Sabtu, 31 Oktober 2015

Ludruk Kartolo yang Melegenda

MENDENGARKAN Ludruk Kartolo? Ya, beberapa waktu yang lalu iseng-iseng di tengah malam saya mengaktifkan radio di handphone. Setelah secara acak mencari frekwensi radio yang paling “bening”, munculah suara dari salah satu stasiun radio FM di Jombang yang dengan jernih menyiarkan acara Ludruk Kartolo. Saya pun mengikuti acara ini sambil “ngalong” di depan komputer. Sesungguhnya saya juga menyimpan sekitar 70 judul Ludruk Kartolo dalam format MP3. Namun, entah mengapa malam itu saya tertarik mendengar suara khas Kartolo cs. dari radio. Dibenak saya, ternyata Ludruk Kartolo masih ada yang mengapresiasi dan sangat melegenda. Pun demikian beberapa waktu sebelumnya saya juga sempat mendengar siaran Ludruk Kartolo di salah satu radio FM di Kota Malang. 

Ini jadi mengingatkan saya di masa kecil. Sebagai orang desa dan terutama sebagai orang Jombang yang merupakan kota ludruk, kota yang menjadi cikal bakal ludruk, sejak kecil saya biasa menikmati tontonan ludruk. Pernah pada tahun 1987, ada rombongan seniman ludruk yang sedang tonil (toneel, manggung) di kampung halaman yang pentas puluhan kali dalam sebulan. Tentu saja saya juga turut menyaksikan pentas ludruk ini, karena dekat rumah. Banyak cerita ludruk yang saya tonton, misal cerita tentang Sarip Tambakoso, Maling Celuring, Bawang Merah Bawang Putih, dan beberapa kisah tentang kehidupan sehari-hari. Biasanya ludruk dimulai jam 9 malam sampai jam 1-2 dini hari baru usai. Agak panjang karena mengikuti pakem baku ludruk dan seringkali saya terlelap meskipun belum usai ceritanya. Paling menarik bagi saya hanya di bagian lawakan (banyolan) dan berkelahinya yang kadang disertai dengan letusan petasan dan kembang api.

Kembali ke Ludruk Kartolo Cs. Ludruk Kartolo agak berbeda dengan ludruk-ludruk lainnya pada zamannya. Ludruk Kartolo bisa dibilang keluar pakem dan dikemas lebih “modern”. Lebih banyak banyolan atau humornya meski ada kisah atau cerita dalam setiap episodenya. Sejak tahun 80-an saya seringkali mendengar Ludruk Kartolo dari kaset yang masih berupa pita. Ini karena bapak saya yang mengoleksi kaset Ludruk Kartolo yang jumlahnya lusinan. Karena hampir setiap bulan pergi ke Surabaya, setiap pulang selalu membawa oleh-oleh kaset Ludruk Kartolo. Selain kaset Ludruk Kartolo, tentu saja ada juga kaset lagu-lagu pop maupun dangdut. Lagu-lagu pop yang familiar diputar bapak saya misal lagu Obbie Mesakh, Rinto Harahap, Pance Pondaag, Iis Sugianto, Grace Simon, Mariam Bellina, Endang S. Taurina, Hety Koes Endang, BillBoard (Arie Wibowo), Ade Putra, Cica Koeswoyo, Dian Piesesa, Edi Silitonga, dan Muchsin Alatas beserta istrinya, Titik Sandora. Sementara Lagu dangdut tentu saja ada Bang Haji Rhoma Irama, Mansyur S., Ali Usman, Rita Sugiarto, Ida Layla, Elvy Sukaesi, Mus Mulyadi (keroncong), dan sebagainya.

Selanjutnya Ludruk Kartolo yang paling saya ingat mempunyai personel utama yaitu Kartolo, Basman, Kastini, Sapari, dan Sokran. Selain itu yang sering atau kadang ikut rekaman dan menjadi bintang tamu, diantaranya Munawar, Slamet (Seniman  ludruk asal Kepatihan Jombang), Markeso (juga asal Jombang, seniman ludruk paling nyentrik), Sidik Wibisono, Blonthang, Dadang (Personel Ludruk Baru Budi, kalau tak salah), Kancil Sutikno (Ludruk RRI Surabaya), dan sebagainya. Sampai saat ini, tahun 2015, personel utama yang masih hidup dan sering tampil di televisi lokal Jawa Timur adalah Kartolo, Kastini,  dan Sapari. Sidik Wibisono juga kadang muncul di televisi lokal menjadi bintang iklan kesehatan.

