Senin, 22 Agustus 2011

Mudik, Fenomena Ekonomi dan Spiritual

MUDIK yang terjadi setiap tahun menjelang Lebaran merupakan sebuah fenomena yang menarik sekaligus unik bagi bangsa kita. Menarik dan unik karena mungkin ini adalah satu-satunya fenomena yang tidak terjadi di belahan bumi lain. Berjuta-juta manusia berbondong-bondong pulang menuju kampung halaman masing-masing dalam satu momentum menjelang Lebaran.

Mengapa mudik terjadi? Banyak hal yang melatarbelakanginya. Rasa rindu akan kampung halaman dan keinginan merayakan Lebaran bersama keluarga merupakan alasan klasik pemudik. Bisa jadi oleh sebagian pemudik, mudik juga dijadikan ajang untuk menunjukkan kesuksesan setelah sekian lama meninggalkan kampung halaman.

Kesenjangan pembangunan

Namun, mudik bukan sekadar pergerakan manusia dari kota ke desa untuk melepas rindu terhadap kampung halaman. Lebih dari itu, mudik juga mengindikasikan adanya kesenjangan pembangunan ekonomi antara desa dan kota. Sebagian besar pemudik adalah masyarakat desa yang merantau ke kota. Penyebab dominan mereka merantau adalah faktor ekonomi. Faktor ekonomi mendorong masyarakat desa untuk menyerbu perkotaan dalam rangka perbaikan ekonomi. Hal ini terjadi karena di desa tak tersedia lapangan kerja yang memadai, lahan-lahan pertanian dikuasai pemodal yang kebanyakan orang kota, dan sebagainya sehingga kehidupan ekonomi masyarakat desa semakin tersisih.

Dalam perspektif sosial ekonomi, fenomena mudik mempunyai efek positif dan negatif. Efek positifnya adalah minimal ada aliran uang dari kota ke desa yang dibawa pemudik. Seiring dengan itu, perekonomian di desa yang selama ini relatif statis dibandingkan dengan di kota dengan adanya pemudik sedikit lebih dinamis.

Tak hanya itu, banyak pemudik di samping "bagi-bagi uang" juga membawa produk atau buah tangan untuk keluarganya di desa, seperti poduk makanan dan minuman dari industri-industri kecil. Ini tentu saja mempunyai efek positif bagi kelangsungan hidup produsen atau industri-industri kecil. Perajin parsel dan industri fashion dengan segala pernak-perniknya serta industri jasa transportasi pun tak pernah sepi dari konsumen, terutama menjelang Lebaran. Dengan demikian, mudik Lebaran secara ekonomi mempunyai efek multiplier yang sangat besar.

Namun, di samping efek positif, mudik juga membawa efek negatif, yaitu efek demonstrasi bagi masyarakat desa. Ini merupakan akibat pemudik yang cenderung bergaya hidup mentereng dan berpenampilan modis ala kota. Gaya seperti itu setidaknya menjadi magnet tersendiri bagi warga desa lainnya untuk turut serta merantau ke kawasan kota. Warga desa menganggap bahwa menaikkan taraf kesejahteraan ekonomi bisa dicapai dengan mudah bila pergi ke kota.

Hal seperti itulah yang harus kita waspadai. Dampak positif mudik harus tetap dipertahankan, bahkan efek multiplier-nya diperbesar. Pemudik bisa diimbau untuk tidak sekadar menghambur-hamburkan uangnya demi keperluan konsumsi. Namun, yang lebih penting adalah tujuan-tujuan produktif dengan membantu perekonomian saudara-saudaranya di desa.

Mereka yang kelebihan modal bisa berinvestasi usaha di desa, tentunya untuk memberdayakan sumber daya-sumber daya yang ada di desa. Dengan demikian, di satu sisi mereka mampu menghidupkan kembali ekonomi desanya dan meminimalisasi warga desa lainnya yang akan merantau ke kota.

Spiritualitas mudik

Menariknya, tradisi mudik tidak hanya terkait dengan fenomena ekonomi, tetapi juga fenomena spiritual. Menurut Nurcholis Madjid, manusia lahir membawa dorongan yang sangat alamiah, yaitu dorongan untuk kembali kepada Tuhan sesuai dengan perjanjiannya ketika masih dalam kandungan ibunda. Dorongan tersebut kemudian diwujudkan dengan dorongan untuk menyembah atau berbakti kepada Tuhan. Tidak ada kebahagiaan yang lebih tinggi kecuali kebahagiaan kembali kepada Tuhan, yang dapat digambarkan melalui fenomena pulang.

Lebih jauh, dikatakan pula bahwa pulang atau mudik tidak hanya menjadi suatu fenomena fisik. Akan tetapi, lebih dari itu, mudik merupakan fenomena psikologi. Orang yang pulang akan merasakan kebahagiaan meskipun secara fisik rumahnya sederhana saja. Itulah sebabnya, kita mengenal ungkapan-ungkapan home sweet home, rumahku surgaku, baitul jannah, dan sebagainya sebagai ungkapan kebahagiaan ketika berada di rumah.

Selain itu, ada nilai spiritual lain dari mudik ini yang dapat kita ambil hikmahnya. Setidaknya, menurut Emha Ainun Nadjib, ada empat episode dalam tradisi mudik. Pertama adalah kerinduan untuk pulang ke kampung halaman dan bersilaturahim dengan sanak famili. Ini adalah episode awal dari kebutuhan batin manusia untuk kembali ke asal usulnya.

Kedua adalah pulang secara geografis dan kultural semacam mudik Lebaran. Dari alam nasional, global, universal dan liar, manusia beramai-ramai kembali ke lingkungan primordial. Kampung halaman adalah tanah air konkret, tanah dan air sejarah kelahiran kita. Maka, mudik episode kedua ini sekaligus merupakan bentuk kesadaran atau ikrar kembali bahwa diri manusia berasal dari tanah dan air, yang akan kembali ke tanah dan air.

Episode ketiga adalah kesadaran tentang ibu pertiwi dalam pengertian yang lebih batiniah, yaitu kekhusyukan menginsafi kasih sayang ibunda, kandungan dan rahim ibunda. Betapa di puncak kepusingan hidup ini kita terkadang ingin kembali masuk ke gua garba ibunda.

Terakhir, mudik episode keempat adalah kembalinya kita semua ke pencipta tanah air, ke sumber dan asal usul. Dengan demikian, perilaku kita untuk selalu siap kembali kepada Sang Pencipta adalah puncak dan kesejatian mudik.

Apakah kita juga selalu siap mudik atau setidaknya mengingat mudik yang sejati itu? Selamat mudik!

*Artikel ini telah dimuat di harian Kompas Edisi Jawa Barat, 10 Oktober 2007.

3 komentar:

  1. termasuk aku.... wajib mudik nang meduro biar tidak dianggap menantu durhaka hehehe....

    BalasHapus
  2. coba gambarnya bukan pesawat, Sob...:)

    BalasHapus
  3. Sayangnya tahun ini, untuk kelima kalinya, saya masih belum bisa mudik.

    BalasHapus

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...