Senin, 07 November 2011

Sholat Idul Adha Menghadap Gereja?

SHOLAT Idul Adha menghadap gereja? Ya begitulah yang terjadi dan saya alami. Tahun lalu, saya masih merayakan hari raya qurban di Kota Maumere, Flores NTT. Sebagai umat yang jumlahnya minoritas di kota ini, suasana idul adha biasa-biasa saja, artinya tak semarak dan semeriah di kampung asal saya (Jombang). Itu makanya untuk menambah syiar sekaligus lebih menyemarakkan suasana hari raya, sholat idul adha di kota ini tempat pelaksanaannya dijadikan satu, yaitu di lapangan (alun-alun) tengah kota. Jika pun dilaksanakan di masjid, sepertinya masjid yang ada tak mampu menampung seluruh jamaah.
 

Di kota ini jumlah masjid hanya ada lima bangunan. Jangan dibayangkan bangunan masjid di sini sama dengan masjid di daerah-daerah lain yang jumlah umat islamnya mayoritas. Bangunan masjid umumnya dibangun dengan ukuran yang tak terlalu besar dan tak mempunyai halaman yang memadai untuk bisa menampung banyak jamaah.

Pagi itu pun saya dengan beberapa kawan melakukan sholat idul adha di lapangan tengah kota yang jaraknya dari homebase sekitar empat kilo meter. Lapangan yang juga dijadikan lapangan bola dan upacara bendera serta seringkali dijadikan tempat belajar mengendarai kendaraan. Selain itu kalau malam hari, lapangan ini juga menjadi tempat favorit bagi kalangan muda-mudi di Maumere untuk mojok atau indehoi.

Di tengah-tengah jamaah sebelum sholat idul adha dimulai, saya sempat berbisik kepada kawan saya: “Ternyata sholat kita kali ini menghadap gereja!”

“Kok bisa?” Tanya kawan saya.

“Lha itu lihat, di depan kita berdiri bangunan gereja yang megah”. Lanjut saya. Kawan saya cuma senyam-senyum alias nyengir mendengar jawaban saya.

Memang benar, di sebelah barat lapangan atau dihadapan kami, berdiri megah bangunan gereja, Gereja Calvari, kalau tak salah gereja untuk kaum Protestan yang jumlahnya di kota ini juga bisa dihitung dengan jari. Saya pernah masuk ke halaman gereja ini, mengantar tetangga yang jadi pengantin –padahal anaknya sudah dua :) –. Kebetulan tetangga ini berasal dari Pulau Timor yang menganut Protestan. Sempat saya tanya, kenapa kok tidak ke gereja terdekat, karena sekitar 100 meter dari komplek ada gereja juga. Katanya, karena Protestan, gerejanya juga berbeda dengan Katholik. Saya pun manggut-manggut baru mengerti.

Memang di kota ini lebih banyak berdiri gereja untuk umat Katholik, yang umatnya berjumlah sekitar 90%. Kemana pun memandang, maka akan tampak bangunan-bangunan gereja yang tersebar luas di penjuru kota ini. Rata-rata bangunan gereja di sini megah dan menjulang ke langit.

Pagi tadi, saya juga mendapat SMS dari seorang kawan yang tinggal di Maumere, katanya dia tadi sholat idul adha di lapangan itu, berhubung hari minggu, di gereja itu juga diadakan sembahyang. Katanya lagi, sholat idul adha selesainya hampir bersamaan dengan pelaksanaan sembahyang di gereja yang ditandai dengan lonceng berdentang tiga kali.

Begitulah, bagi saya tak ada masalah sholat ‘menghadap’ gereja seperti ini, yang terpenting adalah bagaimana saya ‘menghadapkan’ hati ini pada Illahi. Tak masalah juga mau sholat di lapangan atau di tempat lainnya, yang terpenting adalah bagaimana saya bisa ‘menghadirkan’ masjid di hati kami. Begitu juga, tak masalah sholat kami bersamaan dengan saudara-saudara kami yang juga sembahyang di tempat peribadatannya.

3 komentar:

  1. Menghadap apapun yang jelas itu adalah arah barat dan niat Lillahita'ala :).

    lama bahkan jarang banget ke blognya Om, aku udah nulis wonosalam looo hihihih

    BalasHapus
  2. benar memang, bukan menghadap ke mana, tapi apa niat kita di hati ini yang di nilaiNYA ....

    BalasHapus
  3. Yang terpenting adalah menghadap Kiblat. Gak penting di depan kita ada apa.....

    BalasHapus

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...