Senin, 03 Desember 2012

Catatan dari Tambakberas: Pesantren dan Pertanian

Sumber: Tim Matapena
LUAR biasa! Begitulah yang terlihat ghirah dan gairah anak-anak muda di pondok pesantren Tambakberas Jombang dalam mendiskusikan masalah pertanian, dunia yang selama ini dianggap mempunyai ruang gulita. Sesungguhnya ada anak muda yang mau membicarakan pertanian saja sudah luar biasa, apalagi mau terlibat di dunia pertanian, tentu ini ‘bonus’ keluarbiasaan berikutnya. Mereka adalah santri-santri yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren dan memperoleh beasiswa untuk (sedang) menempuh pendidikan di berbagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia.

Ada sekitar 107 santri/mahasiswa yang berdiskusi yang terdiri atas 21 mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM), 20 mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS), 41 mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), 4 mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), 2 mahasiswa Univesitas Pendidikan Bandung (UPI), 9 mahasiswa IAIN Walisongo Semarang, 8 mahasiswa UIN Kalijaga Jogyakarta, dan 5 mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Ada beberapa catatan dari hasil diskusi dengan topik utama “Pesantren dan Perkembangan Teknologi Pertanian". Pada intinya mereka semua sepakat jika pertanian menjadi salah satu aktivitas di pesantren. Tak sekadar mengaji teks, tapi juga mengasah keterampilan (bertani) di lingkungan pesantren yang sebagian besar ada di pedesaan. Cita-cita awalnya tentu saja untuk mengenalkan dan membangun soft skill para santri serta setidaknya bisa memenuhi kebutuhan (pangan), dan kalau bisa tentu saja untuk kemandirian ekonomi pesantren.

Bagi pesantren kemandirian ekonomi pesantren perlu diperjuangkan sehingga pesantren benar-benar punya bargaining power. Tak mudah dilemahkan dan dilenakan oleh kepentingan-kepetingan (politik) tertentu yang seringkali merasuki dunia pesantren dengan berbagai bantuan, yang ujung-ujungnya meminta “imbalan”.

Pertanyaan-pertanyaan seperti: “Mengapa harus pesantren dan pertanian? Apakah semua pesantren bisa terlibat dalam pengembangan teknologi pertanian? Teknologi pertanian seperti apa yang memungkinkan dikembangkan di pesantren? Faktor-faktor apa yang mungkin menjadi kendala dalam pengembangan teknologi pertanian di pesantren? Apakah dengan mengembangkan teknologi pertanian di pesantren akan mampu menciptakan kemandirian ekonomi?” Sedikit banyak terjawab dalam diskusi ini.

Mereka mengemukakan berbagai argumen, mulai dari alasan teologi, ekonomi dan teknologi, tentang betapa pentingan membanguan pertanian. Setidaknya mereka telah membuat semacam maklumat sebagai pandangan mereka dan action plan yang bisa dilakukan kedepannya.

Meskipun demikian, bukan berarti tanpa kendala memperkenalkan dan/atau mengintesifkan aktivitas pertanian di pesantren. Setidaknya ada beberapa kendala yang muncul dari diskusi tersebut: (1) pandangan masyarakat (pesantren) yang melihat dunia pertanian suram dan tidak prestisius, (2) ada beberapa pesantren yang tidak berada di desa dan tak mempunyai lahan yang luas; (3) kebijakan pemerintah yang kurang mendukung, (4) pola pikir pengasuh (pesantren) yang relatif sulit berubah dan sulit mengikuti perkembangan jaman, (5) ketidakseimbangan kurikulum jika aktivitas pertanian di masukan ke pesantren.

Diskusi tersebut merupakan bagian dari acara "Festival Santri Nusantara: Gerakan Nasional Santri Indonesia Menulis" selama 3 hari dari tanggal 30 November - 2 Desember 2012, dengan yang total pesertanya sekitar 1700 mahasiswa dari 13 Perguruan Tinggi Negeri yang mendapatkan beasiswa dari Kementrian Agama Republik Indonesia.


Artikel terkait:
Teologi Pembebasan Petani
Mandeknya Regenerasi Petani

1 komentar:

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...