, semua harus selesai.

Ketiga, lagi-lagi (sok) sibuk dengan berbagai perjalanan dan rangkaian kegiatan di luar Flores. Pertengahan bulan November lalu hampir seminggu wajib mengikuti kegiatan di Jakarta dan berikutnya lagi harus membuat reporting-nya, yang lagi-lagi sangat membosankan. Di tambah lagi sebelum acara di Jakarta saya harus mempersiapkan segala tetek bengek untuk acara nanti dan blusukan bersama kawan-kawan mengambil data-data di beberapa titik perairan Laut Flores dan Laut Sawu. Tentu saja persiapan pengambilan data-data ini perlu persiapan matang, mulai dari peralatan diving hingga pemantauan cuaca secermat mungkin, apalagi di Laut Sawu ombak sedang besar-besarnya. Mulai dari baju selam, pengisian tabung oksigen, kamera dalam air, dan tak lupa alat tulis khusus yang digunakan di dalam air laut, telah dipersiapkan tim kami secermat mungkin.

Keempat, malas dan bad time management. Tak dapat dipungkiri bahwa ini merupakan faktor utama penyebab ke-hiatus-an ”meladang” selama ini. Seharusnya semua aktivitas di atas bisa saya jadikan sumber inspirasi dan cemeti atau cambuk untuk mecambuki saya bila saya malas ”mengayunkan cangkul”. Tapi dasar saya pemalas dan tak punya manajemen waktu yang baik, semuanya lewat begitu saja.

Jadi hal-hal itulah yang membuat saya terpaksa hiatus, meninggalkan “ladang” lebih dari 2 bulan terakhir. Dampaknya bukan hanya syaraf mencangkul saya yang mulai kaku, tetapi pagerank ladang ini pun ikut-ikutan turun dari 3 menjadi 2 serta statistik alexa-nya semakin membengkak. Dan mudah-mudahan momentum Idul Qurban tahun ini bisa membuat saya istiqomah dan GEMBIRA BERKORBAN meluangkan waktu untuk merawat ladang ini. Amin!

4 komentar:

  1. Selamat Idul Adha ya ....

    Selamat datang kembali setelah hiatus lama...

    BalasHapus
  2. aku ya pingin menyusuri sungai...
    nyemplung sawah...
    dolanan layangan....
    plus kubah langit yg biru

    tp gimana yang ditemu di jakarta
    cuman tembok gedung
    underpass
    jalan tol
    busway
    kubah langit yang udah klabu...bonus asep yang ngalahi aroma sate...

    met idhul adha juga deh...

    BalasHapus
  3. happy blogging, tetap semangat BRO..
    salam dari Jombang
    win, http://txfm.blogspot.com

    BalasHapus
  4. Ah...saya hadi ingat kampungku di ujung timur pulau Madura sana...

    Para petani adalah pahlawan yang seringkali terupakan, padahal tanpa mereka, negeri ini akan kelaparan....

    Salam kenal...

    BalasHapus

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...