Sabtu, 29 Desember 2012

Menjaga Air Mengalir Sampai Ke Dapur

BERSYUKUR saya lahir di kawasan pegunungan dengan kondisi udara yang dingin dan tanah bertekstur gembur nan subur serta keberlimpahan air yang bisa digunakan sepuasnya dengan gratis. Betapa tidak, saya dan warga desa lain menggunakan air benar-benar gratis dan langsung menggerojok dari mata air pegunungan yang jernih dan sehat. Kami hanya mengusahakan saluran-saluran berupa pipa PVC untuk bisa mengalirkan air dari sumber mata air ke pemukiman bahkan sampai ke dapur. 

Setidaknya di tahun 80-an hingga pertengahan 90-an, mata air masih banyak ditemukan. Mungkin jumlahnya ratusan dengan debit yang bervariasi. Ini ditandai dengan adanya 7 sungai yang membelah desa dengan debit air yang besar dan tak pernah kering sepanjang tahun. Belum lagi sungai-sungai kecil yang mengalirkan air  langsung dari sumbernya.

Bisa dikatakan bahwa desa kami memang mandiri dan bahkan surplus air. Semua kebutuhan air tercukupi dari sumber mata air yang ada di desa. Salah satu instansi di daerah kami mencatat setidaknya ada 8 sumber mata air besar dan ini merupakan desa dengan sumber mata air paling banyak. Sehingga wajar saja beberapa desa tetangga pun ada yang “membeli” air (bersih) dari desa saya, termasuk juga ada mantan pejabat yang mempunyai usaha penyuplai air untuk air isi ulang, dari desa kami dan mengirimkannya ke luar daerah. Bertanki-tanki air setiap mampu dikirim, apalagi di musim kemarau, bisa berkali-lipat jumlah pengirimannya.

Sumber mata air yang melimpah (Foto: dok. pribadi)

Karena tak ada perusahaan air minum, semacam PAM atau PDAM yang mengatur atau mengelola sumber air, maka mau tak mau warga desa melakukan usaha sendiri atau swadaya dengan membeli dan memasang sarana dan prasarana air dari sumbernya untuk bisa mengalir ke rumah. Ada yang mengusahakan secara individu, ada pula yang mengusahakan secara kolektif. Tentu saja ini membutuhkan biaya awal yang relatif besar. Sementara hingga saat ini belum ada uluran tangan pemerintah yang memadai. Pernah dulu ada program/proyek pemerintah yang akan memasang pipa sepanjang sekitar 4 km untuk disalurkan bagi warga bagian ujung desa, tetapi ternyata pipa yang tersambung tak sampai ke sasaran. Kata warga hanya sampai 2 km, yang 2 km lagi entah kemana. Masyarakat pun mulai tak terlalu mau peduli dengan proyek seperti ini. Mereka tetap dengan kesadaran sendiri untuk bisa mengalirkan air dari sumber mata air sampai ke dapur. Membeli pipa-pipa sendiri, membuat penampungan dan tandon di dekat sumber mata air, dan tentu saja melakukan pemeliharaan sendiri.

Namun demikian, desa kami pernah mengalami masa-masa krisis air bersih, meskipun tak sampai kerontang layaknya wilayah-wilayah lain, apalagi sampai membuat kalang kabut pemerintah untuk memberikan bantuan air. Mungkin secara kebiasaan, kami mudah mendapatkan air bersih, kemudian tiba-tiba ada sedikit masalah air, seolah menjadi persoalan besar dan sangat menyiksa. Kejadian ini terjadi pada saat dan pasca reformasi (1998-2000), dimana banyak pepohonan di hutan dan di pinggir-pinggir jalan di desa kami dijarah orang-orang yang entah dari mana datangnya.

Belum lagi ulah pencari rebung (tunas bambu yang baru muncul dari dalam tanah) yang sejak bertahun-tahun sebelum reformasi, yang hampir tiap minggu ber-truk-truk diambil dari hutan persis di lereng gunung anjasmoro. Dengan lenggang kankung seperti tak ada aturan mereka membabat nyaris habis pepohonan besar-besar yang sebagaian besar berusia puluhan tahun. Akibatnya bisa ditebak, dengan habisnya pepohonan besar, dan hancurnya rumpun-rumpun bambu, banyak sumber mata air yang terutama dekat perkampungan mengering. Warga desa pun merasa mulai kesulitan mendapatkan air bersih di tempat terdekat. Mau tak mau harus mencari sumber mata air yang agak jauh dari pemukiman, bahkan hingga beberapa kilometer mendekati kaki gunung. Ini tentu menambah beban biaya saluran pipa yang terpasang.

