Sabtu, 30 Mei 2015

SMP Negeri 1 Wonosalam: School Sweet School and Cool

TAK terasa sudah puluhan tahun meninggalkan sekolah ini, SMP Negeri 1 Wonosalam. Beberapa waktu lalu saya sempat melintasi jalan di depan sekolah ini. Memori-memori lama pun terbuka kembali saat-saat berada di sekolah ini. Sekolah yang berada di ketinggian ini menyimpan begitu banyak cerita yang pernah tercipta. Tidak saja udara segar nan dingin dan kadang berkabut yang selalu menyelimuti, atau rerimbunan dan kehijauan dedaunan dari pepohonan dan bunga-bunga di halaman. Tetapi banyak juga cerita-cerita tak terduga yang kami hadirkan ketika berada di sekolah ini. Tentang  lingkungan sekolah, tentang kami (para siswa), atau tentang guru-guru kami.

Lokasi SMP Negeri 1 Wonosalam persis berada di ketinggian dan berada di Pegunungan Anjasmoro. Dari sekolah ini kami bisa melihat desa dan kota-kota yang berada di ngarai dan dataran rendah pada tiga penjuru mata angin. Hanya arah timur saja yang langsung berhadapan dengan punggung gunung Anjasmoro. Jangan ditanya udara dan suasananya, sejuk dan jauh dari suasana bising. Jadi, di sekolah ini saat saya belajar, tak memerlukan pendingin semacam kipas angin atau AC, toh listriknya ketika itu juga belum ada.

Bel sekolah (lonceng) yang dipukul secara manual yang terbuat dari besi, masih terngiang di telinga saya. Dengan jumlah pemukulan yang berbeda-beda sebagai penanda atau perintah yang berbeda-beda pula. Jika dipukul berkali-kali menandakan jam masuk, jam istirahat dan jam pulang. Dipukul dua kali menandakan pergantian jam per jam pelajaran atau per 45 menit. Di pukul satu kali menandakan pemanggilan ketua kelas untuk menghadap guru atau kepala sekolah untuk menerima informasi pertama sebelum informasi itu diberikan ke teman-teman yang lain.

Saat ini, entah apa sudah berubah atau belum bel di sekolah yang penuh kenangan itu. Mungkin sudah memakai alarm atau bel elektronik. Karena dijaman saya ketika itu, belum ada aliran listrik PLN, jadi hanya memakai lonceng, berupa besi tebal mirip besi rel kereta api, yang tergantung di depan ruang guru.

Pun demikian, karena ketiadaan aliran listrik, setiap praktek mata pelajaran elektronika, jika akan menyolder selalu dengan “solder bakar” yang dibakar dengan arang untuk memanaskannya. Tapi itu semua tak menyurutkan kami semua untuk bereksperimen membuat atau merakit peralatan elektronika semacam lampu hias yang kelap-kelip atau flip-flop dan radio. Bahkan ketika evaluasi belajar tahap akhir untuk mata pelajaran elektronika kami mampu merakit televisi. Ya, meskipun sekadar merakit, tapi ini cukup membuat kami bahagia.

Selain itu, yang masih membekas diingatan saya adalah setiap hari kamis mengumpulkan dana sosial (dansos). Dana sosial ditarik dari teman-teman sekelas untuk kemudian disimpan di bendahara kelas. Dana ini biasanya digunakan untuk membantu teman-teman yang terkena musibah atau sedang membutuhkan. Pada saat kelas 3 (tiga), saya kebagian tugas menarik dansos ini. Biasanya saya melakukan penarikan menjelang atau sebelum istirahat pertama. Bukan tanpa alasan kalau saya melakukan sebelum istirahat. Sebelum istirahat pertama biasanya uang saku teman-teman masih utuh, belum digunakan membeli makanan atau yang lainnya. Dana sosial saya kumpulkan dengan menggunakan topi warna kombinasi biru-putih yang saya balik sehingga membentuk kantong. Kemudian, uang yang terkumpul ini langsung saya berikan ke bendahara.

