Rabu, 24 Desember 2008

Orang Ladang Memandang Prabowonomics

KEMUNCULAN kembali Prabowo Subianto akhir-akhir ini dengan iklan politiknya di berbagai media, adalah fenomena baru yang layak dicermati. Di tengah hiruk-pikuknya berbagai iklan politik yang mengedepankan konsep-konsep “melangit” tiba-tiba saja mencuat iklan politik dengan konsep-konsep “agak membumi” atau konsep ekonomi kerakyatan. Saya tidak akan membahas semua konsep ekonomi kerakyatan yang dicanangkan Parbowo Subianto atau yang lebih dikenal dengan Prabowonomics.

Rabu, 17 Desember 2008

Candi Arimbi, Sang Dewi yang Terbengkalai!

BAGI peminat sejarah, sedikit banyak pasti mengenal salah satu peninggalan Kerajaan Majapahit ini, Candi Arimbi. Sementara bagi saya, setidaknya pada Oktober 1989, ketika saya baru menginjak kelas VI SD, pernah mengunjunginya sebagai satu rangkaian kegiatan kepramukaan ketika itu. Tempat ini dipilih karena secara geografis lebih dekat dengan kampung halaman dimana SD saya berada. Disamping itu, ketika itu lagi demam sandiwara radio “Tutur Tinular” dan “Mahkota Mayangkara”, sebuah cerita rakyat yang bersumber dari sejarah Majapahit. Latar dari cerita itu salah satunya adalah Candi Arimbi dan tentu saja Gunung Anjasmara, yang menjadi tempat tumpah darah saya.

Selasa, 09 Desember 2008

Kembali ke Ladang!

AKHIRNYA terbebas juga saya dari cengkeraman “monster hiatus” ngeblog yang menghinggapi selama lebih dari 2 (dua) bulan terakhir. Bukan perkara mudah untuk melepaskan diri dari cengkeraman “monster hiatus” seperti ini. Perlu perjuangan ekstra, dengan ancang-ancang dan ambil nafas dalam-dalam sebelum akhirnya melesat melepaskan diri dari cengkeramannya. Dan syukur alhamdulillah, berkat doa dan juga dorongan dari para penghuni ladang di kanan-kiri, akhirnya saya bisa kembali ke “ladang”, mencangkul, merawat dan mengolahnya kembali.

Selasa, 30 September 2008

Berani Mengoreksi Diri?

SAAT ini kondisi bangsa Indonesia berada pada titik nadir, terpuruk dalam berbagai segi kehidupan. Secara ekonomi kita lemah, hutang terus menumpuk dan menjadi beban warisan generasi nanti. Kemiskinan, busung lapar dan gizi buruk menjadi bagian tak terpisahkan. Kehidupan sosial pun semakin liar dan tak terkendali. Rasa aman menjadi sesuatu yang mahal. Pembunuhan terjadi hanya karena beberapa rupiah saja, dan berbagai tindak kejahatan menjadi tontonan setiap hari.

Sabtu, 13 September 2008

Reply For Elsa’s First Four Tags

SAYA orang yang serius! Itu kata Mbak Elsa ketika menebarkan virus First Four Tags kepada saya. Entah itu semacam kata-kata “rayuan” atau apalah sehingga saya mau nanggepin tags-nya, wallahualam! Tetapi yang perlu saya garisbawahi, kalau ada orang bilang bahwa saya orang yang serius, sepertinya ia sedang tidak bicara dengan serius!

Minggu, 31 Agustus 2008

Catatan Kecil Menjelang Ramadhan: Tuhan, Puasa ini untuk-Mu?

TAK terasa besok mungkin kita sudah memasuki bulan ramadhan. Bulan yang sangat dinanti-nanti oleh orang-orang yang beriman. Puasa memang hanya dikhususkan bagi orang-orang yang beriman, sebab iman merupakan modal utama bagi kaum muslim untuk menjalankan puasa. Ustadz-ustadz dan para agamawan seringkali berbicara tentang keutamaan bulan Ramadhan. Bahwa dalam bulan Ramadhan Allah SWT. akan memberi iming-iming yang lebih menggiurkan kepada hamba-hamba-Nya dengan memberi hamparan waktu seluas-luasnya untuk mencapai derajat ketakwaan, kewajiban puasa dan pelipatgandaan pahala. Di samping itu, juga limpahan rahmat dan pengampunan serta jaminan jauh dari api neraka.

