Kamis, 04 Juli 2013

Tentang (Bukan) Puisi: Senja di Sebuah Stasiun

DULU, pada bulan Desember 2002 saya pernah membuat sebuah catatan, yang kata kawan saya, catatan itu adalah sebuah puisi. Tetapi saya membantah kalau catatan itu adalah puisi. Itu bukan puisi. Dan, eyel-eyelan pun tak terhindarkan, meskipun akhirnya saya mengalah, mempersilahkan kepadanya untuk mengkategorikan catatatan saya itu. Yang penting bagi saya bahwa catatan itu biasa saja, bukan puisi, bukan catatan yang romantis dan mendayu-dayu.

Dan lagi-lagi kawan saya memaksa bertanya, apakah catatan itu mewakili diri saya sendiri. Jawaban saya tentu saja tidak selamanya begitu, tidak selalu mewakili saya. Catatan itu adalah "Senja di Sebuah Stasiun":

“………. aku tetap tegar meski rel-rel cintaku kau lindas dengan gerbong cintamu hingga melengking-lengking menyayat-nyayat menjerit-jerit dan engkau terus melaju, sementara aku masih menikmati sakit bersama lampu-lampu muram dan tiang-tiang listrik karatan,  ah…....cintamu memang seharga karcis peron ……..”   

[jombang-jakarta, 02 desember 2002]

Yang jelas, saya membuat catatan itu saat akan naik kereta api Bangunkarta di stasiun Jombang menuju Jakarta pada suatu senja di bulan desember. Perkara tema yang saya tulis, yang menjadi latarbelakangnya, tentu saja saya yang mengetahui dan tak perlu saya beritahukan pada siapapun. Sekali lagi, perkara mewakili diri saya atau tidak terserah yang memembaca dan menafsirkannya saja.

Namun demikian, sesungguhnya tema atau persoalan seperti itu seringkali saya dapatkan dari keluhan kawan-kawan saya yang saat itu sedang giat-giatnya menjalin tali-tali asmara. Yang karena sesuatu hal seringkali kecewa karena asmaranya. Dan kemudian, keluarlah kalimat-kalimat yang senada dengan yang saya tuliskan itu. Itu saja, tak kurang dan tak lebih. 

Selain di blog kedua saya, catatan itu juga pernah diposting di blog seorang kawan blogger, orang Pekalongan yang pernah nyantri di Jombang, sekaligus seorang penulis novel yang ketika itu sedang  nyantri di USA. Tentu saja sebelum memposting ia meminta izin saya melalui chating di facebook. Entah mengapa ia mau memposting catatan biasa di blognya. Sepertinya sih ia “meledek” saya, karena ia juga (mungkin) menganggap bahwa catatan itu “saya banget”, sangat mewakili saya, atau juga mewakili dirinya sendiri. Entahlah!

Sekali lagi itu hanya catatan biasa, (bukan) puisi, bukan pula catatan yang romantis dan berbunga-bunga!


Tulisan terkait:
Sepenggal Cerita di Balik Sepotong Senja
Sepotong Senja yang Terpotong

1 komentar:

  1. mungkin pemahaman orang beda-beda. jadi nggak perlu diperdebatkan sob.

    BalasHapus

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...