Cerita lainnya yang menarik adalah cinta monyet ala teman-teman saya. Bagaimana serunya kawan saya kalau cerita tentang lawan jenis yang sedang ditaksirnya. Di masa itu, terutama ketika kelas 2-3, banyak teman-teman (laki-laki) yang dengan bangga kalau sudah jadian dengan “si ani” atau “si anu”. Biasanya mereka ngerumpi tentang lawan jenis di belakang sekolah atau di kantin ketika jam istirahat. Ada dua kantin di dalam lokasi sekolah dan beberapa warung makan yang berada di luar pagar sekolah yang biasa digunakan kawan-kawan untuk nongkrong dikala jam istirahat atau bahkan sembunyi, bolos meninggalkan kelas.

Ada seorang kawan, yang cerita tentang seorang adik kelas satu tingkat yang sedang ditaksirnya sampai-sampai baju olahraga dibawa-bawa dan ditunjukan teman-teman lain. Sementara kawan sekelas, yang pada masa berikutnya sempat menjadi duta wisata Jombang, bercerita dengan malu-malu tentang adik kelas yang sedang ditaksirnya, yang merupakan anak seorang pejabat kecamatan ketika itu. Bahkan ketika memberi suatu hadiah berupa gantungan kunci, yang sebelum diberikan, sempat “dipamerkan” dan di-woro-woro-kan dulu ke teman-teman yang lain.Sementara saya sendiri tak punya cerita semacam itu. Apa yang mau diceritakan, kecuali keminderan saya, ketidaktenaran saya di sekolah, atau keudikan saya.

Ada salah satu cerita saya (dan beberapa teman kelas) yang sedikit konyol. Bukan tentang cinta monyek, tapi ini tentang upacara bendera. Kebetulan di hari senin itu kelas kami mendapat giliran sebagai petugas upacara. Saya sendiri didaulat menjadi komandan upacara, teman lainnya ada yang menjadi pembaca/pembawa acara (protokol), pengibar bendera, pembaca UUD 1945, pembaca doa, sampai pembawa naskah pancasila yang juga menjadi semacam “ajudan” inspektur upacara (inspekturnya biasanya kepala sekolah atau guru-guru senior). Di awal tak ada masalah. Barisan setiap kelas diatur oleh masing-masing ketua kelas. Setelah semua siap, setiap ketua kelas melapor ke saya, jika mereka dan “pasukannya” siap melaksanakan upacara bendera. Begitu seterusnya. Sambil menunggu pembawa acara “membuka” upacara dan menunggu inspektur upacara memasuki lapangan, pasukan pun saya istirahatkan.

Beberapa saat kemudian, pembawa acara pun memulai membuka upacara. “Pasukan disiapkan”, begitu ucapnya. Saya pun mengikuti untuk menyiapkan pasukan. “Inspektur upacara memasuki lapangan”, dan inspektur upacara memasuki lapangan. Setelah inspektur upacara “standby” di tempat yang telah ditentukan, pembawa acara memerintahan penghormatan kepada inspektur upacara. Saya pun mengikutinya. Sampai di sini tak ada masalah dan semuanya berjalan lancar. Masalah baru muncul setelah memberi penghormatan kepada inspektur uapacara, pembawa acara memberi perintah “Pengibaran Sang Merah Putih”. Dimana masalahnya? Masalahnya setelah penghormatan, seharusnya pembawa acara perintah bahwa komandan upacara melapor ke inspektur upacara, bukan perintah pengibaran sang merah putih. Sementara ketiga teman saya yang bertugas mengibarkan bendera pun langsung “tancap gas”, bersiap dan melangkah menuju tiang bendera. Mau saya “ambil alih”, artinya mengikuti urutan sebenarnya, tanpa mengikuti perintah protokol, pengibar bendera sudah berjalan, mengikuti perintah protokol, berarti tidak melapor dan satu acara jadi terlewat. Serba salah. Saya pun sedikit terbengong dan bingung harus melakukan apa. Meskipun demikian, saya tak sampai keluar keringat dingin. Betapa tidak, udara Wonosalam di pagi itu mampu menghambat aliran keringat dingin saya!