Dalam doktrin normatifnya, puasa bagi kaum muslim adalah sebuah kewajiban. Seperti dalam QS. Al Baqarah 183, Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. Nah, hanya orang-orang yang beriman saja yang diperintahkan untuk berpuasa.

Puasa adalah suatu bentuk penyembahan khusus antara hamba dan Allah sebagai Tuhannya, karena hanya Allah yang mengetahui niat puasa seseorang. Tak seorangpun mengetahui apakah seseorang berpuasa untuk memberi kesan atau citra ketakwaan kepada orang-orang sekitarnya ataukah untuk maksud lain di luar tujuan mulia yang utama. Orang yang berpuasa diberi imbalan sebagai amalan sesuai dengan apa yang ada dalam pandangan Allah.

Benarkah Puasa untuk Allah?

Dalam sebuah hadits muttafaqun alaihi disebutkan bahwa dengan berpuasa seseorang lebih merasakan kedekatan dengan Allah, “Seluruh amal ibadah anak Adam baginya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan balasannya”. Saking besarnya manfaat puasa bagi manusia, sampai-sampai Allah mengatakan begitu.

Tetapi benarkah Allah membutuhkan puasa kita? Barangkali, seperti menurut Emha Ainun Nadjib (1995) pernyataan itu semacam diplomasi cinta-Nya kepada kita. Allah ingin menekankan betapa sangat pentingnya puasa bagi kesehatan dan keselamatan manusia, sehingga Allah menggunakan semacam ”taktik psikologis” dengan mengakui bahwa puasa itu untuk diri-Nya.

Secara psikologis, manusia mempunyai kecenderungan untuk mengabaikan perintah Allah jika perintah itu dianggap tak mempunyai manfaat yang terlihat kasat mata, semacam puasa ini. Lain halnya kalau kita diperintahkan sholat. Sholat jelas dan bisa dilihat orang lain semisal calon mertua, mertua, kekasih dan lain-lain, sehingga kita bisa membangun citra dan "memamerkan" ketakwaan kita kepada mereka.

Sementara kalau puasa, siapa yang tahu kalau kita puasa atau tidak selain diri kita dan Sang Pencipta. Siapa yang bisa menjamin ketika puasa di siang bolong kita nyolong makanan dan menyantapnya di bawah kolong meja. Atau nyolong sesuatu yang bukan hak kita dan menyembunyikannya di balik meja. Makanya, karena begitu pentingnya puasa bagi kehidupan manusia, sampai-sampai Allah memberi iming-iming dengan bahasa psikologis seperti itu. Jadi masihkah Allah butuh puasa kita?

Akhirnya, mudah-mudahan puasa kita kali ini bukan sekadar ritual individual, sekadar ritual ”persembahan” kepada Allah. Puasa yang tidak menjadikan kita orang asing, karena meskipun kita berpuasa tetapi terkadang masih kurang berempati dengan saudara-saudara kita yang lapar dan dilaparkan. Dengan puasa kali ini semoga mampu menumbuhkan kembali kesadaran hati nurani untuk ikut berpuasa sehingga puasa kita benar-benar penuh makna dan mampu menciptakan dan memendarkan kesalehan sosial kita. Amin!

Marhaban ya Ramadhan!


Artikel terkait:
1. Memoar Ramadhan di Kampung

Senin, 25 Agustus 2008

Sepenggal Sore di Teluk Maumere

WAKTU hampir menunjukkan angka 17.00 WITA. Sinar matahari berwarna kuning memerah keemasan mulai terlihat di ufuk barat menampilkan kilauan gilang cemerlang di atas bukit yang kubelakangi. Angin pun mulai berbelok arah dari darat untuk bersiap mengantarkan para nelayan yang sebentar lagi siap melepas tali dan mengarungi laut yang penuh harapan.


Kamis, 21 Agustus 2008

Surat dari Ryan!

MASIH soal Ryan, yang media sering menyebutnya sebagai Sang Penjagal dari Jombang, yang beberapa waktu lalu saya juga sempat sedikit memberi komentar dalam blog ini. Namun, kali ini saya tidak ingin berkomentar banyak tentang Ryan, apalagi menghujat habis-habisan, takutnya komentar dan hujatan saya lebih sadis dari apa yang dilakukan Ryan. Demikian juga saya tak ingin menghakiminya, biar hakim saja yang nanti menghakiminya. Meskipun tak pernah membunuh seperti yang dilakukan Ryan, bukan berarti saya lebih baik dari Ryan. Saya merasa masih sering melakukan tindakan-tindakan yang tak kalah sadisnya. Sadar atau tanpa saya sadari saya sering kali "memutilasi" hak-hak lingkungan sekitar saya!