Sejak kejadian itu, di awal tahun 2000-an warga desa dan pemerintah daerah mulai beraksi untuk mengembalikan kondisi lingkungan yang sedikit terdegradasi akibat ulah para penjarah. Sesungguhnya bukan hanya berdampak pada desa atau wilayah kecamatan kami semata jika lingkungan kami terpelihara, tetapi masyarakat di wilayah yang lebih rendah pun akan menikmatinya. Beberapa kejadian 10 tahun terakhir berupa tanah longsor dan hujan yang berhar-hari di wilayah kami, menunjukkan bahwa yang paling terdampak adalah kawasan yang lebih rendah, seperti Jombang, Mojokerto dan Surabaya. Kota-kota inilah yang seringkali tergenang jika ditempat kami hujan berhari-hari.

Ada beberapa aktivitas yang telah dan terus dilakukan oleh mereka untuk mengembalikan kondisi lingkungan seperti tahun 80-an, diantaranya adalah dengan menanami kembali lahan-lahan yang telah rusak dan kosong dengan berbagai tanaman keras yang produktif. Sebenarnya tanaman utama di desa saya tergolong tanaman perkebunan utama yang selama ini menjadi sumber penghidupan utama, semacan kakao, cengkeh, kopi, petai dan berbagai jenis buah-buahan semacam durian, rambutan, alpukat, dan pisang, yang semua jenis tanaman ini sangat baik secara ekonomi maupun ekologi.

Secara ekonomi, berbagai jenis tanaman ini mempunyai nilai jual yang sangat tinggi dan hampir setiap tahun bisa menghasilkan. Sementara secara ekologi, tanaman ini merupakan tanaman tahunan yang bertajuk rimbun dan perakarannya sangat kuat menghujam kedalam sehingga selain mampu meredam air hujan sekaligus menahan erosi dan melalui perakaran mampu membuat tanah menjadi lebih berpori sehingga memudahkan air masuk ke dalam tanah. Air hujan jelas akan “terperangkap” dan hanya sebagian kecil saja yang langsung mengalir ke sungai-sungai. Ini merupakan cara mudah menabung air hujan dan sekaligus merupakan investasi lingkungan yang sangat menguntungkan.

Selain tanaman itu, saat ini beberapa warga juga mulai menanam tanaman “lebih keras” lainnya semacam jati, waru gunung, gemelina, sengon, mahoni, pinus, jabon, garu (gaharu) dan beberapa tanaman "eksotis" dengan nama lokal yang dulu pernah tumbuh eksis dan legendaris seperti bendo, gondang, mindi, buah gowok, keluwih, kemiri, keluwak, dan sebagainya, yang mana tanaman ini sangat baik dalam menjaga fungsi hidrologis.

Jabon, salah satu tanaman yang mulai dikembangkan (Foto: dok. pribadi)

Yang lebih “ekstrim” lagi dan tidak terlalu umum bagi kebanyakan warga, adalah ada beberapa orang yang sengaja mulai mengembangan tanaman bambu dan pohon beringin! Setidaknya ada beberapa alasan, mengapa mereka menanan kedua tanaman ini. Pertama, tanaman bambu sangat baik dalam menyimpan air dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Hampir semua sumber mata air yang keluar di desa kami ternyata di sekitarnya banyak ditumbuhi rumpun bambu. Selain itu, bambu bisa dimanfaatkan mulai dari tunas mudanya (rebung) ataupun batang tuanya. Dan yang tak kalah penting, menurut cerita, sejarah awal nama desa kami memang dari bambu, dimana salah satu jenis nama bambu menjadi bagian dari nama desa kami. Kedua, tentang tanaman pohon beringin. Orang di desa menanam tanaman ini karena selain bagus untuk menyimpan air, juga ada kepercayaan bahwa tanaman ini terlihat angker dan kecenderungannya orang tak mau menebang atau sekadar merusak/megambildaunnya sajapun enggan.

Pemandangan perbukitan yang mulai menghijau dengan berbagai tanaman keras hasil reboisasi yang dilakukan oleh warga (Foto: dok. pribadi)

Selain itu, ada cara lain yang dilakukan oleh masyarakat desa saya dalam menabung air ini, yaitu membuat lahan-lahan pertanian (perkebunan) dengan sengkedan melintang, atau semacam terasiring untuk tanaman padi di sawah. Hal ini bertujuan untuk meredam dan menangkap air hujan yang turun,sehingga air tidak bisa mengalir secara cepat lewat permukaan tanah dan menggerus unsur hara yang menyuburkan pada muka tanah.

