Kamis, 30 Maret 2006

Pertanian Berbasis Sumber Daya Lokal

DI samping akibat ulah spekulan melakukan penimbunan, kelangkaan dan mahalnya harga pupuk juga diakibatkan bahan baku yang masih harus diimpor. Hal ini sangat riskan. Kita akan mudah dipermainkan karena ketergantungan pada pasar internasional (impor).

Jika kelangkaan pupuk dengan harga yang melangit terus terjadi, petani akan bermuram durja setiap menghadapi masa pemupukan. Hal ini sangat mengkhawatirkan karena sering terjadi di banyak daerah di Jawa Timur. Apalagi daerah ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional.

Lalu bagaimana menyikapinya? Kalau persoalan bahan baku pupuk yang sebagian besar masih diimpor menjadi penyebab naiknya harga pupuk, sudah sepatutnya beralih pada kebijakan penggunaan input produksi alternatif yang bahan bakunya tersedia secara lokal. Sistem pertanian lama pun dapat kita adopsi kembali meskipun di satu sisi "untuk sementara" tidak memberikan nilai ideal. Setidaknya cara ini memberikan harapan berkelanjutan dalam jangka panjang. Misalnya, bertani dengan menggunakan pupuk kandang dan kompos untuk menyuburkan lahan marjinal, selain itu menggunakan teknologi fermentasi untuk mempercepat proses pembusukan bahan-bahan organik.

Kita sering melihat di pinggir jalan di area pertanian, sehabis panen jerami padi dibakar begitu saja dan menjadi polutan di udara tanpa ada pemanfaatan yang lebih. Padahal, jerami padi dengan sedikit sentuhan sangat bermanfaat baik untuk pakan ternak maupun penyubur tanaman. Ajaran kakek moyang kita dengan memanfaatkan jerami yang dimasukkan ke dalam lumpur sawah sepertinya sudah kita lupakan. Sedikit merepotkan memang, tetapi inilah salah satu bentuk kearifan dan kemandiran kakek moyang kita dalam bertani.

Contoh lain yang dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki kesuburan tanah adalah ampas tebu. Ampas tebu atau sering disebut bagase ini merupakan limbah padat hasil samping dari pabrik gula yang memiliki potensi cukup besar sebagai bahan organik untuk memperbaiki kesuburan tanah. Apalagi di Jatim banyak pabrik gula beroperasi.

Begitu juga pestisida dapat diperoleh dari bahan-bahan yang didegradasikan dari alam sekitar. Selain ramah lingkungan dan kesehatan, biayanya murah dan teknologinya pun tidak terlalu menjelimet bagi petani. Teknologi seperti inilah yang harusnya kita serap dan sosialisasikan kepada petani, sekaligus mengubah paradigma berpikir bahwa pertanian tidak harus bergantung pada industri besar sebagai penyuplai input pertanian.

Secara ekonomis, alternatif sistem usaha tani ini cukup menguntungkan karena bisa menghemat biaya produksi. Filosofinya, usaha tani tidak lagi mengeksploitasi sumber daya alam, tetapi justru mengoptimalkan potensi sumber daya alam. Tanah tidak lagi dipaksa menjadi media miskin unsur hara akibat pemberian "makanan instan" atau pupuk sintetis, melainkan diolah dan dijaga dengan memberi nutrisi dari bahan alami yang tersedia di sekitar kita.

Usaha memperkenalkan pertanian berbasis sumber daya lokal sebenarnya bisa dikategorikan sebagai bagian dari perjuangan melawan sistem pertanian totaliter, yang tidak mandiri. Suatu sistem yang memonopoli pengontrolan seluruh mata rantai pertanian dan menghancurkan kreativitas petani serta mengabaikan kearifan alam. Dengan cara ini, petani akan lepas dari keterkungkungan program yang "menjajah", semacam revolusi hijau yang memang mampu melipatgandakan hasil pertanian tetapi di sisi lain justru makin memarjinalkan harkat dan martabat para petani miskin.

James Scott membuktikan, intensifikasi pertanian, penggunaan sarana produksi unggul, dan mekanisasi pertanian makin memperbesar jurang pemisah antara petani kaya dan miskin dengan menghilangkan pendapatan petani kecil serta buruh tani hingga dua pertiganya.

Apa yang ditulis Scott semakin hari semakin terbukti. Revolusi hijau justru makin membuat petani tergantung, apalagi setelah teknologi dikuasai perusahaan besar. Vandana Shiva menyebutkan, revolusi hijau tidak hanya membunuh petani, tetapi juga merusak lingkungan dan memperbesar ketergantungan negara berkembang pada negara maju.

Petani yang dahulu merdeka dengan memakai bibit sendiri, mendaur ulang kotoran ternak untuk pupuk, dan memanfaatkan yang ada di alam dalam pengendalian hama, kini tidak bisa lagi menjalankan usaha taninya bila tidak bisa membeli bibit, serta tidak ada pupuk kimia sintetis ataupun pestisida. Harga benih, pupuk, ataupun pestisida yang terus membubung, sementara harga hasil produksi pertanian relatif tetap, membuat kehidupan petani semakin terpuruk.

Kesadaran petani terhadap pentingnya pertanian ramah lingkungan dan berbudaya harus terus dirangsang. Petani diarahkan untuk mengubah pola pertanian dengan memanfaatkan bahan alami yang dianggap sebagai limbah yang tersedia melimpah di sekitarnya sehingga dapat mengurangi tingkat ketergantungan pada bahan sintetis.

Artikel ini di muat di harian KOMPAS edisi Jatim, Rabu, 15 Maret 2006.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...