Ludruk Kartolo dipimpin oleh Kartolo yang asli Pasuruan. Suaranya sangat khas terutama dalam membawakan kidungan atau juli-juli. Kidungannya juga terkenal cerdas dan bernas, menyajikan kritik sosial terutama kondisi kehidupan sehari-hari atau kehidupan orang bias, yang tentu saja dengan pilihan kata atau diksi yang dirangkai dengan kecerdasan tingkat tinggi. Sementara Basman dengan ciri khas hidung besar (sering jadi bahan ledekan) mempunyai suara yang besar (nge-bass) dan tawa yang khas pula. Ia seringkali memplesetkan beberapa kata, misal kata yang paling tenar, “ana perlune” diplesetan jadi “ana rempelune”, atau namanya sendiri sering jadi plesetan menjadi “baskom” dan “bastol”. Basman sendiri punya julukan Basman Selodono. Selo itu watu (batu), dono itu weweh (suka memberi). Jadi Basman Selodono itu artinya Basman suka memberi batu :)

Kartolo Tampil di Festival Jazz (wartajazz.com)

Sementara Markeso lebih nyentrik lagi. Ia bisa dibilang seniman ludruk sejati yang mandiri. Sering menjadi pelawak sendiri (semacam stand up comedy). Nggandang, kidungan, parikan atau juli-juli seringkali dilakukan secara sendiri, istilah “tanpa kernet” atau tanpa isringan musik. Musiknya keluar dari mulutnya sendiri. Hebatnya lagi, secara spontan ia seringkali nyeletuk di tengah-tengah parikan atau kidungannya. Celetukannya kadang untuk merespon parikan atau kidungannya sendiri atau merespon suara penonton, yang seringkali penontonnya ikutan nyeletuk mendengar kidungan atau parikan Markeso. Saya pikir ini butuh kecerdasan luar biasa, ngidung sendiri, diiringi “musik” sendiri, dan dengan spontan “berdialog” dengan penonton. Ini bisa didengar ketika menjadi bintang tamu di Ludruk Kartolo pada episode “Kebo Kumpul Kancane”.

Ludruk Kartolo ini juga mengingatkan saya dengan Ludruk ITB yang pernah diceritakan seorang kawan senior di Bogor, yang kebetulan ia alumni ITB dan segenerasi dengan mahasiswa pendiri Ludruk ITB. Katanya, mahasiswa dari Jawa Timur pernah mendirikan Ludruk di kampus ITB dan menjadikannya bagian unit kegiatan mahasiswa. Tentu saja menggunakan format yang berbeda, terutama dalam penggunaan bahasa. Demikian juga di tahun 90-an awal muncul Ludruk Tjap Toegoe Pahlawan, yang digawangi mahasiswa ITS Surabaya, yang dulu siaran secara reguler di SCTV (kalau tak salah). Salah satu personelnya yang sudah “menjadi orang” adalah Cak Lontong, komedian yang seringkali menghiasi layar kaca kita. 

Itulah sekelumit catatan tentang Ludruk Kartolo yang membuat saya ngelantur di sabtu pagi di penghujung bulan oktober ini, mencatat hal-hal lain yang tidak terkait maupun yang terkait dengan ludruk. Sebenarnya ingin juga mencatatkan ludruk pra kemerdekaan, pasca kemerdekaan, atau ludruk yang terombang-ambing terseret, diseret atau menyeretkan diri dalam pusaran perpolitikan tahun 60-an. Semoga diwaktu lain ada kesempatan menuliskannya.

4 komentar:

  1. Saya juga suka sampai punya kaset cukup banyak. Salah satu kaset pernah sy bawa ke Namibia.
    Salam hangat dari desa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mantab pakde ..... jenengan segenerasi dengan bapak saya .... kasetnya juga gak jauh beda :)

      Hapus
  2. Hahaha.... ludruk ada seolah-olah kutub seberang dari ketoprak. Sebab ketoprak lakonnya keraton sentris sedang ludruk lakonnya muncul dari kehidupan jelata. Kalaupun ada lakon yang menghadirkan kalangan elit, jatuhnya jadi bahan garapan. Mantabs cak ulasanne, ditunggu seri lanjutane!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mas .... ludruk selain sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajah, jg sbg simbol "perlawanan" keseniaan (kethoprak) yg elit sentris :)

      Hapus

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...