Selasa, 19 Januari 2016

Poligami dalam Ilmu Ekonomi

GEGARA beberapa tulisan sebelumnya yang mengaitkan ilmu ekonomi dengan hal-hal di luar ekonomi, seperti tulisan "Jomblo dan Kegagalan Pasar", "Fluktuasi Ekonomi dan Fluktuasi Hati", dan lainnya, saya "diserang" dengan beberapa pertanyaan sejenis oleh beberapa kawan. Padahal tulisan itu hanya untuk fun-fun saja, tulisan yang tidak ilmiah. Kalau sesuai dengan teori ekonomi, itu hanya suatu kebetulan belaka. Dan yang terakhir ini ada pertanyaan yang tak kalah rumit. Bisakah perilaku poligami itu dianalisis dengan ilmu ekonomi?

Setelah dipikir-pikir dan dikaitkan dengan ilmu ekonomi, perilaku poligami bisa dianalisis dengan ilmu ekonomi. Sebelumnya saya jadi teringat tulisan sebelumnya “Perilaku Konsumen Pendekatan Kardinal” yang mengulas secara remeh temeh dan sangat sederhana bagaimana perilaku masyarakat (konsumen) sesungguhnya dalam kehidupan sehari-hari. Nah, atas dasar pendekatan itu perilaku poligami tak jah berbeda denga perilaku konsumen secara umum ketika mengonsumsi sesuatu barang atau jasa. Ada kepuasan yang di dapat, ada titik jenuhnya (saturation point) atau klimaksnya, dan ada juga kerugiannya atau anti klimaksnya.

Pendekatan yang bisa digunakan untuk menganalisis perilaku poligami adalah sama dengan pendekatan perilaku konsumen, yaitu pendekatan kardinal, sebuah pendekatan yang berangkat dari anggapan bahwa kepuasan setiap konsumen bisa diukur dengan satuan  uang atau satuan lain (utilitas yang bersifat kardinal). Dari sini kita akan menhetahui berapa utilitasnya, total utilitasnya, dan marjinal utilitasnya akibat dari berpoligami.

Tentu saja tak boleh diabaikan adalah bahwa dalam perilaku poligami juga berlaku hukum Gossen yang mengatakan bahwa the law of diminishing marginal utility, semakin banyak suatu barang dikonsumsi (semakin banyak pasangan atau istri yang dimiliki) maka tambahan kepuasan atau marjinal utilitas yang diperoleh dari setiap tambahan pasangan yang dimiliki akan menurun.

Sementara itu poligamer (sebutan saya untuk pelaku poligami) akan mencapai total utilitas yang maksimal pada saat menambah pasangan dimana pengorbanan (finansial, moral, dan sebagainya) untuk menambah pasangan terakhir adalah sama dengan kepuasan tambahan yang didapat dari pasangan terakhir tersebut.
Untuk mempermudah bahasan ini, kita kembali ke contoh seperti pada tulisan sebelumnya yaitu seseorang mengonsumsi minuman sebanyak 5 gelas. Nah, kalau dalam tulisan ini memiliki pasangan itu kita ibaratkan dengan mengonsumsi minuman dalam gelas. Pada setiap gelas yang diminum tentunya akan memberikan tingkat kepuasan yang berbeda-beda. Ini tak jauh beda dengan memiliki pasangan yang tentu akan memberi nilai guna atau utilitas yang berbeda-beda pada setiap pasangan. Dalam pendekatan kardinal, maka pasangan pertama yang dimiliki akan memberikan nilai guna atau kepuasan yang lebih tinggi dari pada pasangan berikutnya (asumsi dan syarat ketentuan berlaku). Dengan kata lain kepuasan yang diberikan dari pasangan-pasangan berikutnya akan menurun. Sampai batas tertentu total kepuasan akan berada pada titik maksimum (titik jenuh, titik puncak atauk klimaksnya) yang setelahnya akan mengalami penurunan atau anti klimaksnya.

Sama halnya contoh dalam tulisan sebelumnya, dari uraian tersebut bisa kita buat tabel dan kurva seperti di bawah ini:


Dari tabel dan kurva tersebut juga terlihat bahwa marjinal utilitas, pada pasangan pertama (istri pertama) akan memberikan nilai guna yang paling tinggi (MUx sebesar 9) kemudian terus mengalami penurunan angka 4, 2, 0 dan sampai angka -3. Itu artinya bahwa istri pertama (I-1) memang memberikan kepuasan yang tinggi. Penambahan pasangan ke dua sampai ke empat tetap memberikan kepuasan meskipun nilai semakin kecil. Sementara pada pasangan ke 5 justru nilainya -3, yang ini berarti bahwa penambahan pasangan ke 5 justru akan mengakibatkan kerugian atau tidak ada utilitasnya lagi. Jadi sesungguhnya pada pasangan ke empatlah pelaku poligami memperoleh kepuasan atau tingkat utilitas yang paling banyak (TUx sebesar 15 dengan MUx sebesar 0) atau maksimal lelaki bisa memiliki pasangan. Pada pasangan kelima, yang terjadi adalah bahwa usaha atau pengorbanan dalam menambah jumlah pasangan tidak memberikan tambahan nilai guna bahkan menimbulkan kerugian. Itu mungkin yang menjadi alasan secara agama kelonggaran pada lelaki untuk memiliki maksimal 4 pasang (tentu dengan rukun-syaratnya yang terpenuhi).

Demikianlah secara singkat uraian sederhana untuk menganalisis perilaku poligami dalam ilmu ekonomi dengan pendekatan nilai guna atau kardinal. Tak perlu dipahami serius. Ini (kata orang Jawa) semacam ilmu otak-atik gathuk. Semoga (tidak) bermanfaat!

2 komentar:

  1. haha..ciye ciye ketua dewan pembina hiz** tahlilan endonesia rek....analisa poligami...wkwkwk, mas mau nanya, klo misalkan hukum Gossen ini dianggap sebagai filosofi instrumen riset, dan diekspresikan kurva kayak diatas, dibuat riset beneran...apa bisa bener nyambung ya klo utk riset poligami, kan obyeknya manusia, mahluk hidup...dinamis, klo konsumsi minuman atau makanan kan benda mati...statis, ..suwun, salam ngeludruk :D

    BalasHapus

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...