Sabtu, 01 Agustus 2015

Kampanye Anti Korupsi, Syamsudin Jalan Kaki Malang-Jombang

“NU Sejati Berani Menolak Korupsi”, begitu pesan yang tetulis di bendera (banner) yang dibawa Pak Syamsyudin. Siapa Pak Syamsudin? Ia adalah salah satu pegiat anti korupsi di Malang Corruption Watch (MWC) Malang yang berjalan kaki dari Kota Malang ke salah satu lokasi muktamar NU ke-33 di Jombang.  Sebagai pegiat antikorupsi ia membawa misi ingin mengkampayekan isu korupsi kepada peserta Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke 33, di Kabupaten Jombang, yang akan berlangsung mulai hari ini sampai 5 Agustus nanti.

Saya sempat berbincang beberapa saat dengan Pak Syamsudin ini di tengah perjalanannya ketika melintas di Jl. Raya Blimbing, sekitar 2,3 km selatan Pondok Pesantren Tebuireng. Meski sudah menjadi orang Malang, Pak Syamsudin aslinya berasal dari Indramayu. Pada tahun 1994, pernah menjadi santri mahasiswa di Universitas Darul ‘Ulum Jombang, sebuah kampus tertua dan terbesar di Jombang.

Syamsudin, Pejalan Kaki Malang-Jombang

Ketika saya berbincang dengannya, ia mengenakan kaos warna kuning, celana panjang hitam dan sepatu kets. Ditambah lagi dengan tas ransel ukuran sedang dan tak lupa sarung yang yang dikalungkan di lehernya. Sementara bendera diikatkan ditongkat bambu kecil dengan panjang lebih dari 2 meter hingga menjuntai di atas kepalanya.Di bendera itu tertulis pesan NU SEJATI BERANI MENOLAK KORUPSI".

Selama perjalanannya, ia menginap dan istirahat di masjid-masjid yang ia temui. Setidaknya ia telah melakukan perjalananya 3 hari tiga malam dari malang ke Jombang yang jaraknya hampir 100 km. Ia berencana mengakhiri perjalanannya di Pondok Pesantren Tebuireng, yang akan menjadi salah satu lokasi muktamar. Itu berarti kurang dari satu jam lagi mengakhiri perjalanannya dari lokasi kami berbincang, di Jl. Raya Blimbing.

Ia melakukan kegiatan ini karena tergerak dan sangat peduli dengan masalah korupsi di Indonesia. Indonesia dinilainya sudah darurat korupsi. Korupsi sudah menjalar, terutama ke berbagai tingkatan birokrasi maupun mayarakat umum.

Diakhir perbincangan, saya sempa bertanya. Apakah ia seorang nadliyin? Ia hanya tertawa dan kemudian memeberi jawaban: Yang pasti saya orang Indoesia!

1 komentar:

  1. Orang yang melakukan korupsi memang kebangetan. Sungguh tak berguna sekolah tinggi-tinggi bila akhirnya korupsi. Sungguh tak pantas mengaku diri sebagai umat Nabi bila tega melakukan korupsi.

    BalasHapus

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...