Jumat, 20 Agustus 2010

Romantisme Suatu Malam yang Tak Romantis

MALAM ini tepat tanggal 14 menurut penanggalan Jawa, yang berarti purnama telah tiba. Bentuk bulan di langit begitu ndadari, bulat sempurna. Cahaya rembulan yang ndadari kali ini cukup menerangi langkahku untuk menyusuri lorong-lorong perkampungan lingkar kampus. Sejak lepas maghrib tadi aku langsung cabut dari kamar kost, mau mengetik proposal risetku. Malam ini aku terpaksa menumpang mengetik di tempat seorang kawan. Komputer jadulku sedang mogok, entah kenapa mogok, seperti buruh pabrik saja yang sering mogok akibat dibayar ala kadarnya.

Aku juga ingin sekalian silahturahim karena sudah beberapa minggu aku tak berjumpa dengan kawanku ini. Sekalian juga ingin diskusi kecil-kecilan seperti biasanya. Diskusi tentang berbagai hal, mulai agama, suhu politik terkini, dosen pembimbing yang sering keluyuran meninggalkan kampus, juga tentang wanita-wanita yang sering membuat bingung, termasuk juga diskusi tentang jenggot kawanku ini yang sering dibangga-banggakan dihadapan banyak orang, yang katanya tumbuh bak lebah menggantung diterpa angin.
 
Sementara itu, di langit malam yang temaram oleh sinar rembulan seperti saat ini, rombongan awan menyusuri kolong langit dan berputar-putar mendekati sang rembulan. Mungkin awan juga ingin mencumbui rembulan karena malam ini rembulan sangat elok dan bersinar terang sekali. Tetapi sayangnya semuanya tak seterang hatiku malam ini. Sungguh, entah mengapa!

Langit juga dijejali bintang-gemintang yang terang kelap-kelip sangat menggoda pandanganku. Di antara bintang-gemintang itu membentuk beberapa rasi, entah apa nama-nama rasinya, kecuali rasi bintang gubug penceng yang sudah terlihat di sebelah selatan agak ke timur. 
 
Kembali ke rembulan, paras rembulan yang cantiknya bak puteri kayangan dan puteri pahryangan itu sungguh menggodaku, dan sebenarnya aku juga ingin sekali untuk sesekali menggodanya. Tapi aku merasa seperti pungguk saja, pungguk yang merindukan bulan. Meskipun rembulan yang menggantung di langit itu selaksa awe-awe memanggil diriku, dan seolah tahu kegaduhan hatiku. Seperti sebuah syair lagu Jawa yang yang samar-samar kuingat liriknya:
sore-sore padhangmbulan
ayo kanca pada dolanan
rene-rene bebarengan
rame-rame e ‘do gegojekan
kae-kae rembulane
yen disawang kok ngawe-awe
koyo-koyo ngelingake
kanca kabeh ojo turu sore-sore ….

[… sore-sore terang bulan
mari kawan kita bermain
kesinilah bersama-sama
ramai-ramai bergembira
itu bulannya
kalau dipandang seperti melambai-lambai
sepertinya mengingatkan
kawan semua jangan tidur sore-sore ….]

Entah apa tafsirnya kata-kata yang penuh kiasan itu, meskipun terkesan sederhana. Seperti kalimat ojo turu sore-sore atau jangan tidur sore-sore mungkin banyak tafsir untuk memahaminya. Yang jelas, pesannya jangan tidur sore-sore, terserah kita gunakan untuk apa waktu tidak tidur sore-sore itu. Mengingat Tuhan atau sekadar melewati malam-malam dengan main gaple. Terserah kita bagaimana menafsirkan dan memahaminya.

Bulan juga menjadikan diriku semakin larut dalam romantisme yang sebenarnya tak romantis. Bulan menjadi inspirasi yang tak ada habis-habisnya, dan mungkin saja penyanyi-penyanyi dari tanah pasundan seperti Nining Meida yang menyanyikan lagu Ka Bulan atau Doel Sumbang yang sudah kondang dan suaranya kadang sangat sumbang itu, terinspirasi dengan suasana romantis saat bulan purnama dengan menyanyikan lagu Bulan Batu Hiu.

Aku masih terus menikmati pancaran cahaya keemasan rembulan yang membelai lembut wajahku yang kusam ini. Gang-gang sempit nan gelap, atap-atap rumah PSK (Penduduk Sekitar Kampus), pucuk-pucuk pepohonan, serta bebatuan yang berserakan di gang sempit ini pun tak luput dari belaiannya hingga ikut merona menguning keemasan. Pikiranku mengembara kemana-mana, menembus batas cakrawala, melintas di kedalaman samudera masa lalu, juga memikirkan seseorang yang mungkin seseorang itu tak akan pernah memikirkanku!
 
Malam liburan, besok kalender warna merah, begitu sunyi. Hanya angin semilir dan tumpukan diktat-diktat kuliah dan buku-buku puisi dan sastra plus novel picisan di ranselku yang setia menemaniku malam ini. Cahaya rembulan juga masih setia membelai wajah kusamku. Semakin indah saja dia dengan wajah purnamanya. Meskipun terkadang ia malu-malu, bersembunyi di balik awan berarak. Malu-malu, seperti halnya diriku bila bertemu seseorang yang sedang kupikirkan kali ini!

