Minggu, 15 Februari 2015

Fluktuasi Ekonomi dan Fluktuasi Hati

FLUKTUASI ekonomi merupakan perubahan yang terjadi dalam sebuah perekonomian dalam periode tertentu. Bisa saja pada suatu waktu perekonomian itu bertumbuh dengan angka positif yang fantastis. Sebaliknya, bisa juga di waktu yang lain perekonomian ambruk, terpuruk sampai ke ceruk yang paling buruk. Misalnya yang sempat menyita perhatian adalah pada tahun 2013 lalu perekonomian Indonesia sempat mengalami turbelensi yang membuat dag dig dug. 

Betapa tidak, kelangkaan bahan pangan, seperti daging sapi, bawang merah, dan naiknya harga cabai plus jengkol, meyebabkan harga-harga melonjak dan ngelunjak. Tingginya harga tersebut tentu membuat konsumen di tingkat rumahtangga menjadi berpikir ulang untuk mengonsumsi dengan kuantitas dan/atau kualitas yang sama.

Namun fluktuasi ekonomi tak sederhana dengan hanya melibatkan kelangkaan atau turunnya produksi beberapa komoditas. Fluktuasi ekonomi terjadi dengan perbedaan (penurunan-kenaikan) yang drastis dan seringkali membuat banyak orang menangis ataupun bahagia dan histeris. Dengan kata lain, fluktuasi bisa dalam bentuk resesi (minus) ataupun booming (positif). Namun, yang pasti keduanya membuat efek yang sama, yaitu membuat kaget. Yang satunya kaget penuh tangisan, yang kedua kaget penuh kegembiraan.

Dalam konteks ekonomi makro, fluktuasi ekonomi ditandai dengan misalnya perubahan-perubahan pendapatan nasional. Ini bisa kita lihat pada grafik yang menunjukan bagaimana terjadinya fluktuasi ekonomi sepanjang tahun 1990-2013 di di 3 negara, yaitu Amerika, Jepang dan Indonesia.


Sepanjang kurun waktu tersebut, fluktuasi ekonomi yang paling ekstrim melanda 3 negara itu adalah terjadi pada tahun 1997-1998, dimana ketiganya mengalami resesi yang sangat luar biasa, terutama Indonesia. Pada mulanya adalah gejolak moneter yang tidak stabil, yang kemudian menjadi krisis ekonomi. Krisis ekonomi atau kondisi perekonomian yang terdepresi dengan hebat itu dampaknya kemudian meluas menjadi krisis sosial-budaya dan bahkan krisis politik dengan klimaksnya ditandai dengan turunnya presiden.

Krisis seperti itu tentu tidak sehat bagi jalannya roda perekonomian, tidak saja perekonomian nasional, tetapi juga iklim usaha juga menjadi “gerah” dan tak menggairahkan pengusaha. Harga-harga yang berjumpalitan membuat rancangan perusahaan, terutama dalam penentuan harga-harga, harus sering dikoreksi. Bukan perkara mudah mengoreksi harga-harga ini, karena tidak hanya menyangkut harga itu sendiri, tetapi juga bagaimana perusahaan itu sudah terikat “kontrak” harga lama dengan pihak-pihak lain.

Lalu apa hubungannya dengan fluktuasi ekonomi dengan fluktuasi hati? Kalau dipaksa untuk dihubung-hubungkan, sesungguhnya menyimak dari fenomena fluktuasi ekonomi selama ini, fluktuasi eknomi sangat berpengaruh terhadap fluktuasi hati. Ketika terjadi resesi, perkonomian menjadi lesu, tidak full employment atau banyak orang menganggur. Karena mengganggur, pendapatan berkurang bahkan tidak ada. Padahal, perut tak bisa diajak kompromi. Dalam kehidupan sosial yang sering terjadi adalah tindakan kriminal dan kerusakan sosial lainnya akibat orang suka nekat dalam mencari pekerjaan dan penghasilan. Apapun seringkali dilakukan asal bisa survive dan mendapat penghasilan.

Sementara itu dampak lainnya, dalam konteks kehidupan asmara atau rumah tangga, fluktuasi ekonomi juga mempunyai pengaruh terhadap kehidupan asmara dan rumah tangga. Ketika krisis ekonomi atau kondisi perekonomian mengalami resesi, di beberapa daerah di Indonesia kasus perceraian juga meningkat akibat urusan ekonomi. Ini bisa terjadi karena seorang suami yang bekerja dan sebagai tumpuan ekonomi keluarga terkena PHK akibat krisis ekonomi dan kemudian sang istri yang mengalami shock dan “guncangan hati” langsung memutus hubungan hati dengan suaminya.

Atau bisa juga ketika fluktuasi ekonomi dalam posisi dan kondisi booming (pertumbuhan ekonomi) tak sedikit suami yang tiba-tiba usahanya berjaya dan tentu saja penghasilannya meningkat, ikut-ikutan mengalami “fluktuasi hati”. Jika tanpa ada stabilitas hati, seorang suami yang mempunyai penghasilan tinggi justru seringkali melakukan “ekspansi hati” dan/atau melakukan “merger” dengan hati yang lain secara legal maupun ilegal. Dan yang lebih jauh bahkan bisa "migrasi hati".

Kejadian seperti itu tak hanya dilakukan suami, bisa juga yang terjadi adalah sebaliknya. Namun yang jelas, intinya bahwa fluktuasi ekonomi bisa berpengaruh pada fluktuasi hati. Oleh karena itu, sebagai makhluk Tuhan, dzat yang maha membolak-balikan hati, sudah seharusnya kita selalu berdoa agar senantiasa diberi kekuatan untuk menjaga "stabilitas hati", sehingga apapun kondisi perekonomian, kita tidak mengalami shock dan depresiasi yang berkepanjangan. Semoga!

2 komentar:

  1. Nice info gan! Menarik banget, fluktuasi hati.hehe. Keep on good writing ya gan ^^

    BalasHapus
  2. Tok... tok... tok...
    Assalamualaikum...
    tuan rumahnya ada?
    semoga bersedia menerima kehadiran ane.. Maklum udah lama nggak mampir, dan semoga kita senantiasa diberikan kelapangan untuk senantiasa bersilaturrahmi... Aamiin.. :)

    *SaHaTaGo (Salam Hangat Tanpa Gosong) pojok Bumi Kayong, Ketapang-Kalimantan Barat

    BalasHapus

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...