Kamis, 14 Agustus 2008

Menapak di Pulau Sumba, 2 - Habis

TERNYATA tak semudah yang saya bayangkan untuk melanjutkan catatan sebelumnya yang sempat tertunda dan “terlunta-lunta” karena “sesuatu hal”. Mungkin karena saya sudah berjarak dengan obyek yang telah saya tapaki sehingga melupakan semua referensi yang sempat singgah di kepala. Yang teringat di kepala adalah bahwa Pulau Sumba itu identik dengan sabana, padang rumput yang sangat luas, yang ketika musim kering seperti saat ini akan kelihatan kuning kecoklatan, seperti hamparan ladang emas.

Senin, 04 Agustus 2008

Habis Sumiarsih, Terbitlah Ryan!

Ilustrasi (vivanews.com)
BELUM lekang dari ingatan kita berita tentang eksekusi mati terhadap ”srikandi” dari Jombang, Sumiarsih, yang menjagal satu keluarga Letkol Marsekal Purwanto di Malang, pada tahun 1988 lalu, kini lebih dari 2 pekan kita dihebohkan lagi dengan berita serupa, yang lagi-lagi sang penjagal ini dari Jombang. Habis Sumiarsih, Terbitlah Ryan! Mungkin ini kalimat yang pas untuk mengungkapkannya.

Jumat, 25 Juli 2008

Desa dan Kemiskinannya

SAMPAI saat ini di pedesaan, khususnya di Jawa Barat, masalah yang sering kali mengemuka adalah tingginya jumlah kaum miskin. Meskipun masyarakatnya terlihat bekerja, sebenarnya yang terjadi adalah tingkat pendapatan yang sangat rendah. Banyak masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan. Hidup mereka tergantung pada kemurahan alam dengan penghasilan subsisten. Apalagi, dalam kondisi harga-harga yang melonjak seperti saat ini daya beli masyarakat semakin menurun. Jumlah orang miskin dan penganggur terselubung kian meningkat. Bila hal ini tidak segera ditangani, tentu akan timbul gejolak sosial.

Rabu, 16 Juli 2008

Jombang Meledak!

CATATAN ini sekadar untuk memenuhi rasa ingin tahu kawan-kawan di Jombang yang menginginkan saya untuk menulis makanan unik yang ada di Jombang. Saya tak tahu alasannya mengapa mereka meminta saya. Padahal, saat ini saya berada jauh dengan jarak ribuan mil di luar Jombang dan juga saya merasa tidak banyak tahu dengan aneka makanan yang ada di Jombang, apalagi makanan-makanan yang kelas eksklusif. Tetapi karena saya tak ingin mengecewakannya, dengan sekuat kemampuan memori yang cekak ini, saya pun mencoba mengingat-ingat kembali makanan atau penganan apa yang mempunyai keunikan nama yang ada di Jombang.

Kamis, 10 Juli 2008

Menapak di Pulau Sumba, 1

ENTAH sudah berapa kali saya menapakkan kaki di Pulau Sumba ini, pulau yang terik tetapi sangat menarik dengan berjuta pesona yang sangat unik. Pulau yang setiap pesawat mendarat di salah satu bandaranya, Tambolaka, selalu mempertontonkan barisan lembu di kanan-kiri bandara yang jumlahmya tak terhitung, seolah menyambut kedatangan para tamu.

Sabtu, 05 Juli 2008

Hiburannya Hanya Babi?

BEBERAPA bulan lalu di awal tahun, ketika saya baru beberapa hari menjejakkan kaki di pulau yang masih sangat asing bagi saya ini, saya mendapat SMS dari salah seorang sepupu di Jawa Timur masih duduk di bangku kelas 4 SD. Inti SMS-nya adalah tentang hiburan apa yang ada di Pulau Flores ini. Saya pun menjawab, bahwa hiburannya untuk sementara ini hanya babi. Hanya babi?


