Rabu, 06 Februari 2013

Sepenggal Cerita di Balik Sepotong Senja

SENJA itu purba, silih berganti datang dan pergi entah sudah berapa juta kali. Kala senja tiba, ada berjuta rasa yang menghinggapi. Ada rasa gembira dan khawatir, ada rasa membuncah bahagia, terkadang juga rasa was-was. Senja juga telah menginspirasi entah berapa ribu penyair, esais, cerpenis, novelis, penyanyi, bahkan blogger dalam mencipta karya. Menarik banyak manusia untuk ‘membuntuti’-nya, menguntitnya, memburu, mengintai, dan kemudian memotongnya dalam bingkai di balik lensa.

Senja memang menawarkan aneka sketsa di langit, di laut, dan dibenda-benda yang bisa menangkap dan memantulkan cahaya. Seringkali membuat kita silau sekaligus kita dibuat terpukau. Namun seringkali kita tak hirau dengan lukisan alam yang maha indah ini. Senja datang, tetap saja berjalan. Tak ada rehat sejenak, tak ada refleksi, atau bahkan sekedar menikmati lukisan alam yang indah ini. Semua serba sibuk dan tak peduli.

Senja itu surup (maghrib), senja itu murup (menyala), senja itu redup! Entahlah, kita pasti punya pengalaman bathin tersendiri bagaimana merefleksikan senja, tentang cerita di balik senja, tentang kisah-kisah di balik senja.

 

[Senja di Pantai Beru, Maumere, Flores, NTT, 15 Juli 2008]. Bukan patah hati yang menyeretku ke sini di sore itu untuk menikmati senja. Suasana tenang dan alunan adzan dari masjid di tepi pantailah yang menggerakan hatiku untuk datang ke sini. Begitu tenang lengkingan muadzin yang jarang-jarang kudengar di kota ini. Tenang seperti air laut pada sore itu. Perahu-perahu nelayan masih bersandar, menyambut malam lalu menyemut dengan lembut ke tengah laut bersama angin malam. Menerjang ombak dan sesekali “menanti” menghadapi amuk badai, untuk mempertahankan periuk-periuk di rumah yang rindu menunggu.

 

[Senja di Samping Rumah, Wonosalam, Jombang, September 2008]. Sebelum idul fitri. Terasa damai meski tidak begitu ramai tetapi juga tidak begitu sunyi. Senja datang diiringi semilir angin yang pelan-pelan menerobos pohon-pohon cengkeh, menggoyang-goyang dan meng-koreografi-kan ranting dan dedaunannya, dan juga sedikit bebisik untuk memesrainya. Sementara jangkrik dan cenggerek juga mulai hadir  dengan dzikirnya, bersenandung dan memainkan melodinya. Soundtrack khas senja di pegunungan, suara-suara yang begitu akrab di telingaku sejak membran di telinga ini tercipta dan bisa mengirim sinyal ke syaraf otak dan meneruskan ke pengucapanku, dan aku bisa mengucap: “oh ini suara jangkrik, ini suara cenggerek dan sebagainya”.

 

[Senja di Teluk Kupang, Kupang, NTT, 16 Oktober 2008].
Senja itu terpotong dan terbingkai ketika berada di Kupang, di sebuah teluk yang menjadi dermaga kapal-kapal ferry yang menghubungkan Pulau Timor dengan pulau-pulau di sekitarnya semacam Pulau Adonara, Pulau Flores dan Pulau Rote, pulau yang paling selatan di Indonesia. Meski besebelahan dengan pabrik semen yang sedang dirundung masalah ketika itu, namun tak ada polusi udara di sekitarnya, sehingga rona merah jingga bisa tertangkap dengan jelas meski dengan kamera saku jadul bin butut.

 

[Senja di Atas Laut Sawu, NTT, 12 November 2008].
Dalam penerbangan singkat. Kurang lebih 40 menit. Langit dan laut nyaris tak berbatas.  Cakrawala begitu samar. Hanya pantulan mentari sore dan sedikit awan yang bergelayut yang bisa menjadi pembeda antara langit dan laut. Juga seonggok Pulau Rote yang tersembul di bentangan antara Laut Sawu dan Samudera Hindia. Ah, betapa kecilnya diriku dan betapa luasnya semesta ciptaan-Nya ini.


