Sabtu, 19 Desember 2015

Cara Mudah Menabung Air

Sumber: greeners.com
BANYAKNYA daerah yang dilanda kekeringan beberapa waktu yang lalu sungguh sangat memprihatinkan. Jangankan untuk kebutuhan tanaman pertanian, untuk kebutuhan mendasar sehari-hari saja, seperti mencuci, mandi, dan minum, banyak masyarakat yang kesulitan mendapatkan.  Hal ini terjadi karena tak lepas dari ulah manusia sendiri yang mengabaikan kelestarian alam, terutama dalam “menjaga” air.

Kondisi sebaliknya, yang terjadi di musim penghujan adalah air berlimpah ruah sampai seringkali menimbulkan banjir dan tanah longsor. Hal ini tentu tak terlepas dari ulah manusia yang tidak taat hukum alam, atau tidak serius bersahabat dengan alam. Penebangan pohon yang serampangan dan penggundulan hutan adalah perilaku yang paling sadis dan masif dilakukan oleh manusia saat ini.

Oleh karena itu kita harus menjaga stabilitas keberadaan air ini. Kita harus mampu menjaga deposit air dengan cara “menabung”-nya, terutama ketika musim penghujan seperti saat ini. Ada beberapa cara mudah menabung air yang bisa kita lakukan, diantaranya:

Pertama, Membuat Lubang Biopori. Cara membuat lubang biopori itu cukup mudah. Peralatan yang digunakan juga mudah didapat dan dioperasikan. Banyak dijual di toko-toko alat pertanian, baik yang manual maupung menggunakan mesin. Untuk ukiran rumah tangga disarankan memakai yang manual. Selain murah harganya, ada yang kurang dari 200.000 rupiah, juga mudah pengoperasiannya. Lubang biopori dibuat sedalam satu meter kemudian di sekitar permukaan lubang dapat diperkuat dengan semen atau pipa paralon. Sementara diatasnya bisa diberi penutup yang memppunyai lubang semacam saringan (bisa beli atau buat sendiri). Tutup ini harus mudah dibuka dan ditutup. 

Lubang Biopori (Sumber: duniabatas.com)

Pada lubang biopori ini, setiap hari bisa diisi dengan sampah-sampah organik, terutama sampah dapur. Tujuannya selain untuk mengomposkan sampah, juga untuk mengundang cacing-cacing tanah. Dengan “kehadiran” cacing tanah ini, selain menyuburkan tanah juga cacing-cacin akan bekerja membuat “terowongan-terowongan bawah tanah. Dengan demikian air hujan akan mudah menyerap ke dalam tanah melalui lubang biopori dan lubang-lubang sekitar biopori. 

Kedua, Membuat Sumur Resapan. Umumnya sumur resapan dibuat dengan ukuran 1x1x1 meter, panjang lebar dan kedalamnya. Namun ini bisa menyesuaikan, bisa lebih besar lagi. Penguatnya bisa dibuat dinding semen atau bisa juga membuat sumur resapan bulat yang menggunakan semacam gorong-gorong namun dipasang vertikal di dalam tanah. Di atasnya harus diberi penutup yang kuat. Sementara di dalamnya di beri lapisan batu kerikil, ijuk, atau sabut kelapa. Sementara air yang dimasukan didalam sumur ini diusahakan limpasan air hujan dari genting atau talang. Selain airnya relatif masih jernih juga untuk menjaga agar sumur tidak mengalami sedimentasi atau penyumpatan material.

Ketiga, Membuat Lubang Berkah. Lubang berkah ini tak jauh beda dengan sumur resapan namun biasa dibuat agak jauh dari rumah, semisal di pekarangan atau kebun dan ladang. Di kampung saya biasa disebut jublangan dan biasa dibuat di pekarangan atau kebun-kebung dengan jumlah yang sangat banyak. Lubang berkah ini selain berfungsi seperti sumur resapan juga berfungsi sebagai penampung sampah-sampah organik. Ketika sampah sudah penuh maka lubang ditutup dengan tanah kemudian membuat lagi di sekitarnya. Berikutnya sampah yang telah ditutup bisa digali lagi dan bisa dimanfaatkan sebagai pupuk kompos. Untuk lubang berkah tidak perlu penguat dan penutup seperti sumur resapan. Cukup menggali tanah dengan ukuran sesuai kemampuan.

Keempat, Menanam. Cara ke empat ini merupakan cara yang paling menguntungkan. Tanaman (besar-kecil) sangat baik untuk menahan dan menyimpan air. Tanaman dengan perakarannya mampu menjadi “perajut” lahan sehingga bisa  mencegah terjadinya erosi dan tanah longsor. Di samping itu tanaman juga mampu “memurnikan” udara atau sebagai penyerap karbon dan penghasil oksigen. Sementara secara ekonomi tanaman yang mempunyai nilai ekonomi tinggi, seperti tanaman kemiri, sengon, mahoni, gaharu, jati, dan bambu. Bahkan rumpun bambu selian mempunyai nilai ekonomi tinggi juga mampu menahan dan menyimpan air hujan hampir 80 persen. 

Menabung Pohon, Memanen Air (Dok. Pribadi)
Demikianlah cara mudah menabung air. Lalu cara mana yang terbaik? Yang terbaik adalah kita lakukan salah satu diantara empat cara itu atau kalau bisa mengombinasikan dari semua cara itu. Hasilnya ke depan, semoga di musim hujan seperti saat ini tidak sampai kebanjiran dan di musim kemarau nanti tidak sampai kekeringan. Semoga saja!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...