Sabtu, 28 Juni 2008

Jejak Flores (1): Menyusuri Desa Sikka

RASANYA terlalu manis untuk melewatkan begitu saja tanpa menancapkan “prasasti aksara”, untuk sedikit mengabadikan jejak langkah di kawasan ini. Semoga ini akan menjadi landasan utama prasasti itu. Saya mulai saja dari Desa Sikka. Ini adalah salah satu desa di antara puluhan desa yang telah saya telusuri. Namanya persis dengan nama kabupaten yang menjadi homebase saya, yaitu Kabupaten Sikka. Konon, desa inilah yang menjadi cikal-bakal lahirnya Kabupaten Sikka di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur ini.

Kamis, 12 Juni 2008

Jatim Swasembada Beras, Sampai Kapan?

SEJAK dulu Jawa Timur telah dinobatkan sebagai salah satu kawasan lumbung beras dan pemasok terbesar pangan nasional. Ini wajar, di samping karena kondisi geografis dan iklim yang memungkinkan Jatim untuk berswasembada, juga masyarakatnya telah lama bersentuhan dengan usaha pertanian padi, bahkan telah mengakar- budaya. Buktinya, pada setiap tahapan bertani padi, masyarakat kita masih banyak yang melakukan prosesi ritual sakral.

Minggu, 08 Juni 2008

Pecel Rengkek, Pesona Lain Jombang!

SEDERHANA tetapi sangat mengesankan! Inilah kesan dari Pecel Rengkek (huruf “e” dari kata “rengkek” baca seperti membaca nama beberapa pelawak Eko Patrio, Eko Srimulat atau Eko Londo), salah satu jenis nasi pecel yang sempat saya nikmati ketika pulang kampung di Jombang selama beberapa minggu di bulan lalu. Saking terkesannya, membuat saya tak bisa dengan spontan menuliskannya. Saya terpaksa menuliskannya ketika sudah berada di pedalaman Pulau Flores ini dengan air liur yang hampir ndlewer, terbayang aroma khas bumbunya yang sangat ngangeni itu. 

Selasa, 27 Mei 2008

Dari Ladang Memandang Jombang

DALAM ensiklopedia wikipedia disebutkan bahwa pertanian masih menjadi primadona masyarakat Jombang, dimana sektor ini menyumbang 38,16 persen total PDRB kabupaten. Meski nilai produksi pertanian mengalami peningkatan, namun kontribusi sektor ini mengalami penurunan. Sektor pertanian digeluti oleh sedikitnya 31 persen penduduk usia kerja di Jombang.

Sabtu, 24 Mei 2008

Me and My Blog!

BULAN April lalu saya telah setahun merawat “ladang” ini. Jadi ladang atau blog ini “usianya” sudah satu tahun. Usia yang masih sangat belia. Namun, sebenarnya saya pertama kali membuat blog sejak beberapa tahun yang lalu. Setelah itu berganti-ganti nama dan mempunyai beberapa blog dengan halaman yang sangat minimalize karena saya tak memahami bagaimana cara me-"make up"-nya.

Selasa, 20 Mei 2008

Menyapu Sampah, Mendulang Rupiah!

ADALAH hal biasa jika pada bulan Mei sampai November di kawasan dataran tinggi Wonosalam, sekitar 30 Km arah tenggara kota Jombang, atau sekitar 70 Km arah barat daya kota Surabaya, kita menjumpai banyak karung-karung berisi daun-daun cengkeh yang ditumpuk di tepi-tepi jalan atau di pinggiran kebun. Ya, daun-daun cengkeh sejak pertengahan tahun 90-an mulai naik daun.

Jumat, 11 April 2008

Haji Sumarto, “The Real Terrorist” dari Jombang!

TERORIS! Inilah kata yang mungkin akrab di telinga kita akhir-akhir ini. Setiap saat kita bisa mendengar kata yang membuat miris dan bergidik ini di berbagai media dan terutama di kalangan penjaga keamanan. Tetapi jangan kawatir, kata “teroris” yang saya pakai dalam judul tulisan ini tidak akan membuat Anda miris dan bergidik. Anda boleh curiga dan percaya kalau Ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang disebut sebagai teroris (saya sendiri tak terlalu percaya), yang kebetulan Ustadz Abu ini orang Jombang juga. Haji Sumarto? Anda mungkin tak mengenalnya.

Selasa, 01 April 2008

Fragmen Panen Padi


panen tiba petani desa memetik harapan
bocah-bocah berlari lincah di pematang sawah
padi menguning lambai menjuntai ramai dituai
riuh berlagu lesung bertalu irama merdu
senja datang mereka pulang membawa harapan
………….

