Rabu, 30 November 2011

Inilah Kriteria Umum Menulis Artikel di Kompas

SEKITAR tahun 2001 saya pernah untuk pertama kalinya nekat mengirim sebuah tulisan resensi buku ke Kompas, hasilnya sukses ditolak dan dikembalikan dengan catatan yang dikirim dengan amplop berwarna coklat. Ini yang membuat saya berpikir ulang kalau mau mengirimnya lagi. Saya sempat tidak berpikir lagi untuk menulis untuk sementara waktu. Baru empat-lima tahun kemudian, atau di akhir 2005 saya mulai memberanikan diri lagi untuk menulis dan mengirimkan lagi artikel-artikel saya ke Kompas Jatim dan Jabar, karena saya dalam rentang waktu itu mondar-mandir tinggal di dua tempat itu.

Namun, sejak awal tahun lalu, Kompas edisi daerah, juga koran-koran daerah di bawah “benderanya” sudah tak memberi ruang lagi kepada penulis lepas. Bisa jadi karena sudah ada "ruang publik" lainnya berupa blog keroyokan kompas yang geliatnya semakin menjadi-jadi.

Hasilnya lumayan, setidaknya empat tulisan pertama saya langsung dimuat tanpa ada catatan dan surat balasan. [Sebenarnya ada "surat balasan" yang dilewatkan Pos Indonesia, yaitu pemberitahuan pembayaran pajak sekian persen dari honor yang saya terima. Padahal honornya sudah habis buat beli kopi dan banca'an sama teman-teman, sementara balasannya baru saya terima]. Baru untuk artikel yang kelima sempat mendapat “penolakan”. Setiap penolakan dari redaksi Kompas, selalu disertai dengan catatan-catatan, kenapa artikel tak bisa dimuat. Inilah yang saya suka, meskipun artikel kita tak dimuat, setidaknya ada masukan untuk memperbaikinya lagi. Meskipun saya tak tahu surat atau email itu menjawab secara otomatis atau tidak.

Berikut ini adalah kriteria umum untuk menulis artikel di Kompas yang terkadang saya terima jika artikel saya dikembalikan redaksi Kompas:
  1. Asli, bukan plagiasi, bukan saduran, bukan terjemahan, bukan sekadar kompilasi, bukan rangkuman pendapat/buku orang lain.
  2. Belum pernah dimuat di media atau penerbitan lain termasuk Blog, dan juga tidak dikirim bersamaan ke media atau penerbitan lain.
  3. Topik yang diuraikan atau dibahas adalah sesuatu yang aktual, relevan, dan menjadi persoalan dalam masyarakat.
  4. Substansi yang dibahas menyangkut kepentingan umum, bukan kepentingan komunitas tertentu, karena Kompas adalah media umum dan bukan majalah vak atau jurnal dari disiplin tertentu.
  5. Artikel mengandung hal baru yang belum pernah dikemukakan penulis lain, baik informasinya, pandangan, pencerahan, pendekatan, saran, maupun solusinya.
  6. Uraiannya bisa membuka pemahaman atau pemaknaan baru maupun inspirasi atas suatu masalah atau fenomena.
  7. Penyajian tidak berkepanjangan, dan menggunakan bahasa populer/luwes yang mudah ditangkap oleh pembaca yang awam sekalipun. Panjang tulisan 3,5 halaman kuarto spasi ganda atau 700 kata atau 5000 karakter (dengan spasi) ditulis dengan program words.
  8. Artikel tidak boleh ditulis berdua atau lebih.
  9. Menyertakan data diri/daftar riwayat hidup singkat (termasuk nomor telepon / HP), nama bank dan nomor rekening.
  10. Alamat e-mail opini@kompas.co.id
Itulah kriterianya, sayangnya sejak sekitar awal lalu Kompas edisi daerah termasuk koran "underbow"-nya sudah tak lagi memberi ruang opini buat freelance writer. Yang ada sekarang hanya untuk edisi nasional saja, dan yang pasti perlu keringat dan harus "berdarah-darah" untuk menembusnya. Namun demikian, ada atau tidak "ruang publik" di koran, keep our writing, event just in blog or facebook!

3 komentar:

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...