[Senja di Bandara El Tari, Kupang, NTT, 12 November 2008]. Sepertinya di senja itu pesawat-pesawat harus rehat dan istirahat, menunggu esok pagi untuk berangkat. Jadwal sangat minim. Butuh kesabaran tingkat tinggi. Juga sedikit nyali untuk menikmati sebagian besar pesawat-pesawat tua-renta nan mungil dan berbaling-baling di sayap kanan dan kiri yang beroperasi di sini. Beroperasi dengan suara yang berisik, mirip suara aktivitas di pande (bengkel/pabrik) besi.


[Senja di Depan Rumah, Wonosalam, Jombang, Desember 2008].
Entah mengapa sore itu langit yang berawan pelan-pelan memendarkan semburat jingga menyala di semua muka langit sejauh mataku memandangnya. Senja yang sangat berbeda dari biasanya dan membuat sedikit gerah. Udara juga dibuat teras pengap,  juga membuat heran dan bertanya-tanya semua orang di sekitarku: “ini pertanda apa?”

 

[Senja di Stasiun Jombang, 21 Januari 2009]. Senja begitu cepat, begitu singkat, berkelebat, seperti kereta cepat ini. Senja di stasiun ini bukanlah senja yang beberapa tahun sebelumnya pernah kutulis, senja yang teriris-iris membuat miris dan tersayat-sayat terasa menyayat. Itu cerita senja yang lain, Senja di Sebuah Stasiun:

“…….aku tetap tegar meski rel-rel cintaku kau lindas dengan gerbong cintamu hingga melengking-lengking menyayat-nyayat menjerit-jerit dan engkau terus melaju, sementara aku masih menikmati sakit bersama lampu-lampu muram dan tiang-tiang listrik karatan, ah…..cintamu memang seharga karcis peron ……” (jombang-jakarta, 02122002)

Sungguh, sekali lagi senja yang terpotong oleh kamera saku dan jadul bin bututku ini adalah senja yang biasa saja. Saat senja yang kebetulan aku berada dalam kereta api Bangunkarta jurusan Jombang-Jakarta yang akan berangkat, menunggu dan memberi kesempatan kereta api dari arah berlawanan yang akan melintas dan meraung-raung dibantalan rel stasiun Jombang.

 

[Senja di Pantai Reroraja, Maumere, Flores, NTT, Desember 2009].
Begitu tenang dengan langit di atasku yang begitu bersih. Padahal beberapa jam sebelumnya ombak mempontang-pantingkan dan mengombang-ambingkan kami (aku dan kawan-kawan) yang saat itu berada di bawah air, menikmati surga bawah laut di pantai ini dan sedikit membuat catatan tentangnya. Sementara hujan juga tak luput ikut mengguyur kami ketika kami muncul ke permukaan air. Airnya pun memenuhi cekungan-cekungan perahu kayu yang kami sewa dari nelayan yang setia dari pagi menemani kami terombang-ambing di tengah lautan.

 

[Senja di Laut Flores, 9 Juni 2010]. Senja di tengah lautan seperti ini terlihat romantis? Ah, sesungguhnya ini senja bukan senja yang romantis. Bukan pula senjanya Seno Gumira Ajidarma yang akan dipersembahkan untuk pacarnya. Ini sepotong senja yang ku nikmati pertama kali di tengah lautan dengan menumpang kapal roro dari Surabaya-Maumere Flores. Pertama kali mencoba naik kapal laut dengan menukar tiket pesawat yang lumayan mahal karena menuju kota kecil dan berganti-ganti pesawat, jatah dari ”sang juragan”. Sebelumnya juga demikian, menukar jatah tiket pesawat dengan uang tunai untuk bisa menggunakan jalur darat (dan air) dari Suabaya-Maumere, menembus 5 pulau dan 4 selat dan sebentar menikmati Pulau Komodo. Dan nyatanya, acara ”tukar tiket” seperti ini, ternyata lebih mahal dibanding jatah tiket dengan pesawat. Tetap nombok! Tetapi ada sensasi tersendiri yang nilainya tak tergantikan jika perjalanan lebih lambat dan lewat darat.

