Rabu, 30 Desember 2015

Dari Balik Secangkir Kopi Memandang Dunia

sumber: kopikopian.com
"Betapa nikmatnya rasa kopi, lebih nikmat dari seribu ciuman, lebih manis dari anggur yang paling manis”.

BEGITULAH saya memulai tulisan ini dengan kalimat yang entah dari mana awal mula kalimat itu saya dapatkan. Sebagai penikmat kopi, tentu saya sangat menyukai ungkapan tersebut sekaligus sebagai justifikasi bahwa kopi itu memang nikmat dan layak untuk dinikmati semua orang. Dengan tulisan ini pula, saya pun jadi terbawa ke memori masa silam, masa anak-anak, dimana saya sudah mengenal dan menyeruput kopi. 

Betapa tidak, sejak usia sebelum sekolah dasar saya sudah terbiasa menyesap kopi yang saya “curi” dari cangkir ukuran jumbo, --di kampung saya disebut “mug” dengan kapasitas hampir setengah liter--, yang setiap pagi, siang dan sore hari dibuat nenek buat kakek saya. Nasehat nenek dan orang tua saya bahwa anak kecil jika minum kopi penglihatannya akan kabur dan remang-remang tak pernah saya hiraukan. Justru pandangan saya menjadi kabur kalau pagi hari tidak nyeruput kopi.

Minum dan menikmati kopi di keluarga memang sudah menjadi “tradisi wajib”. Bukan karena ikut-ikutan gaya hidup atau semacamnya, tetapi secara lingkungan geografis, tempat kami memang sebagai penghasil kopi yang mempunyai sejarah cukup panjang. Berada di lereng Pegunungan Anjasmoro, dengan ketinggian berkisar 500-1000 meter dari permukaan laut, menjadikan kawasan di perkampungan saya cocok ditanami berbagai jenis kopi. Sejak sekitar sebelum tahun 1900-an, kolonial Belanda telah membangun perkebunan kopi di kampung saya. Bahkan kebun-kebun kopi itu pada tahun 1861 pernah dikunjungi oleh seorang naturalis asal British, Alfred Russel Wallace, yang juga menciptakan sebuah garis imajiner sebagai batas pemisah fauna dan dikenal sebagai Garis Wallacea. Hal ini seperti yang tertuang dalam Java a Traveler’s Anthology dan disebutkan dalam The Malay Archipelago, merupakan salah satu buku perjalanan ilmiah terbaik pada abad ke-19. Bahkan saya sendiri sempat mendokumentasikan dengan membuat tulisan dan dipublikasikan oleh Harian Surya lima tahun yang lalu tentang perjalanan Wallace di Jombang ini. Menariknya, untuk membuat tulisan itu, yang panjangnya cuma sekitar 800 kata, ternyata saya butuh waktu lebih dari 2 bulan sebelum saya publikasikan. Demi referensi dan informasi detail, saya terpaksa pulang kampung dan blusukan (lagi) ke kebun-kebun kopi masyarakat di kampung halaman.

Selanjutnya dalam menikmati kopi, sebelum saya mengenal kopi instan, saya biasa menyesap kopi murni, kopi 100 % dengan butiran agak kasar, atau biasa disebut kopi tubruk. Kopi-kopi yang saya minum merupakan kopi hasil pertanian kampung sendiri, yang telah disimpan beberapa tahun sebelum diolah dan siap dikonsumsi. Bukan kopi yang panen tahun ini kemudian di konsumsi tahun ini juga. Orang-orang kampung biasa menyimpan kopi bertahun-tahun setelah dipanen. Ini dilakukan untuk mencipta rasa yang lebih kuat sekaligus menurunkan kadar asam yang kurang ramah pada lambung. Secara ekonomi, penyimpanan ini juga merupakan cara menabung warga kampung dan untuk menunggu harga yang lebih baik sebelum dilepas ke pasar.

Bahkan saya mempunyai racikan khusus dalam membuat kopi sehingga bisa memberikan “dopping” ketika tubuh mulai suntuk dengan rutinitas. Ini saya lakukan terutama ketika jaman “ngampus” di Bogor. Seringkali saya bergadang menghadapi aneka jurnal dan angka-angka yang memusingkan. Biasanya saya membuat racikan kopi murni yang saya bawa dari kampung halaman ditambah dengan jahe, susu full cream, jahe, dan madu. Gula saya tiadakan karena manisnya dapat diperoleh dari susu full cream dan madu. Racikan kopi ini ternyata ampuh menjadi senjata saya untuk menghadapi dan mantengin aneka jurnal maupun angka-angka.

Sampai saat inipun saya masih aktif menjadi penikmat kopi, 2-3 cangkir sehari telah menjadi takaran reguler. Jenis kopi yang saya nikmati pun beragam, karena lidah saya wellcome untuk semua jenis kopi, baik yang tradisional buatan ala kampung, yang instan sachetan, maupun kopi yang dihidangkan ala cafe-cafe modern. Namun demikian, untuk jenis kopi sachet, saya lebih tertarik pada jenis kopi yang minim bahan tambahan atau pun perisa. 

