Minggu, 16 Juli 2006

Ketika Ustadz Abu Bakar Ba’asyir Pulang Kampung

“Ba’asyir Pulang Kampung”, begitu judul berita di koran lokal yang terbit di kampungku kemarin. Ba’asyir, salah seorang tokoh yang arek njombang ini, beberapa tahun terakhir ini menjadi buah bibir masyarakat internasional. Membuat beberapa pemimpin dunia tak bisa tidur nyenyak.

Setelah keluar menjalani tahanan di hotel prodeo Cipinang Jakarta akhir 14 Juni 2006 lalu, Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Ustadz Abu Bakar Ba’asyir ternyata rindu kampung halamannya di Desa Kademangan, Kecamatan Mojoagung, Jombang. Ya, kemarin pengasuh Ponpes Ngruki Sukoharjo, Jateng ini menyempatkan pulang ke kampung halamannya.

Kedatangan dia yang kelahiran Jombang 17 Agustus 1938 ini tak mendapat sambutan meriah dari kerabat dan tetangga sekitar. Beda jauh dengan tokoh-tokoh “nyenrik” lainnya asal Jombang, semisal Gus Dur, Cak Nur, Cak Nun atau bahkan Asmuni Srimulat, kalau “mudik” ke Jombang dijamin meriah, banyak yang “sowan”. Entah mengapa bisa begitu, mungkin Ustadz yang sudah kadung dicitrakan dengan BOM oleh orang-orang barat ini, terlalu lama tidak nyambangi kampung halamannya sendiri, sehingga masyarakat sekitarnya merasa asing dengannya. Entahlah!

Beritanya kemarin, Ustadz Baasyir tiba di kediaman orang tuanya —pasangan almarhum Abud Bin Ahmad Baasyir dan Halimah Binti Ahmad Bazargan— di Desa Kademangan pada sekitar pukul 15.15. Dia tak datang sendiri. Ada tujuh orang anggota MMI yang mengawalnya dengan dua mobil Mitsubishi Kuda. Masing-masing bernopol AD 9176 JA dan AD 8759 SA. Baasyir menceritakan bahwa dia terakhir kali berkunjung ke rumah keluarga pada sekitar tahun 1980 sejak dia memboyong ibunya ke Solo. Namun katanya, semasa menjadi santri di Ponpes Gontor dan Al Irsyad pada sekitar tahun 1960-an dia setiap tahun pulang ke Mojoagung.

Setelah menyelesaikan pendidikan di SMPN 1 Jombang pada tahun 1955, dia melanjutkan studi ke SMA di Surabaya. Karena keluarganya tak mampu, akhirnya drop out dari sekolah. Pada tahun 1958 hingga tahun 1963, dia bekerja pada perusahaan pemintalan sarung milik saudaranya di Desa Kademangan.

Anganku, bisa nggak ya kira-kira orang-orang Jombang yang lagi “mengguncang dunia” seperti Ustad Ba’asyir, Gus Dur, Cak Nur, Asmuni Srimulat pulang kampung ke Jombang melakukan Kenduri Cinta, Maiyahan atau ­leyeh-leyeh Padhangmbulan-an, yang moderatornya, siapa lagi kalau bukan tokoh mbeling Jombang lainnya, Cak Nun. Sepertinya seru!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...