“…..sekadar catatan untuk melepas penat disela-sela mencangkul di tengah ladang sambil menikmati hembusan angin di siang hari, nyanyian burung-burung, lenguhan kerbau, hamparan langit biru, gemericik air pancuran, hijaunya dedaunan, aroma keringat, sengatan matahari, belalang-belalang yang lalu-lalang berlompatan, dan tentu saja secangkir kopi pahit dan sepotong singkong rebus…..”


Tuesday, March 31, 2009

Mereka Belum Merdeka!


INILAH potret buram yang sempat saya rekam di perempatan lampu merah Jl. Merdeka Jombang. Sudah beberapa tahun yang lalu saya mendapati ibu ini ”ngetem” di perempatan ini. Seorang ibu yang mempunyai kondisi fisik tidak sama dengan kebanyakan orang (difabel), entah akibat kelumpuhan sejak kecil atau apa, terpinggirkan dengan menjadi peminta-minta. Setiap traffic light berwarna merah dan kendaraan berhenti, ibu itu dengan cara ngesot bergerak mendekati pengendara dan menyodorkan tangannya, meminta kepada pengendara untuk sedikit berderma dengan memberikan uang ala kadarnya saja.

Menyaksikan ini, saya tak bisa membayangkan jika ibu ini adalah ibu atau kerabat dekat saya. Saya juga tak kuasa curiga, apakah ibu ini dieksploitasi dan dikoordinir orang-orang tertentu atau apakah ibu ini sejatinya orang kaya yang berpura-pura miskin dan sebagainya. Ini Jombang, bukan kota metropolitan yang multikompleks, yang peminta-mintanya tak sedikit yang dikoordinir dengan sistematis, meskipun bukan berarti di Jombang tak ada yang seperti itu. Namun yang sering saya lihat, setiap pulang atau pergi ibu ini selalu naik becak.

Hampir 64 tahun proklamasi kemerdekaan dikumandangkan, namun sampai saat ini masih banyak anak-anak bangsa yang terbelenggu dan mencari kemerdekaan sendiri. Masih banyak ibu-ibu yang seperti ibu di Jalan Merdeka ini. Masih banyak tunas-tunas bangsa yang mekar dan layu di jalanan. Mereka mengukur jalanan, mengorek-ngorek mencari kemerdekaan yang sesungguhnya. Entah, dimanakah kemerdekaan itu.

Saya hanya teringat pasal dalam UUD ’45 yang seharusnya dilaksanakan dengan murni dan konsekwen, bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara! Sayang negara kita terlalu banyak memelihara bahkan melahirkan pencoleng!

Baca juga di Kompasiana



Labels:

5 Comments:

Anonymous taufan said...

pemimpin negeri ini mungkin sudah jadi Ratu Cacing Anil, kerjanya lelet kayak jalannya cacing, ditambah santai sambil anil, ancur deh...

Wednesday, April 01, 2009 10:15:00 PM

 
Anonymous Sekolah Pramugari said...

Selamat Sore…
Salam Kenal dari Balikpapan…
berkenan tukaran link..? :)
Terima KAsih....

Thursday, April 02, 2009 2:58:00 PM

 
Blogger ino said...

waktu kuliah dulu temanku ada yang bilang begini :
"kita ga perlu memberi sesuatu pada pengemis, karena hal itu tidak mendidik, dan akan terus membuat mereka manja, tidak mau berusaha dan hanya bisa meminta"
mungkin dia benar juga, mungkin juga tidak, ga tau deh...

Sunday, April 05, 2009 9:59:00 AM

 
Blogger Elsa said...

aku paling sebel sama pengemis yang pake atribut 'anak'. bawa anak-anaknya untuk mengemis agar lebih dikasihani.
menurutku, lebih parah tuh... masa anak masih kecil sudah dididik jadi pengemis pula

Monday, April 20, 2009 12:45:00 PM

 
Anonymous rrhakim said...

mereka belum merdeka. merdeka kan negaranya. di Amerika juga masih ada pengemis loh.

Tuesday, June 02, 2009 10:57:00 AM

 

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home