MENDENGAR awal syair lagu yang ditulis Iwan Fals itu mungkin kita akan berimajinasi ke suasana alam pedesaan yang damai dan ramai tatkala panen padi tiba. Tergambar terang dan jelas, padi menguning keemasan menghampar sepanjang mata memandang, melambai-lambai diterpa angin seolah mengisyaratkan harapan akan peningkatan kesejahteraan. Ditambah lagi riuhnya lesung bertalu berirama merdu yang mengiringi roda perekonomian desa yang masih semarak berputar. Anak-anak desa pun tak ketinggalan ikut berpesta dengan berlari-lari lincah di pematang menikmati keriangan orang tuanya, menuai harapan.

Itu dulu, sekarang sepertinya tinggal kenangan keriangan dalam sebuah dendang. Jarang kita menemui keriangan anak-anak yang menyertai pesta panen yang dilakukan orang tuanya.

Krisis yang dialami para petani padi, terutama yang berlahan sempit dan buruh tani, sepertinya akan terus membelit dan mencekik leher-leher papa kaum tani. Setelah dihantam badai kelangkaan pupuk, untuk menjual hasil panennya sendiri dalam bentuk gabah kering giling saja petani kesulitan memperoleh harga yang pantas, padahal harga beras di pasar cukup tinggi. Dalam teori ekonomi, hal seperti inilah yang dinamakan rente atau margin, dimana ada margin yang njomplang antara menjual gabah dan beras.

Persoalannya bukan saja pada besarnya rente atau margin itu, tetapi siapa pihak-pihak yang diuntungkan atau yang mengeruk keuntungan itu, sehingga petani yang seharusnya menerima keuntungan lebih banyak karena resiko usaha taninya juga lebih besar, namun realitasnya hanya menerima keuntungan yang relatif lebih kecil.

Petani memang selalu mendapat kesulitan dan menjadi korban akibat kelemahannya. Kesulitan para petani padi yang sering terjadi diawali dari sulitnya membeli bibit dan pupuk untuk memulai menanam padi. Memang mereka telah lama sangat tergantung atau sengaja dibuat tergantung pada perusahaan-perusahaan besar penyedia bibit unggul yang tak bisa diproduksi sendiri oleh petani terutama petani-petani kecil. Dan kalaupun tersedia, penanaman dengan bibit unggul memerlukan input lain yang harus disediakan semacam pupuk dan obat-obatan yang juga diproduksi oleh perusahaan-perusahaan besar itu, jika tidak maka bibit unggulpun tak akan bisa tumbuh sesuai dengan keunggulannya. Melihat ini semua, lagi-lagi yang diuntungkan bukan petani tapi lebih besar keuntungannya disedot oleh perusahaan-perusahaan besar.

Kemudian soal permodalan, pada umumnya para petani mencari modal menanam padi dengan bunga yang sangat tinggi. Contohnya, meminjam satu juta rupiah selama beberapa bulan, dan mengembalikan satu juta lima ratus rupiah setelah panen atau terkadang juga dengan mengganti hutangnya dengan sekian persen hasil panen yang setara dengan nilai uang yang harus dikembalikan.

Harga pupuk juga tidak terjangkau oleh para petani meskipun telah ditentukan standar harga jualnya oleh pemerintah. Beberapa waktu lalu, setidaknya di Jombang, satu saknya sampai menjangkau Rp. 100.000,00 yang seharusnya tak melebihi Rp. 52.500,00. Kenyataan ini mengakibatkan para petani padi semakin kesulitan manakala hasil panennya dihargai sangat rendah dengan berbagai alasan klasik khas tengkulak, semisal kadar air yang terlalu tinggi.

Di sisi lain, biaya input-input produksi pertanian lainnya seperti pestisida, pupuk dan ongkos tenaga kerja, meningkat berlipat-lipat. Peningkatan biaya ini karena salah satunya dipicu oleh keputusan pemerintah untuk mengurangi subsidi BBM, tarif dasar listrik dan lain-lain, yang kesemuanya berdampak pada harga input pertanian.

Nah, dari sini seharusnya dalam hitung-hitungan ekonomi, harga dasar pembelian gabah memang harus naik. Sebab, harga input-input pertanian secara real kenaikannya lebih cepat dibandingkan kenaikan harga output atau hasil pertanian. Jika harga gabah tidak dinaikkan, pendapatan dan kesejahteraan petani akan makin merosot. Padahal, petani termasuk golongan mayoritas di negeri ini.

