Selasa, 22 Januari 2008

Dari Secangkir Kopi

SECANGKIR kopi! Ya, itulah minuman sehari-hari yang sulit saya tinggalkan. Betapa tidak, kopi adalah minuman yang telah saya kenal sejak kelas satu SD. Setiap pagi saya selalu ikut nyuri-nyuri nyeruput kopi tubruk dari cangkir ukuran jumbo yang dituangkan oleh nenek buat kakek saya atau oleh ibu buat bapak saya.

Saya sangat menikmatinya, meskipun kata nenek waktu itu, anak kecil yang suka minum kopi penglihatannya akan mblereng atau kabur. Tetapi saya tak percaya begitu saja, justru saya seolah tak bisa melihat tulisan di papan tulis jika paginya tak minum kopi, begitu argumen saya untuk meng-counter peringatan nenek. Akhirnya saya pun tetap diperbolehkan menikmati minuman kopi meskipun dibatasi dalam ukuran satu lepek atau cawan. Dan sampai saat ini pun, kopi tetap menjadi minuman favorit saya. Bahkan sudah menjadi semacam candu, sehari kalau tidak minum kopi kepala terasa nyut-nyutan, terasa mau pecah.

Dulu ketika masih indekost di Kota Hujan, Bogor, apalagi kalau lagi mantengin angka-angka dan kata-kata, kepala pusing atau migrain seringkali datang mendera. Menurut dr. Seymour Diamond, Direktur Diamond Headache Clinic, di Chicago, USA, kondisi kepala pusing seperti ini salah satu pemicunya adalah adanya pelebaran pembuluh darah. Sementara, kafein yang terkandung dalam kopi, menurut dia mampu mengerutkan pembuluh darah kembali. Maka, untuk mengatasi kepala pusing seperti ini, penanganan darurat yang biasa saya lakukan adalah dengan minum kopi tubruk murni 100 % + madu + cream susu + jahe jenis emprit segar yang besarnya tak lebih dari jari kelingking. Saya minum kopi dengan ”aksesoris” lengkap seperti ini sangat jarang dan hanya dalam kondisi ”tertentu” saja. Yang paling sering, saya hanya menikmati kopi tubruk dengan sedikit gula pasir.

Cream susu saya tambahkan untuk menambah ”keseksian” rasa kopi sekaligus meminalisir dampak negatif kopi yang cenderung mengurangi daya serap kalsium sehingga memicu pengeroposan tulang. Sedangkan madu, disamping menurut para analis medis sangat baik untuk kesehatan, juga merupakan salah satu minuman yang sangat istimewa yaitu sebagai obat, seperti yang tertuang dalam kitab suci.

Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan (An Nahl 16).
 

Demikian juga jahe, disamping khasiatnya sangat banyak untuk kesehatan, juga merupakan campuran minuman yang disuguhkan bagi para ahli surga yang didatangkan dari mata air surga.

Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe (yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil (Al Insaan 17-18).
 

Kopi murni 100 % langsung saya bawa dari kampung halaman, hitung-hitung mempromosikan kopi hasil para petani di kampung kepada kawan-kawan. Sementara kopi-kopi instan kemasan buatan pabrik, disamping kurang direspon oleh syaraf-syaraf di kepala saya, juga kantong saya kurang mampu meresponnya, atau dalam bahasa ekonominya, kantong saya inelastis, jadi tak terlalu berpengaruh. Ini baru kopi instan, belum lagi secangkir kopi yang disajikan di resto-resto yang harganya membuat kantong semakin mengerut. Secangkir kopi harganya bisa melebihi uang makan saya untuk 4-5 hari!

”Apa sih enaknya minum kopi setiap pagi? Menambah racun di tubuh saja!” Demikian pertanyaan yang sering dilontarkan oleh seorang kawan yang memang anti minum kopi.

Bagi saya, minum secangkir kopi tak sekadar menikmati rasa pahit kafeinnya untuk mengusir rasa kantuk dan sakit kepala. Banyak hal yang bisa saya lihat dari secangkir kopi ini. Ketika menyeruput secangkir kopi, saya jadi teringat pada kebun-kebun kopi nan rimbun milik para tetangga di kampung halaman yang sudah ada sejak zaman Belanda berkuasa. Bahkan di ujung timur kampung, tepat di lereng Gunung Anjasmara, dulu ada bangunan pabrik pengolah kopi yang juga dibangun sejak zaman kolonial Belanda.

Sebelum tahun 1990-an, ketika saya masih duduk di bangku SD, bangunan tua itu masih ada. Seringkali setiap pelajaran sejarah atau ketika pelajaran mengarang, saya dan kawan-kawan sekelas diwajibkan mengunjungi tempat itu dan wajib pula membuat tulisan mengenainya. Lokasinya sekitar 2 Km dari sekolah, dan naik ke arah lereng Gunung Anjasmara dengan melalui jalanan yang belum diaspal ketika itu.

