“…..sekadar catatan untuk melepas penat disela-sela mencangkul di tengah ladang sambil menikmati hembusan angin di siang hari, nyanyian burung-burung, lenguhan kerbau, hamparan langit biru, gemericik air pancuran, hijaunya dedaunan, aroma keringat, sengatan matahari, belalang-belalang yang lalu-lalang berlompatan, dan tentu saja secangkir kopi pahit dan sepotong singkong rebus…..”


Wednesday, February 4, 2009

Pemuda dan Regenerasi Petani


SELAMA ini peran generasi muda dalam pembangunan pertanian sedikit terabaikan. Akibatnya, regenerasi petanipun sulit berjalan sehingga pertanian tetap didominasi generasi tua yang tentu mempunyai berbagai implikasi. Salah satu implikasinya adalah pertanian berjalan di tempat dan sulit melakukan perubahan yang mendasar. Mungkin ini salah satunya yang menyebabkan kondisi pertanian kita terus mengalami pengeroposan, renta dan kurang darah.

Padahal, dengan komposisi pemuda kita saja saat ini hampir 40 persen dari total jumlah penduduk, tentu ini sebuah potensi besar yang dapat dioptimalkan untuk membangun pertanian. Apalagi selama ini kita dikenal sebagai bangsa agraris dengan dukungan iklim, sumber daya alam dan sumber daya manusia muda yang melimpah, tentunya sangat ironis jika kondisi pertanian kita tetap seperti saat ini. Jadi pada intinya, melibatkan pemuda atau dengan kata lain menyegerakan regenerasi petani adalah sebuah hal yang sangat mendesak bagi bangsa agraris ini.

Tak Menarik

Adanya kecenderungan para pemuda terutama yang tinggal di kawasan pedesaan yang kurang tertarik terhadap dunia pertanian tentu berakibat pada sektor ini hanya di dominasi oleh generasi tua yang acapkali kurang responsif terhadap perubahan. Umumnya dalam pandangan pemuda, bertani adalah pekerjaan tradisional yang kurang bergengsi dan hasilnya disamping tidak segera dapat dinikmati juga jumlahnya yang relatif kecil.

Pandangan tersebut tentu mempengaruhi minat orang-orang muda untuk mau menjadi petani. Ini didukung oleh budaya instan, ingin cepat menghasilkan. Sementara pertanian memerlukan waktu panjang dengan kesabaran yang tinggi dalam menghadapi berbagai resiko internal dan eksternal. Ditambah lagi dengan berbagai kebijakan yang tidak pro-petani dan justru seringkali pertanian dipandang sebelah mata dan dijadikan komoditas politik tanpa mempedulikan nasib dan masa depan pertanian.

Di samping itu, kurangnya dukungan para orang tua baik secara mental maupun material terhadap anak-anak muda untuk menjadi petani juga menjadi penyebab pemuda tak tertarik menjadi petani. Alih-alih memberikan dukungan, justru orang tua acapkali mengendorkan syaraf anak-anak muda yang berkeinginan menjadi petani. Mereka lebih menginginkan anak-anaknya menjadi dokter, birokrat, pilot dan profesi lainnya yang dianggap lebih prestise. Indikasi seperti ini salah satunya dapat dilihat dari banyaknya sekolah-sekolah pertanian ataupun fakultas-fakultas pertanian, terutama di perguruan tinggi swasta, yang kondisinya kekurangan mahasiswa.

Akhirnya banyak para pemuda, terutama yang tinggal di desa, lebih tertarik pada pekerjaan-pekerjaan non-pertanian di kawasan kota-kota besar terutama di kota-kota besar di Pulau Jawa. Mereka bekerja di sektor non-pertanian semisal menjadi pegawai, buruh pabrik, buruh bangunan, jasa transportasi baik yang formal maupun non-formal, yang menurut pandangannya lebih bergengsi. Kalau mereka mempunyai keahlian spesifik, tentu hal ini bukan masalah. Namun, tak sedikit dari mereka yang tak mempunyai keahlian spesifik dan keberuntungan justru menjadi beban di kota karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan.

Membangun Citra Pertanian

Oleh karena itu, untuk menumbuhkan minat dan kemauan serta merubah paradigma berpikir tentang pertanian dapat dimulai dengan membangun citra pertanian. Paradigma berpikir tentang pertanian selama ini sedikit banyak telah menurunkan citra pertanian terutama bagi pemuda. Paradigma berpikir harus kita ubah, bahwa pertanian bukan sekadar mencangkul di sawah dan menjadi petani tidak selalu identik dengan kemiskinan. Pertanian bukanlah sektor tradisional yang kurang bergengsi dan tidak memberikan nilai tambah, tetapi merupakan sektor strategis yang mampu memberikan nilai tambah yang berlipat jika dikelola secara profesional dan komersial seperti sektor-sektor lainnya. Bahkan kemajuan sektor-sektor lain sangat tergantung pada kemajuan sektor pertanian.

