Jumat, 25 Juli 2008

Desa dan Kemiskinannya

SAMPAI saat ini di pedesaan, khususnya di Jawa Barat, masalah yang sering kali mengemuka adalah tingginya jumlah kaum miskin. Meskipun masyarakatnya terlihat bekerja, sebenarnya yang terjadi adalah tingkat pendapatan yang sangat rendah. Banyak masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan. Hidup mereka tergantung pada kemurahan alam dengan penghasilan subsisten. Apalagi, dalam kondisi harga-harga yang melonjak seperti saat ini daya beli masyarakat semakin menurun. Jumlah orang miskin dan penganggur terselubung kian meningkat. Bila hal ini tidak segera ditangani, tentu akan timbul gejolak sosial.

Diakui atau tidak, kemiskinan di pedesaan tidak sepenuhnya disebabkan faktor kemalasan. Akan tetapi, hal itu lebih disebabkan masyarakat di desa kurang menguasai akses-akses dalam menambah ilmu, keterampilan, modal, dan pengalaman untuk menggali sumber penghidupan yang dapat membebaskannya dari belenggu kemiskinan.

Untuk mengatasi hal itu, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Dulu ada program-program bantuan desa, seperti Inpres Desa Tertinggal (IDT) dan Jaring Pengaman Sosial (JPS), sedangkan saat ini ada program semacam bantuan langsung tunai (BLT) dan beras untuk rakyat miskin (raskin). Namun, sering kali kita temui program-program tersebut mengalami hambatan. Kalaupun menyentuh masyarakat, program-program tersebut banyak yang tidak sesuai lagi dengan konsep. Selain itu, memang banyak program yang tidak sesuai dengan kondisi masyarakat.

Upaya Pemberdayaan

Oleh karena itu, upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat desa harus segera dilakukan, seperti melalui pengembangan investasi masuk desa. Alih teknologi dan manajemen perlu dijadikan tujuan utama yang dikelola secara profesional dan komersial. Hal ini juga tidak dapat terpisah dari masalah pengembangan sumber daya manusia (SDM).

SDM mengisyaratkan perlu adanya perubahan paradigma dan orientasi, pengetahuan, keterampilan, dan perilaku masyarakat pedesaan. Dengan demikian, pemberdayaan masyarakat pedesaan merupakan konsep pola pengembangan SDM sampai pada tingkat kemandirian, yang ditandai dengan adanya produktivitas, efisiensi, dan partisipasi masyarakat.

Dalam pemberdayaan masyarakat pedesaan diperlukan konsistensi. Hal itu harus menjadi konsepsi yang benar-benar memungkinkan masyarakat pedesaan untuk dapat bertahan dalam situasi perekonomian yang serba sulit seperti saat ini. Selain itu, meningkatkan harkat dan martabat serta kemampuan dan kemandirian yang nantinya dapat menciptakan suasana kondusif. Jadi, hal itu memungkinkan masyarakat pedesaan untuk berkembang dan memperkuat daya saing serta potensi yang dimiliki.

Pemberdayaan masyarakat pedesaan juga harus mampu memberikan perlindungan yang jelas terhadap masyarakat. Upaya perlindungan dimaksudkan untuk mencegah terjadinya persaingan yang tidak seimbang akibat berlakunya mekanisme pasar dan eksploitasi yang kuat terhadap yang lemah. Dalam hal ini, tampaknya sulit diterapkan mekanisme pasar. Masyarakat desa jelas akan kalah bersaing. Mereka tidak punya apa-apa selain tenaga-tenaga yang pada umumnya kurang terlatih.

Upaya lain adalah menyempurnakan kembali propram-program yang telah dijalankan. Pemberian fasilitas kredit dan bantuan desa harus sesuai dengan prosedur dan konsep yang telah digariskan. Namun, yang perlu diperhatikan, bantuan dan pemberian fasilitas kredit bukan berarti memanjakan dan membuat masyarakat pedesaan semakin tergantung, tetapi mampu menggali potensi yang ada pada masyarakat desa. Sebab, pada dasarnya setiap apa yang dinikmati harus dihasilkan atas usaha sendiri dan hasilnya dapat ditukarkan dengan pihak lain.

Dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat pedesaan, sektor pertanian harus menjadi sasaran utama. Sektor ini harus dijadikan pijakan yang kokoh sehingga di pedesaan bisa tercapai swasembada berbagai produk pertanian, terutama pangan, sebelum memasuki era industrialisasi. Lebih spesifik, ketahanan pangan lokal harus tercapai lebih dahulu.

Kedepankan Pertanian

Yang tidak boleh dilupakan dalam membangun desa, pertanian harus mendapatkan prioritas utama. Kalau memang benar-benar dibuat industrialisasi di pedesaan, industri yang dibangun harus mendukung sektor pertanian. Industri tersebut memproduksi alat-alat pertanian, sarana pengolah hasil pertanian, pupuk, obat-obatan, dan sebagainya.

Industri semacam itu nantinya akan dapat dimanfaatkan masyarakat pedesaan sehingga pembangunan secara umum tidak terpisah dari sektor pertanian. Industrialisasi juga tidak sampai menimbulkan kelas-kelas baru sehingga akhirnya masyarakat meninggalkan budaya tani.

Bila upaya-upaya itu dijalankan dan berjalan dengan konsisten sesuai dengan konsep, diharapkan tingkat kesejahteraan masyarakat pedesaan akan segera terwujud. Ini ditandai dengan indikator meningkatnya volume produksi, harga komoditas di pedesaan, dan terjangkaunya pembelian sarana produksi. Pada akhirnya komoditas kebutuhan hidup masyarakat pedesaan akan memengaruhi pula gairah perekonomian masyarakat desa secara umum.

Oleh karena itu, faktor-faktor yang memengaruhi tingkat pendapatan dan daya beli masyarakat pedesaan, misalnya tingkat dan struktur penguasaan faktor-faktor produksi, efisiensi pemasaran komoditas, pengadaan sarana produksi, dan kebutuhan konsumsi masyarakat pedesaan yang berasal dari kota, harus dijadikan pertimbangan dalam pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Efisiensi pemasaran komoditas pedesaan dan pengadaan sarana produksi khususnya memerlukan transportasi, baik berupa kendaraan angkutan maupun transportasi kesempatan kerja pertanian dari pedesaan ke nonpertanian di kota.

Dengan demikian, pembangunan pedesaan yang efektif tidak saja akan mewujudkan pembagian kekayaan dan pendapatan yang merata, tetapi juga merupakan sumber pertumbuhan ekonomi yang pesat karena berhasil mendorong berkembangnya industrialisasi. Dengan kata lain, kesejahteraan masyarakat akan meningkat. Kalau kesejahteraan sudah tercapai, pasti kepentingan lain akan lebih mudah lagi dicapai.

* Artikel ini dimuat di Harian Kompas Edisi Jawa Barat, Jumat, 31 Maret 2007, tetapi pemuatannya bukan atas nama saya, padahal ini adalah tulisan saya yang saya buat awal tahun 1999 lalu, dan tak pernah mengirimkannya ke koran-koran. Kemudian tahun 2005 sempat saya update. Pada tahun 2007, tiba-tiba sudah dimuat di koran yang biasa menjadi tempat langganan saya ”belajar mencangkul”, dengan nama orang lain!

1 komentar:

  1. saknoe rek....
    tulisan sampeyan dicuri orang ya...

    btw, aku seneng sama gambarnya. kayak di hawaii. hahahahahaa.... ada pasir putih pantai, ada banyak pohon kelapa, ada rumah adat asli suku apaaaaa gitu....

    ternyata Indonesia bagus banget yaaa.....

    BalasHapus

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...