Senin, 01 Februari 2016

Cerita Senja di Jombang Tenggara

ENTAH mengapa setiap bertemu senja saya selalu dibuat terkesima. Dengan lukisan yang indah dan selalu berbeda, seringkali menghadirkan ketakjuban-ketakjuban yang luar biasa. Tak jarang pula senja juga menghadirkan cerita-cerita bahagia maupun duka nestapa dibaliknya. Ada cerita tentang makhluk-makhluk halus yang keluar di kala senja untuk menggoda manusia, atau drakula yang mulai keluar mencari mangsa. Cerita senja seperti  ini jelas membuat merinding dan ketakutan-ketakutan yang luar biasa. Namun, bukan senja itu yang hendak saya tangkap dan ungkap kali ini.

Ada senja lain, ada senja yang dibalik kesaduhannya bisa menghadirkan keteduhan sekaligus menghadirkan kegaduhan dalam kehidupan.


Ini adalah senja di masa pancaroba, akhir musim kemarau, awal musim penghujan. Hujan belum begitu intensif jatuhnya, namun cukup membuat suasana teduh. Dedaunan juga mulai terlihat segar menghijau, pori-porinya lebih terbuka dan leluasa berfotosintesis setelah diguyur hujan. Sempurna menangkap energi matahari dan menyebar ke seluruh bagiannya. Juga semakin serakah menangkap gas CO2 dan melepas O2. Manusia dimanjakan dengan udara bersih dan kaya akan O2 yang dihasilkannya.


Senja di awal ramadhan. Senja disela-sela ranting pohon cengkeh. Ini mengingatkan akan kegaduhan ekonomi desa pada masa orde baru. Sebuah kebijakan monopsoni telah meluluhlantakan perekonomian. Harga komoditas cengkeh yang tinggi tiba-tiba terjun bebas ketika ada BPPC. Secara teori ekonomi, kebijakan ini bagus, tapi entah mengapa menjadi macan ompong di lapangan. Para petani di desa tak punya hak, tak punya kemerdekaan untuk bisa menjual produk yang dihasilkannya sendiri. Semuanya wajib menjual di wilayah sendiri atau ke KUD yang ditunjuk pemerintah. Jika berani, maka pemeriksaan oleh aparat di jalan-jalan perbatasan harus dihadapi.


Senja di bawah pohon durian. Tak ada yang romantis, bahkan cenderung mistis. Pohon-pohon durian yang kokoh dan perkasa dengan kerindangannya seringkali membuat riang jika berbuat lebat. Tetapi hanya sekelebat untuk menikmatinya. Selebihnya orang-orang kota yang menikmati. Kami hanya penanam dan menjual buah-buah berkualitas untuk suguhan mereka yang berlimpah uang. Bagi kami, buah-buahan yang kaya akan vitamin dan mineral itu nomor kesekian, yang terpenting adalah bagaimana kami bisa membeli makanan pokok untuk mengganjal perut-perut kami.

Begitulah senja. Senja di Jombang bagian tenggara pada suatu ketika!

1 komentar:

  1. wah akhirnya ketemu blogger dari kota santri :)
    salam kenal mas yo?:)

    BalasHapus

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...