Namun demikian, sepertinya mata peserta upacara pun sepertinya terbelalak mengarah ke kami. Kami sangat malu. Dan bisa kami duga, “wejangan” apa yang akan disampaikan oleh inspektur upacara. Wejangannya lebih banyak tentang kami, tentang upacara hari ini. Konsekwensinya selain “dimarahi” langsung dihadapan peserta upacara, senin berikutnya kami tetap harus menjadi petugas upacara.

Setelah kejadian itu, ada hal yang menjadi pelajaran berharga. Sebenarnya kami, teman-teman sekelas yang menjadi petugas di hari senin “naas” itu adalah sebagian besar aktif di pramuka, yang sudah biasa dengan baris-berbaris, dan hampir semuanya menjadi bagian pasukan pengibar bendera di tingkat kecamatan. Maklum, di kecamatan kami tak ada SMA, jadi yang menjadi pasukan pengibar bendera ketika upacara, upacara 17 Agustus misalnya, “diambilakan” dari SMP kami. Tentu setelah melalui seleksi. Setelah itu, kami pun mendapat pelatihan (dari tentara) yang cukup untuk ukuran kami. Jadi tak ada masalah sebenarnya kalau kami menjadi petugas upacara bendera. Masalah sebenarnya pada kami adalah kami terlalu “sombong”, sehingga di hari sabtu, yang biasanya semua petugas uapacara untuk hari senin-nya, wajib latihan dan gladi bersih, tak kami lalukan. Saya masih ingat, teman-teman dihari sabtu selepas pelajaran usai, dan setelah pembagian petugas upacara, mereka langsung pulang. Karena merasa sudah bisa, jadi tak perlu latihan lagi dan tak perlu acara gladi bersih. Dan hasilnya pun ada kekonyolan ketika upacara bendera itu. Hikmahnya, kami tak boleh meremehkan hal-hal biasa dan harus tetap berlatih meskipun kita sudah menguasai. Begitulah.

Kemudian ada kisah lainnnya, ini lebih “kurang ajar”, yaitu tentang salah seorang guru yang kalau mengajar suka mencatat di papan tulis sampai penuh, kemudian kami diminta menyalinnya ke dalam buku pelajaran. Jika sudah penuh, beliau menghapus, kemudian melanjutkan mencatat lagi, menghapus lagi, mencatat lagi, begitu seterusnya, sampai habis jam pelajarnnya dan sampai kami merasa bosan. Sampai pada suatu ketika, karena kami sudah hafal pola pak guru ini, kami pun iseng “membuat ulah”. Karena secara fisik, pak guru kami tidak terlalu tinggi, kami meletakkan penghapus di atas papan tulis, tidak seperti biasanya atau tidak pada tempatnya. Begitu tulisan beliau penuh di papan tulis, beliaupun kebingungan mencari penghapus. Beliau sempat menanyakan kepada kami, kami pun menunjukkan letak penghapus. Karena beliau tak bisa mengambil penghapus di atas papan tulis, beliau pun menghentikan aktivitas menulis di papan tulis (Untuk Pak W, kami mohon maaf).

Begitulah. Sebenarnya masih banyak cerita-cerita lainnya. Intinya, sejuta cerita pernah tercipta di sini:  ada tawa, ada canda, ada cinta (monyet), ada kisah di ruang guru BP dan BK, ada yang baru puber, ada yang dilempar penghapus, ada yang tak lulus, ada kantin Pak Man, ada kantin Mbak Yati, ada yang suka mojok cekikikan di dapur kantin atau di sudut sekolah, ada yang hamil duluan, dan ada-ada saja ceritanya!


Lereng Gunung Ansjamoro, 30 Mei 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...