Sementara itu, masih produk kopi instan, varian classic dan cappuccino masih menjadi favorit. Varian ini, terutama capuccino, menjadi favorit saya karena rasanya memang cocok untuk segala suasana dan cuaca. Bisa dinikmati sebelum dan sesudah makan (besar) maupun ditengah-tengah aktivitas sehari-hari. Sensasi cappuccino yang mewah serasa menghadirkan café di rumah dan di setiap kesempatan. Ditambah lagi dengan busa yang ditimbulkan mampu meng-koreografikan indera pengecap saya dan menghadirkan butiran-butiran rasa dan aroma yang eksotis dan romantis.

Dan seiring dengan berjalannya waktu, bahwa minum kopi itu ternyata memberikan pengalamam personal dan pengalaman bathin tersendiri. Bagi saya, menyeruput secangkir kopi tak sekadar menikmati rasa pahit dan kafeinnya untuk mengusir rasa kantuk maupun sakit kepala. Lebih dari itu, dari balik secangkir kopi itu, ternyata ada sejuta rasa yang wajib dirasai. Dari balik secangkir kopi kita bisa memandang dunia, bahkan bisa menghadirkan “dunia lain”.

Dari balik secangkir kopi ada inspirasi, ada pertarungan emosi dan gengsi yang teraduk-aduk, ada beribu tanya dan keheranan yang berkecamuk. Ada sejarah panjang penemuannya sekitar abad kelima yang dimulai dengan seekor domba bertingkah-polah aneh setelah memakan buah yang awalnya belum diketahui yang kemudian membuat penasaran sang penggembala untuk ikut mencicipinya dan setelah itu memperoleh perasaan atau sensasi yang berbeda.

Dari balik secangkir kopi kita juga bisa memetakan sejarah perjalanan kopi menuju penjuru dunia yang seringkali dipenuhi dengan intrik dan kepentingan tertentu hingga menimbulkan imperialisme. Dibalik secangkir kopi ada pertarungan ekonomi antar perusahaan kopi dari perusahaan kelas gurem sampai perusahaan multinasional, dari kelas warung pinggir jalan sampai cafe-cafe eksklusif. Bahkan, dari balik secangkir kopi ada prostitusi beraroma kopi yang semerbak, menyeruak di beberapa kota di Indonesia!

Dan yang tak kalah pentingnya, dibalik secangkir kopi ada jutaan petani kopi yang menggantungkan nasibnya pada cangkir-cangkir kopi yang ada dihadapan kita. Pernahkah kita peduli atau setidaknya mengingat dan membayangkan para petani kopi ketika menyeruput secangkir kopi? Pernahkah membayangkan bagaimana kopi itu diproduksi dan diproses hingga hadir di hadapan kita? Pernahkan kita membayangkan bagaimana struktur pasar kopi dari tingkat petani sampai penjual besar ataupun eksportir? Pernahkan kita membayangkan struktur pasar produk kopi yang dihasilkan pabrik-pabrik pengolah kopi hingga siap saji dihadapan kita? Pernahkah kita berempati pada petani ketika harga-harga kopi petani jatuh hingga terkadang biaya produksi, bahkan sekadar biaya petik lebih mahal dari harga produknya?

Begitulah kopi bisa menghadirkan pengalaman bathin individu yang menikmatinya. Dari balik secangkir kopi saya pernah merasakan bagaimana nasib petani kopi di kampung halaman saya pada pertengahan tahun 1990-an atau sebelum krisis moneter pada akhir 1997, harga kopi pernah jatuh di bawah angka Rp. 2000,-. Padahal BEP yang bisa menguntungkan petani berkisar pada Rp. 5000,-. Kala itu petani di kampung benar-benar terpurik. Untuk ongkos petik pun sampai tak tertutupi, sehingga banyak petani yang menjual dengan cara tebasan (jual di pohon) atau mempekerjakan pemetik kopi dengan sistem bagi hasil. Jadi para pemetik dibayar dengan sejumlah kopi yang mampu dipetik, umumnya sistem paron (fifty-fifty). Ini dilakukan guna menjaga tanaman kopi tetap bisa berbunga pada musim berikutnya, karena jika biji kopi tidak dipetik ketika masanya panen, maka tanaman kopi akan rusak dan/atau tak mau berbunga.

Begitulah, sekali lagi kopi memang tak sekadar kafein dan rasa pahit, namun bisa menghadirkan pengalaman batin yang sifatnya sangat personal. Dari balik secangkir kopi bisa memandang dunia. Dan yang menarik akhir-akhir ini dan layak dicermati adalah "perang" iklan kopi (instan) di media massa. Sungguh menyaksikan "perang" iklan itu, sepertinya sebagai konsumen kita diuntungkan. Selebihnya kehadirian kopi instan juga mendorong pertumbuhan warung-warung kopi (pinggiran), yang mengandalkan "bahan baku" dari kopi instan. Mungkin perlu penelitian untuk melihat ini, bahkan mungkin perlu kajian lain, jangan-jangan kopi-kopi instan ini sedikit-banyak  "merontokan" eksklusivitas cafe-cafe modern. Betapa tidak, melihat varian kopi instan selama ini, ada beberapa variannya yang mirip hidangan cafe, namun dengan harga yang beberapa ribuan saja. Begitulah. Mari ngopi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...