Berbeda dengan petani di negara maju yang masih disubsidi, termasuk subsidi ekspor. Sementara petani kita, jangankan mendapat subsidi ekspor, petani malah “dilaparkan” dulu sebelum diadu dengan petani-petani makmur dari negeri seberang dengan produk-produk impornya. Hasilnya pasti, kematian petani dengan pelan-pelan telah menanti.

Tidak bisa diingkari bahwa tingkat kesejahteraan petani kita justru lebih banyak tergantung pada disparitas harga gabah di tingkat petani dengan harga eceran beras di tingkat konsumen. Semakin besar perbedaan harga tersebut, maka semakin besar pula potensi penurunan kesejahteraan petani, karena sebagian besar marjin pemasaran beras hanya dinikmati oleh pedagang. Marjin keuntungan dalam proses pemasaran dan distribusi beras nampak tersebar di antara para pelaku ekonomi perberasan seperti petani, pedagang pengumpul, pedagang besar dan grosir, walaupun pedagang cenderung memperoleh balas jasa yang lebih baik dibanding petani. Semakin besar disparitas itu, semakin besar kemungkinan petani tidak menikmati keuntungan atas hasil usaha taninya.

Dan, kalau saja petani kita masih mampu berdendang seperti di awal tulisan ini, tentu bukan duka nestapa yang di selalu dapat. Tetapi rasanya, seperti kelanjutan dendang Iwan Fals itu:

……………..
pesta pora hama di lumbung nyanyikan tralala
bale reot bambu rapuh menyambut tubuh
penat raga sarat peluh luruh
mata belum sempat pejam terbayang cemas
kaum hama semakin mengganas

Entah apa pemahaman kita tentang dendang itu, yang jelas saat ini tak sedikit petani yang nasibnya meringis teriris-iris di negeri agraris!

Jombang, 31 Maret 2008

Senin, 17 Maret 2008

Menggali Cinta!

…..cinta itu anugerah, maka berbahagialah
sebab kita sengsara, bila tak punya cinta….
(Doel Soembang)


MEMBACA tulisan Apa itu Cinta-nya seorang kawan blooger, saya jadi terangsang untuk mengayunkan “cangkul”, menggali kembali “pelajaran cinta” yang setidaknya pernah saya peroleh ketika di awal-awal zaman ngampus heula.

Sabtu, 02 Februari 2008

Terima Kasih, Engkau Telah Menyebut Saya “Kafir”!

PAGI itu, sehari setelah Hari Raya Natal lalu, saya mendapat SMS dari seorang kawan lama, sama-sama dari Jombang dan sama-sama pernah "nyantri" di kota hujan, Bogor. Inti SMS-nya menyebutkan bahwa saya ini "kafir". Awalnya saya tak mengerti apa maksudnya dan mengapa ia menyebut saya begitu. Kemudian saya konfirmasi dan meminta alasannya mengapa menyebut saya demikian. Jawaban SMS selanjutnya dari dia, karena saya dekat dengan Mojowarno! Lho, apa hubungannya? Awalnya saya bingung, namun beberapa saat kemudian baru saya menyadari mulai bisa “membaca” maksud SMS-nya.


Selasa, 22 Januari 2008

Dari Secangkir Kopi

SECANGKIR kopi! Ya, itulah minuman sehari-hari yang sulit saya tinggalkan. Betapa tidak, kopi adalah minuman yang telah saya kenal sejak kelas satu SD. Setiap pagi saya selalu ikut nyuri-nyuri nyeruput kopi tubruk dari cangkir ukuran jumbo yang dituangkan oleh nenek buat kakek saya atau oleh ibu buat bapak saya.

Saya sangat menikmatinya, meskipun kata nenek waktu itu, anak kecil yang suka minum kopi penglihatannya akan mblereng atau kabur. Tetapi saya tak percaya begitu saja, justru saya seolah tak bisa melihat tulisan di papan tulis jika paginya tak minum kopi, begitu argumen saya untuk meng-counter peringatan nenek. Akhirnya saya pun tetap diperbolehkan menikmati minuman kopi meskipun dibatasi dalam ukuran satu lepek atau cawan. Dan sampai saat ini pun, kopi tetap menjadi minuman favorit saya. Bahkan sudah menjadi semacam candu, sehari kalau tidak minum kopi kepala terasa nyut-nyutan, terasa mau pecah.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...