Selain itu, dari secangkir kopi inilah saya juga bisa hanyut, larut ikut merasakan pahit-getirnya ribuan buruh perkebunan kopi yang nasibnya tak lebih baik dari zaman kolonial. Demikian juga, petani-petani kopi yang berlahan sempit, seperti kebanyakan di kampung saya, seringkali harus merugi karena harga kopi fluktuatif dan sangat rendah di tingkat petani. Bahkan, pernah terjadi dimana untuk biaya petik dan proses sampai menjadi kopi siap goreng, lebih besar dari pada harga jualnya. Padahal harga kopi kemasan siap seduh tak pernah turun.

Dengan secangkir kopi, saya juga teringat akan hasil riset tesis seorang kawan tentang kopi-kopi yang dihasilkan petani-petani kecil di Lampung yang rata-rata bermutu rendah. Oleh karenanya, kopi-kopi petani itu pun juga dihargai rendah oleh pabrik pengolah kopi. Petani tak kuasa menentukan dan menciptakan grade tertentu akibat berbagai keterbatasaannya. Sementara pabrik pengolah kopi itu hanya mau tahu kopi yang dibeli dari petani harus bermutu sesuai keinginannya.

Dari secangkir kopi juga, dulu saya pernah ”sedikit” terinspirasi untuk menuliskan tentang kopi pahit dalam sebuah bait-bait, yang kata kawan saya, bait-bait itu puisi. Tetapi saya tak peduli, itu puisi atau bukan. Yang jelas, ketika itu saya hanya ingin menuliskannya saja, ketika berada di kamar indekost suatu malam yang sangat sunyi nan senyap juga agak pengap, ditemani secangkir kopi pahit, dua cicak di dinding yang berkejaran dan mungkin sekali itu salah satu cara mereka bercengkerama mesra yang membuat saya iri dan senyum-senyum sendiri, serta winamp pada komputer butut yang dari sore tak henti-henti ”bernyanyi” sendiri.

secangkir kopi pahit
mengingatkanku pada simbok
simbok, sang maestro cintaku
inspirasiku!

“kamu itu suka nyeruput kopi pahit
yang kubuat untuk bapakmu, dan
kamu nggebres-nggebres mendelik kepahitan”
katamu suatu hari

namun kini aku baru tahu
kenapa simbok membuat kopi pahit
:karena hari itu tak ada uang
untuk beli gula
itu lebih pahit kan mbok?

malam ini
secangkir kopi pahit itu
kembali menemaniku
memaksaku menulis bait-bait
yang kata kawanku
:ini bait-bait puisi

tapi aku tetap meragui
kalau ini puisi!

aku hanya merasai
bahwa jauh dari simbok itu terasa pahit
bahwa BBM mundak itu juga pahit
bahwa sembako tak terjangkau itu bikin pahit
dan dibohongi penguasa, pahitnya hingga tujuh langit!

tapi mbok, patah hati juga pahit kan?

mbok, malam ini
sepahit apapun kopi pahit ini
aku takkan lagi nggebres-nggebres mendelik
sebab engkau telah mengajarkanku
bagaimana menikmati kopi pahit !

[Bogor, Wisma Virandi, 22.46 WIB–01/02/2005]

 

 Lalu, apa yang Anda rasakan ketika minum kopi?

9 komentar:

  1. wahh..pas kecil saya juga ga boleh minum kopi tu, knp ya?hehe ga baik buat anak kecil kayanya..tapi kalo saya tidak suka..ga tau kenapa kalo minum kopi malah ngantuk T.T hehe

    BalasHapus
  2. Liburan bagi Piz = servis plus nyuci motor, NGOPI & ngeblog.... ;)

    BalasHapus
  3. Petani seringkali jadi pihak yang dirugikan ...

    BalasHapus
  4. Perjalanan secangkir kopi menuju tenggorokan... Panjang dan penuh kenikmatan.
    Mari ngopi mas Jun...

    BalasHapus
  5. tiap pagi aku & suami jg ngopi..tp kopi yg susu & krimer gitu..kl kopi murni krg begitu suka ^_^

    BalasHapus
  6. saya juga suka kopi, tapi kopi kontenporer.. kayak kopi mocca, kopi late dll .. :)

    kopi yang pahit mungkin terasa nikmat karena kita meminum'y dgn ikhlas & suka .. begitupun dengan ujian, kehidupan .. benar? ^_^

    BalasHapus
  7. Kopi? *langsung meraba ulu hati... :D
    Pengalaman kmaren minum kopi kalengan, trus jadi sakit ulu hati...

    BalasHapus
  8. Suka banget gan saya sama kopi. Apalagi kalo diproses pakai mesin kopi terbaik ala kafe gitu, wuihhh :D

    BalasHapus

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...