Demikian juga mereka membuat banyak resapan-resapan sederhana berupa lubang-lubang berukuran 1x1x1 meter di tengah kebun/ladang. Selain berfungsi untuk menampung limpahan air hujan, lubang ini juga berfungsi untuk menempatkan sampah-sampah organik hasil kebun yang kelak digunakan juga untuk kompos atau pupuk tanaman. Bahkan ada juga yang membuat kolam-kolam penampungan air dari beton/tembok dengan ukuran 10x5 meter dengan kedalaman 3 sampai 4 meter yang digunakan untuk menyimpan cadangan air sekaligus memudahkan proses penyiraman/pengairan tanaman dikala musim kemarau. Ini dilakukan terutama oleh pemilik-pemilik perkebunan besar dan berada diperbukitan sehingga sungai besar nyaris tak bisa menjangkaunya sekaligus sebagai "waduk mini" untuk mengurangi banjir dan/atau limpasan air hujan menuju sungai.

Sementara di desa sebelah yang masih berdekatan dan satu gugusan pegunungan, ada LSM lokal dan pemerintah yang menggalang masyarakat untuk menyelamatkan sumber mata air. Mereka melakukan berbagai macam edukasi dan kegiatan lingkungan. Termasuk yang menarik adalah membentuk polisi air guna memantau kondisi air dan sungai. Ini terutama dilakukan dan fokus pada pelajar yang ada di wilayah kecamatan kami. Ada beberapa sekolah yang digalang untuk melakukan ini, termasuk sekolah menengah pertama yang pernah menjadi almamater saya, yang memang sejak dulu intens dengan kegiatan penyelamatan lingkungan.

Aktivitas pelajar di Wonosalam dalam monitoring air sungai (Foto: suarakawan.com)

Itulah beberapa cara yang telah dan masih dilakukan oleh masyarakat desa saya dalam proses menjaga lingkungan dan terutama sumber mata air. Namun sesungguhnya ada persoalan lain yang mungkin tak terlalu dipikirkan oleh warga desa saya. Bahwa air yang mengalir dari gunung itu memang baik, bahkan langsung diminum pun tak terlalu menjadi persoalan. Namun demikian, untuk meminumnya langsung kami pasti berpikir seribu kali. Kami harus memasaknya terlebih dahulu hingga benar-benar mendidih minimal selama 5 menit untuk memastikan “kematian” berbagai jenis bibit penyakit sesuai anjuran yang sering kami dengar. Nah, persoalan memasak inilah yang saat ini menjadi perhatian kami.

Meski pemerintah telah mengenalkan penggunaan bahan bakar gas, dan hampir  90 persen lebih warga telah menggunakannya, tetapi tak sedikit warga dalam kegiatan dapur seperti memasak air masih menggunakan kayu bakar kayu. Meskipun ketersediaan kayu bakar jumlahnya juga melimpah, tetapi apa jadinya, terutama dalam jangka panjang, jika semua warga melakukannya, tentu akan berdampak pada penebangan pohon. Dan jika dilakukan dengan frontal dan sporadis tentu berdampak pula pada keberadaan sumber mata air yang ada.  Ini tentu menjadi persoalan besar tersendiri, yang jika tidak segera dicarikan jalan keluar, cepat atau lambat akan mengancam aliran air yang selama ini masih bisa kami alirkan sampai ke dapur. Semoga ini tak sampai terjadi!


Tulisan terkait:
Jejak Wallace di Jombang
Air Terjun Sekelip, Pesona Wisata Jombang yang Terselip
Sepenggal Catatan dari Desa di Kaki Gunung
Durian Wonosalam, Mengapa Lebih Mahal?

3 komentar:

  1. selain uang..
    ternyata dapur bisa kering gara gara air :P

    BalasHapus
  2. wow... air sungainya jernih banget...*gambar yg pertama...

    #jadi ingat masa kecilku dulu, mandi disungai bersama-sama temanku...asyiikkk banget....hehehe

    BalasHapus
  3. Peringatan untuk kota-kota besar seperti Jakarta surabaya,dll. untuk lebih bijak menggunakan air terutama air tanah.

    BalasHapus

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...