Minggu, 13 Agustus 2006

Pekarangan, Lumbung Pangan Kita

Gambar: radarbangka.co.id
DEWASA ini keberadaan pekarangan di wilayah Jawa Barat mulai terdesak seiring dengan pertambahan penduduknya. Adapun pekarangan yang ada pun, termasuk yang berada jauh di kawasan pedesaan, banyak yang dibiarkan terbengkalai. Padahal, pekarangan mempunyai manfaat yang sangat besar, bukan hanya manfaat ekologis, melainkan juga punya peran penting secara ekonomi, yaitu sebagai lumbung hidup, baik lumbung pangan maupun lumbung gizi.

Pekarangan merupakan perpaduan pertanian yang melibatkan peran manusia dengan ekosistemnya. Secara ekologis, pekarangan dengan struktur tanaman yang tingginya berjenjang dan beraneka jenisnya, mulai dari jenis tanaman keras dengan ketinggian yang menjulang, sampai dengan tanaman perdu dan sejenis rerumputan, bukan saja akan mampu mengoptimalkan penggunaan energi matahari, melainkan juga melindungi tanah dari erosi oleh guyuran air hujan.

Dengan demikian, berbagai jenis tanaman memungkinkan tumbuh berdampingan, dan kesuburan tanah serta tata air tetap terjaga. Di samping itu, dalam pekarangan juga terjadi sistem daur ulang yang sangat baik. Dedaunan yang jatuh, sampah-sampah organik sisa rumah tangga, serta kotoran hewan ternak merupakan sumber daya yang baik bagi pertumbuhan tanaman pekarangan. Sebaliknya, dedaunan dan rerumputan segar merupakan sumber daya yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Penopang ketahanan pangan

Sebagai lumbung pangan, pekarangan mempunyai peranan yang besar sebagai penopang ketahanan pangan. Masyarakat zaman dulu memanfaatkan pekarangan sebagai lumbung pangan dengan menanam umbi- umbian yang tahan bertahun-tahun dan adaptif dengan segala musim dan cuaca, semacam suweg, iles-iles, ketela, gadung, ganyong, jelarut (garut), dan sebagainya.

Tanaman jenis ini untuk dapat dipanen rata-rata memerlukan waktu yang cukup lama. Namun ketika tidak menginginkan memanennya, kita tetap dapat membiarkannya dalam tanah pekarangan. Pada musim penghujan, tanaman akan tumbuh dengan tunas-tunas baru, memunculkan tumbuhan baru, dan tentunya dengan pertumbuhan umbi yang semakin besar. Dan pada musim kemarau, daun-daun tanaman ini akan mengering. Namun, umbi tanaman tetap dalam kondisi "hidup" dan siap memunculkan tunas dan tumbuhan baru saat musim hujan tiba.

Jadi, berbagai jenis tanaman tersebut dapat dijadikan sumber pangan alternatif ketika paceklik, gagal panen, atau akibat sebuah kebijakan yang menyebabkan masyarakat kesulitan memperoleh bahan pangan pokok. Dengan kata lain, pekarangan mempunyai fungsi ekonomi yang cukup strategis yang hasilnya dapat dipanen sewaktu-waktu jika dibutuhkan, dan menjadi salah satu bentuk jaminan ketahanan pangan masyarakat pedesaan.

Sumber gizi

Di samping itu, di pekarangan dapat ditanami dengan aneka buah- buahan dan sayuran sebagai sumber gizi keluarga yang murah. Ironisnya, Tingkat konsumsi Indonesia yang kaya akan dua komoditas ini rata-rata baru mencapai 40 persen. Lebih ironis lagi, di desa-sebagai kawasan yang banyak memproduksi sayuran dan buah-buahan-tingkat konsumsi masyarakatnya terhadap komoditas ini masih sangat rendah bila dibandingkan dengan di kota.

Pada masyarakat pedesaan kita bisa mencermati bahwa mereka sepertinya hanya sebagai produsen komoditas ini, dan mereka belum mempunyai kesadaran penuh untuk menjadikan produknya sendiri sebagai sumber pangan dan gizi yang murah, terlepas dari masalah ekonomi mereka. Sebagian besar dari mereka mengonsumsi buah-buahan, tetapi itu jika ada sisa produk atau buah dengan kualitas jelek yang tak laku dijual. Seandainya mereka sendiri yang mengonsumsi produk- produk berkualitas, tentu akan meningkatkan kualitas pangan mereka.

Di dalam pekarangan juga dapat dipelihara hewan ternak kecil, seperti ikan, kelinci, ayam, dan sebagainya sebagai sumber protein hewani yang murah. Lagi-lagi diperlukan kesadaran penuh masyarakat, terutama di desa untuk dapat memanfaatkan hasil ternaknya sebagai sumber konsumsi protein hewani.

Sering kali ternak di masyarakat desa hanya dijadikan sebagai klangenan atau hanya sebagai tabungan dan dimanfaatkan ketika hari- hari besar atau ada hajatan tertentu, tidak dijadikan sumber pangan penopang gizi keluarga. Bila hal ini terjadi, tentu tak akan ada lagi berita-berita kasus kekurangan energi-protein (KEP) atau gizi buruk lainnya yang melanda penduduk di pelosok-pelosok desa kita.

Selanjutnya, pekarangan juga dapat dioptimalkan pemanfaatannya dengan tanaman apotek hidup atau tanaman obat keluarga (toga) yang memudahkan kita memperoleh obat alami. Tanaman obat sekaligus sebagai bumbu dapur sejenis empon-empon, semacam jahe, kencur, lengkuas, kunyit, juga tanaman sirih, cabe, kapulaga, dan sebagainya dapat menjadi pilihan. Manfaatnya bukan saja sebagai penghasil obat dan bumbu, melainkan juga akan memberikan suasana asri dan nilai estetika yang tak ternilai.

Sebenarnya budaya memanfaatkan pekarangan telah lama berakar, terutama pada masyarakat pedesaan. Meski demikian, perlu digalakkan kembali mengingat kondisi saat ini kurang mendapat perhatian. Menciptakan ketahanan pangan dan pemenuhan kebutuhan gizi tidak harus dengan biaya tinggi atau menunggu uluran tangan pemeritah dengan birokrasinya yang ruwet.

Cara murah dan mudah dapat dimulai dari lingkungan kita sendiri dengan memanfaatkan pekarangan. Jangan membiarkan sejengkal tanah pekarangan kita kosong. Mari kita memulai mengisi pekarangan dengan tanaman bermanfaat sekarang juga!

Dimuat di harian KOMPAS edisi Jabar, 3 Agustus 2006

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...