Senja seperti itu juga mengingatkanku pada seseorang di sana, ya di sana. Tak perlu kubercerita banyak tentang “seseorang” dan tentang “di sana” itu, cukup aku mengingat syair lagu oleh band tahun 90-an: “ //Senja datang sambut sang bulan/ Iringi langkahku, lalui sunyinya malam/ Kuberjalan layangkan khayal/ Ku tepiskan duka, sendiri kini ku melangkah//…… [Salam Untuk Dia, Voodoo].

Senja ini memang menggoda, menggoda imajinasiku, menggoda kalbuku, dan menggoda rasa rinduku. Ternyata bukan cinta saja yang menggoda, senjapun seringkali menggoda.

 

[Senja di Laut Flores, 10 Juni 2010]. Senja ini kisah kelanjutan senja sehari sebelumnya. Sedikit digulung mendung. Tak ada burung-burung camar yang terbang, tak ada ombak yang menerjang. Sepertinya waktu yang tepat untuk merenung. Apalagi jika siang sebelumnya dirundung masalah yang menggunung. Atau bisa juga bersenandung, memuji-muji Sang Pencipta Mendung.

 

[Senja di Persimpangan Jombang-Malang-Kediri, 5 Desember 2011]. Senja terlihat sangar, berapi-api, dan membara dengan jilatan-jilatannya. Senja seperti ini sedikit menakutkan dan mengingatkanku pada petuah orang-orang terdahulu ketika aku kecil: “Waktunya surup (senja, maghrib), jangan main-main di luar agar tak kesurupan”. Entah saya tak terlalu mengerti dengan petuah mereka ketika itu. Yang jelas keceriaanku dan kebahagiaanku bermain di sore itu “tergganggu” dengan petuah semacam itu. Anak-anak sebayaku ketika itu juga banyak yang “memberontak”, belum mau mandi di sore itu.

 

[Senja di Spion, Antara Jombang-Surabaya, 5 Mei 2012].
Tak terlalu terang, sedikit kelabu. Seperti kisah cinta kawanku yang diceritakan padaku suatu ketika.  Ditinggal pergi kekaihnya tanpa alasan yang logis-ilmiah. Bathinku, aneh juga kalau diputus, padahal belum juga tersambung! Atau teringat juga kisah-kisah asmara para pesohor yang banyak keanehan-keanehannya. Banyak yang heboh dengan putus-nyambung, putus-nyambung, padahal belum juga tersambung. Bahkan ada yang heboh dengan “perceraian”-nya, padahal belum juga menikah! Begitulah, begitu cepat dan benar-benar kelabu. Seperti senja ini, sedikit berbelok atau melesat, senjapun akan menghilang dari tangkapan kaca spion.


[Senja di Jalan Raya Lamongan-Babat, 12 Mei 2012]. Ini senja bukan seperti lagu jaman dulu, Senja di Batas Kota yang syahdu mendayu-dayu menggores kalbu dan bikin pilu berminggu-minggu. Bukan, ini senja di jalanan yang kebetulan kala itu sepi. Mendorong kecepatan tingkat tinggi. Ah, justru sebaliknya, harus berhati-hati. Senja tiba dan menyapa, tetap dan harus lebih waspada. Rehat sejenak, meluangkan waktu menyapa illahi, mengumpulkan energi yang sedari pagi terkuras dan tercecer di jalanan.

Begitulah senja yang sempat kupotong dengan kamera saku jadul dan butut kemudian singgah dan menyelinap di bathinku. Tak terlalu bermakna, biasa dan sederhana saja. Bagaimana dengan senja yang Anda alami?



Tulisan terkait:
Senja di Sebuah Stasiun
Sepotong Senja yang Terpotong
Sepenggal Sore di Teluk Maumere

5 komentar:

  1. Waah..., lengkap, Cak, dengan banyak foto yang menawan.

    Benar sekali, bila dihitung, entah sudah berapa puisi saya tulis tentang dan berkaitan dengan senja.

    BalasHapus
  2. Senja itu jingga...
    Jingga itu... aku suka...



    BalasHapus
  3. banyak banget foto senjanya, aah niar juga mau aah majang foto senja :D

    suka yang dari sepawat, terus yang warnanya ada pink plus biru, keren :D

    BalasHapus
  4. Asyik ya mas Jun, senja di NTT..:)

    BalasHapus
  5. berdua bersama pasangan saat senja sangat menyenangkan bgus pemandangannya hahahaha

    BalasHapus

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...