Malam purnama begini, dahulu kala simbok dan nenekku biasa mendongeng dan menggelar tikar pandan di halaman depan rumah. Memori itu masih menancap di kepalaku. Nenek biasanya mendongeng tentang kisah-kisah seputar rembulan dan pernak-perniknya. Ah, tapi adakah kisah cinta rembulan dan matahari yang tak pernah nyambung sampai saat ini? Mengapa ini matahari tak pernah berdampingan apalagi bersanding dengan rembulan? Dan kalaupun mereka terpaksa berpapasan, rembulan akan pucat pasi, mungkin malu atau takut menatap matahari yang terkadang galak itu. Seperti halnya diriku, malu-malu bila bertemu dengan seseorang yang sedang kupikirkan kali ini!

Nenek juga mendongeng tentang Buto Ijo atau Batarakala yang bersenjatakan Cakra, yang katanya suka mencaplok rembulan kala purnama. Itu makanya seringkali terjadi dimana pada saat purnama, rembulan hanya bercahaya separuh atau bahkan tak bercahaya. Inilah yang saat ini kusebut sebagai gerhana bulan tidak total dan gerhana bulan total. Ketika itu, aku percaya saja dengan dongeng nenek. 
 
Tengah bulan purnama juga mengingatkanku pada kisah cinta klasik dari tanah Jawa. Kisah asmara yang sangat romantis, penuh perjuangan dan juga kenekatan yang sering dipentaskan para pemain ludruk yang sedang toneel di kampungku. Kisahnya, demi sang kekasih yang dicintainya, Maling Cluring yang sedang tergila-gila, sedang kedanan, menculik gadis pujaanya ketika bulan purnama. Aku belum bisa memahami kenapa tengah bulan purnama dia menculiknya. Padahal terang bulan akan menyulitkannya untuk beraksi, akan mudah diketahui orang lain karena ketika bulan purnama, cahaya bulan akan nampak terang benderang menyinari bumi. Benar-benar nekat Maling Cluring ini. Dibenakku, mungkin Si Maling Cluring itu akan mengajaknya terbang ke bulan, mumpung bulan lagi cantik-cantiknya, biar bulan cemburu melihat mereka memadu kasih.

Kembali semilir angin menyapaku dingin malam ini. Angin yang sepertinya turun dari gunung Salak seolah berbisik tentang rahasia sunyi. Pucuk-pucuk cemara pun yang menjulang tinggi ikut bergoyang-goyang. Udara juga semakin dingin. Bintang-bintang di langit kian gemerlap berlatarkan langit biru kehitaman tak berpenyangga. Bulan pun –seperti kata Ebiet G. Ade– keemasan kuning berkilauan, merayap ke langit menikam bumi, bergetar seluruh jagad raya ini. Semakin elok saja rembulan malam ini.

Malam ini aku merasa seperti kisah dalam lagu Lelaki dan Rembulan-nya Franky and Jane:

rembulan di malam hari
lelaki diam seribu kata
hanya memandang
hatinya luka hatinya luka

udara terasa berat
karena asmara sesakkan dada
ketika cinta terbentur dinding

bukalah pintu hatimu yang selalu membeku
agar kulihat lagi rembulan di wajahmu
jangan sembunyikan hatimu padaku

lelaki dan rembulan
bersatu di malam
angin sepoi-sepoi

Seperti lagu itu, aku diam seribu bahasa. Tetapi aku merasa hatiku tak terluka lagi, sungguh tak terluka lagi! Sebab aku tak pernah lagi merasakan sakit hati. Entah kenapa, mungkin hatiku lebih dari terluka, berlubang menganga! Ditembus berbagai kekecewaan masa lalu. Dan malam ini aku hanya ingin menyapa rembulan dan bersatu di malam angin sepoi-sepoi kali ini.

Aku masih berjalan sendirian, angin malam yang turun dari Gunung Salak masih setia membelai dedaunan. Mengayun daun-daun bambu kuning yang mulai menguning. Angin juga masih bersahabat, meski terkadang membuatku masuk angin, tapi ia tetap setia menemaniku. Tak kuragukan lagi kesetiaan angin malam ini.

Kembali melintas dalam benakku wajah seseorang itu. Entah, apakah diriku juga melintas di benaknya malam ini. Yang jelas tidak seperti hembusan angin malam ini yang kesetiaannya tak kuragukan lagi. Aku masih sering bertanya-tanya dan ragu-ragu akan kesetiaan seseorang yang wajahnya sering melintas dibenakku ini. Ah, semakin pening saja kepalaku, lebih pening daripada berpikir tentang proposal penelitian tesisku yang mbulet tak karuan akibat sering “bentrok” dengan kemauan profesor pembimbingku.

Bogor, Radar 10 House, 2 Juni 2004

5 komentar:

  1. Baca liriknya gethuk diatas aku masih ingat lagu itu dulu sempat dibawakan oleh penyanyi favoritku di TVRI, Mbak Evie Tamala. Gayeng tenan :)

    BalasHapus
  2. Maling Cluring? baru denger ini.. :)

    *ngebayangin ketemu malingg cluring trus dibawa lari ke bulan* :P

    BalasHapus
  3. @ning maling apaan tuch !

    @junaedi pak de toppp

    BalasHapus
  4. disini malam purnama malah pas mendung ...

    BalasHapus

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...