Kamis, 25 Februari 2010

Jombang, Nasi Aking dan Ketahanan Pangan

MOMENTUM yang tepat! Itulah kegiatan kawan-kawan Jombang di Bogor yang tergabung dalam Jombang AgroStudent Community [JAC-IPB, sebuah organisasi mahasiswa daerah asal Jombang di Institut Pertanian Bogor yang dideklarasikan pada tanggal 15 Oktober 2005] mengadakan kegiatan seminar di Jombang dengan tema “Peran Pendidikan dan Pertanian dalam Membangun Ketahanan Pangan”, pada tanggal 7 Februari 2010 yang lalu di Ruang Bung Tomo, Pemda Jombang, dengan jumlah peserta yang membludak dan ‘meledak’. Kenapa?

Beberapa waktu sebelumnya, muncul kisah pilu ‘sepilu-pilunya’ warga Dusun Pulosari, Desa Pulosari, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang yang terpaksa makan nasi aking akibat berbagai sebab. Sebuah potret ketidaktahanan pangan sekaligus kenestapaan yang membuat hati terenyuh terisis-iris. Jombang yang selama ini di kenal sebagai salah satu lumbung pangan ternyata juga menyimpan “luka pembangunan”.

Entah ini sebuah keteledoran, kealpaan, pengabaian atau apapun yang kita lakukan, yang jelas saudara kita itu lapar! Tak kuasa dan tak tega saya memberi komentar panjang lebar [orang lapar kok di komentari]. Untuk itu silahkan saja membaca berita yang saya “cangkul” dari Kompas, 18 Januari 2010, dengan judul: ”Tanah Hilang, Kemiskinan Datang”, termasuk foto ilustrasi di atas juga langsung saya ambil dari koran yang sama. Semoga bisa menjadi cermin diri dan semakin mempererat kohesivitas kehidupan sosial kita.

Minggu (17/1) siang, Amini (43) sibuk menampi ”beras” di rumahnya di Dusun Pulosari, Desa Pulosari, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. ”Beras” yang dimaksud adalah nasi aking, yaitu sisa nasi kemarin yang dikeringkan untuk dimasak lagi.

Nasi aking bersama gaplek dan jagung bisa dibilang menjadi makanan pokok Amini dan keluarga serta sebagian besar warga desa itu. Hanya sesekali mereka makan nasi aking dicampur beras.

”Harga beras mahal, sekarang Rp 6.500 per kilogram. Jatah raskin (beras untuk rakyat miskin) per bulan hanya enam kilogram, sedangkan keluarga saya dalam sehari paling tidak butuh makan 2 kilogram beras. Jadi, ya, makan nasi aking,” tutur Amini.

Jatah raskin yang diterima juga tidak bisa dipastikan jadwalnya dan kerap terlambat datang.

Amini dan suaminya bekerja sebagai buruh tani. Jika sedang tidak ada lahan yang digarap, mereka tidak beroleh penghasilan. Rata-rata penghasilan Amini dan suami hanya Rp 500.000 per bulan. Uang itu untuk makan sekeluarga pun tidak cukup. Akibatnya, tiga anak mereka terpaksa putus sekolah.

Amini menuturkan, dua anak perempuannya, berusia 20 tahun dan 17 tahun, hanya lulus sekolah dasar. Keduanya kini menganggur. ”Anak saya yang ketiga mengalami gangguan jiwa,” kata Amini.

Tetangga Amini, Mianam (37), juga bekerja sebagai buruh tani. Menurut Mianam, upah yang didapat hanya sekitar Rp 15.000 per hari.

”Kalau sedang tidak ada kerjaan, saya cari pekerjaan serabutan ke kota. Kalau tidak ada penghasilan, ya, ngutang,” kata lelaki itu.

Menurut Mianam, penduduk desa itu tidak ada lagi yang memiliki lahan. ”Sawah dan kebun sudah habis dibeli oleh orang-orang dari Surabaya dan Jakarta. Warga desa di sini hanya jadi buruh,” katanya.

Uang instan

Mianam bercerita, peralihan kepemilikan lahan tanah terjadi mulai tahun 1970. Saat itu penduduk desa banyak menjual lahan untuk mendapat uang dalam jumlah besar secara instan.

”Mungkin mereka tidak sadar kalau (generasi) sesudah itu jadi tidak punya tanah,” kata Mianam.

Purnomo (56), Ketua RW 4 Dusun Pulosari, Desa Pulosari, Kecamatan Bareng, mengatakan, di wilayahnya ada sekitar 500 orang yang bernasib seperti Mianam dan Amini.

”Warga saya kebanyakan putus sekolah setelah lulus SD. Lulusan SMA bisa dihitung dengan jari karena sedikit sekali,” katanya.

Menurut Purnomo, tidak banyak warga desa yang merantau. Sebagian besar tetap berada di desa dan menjadi penganggur. Kebanyakan penduduk tinggal di rumah berdinding anyaman bambu dan berlantai tanah.

”Sebenarnya tanah di desa ini subur dan bisa ditanami, tetapi warga sudah tidak lagi memiliki lahan,” kata Purnomo.

Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf saat berkunjung ke Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyiin Pacul Gowang, Diwek, Kabupaten Jombang, hari Minggu, mengatakan, warga Pulosari merupakan bagian dari 491.000 keluarga sangat miskin di Provinsi Jatim yang tidak memiliki kemampuan ekonomi apa pun.

Menurut Saifullah, saat ini keluarga sangat miskin itu sudah selesai didata sampai nama dan alamatnya.

Untuk mengatasi kemiskinan di wilayahnya, Pemerintah Provinsi Jatim berencana memberikan bantuan, baik berupa uang tunai, raskin, maupun pengobatan gratis.

Bantuan tunai akan diarahkan untuk pemberdayaan. Namun, Saifullah tidak merinci bentuk pemberdayaan yang dimaksud. Adapun untuk pengobatan gratis, menurut dia, biayanya akan ditanggung bersama antara pemerintah pusat dan daerah.

2 komentar:

  1. hhm......
    jombang ternyata miskin yaa

    BalasHapus
  2. Kobarkan semangat pada rakyat Jombang untuk bisa lebih baik..

    BalasHapus

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...