Rabu, 24 Desember 2008

Orang Ladang Memandang Prabowonomics

KEMUNCULAN kembali Prabowo Subianto akhir-akhir ini dengan iklan politiknya di berbagai media, adalah fenomena baru yang layak dicermati. Di tengah hiruk-pikuknya berbagai iklan politik yang mengedepankan konsep-konsep “melangit” tiba-tiba saja mencuat iklan politik dengan konsep-konsep “agak membumi” atau konsep ekonomi kerakyatan. Saya tidak akan membahas semua konsep ekonomi kerakyatan yang dicanangkan Parbowo Subianto atau yang lebih dikenal dengan Prabowonomics.

Dalam kajian ilmu ekonomi, istilah ekonomi kerakyatan, seperti yang hangar-bingar diperbincangkan dalam satu dasawarsa terakhir ini, termasuk oleh para politikus, memang tak pernah dibahas, tetapi ini adalah istilah populistik yang sarat dengan nuansa politik yang seringkali dihembuskan tanpa makna. Suka atau tidak suka realitanya seperti ini.

Namun begitu, bukan berarti saya anti dan tak mengakui adanya konsep ekonomi rakyat. Diakui atau tidak, ada atau tidak adanya ekonomi rakyat dalam kajian ilmu ekonomi, maupun penuhnya nuansa politik yang melingkupinya, ekonomi rakyat yang saya pahami tetap bergerak dan bertahan menggerakkan roda perekonomian bangsa. Realitas empirik selama ini menunjukkan bahwa ekonomi ekonomi rakyat merupakan kegiatan ekonomi yang menghidupi banyak orang. Setiap hari yang kita santap di meja makan adalah bahan-bahan hasil produksi rakyat, bukan produksi ekonomi modern yang digawangi konglomerat. Meskipun saat ini kita juga sering makan hasil produksi rakyat luar negeri (impor). Ini juga sebuah “ironi yang lain”.

Lalu apa yang menarik dari iklan politik Prabowo Subianto? Karena saya sampai saat ini belum menemukan blue print-nya kecuali membaca manifesto partai pengusungnya, Partai Gerindra, secara umum saya menilai masih normatif dan “datar-datar” saja. Namun begitu, bukan berarti semuanya normatif dan datar-datar saja. Ada beberapa hal yang menarik dan mengusik perhatian saya sebagai “orang ladang” selama ini, yaitu seruannya untuk membeli produk-produk petani Indonesia dan program penanaman sejuta pohon aren (hal ini pernah disampaikan di salah satu pesantren di Kediri, Jawa Timur). Memang seruannya terkesan sangat sederhana. Namun dibalik kesan sederhananya itulah yang membuat menarik (setidaknya bagi saya) dan seandainya diikuti oleh banyak orang tentu akan mempunyai implikasi yang luar biasa bagi kehidupan ekonomi kita, termasuk menjawab “ironi yang lain” itu.

Saya tak akan menjelaskan secara detail, apalagi memakai pendekatan social cost dan economy cost dan ataupun teori-teori ekonomi yang kadang ruwet, njelimet dan mbulet. Intinya, apa yang diserukan Prabowo Subianto adalah seperti angin segar yang berhembus menerobos ladang-ladang dan menyejukan kaum ladang yang selama ini gerah dengan berbagai kebijakan yang terus meminggirkannya. Apalagi posisinya yang strategis menjadi “komandan” Himpunan Kerukunan Tani Indonesia, tentu lebih mudah menanamkan ide-idenya ini di kalangan peladang. Seruan yang sederhana tetapi mengena! Ini mungkin yang membedakan cara beriklan Prabowo Subianto dibanding dengan yang lain.

Membaca idenya itu, muaranya adalah untuk memajukan sektor pertanian yang selama ini kondisinya karut-marut. Bila sektor pertanian maju, tak hanya petani sendiri yang diuntungkan, tetapi juga akan membuat gairah perekonomian lainnya lebih semarak. Sektor perdagangan misalnya, akan lebih dinamis, pasar-pasar akan lebih hidup, gerai atau dealer-dealer motor-mobil di kawasan pusat kota pun akan ikut memanen. Belum lagi sektor industri baik yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan sektor pertanian akan turut pula menikmati kemajuan sektor pertanian. Ini pembacaan sederhana saya terhadap ide-ide Prabowo Subianto.

Saya tak tahu mengapa Prabowo Subianto mempunyai kepedulian dengan kehidupan petani dan dunia pertanian. Apa hanya untuk mendulang suara menjelang hajatan politik tahun 2009 nanti atau benar-benar pengabdian sebagai anak bangsa, wallahualam! Namun begitu saya sangat apresiatif dengan “kemunculannya” dengan membawa ide-ide “sederhana tetapi mengena”, meskipun belum tentu saya memberikan suara untuknya, kecuali ke depan bisa “merayu” dan meyakinkan saya!

Untuk mewujudkan ide-ide “sederhana tetapi mengena” itu bukan berarti tidak dibutuhkan keberanian dan ketegaran, tetapi juga butuh “kegilaan” sekaligus kesabaran untuk bisa melihat hasilnya. Mungkin bukan kita yang menikmatinya, tetapi bisa jadi anak-cucu kita yang memanennya!

Terakhir, saya berharap ide-idenya ini tidak seperti angin di siang hari yang melenakan dan menjadi retorika belaka. Demikian juga terhadap partai pengusungnya, meskipun partai baru tetapi akhir-akhir ini, menurut beberapa polling dan komentar para pengamat politik, mendapat tempat hampir sejajar dengan partai-partai besar lainnya yang sudah mapan. Tentu ini sebuah awalan yang baik. Namun, apakah Gerindra nantinya mampu menggerakan semua elemen bangsa Indonesia, tentu sesuai dengan namanya, Partai Gerakan Indonesia Raya, atau malah menjadi Partai Geeerrr Indonesia Raya, yang tentu ini tidak kita harapkan, kita tunggu saja kiprahnya di blantika perpolitikan Indonesia. Wallahualam bishowab!


*Gambar diambil dari sampul buku "Dari Ladang Sampai Kabinet: Menggugat Nasib Petani", oleh JA. Noertjahyo, Penerbit Buku Kompas, 2005.

5 komentar:

  1. Salam kenal mas.. tahu blog pean dari comment pean di pro-ibid.com..

    ...
    ...
    Tertarik memang saya dengan nasib petani yang sedang didekati calon tersebut. Namun melihat dari gebyar cara dia beriklan.. kira-kira nantinya petani kuat ga dukung model pemimpin yang seperti itu..

    BalasHapus
  2. ya demikianlah dari dulu kultur yang dibangun ketika menjelang pesta demokrasi, obral barang dagangan dengan sejuta "ingredients' yang menjanjikan. saya sendiri juga ndak tau persis apa prabowo punya keinginan tulus memajukan pertanian Indonesia, terutama kalo beliau gagal jadi RI 1. kalau memang tulus, meski ndak jadi RI 1 saya sangat optimis dengan kehadiran beliau yang memiliki karakter kuat untuk menjadi pionir revitalisasi pertanian(peternakan) Indonesia.

    BalasHapus
  3. Ayo GERINDRA, buktikan "kerakyatanmu", usung hak angket century

    BalasHapus

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...