Untuk membangun citra pertanian, sosialisasi maupun kampanye-kampanye pertanian yang membuat generasi muda tersadar akan pentingnya pertanian dengan segala potensi yang dimilikinya. Sosialisasi dapat dilakukan dengan memanfaatkan berbagai media komunikasi semacam radio, televisi, surat kabar dan media publikasi lainnya.

Selanjutnya, yang perlu dilakukan adalah membuat semacam Balai Latihan Kerja Pertanian. Balai Latihan Kerja Pertanian sangat diperlukan yang nantinya akan menjadi kawah candradimuka penggemblengan dan pusat kegiatan pengembangan pengetahuan dan keterampilan serta penyebarluasan konsep-konsep dan metode pertanian mutakhir dan berbudaya.

Demikian juga, adanya program pertukaran pemuda tani, sangat menarik dan perlu dilakukan. Kalau selama ini pertukaran pelajar dan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu seringkali dilakukan, apa salahnya program pertukaran pemuda tani juga dilakukan untuk memberi kesempatan para petani-petani muda, utamanya yang tinggal di pedalaman pedesaan untuk pengembangan wawasan pertaniannya. Ini juga sebagai suatu upaya untuk menampilkan wajah pertanian yang menarik dan diminati oleh semua orang, khususnya orang muda di pedesaan.

Namun, yang terpenting dari hal itu semua adalah tetap diperlukan keberpihakan kebijakan yang pro-petani dan pertanian. Segala upaya di atas jika tanpa dibarengi dengan keberpihakan pembuat kebijakan tetap saja tak akan mampu menarik pemuda untuk menjadi petani.

Dengan demikian, diharapkan ke depan pertanian akan lebih menarik bagi generasi muda. Regenerasi petani pun tak akan berhenti dan profesi petani akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi kaum muda. Pemuda akan mengoptimalkan diri berpartisipasi dalam pembangunan pertanian sekaligus menjadikan pertanian sebagai tumpuan masa depannya. Semoga!

Labels:

8 Comments:

Anonymous wongtani said...

yang muda, yang bergairah, yang berani, yang beragirah, yang nekat bertani di zaman ini!!!!

Wednesday, February 04, 2009 10:54:00 AM

 
Anonymous Bianglala said...

Yang punya lomba nlog ini sering ke petaani lo. Beliau mungkin punya jurus untuk PR ini. Kunjungi saya donk.........

Wednesday, February 04, 2009 1:59:00 PM

 
Blogger Elsa said...

kakek nenekku seorang petani...
anak cucunya... tidak ada yang bertani.

padahal "katanya" negara kita ini agraris ya...

Wednesday, February 04, 2009 6:42:00 PM

 
Anonymous rianti said...

Mas ini petani apa penulis sih? tulisannya ok banget...!

Saturday, February 07, 2009 7:59:00 AM

 
Anonymous Anonymous said...

jaman sekarang mo jadi petani? capek deh!!!

Monday, February 09, 2009 10:54:00 AM

 
OpenID alidabdul said...

nemu ini link di bugiakso om... salam kenal...

petani? hmmm saya ndak punya sawah... lagian menurut kita2 yang muda petani tuh gag elit n gag menarik... itu ajah.... biasa wong indonesia kan suka menyepelekan hal yang kecil...

Wednesday, February 11, 2009 4:53:00 PM

 
Anonymous taufan said...

nah berarti initi untuk memacu regenerasi petani muda adalah bagaimana melakukan pencitraan dunia pertanian secara lebih luas dan menarik kepada kaum muda, jadi biar mereka ga "cupet" tentang pertanian...opo maneh Njombang

Thursday, February 12, 2009 11:07:00 PM

 
Blogger vbi_djenggotten said...

kliatannya juga berkaitan ama jalur distribusi hasil peratanian...

klo mau pertanian maju, petaninya juga harus dimajukan secara ekonomi...

ini yg mungkin kurang "diketok" sama pihak terkait...

klo ekonomi petani maju, mungkin bisa merangsang masayarakat untuk ikut bertani...

Monday, February 23, 2009 2:38:00 PM

 

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home