Sabtu, 27 Juli 2013

Menulis Sosok Bersama Sosok Jurnalis

MENULIS sosok itu ternyata perlu riset dan perjuangan yang berdarah-darah! Begitulah kesan pertama saya membaca buku ini. Betapa tidak, untuk menulis sosok dari seseorang ternyata tak cukup hanya wawancara sekali, tetapi bisa berkali-kali bahkan jauh-jauh hari juga perlu di-setting. Selain itu juga dibutuhkan kajian-kajian pustaka yang tak kalah melelahkan yang terkait dengan target yang akan dituliskan.

Membaca buku ini serasa membaca cerita perjalanan penulisnya ketika akan menulis sosok. Dalam buku ini, ternyata sebelum menuliskan sesosok yang unik, Pepih Nugraha sebagai sosok jurnalis, selalu menampilkan cerita-cerita yang seru, mengharukan, bahkan perjuangan yang penuh rintangan. Bagaimana ia mengejar-ngejar calon target yang akan ditulisnya. Bagaimana usahanya mewawancarai target yang sejatinya target itu tak bisa diwawancara karena adanya ”barikade” (terlalu sibuk), tetapi sang penulis sosok ini bisa juga menembus ’barikade’ itu.

Coba saja kita lihat bagaimana pada tulisan ”Jangan Menilai Buku dari Sampulnya”. Diawal tulisannya, penulis langsung membuat gebrakan dengan mendeskripsikan suasana Kota London pada suatu petang. Deskripsinya mirip cerita pendek yang berakhir dengan sebuah ending. Endingnya tentu saja bisa menggali informasi dari sesosok yang sulit ditemui. Kemudian menggiring pada sesosok yang sangat terkenal di dunia internet, yaitu Sir Timothy Berners-Lee yang menciptakan World Wide Web (WWW). Cerita berikutnya yang ”mendebarkan”, ketika ia akan mewawancarai sesosok target itu, ia tak ”dianggap”. Pertanyaan balik dari target misalnya ”Ada apa? Kamu siapa? Maaf, saya tak punya waktu”, pertanyaan-pertanyaan yang memang sangat tak bersahabat dan terkesan meremehkan. Namun bagi penulis buku ini, justru pertanyaan itu memacunya untuk terus mengejar dan mendapatkan informasi yang diinginkan. Sebuah perjuangan yang membutuhkan perasan keringat, perasan perasaan, dan sangat berdarah-darah.

Disaat yang lain, betapa beraninya penulis buku ini menulis tentang ”Si Pemberani di Tengah Bencana Tsunami”. Bagiamana ia secara dramatis menggambarkan ketika berada di kuburan massal yang disebut sebagai drama kehidupan sesungguhnya (hal. 110). Atau ketika mencari target utama sesosok Usman sebagai sang penyelamat nyawa nelayan, yang dalam pengejarannya setidaknya dibatasi oleh jawaban-jawaban Usman yang terbatas (sepatah-sepatah kata) sehinggan penulis memerlukan 3-4 kali pertemuan. Itu pun belum cukup baginya perlu cek silang dengan teman-teman Usman ataupun orang-orang pernah yang ditolong Usman (hal. 114).

Selain itu juga, dalam buku ini juga mengajarkan sekaligus mengingatkan bagaimana perjuangan menembus batas target yang secara awam tak dianggap ketokohannya yang seringkali dialami oleh kebanyakan jurnalis. Jurnalis seringkali memberikan penilaian yang rendah terhadap sosok baru, sosok yang dianggap tak punya ketokohan. Ajaran dan peringatan penulis ini dituangkan dalam tulisan ”Penyakit ’Underestimate’ terhadap Sosok Baru” ketika akan menuliskan sesosok Ryaas Rasyid, seorang ”Mantan Lurah yang Kini Jadi Profesor” dan pernah menjadi Rektor IIP  (hal. 20-29).

Buku dengan judul Menulis Sosok: Secara Inspiratif, Menarik, Unik ini memang sangat istimewa untuk dibaca dan dipelajari. Meskipun ada sekitar belasan kesalahan ketik (kurang huruf, kata ganda, dan sebagainya) namun tak mengurangi subtansinya. Selain membaca pelajaran jurnalistik seperti membaca cerpen atau kisah perjalanan, kita juga diajak ”bertamu” ke 22 orang sosok yang sangat unik dan menginspirasi yang disertakan dalam buku ini. Dari mulai sosok tokoh dunia, tokoh nasional, sampai tokoh yang sering tidak dianggap tokoh.

Ditulis dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, lugas, dan familiar. Sangat wajar karena penulisnya jauh sebelum menelurkan buku ini, telah malang melintang di ranah kepenulisan sebagai jurnalis Kompas. Buku yang meskipun tanpa embel-embel judul ”how to”, tetapi kontennya sangat menarik. Konten yang tidak sekadar mengajarkan kita bagaimana cara menulis sosok dengan baik, tetapi juga mengetengahkan bagaimana perjuangan dibalik penulisan seorang sosok, perjuangan yang sekali lagi lebih berdarah-darah daripada menulisnya itu sendiri. Dan meski ada keterangan di sampulnya ”Seri Jurnalistik KOMPAS”, tetapi buku ini layak dibaca semua kalangan. Selamat membaca!

Judul Buku : Menulis Sosok: Secara Inspiratif, Menarik, Unik
Penulis : Pepih Nugraha
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Cetakan : Pertama, Mei 2013
Tebal : xx + 196 halaman.


1 komentar:

  1. Selamat pagi sahabat tercinta,
    Dengan gembira saya sampaikan bahwa Anda menjadi salah satu blogger yang mendapat tali asih pada Kuis Tebak Nama Model di BlogCamp.

    Terima kasih

    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...