Minggu, 06 Desember 2015

Ilmu Ekonomi dan Perselingkuhan yang (Tidak) Memuaskan

DALAM kajian ilmu ekonomi, salah satu pembahasannya adalah tentang teori permainan atau game theory, yaitu suatu teknik matematika yang dikembangkan untuk mempelajari bagaimana terjadinya persaingan antara dua perusahaan atau lebih. Secara umum kalau kita lihat memang akti vitas suatu perusahaan tidak bisa dilepaskan dari aktivitas perusahaan lain, apalagi jika perusahaan itu menghasilkan produk yang (hampir) sama. 

Perusahaan-perusahaan yang menghasilkan produk yang sama sudah pasti akan saling “melirik” dapur manajemen perusahaan masing-masing. Bisa saja perusahaan itu saling melirik masalah periklanannya, cara iklannya, biaya iklannya, penetapan harga produknya, atau berapa besar produksi yang dihasilkan. Dengan mengetahui dapur perusahaan lain, maka suatu perusahaan akan lebih mudah menerapkan strategi yang paling menguntungkan atau memberi tingkat utilitas (kepuasan) yang paling tinggi.

Secara umum game theory melibatkan 2 orang (pihak/perusahaan) atau lebih, ada strategi, dan ada imbalan atau payoffs. Game theory lebih sering diaplikasikan pada struktur pasar oligopoli (model kartel) ataupun duopoli (model cournot). Model kartel adalah model penetapan harga dimana perusahaan-perusahaan saling berkoordinasi sehingga bertindak sebagai perusahaan monopoli. Sementara model cournot adalah model duopoli dimana setiap peruhaan berasumsi bahwa output perusahaan yang lain tetap, jika perusahaannya mengubah tingkat outputnya.

Misalnya ada dua perusahaan dengan asumsi mempunyai skala produksi yang sama dan semua komponen biaya tetap maupun biaya variabel juga dianggap sama. Kemudian dua perusahaan ini “mengikatkan diri” dalam sebuah perjanjian atau komitmen untuk menjaga jumlah produksi sehingga produk di pasaran tidak melimpah yang berakibat harga yang tetap tinggi dan stabil.


Jika kedua perusahaan tetap menjaga jumlah produksi maka kedua perusahaan akan mendapat imbalan atau kepuasan (utilitas) yang sama dan paling tinggi yaitu 15 dan 15. Secara total imbalan atau utilitas kedua perusahaan sebesar 30. Namun apa yang terjadi jika salah satu perusahaan “mengingkari” perjanjian, dengan kata lain menambah jumlah produksi? Misalnya perusahaan A menambah produksi, maka pasokan produk di pasaran akan melimpah dan harga juga akan turun (ceteris paribus, faktor lain danggap tetap).

Namun demikian, perusahaan A masih memiliki imbalan yang lebih tinggi karena mampu memproduksi dan menjual lebih banyak dibanding dengan perusahaan B  (10, 5). Hal ini sama yang terjadi jika perusahaan B melakukan ingkar janji sementara perusahaan A tetap menjaga komitmen. Strategi “ingkar janji” seperti ini setidaknya memang menguntungkan salah satu perusahaan, setidaknya dalam jangka pendek atau selama perusahaan lain tidak mengetahuinya. Jika perusahaan lain tahu, pasti akan melakukan hal sama, yaitu melakukan perlawanan dengan menambah jumlah produksi, meskipun pada akhirnya keduanya mengalami penurunan imbalan. Jadi keseimbangan yang terbaik adalah tetap menjaga perjanjian atau komitmen awal, yaitu menjaga jumlah produksi seperti kesepakatan.

Selingkuhnomics

Lalu apa kaitannya dengan perselingkuhan? Tak jauh beda dengan contoh dua perusahaan di atas. Misalnya ada sepasang suami-istri yang telah komitmen dengan pernikahannya alias tidak selingkuh, maka mereka akan memperoleh imbalan (payoff) atau tingkat kepuasan (utilitas) yang sangat tinggi (ceteris paribus, faktor lain dianggap tidak berpengaruh). Kedua pihak akan mendapatkan utilitas yang paling optimal, yaitu15 dan 15, atau total utilitasnya 30.


Tetapi apa yang terjadi jika salah satu pihak, misal suami melanggar komitmen, atau melakukan perselingkuhan, sementara istri tidak selingkuh? Maka yang terjadi adalah imbalan atau total utilitas atau kepuasan menurun menjadi 15. Namun demikian, suami masih mendapatkan imbalan atau utilitas yang lebih tinggi dibanding istrinya (10 dibanding 5). Begitu juga sebaliknya, jika istri melakukan perselingkuhan sementara suami tetap menjaga komitmennya.

Sama halnya dengan contoh kasus perusahaan di atas, perselingkuhan hanya akan memberi imbalan atau tingkat kepuasan dalam jangka pendek, atau selama salah satu pihak tidak mengetahuinya. Namun dalam jangka panjang, seperti kata pepatah: “sepandai-pandainya menyimpan bangkai, pasti akan tercium baunya”, perselingkuhan pasti akan diketahui. Jika salah satu tahu, maka pilihan yang rasional (terlepas urusan dosa dan moral) bagi pasangan yang dikianati adalah berselingkuh juga, atau menerapkan strategi yang sama dengan contoh perusahaan di atas. Hasilnya memang keduanya mendapatkan kepuasan, tetapi tingkat utilitasnya sangat rendah, hanya 5 dan 5. Bahkan pada suatu saat keduanya akan mengalami penurunan imbalan atau tingkat kepuasannya dan yang lebih parah akan mengalami kerugian dan kehancuran.

Lalu dimana keseimbangan yang terbaik? yang terbaik dalam kasus seperti ini adalah tetap menjaga perjanjian atau komitmen awal, yaitu tetap menjaga komitmen pernikahan alias tidak selingkuh diantara kedua belah pihak.

1 komentar:

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...